LOGIN“Yura di mana?”
Suara Andreas terdengar tajam begitu ia menerobos masuk ke kamar Adrian. Napasnya memburu, bukan hanya karena berlari, melainkan juga karena amarah yang sejak tadi menekan dadanya.
Adrian yang sedang berada di depan jendela mengangkat wajah dari ponselnya. Cahaya layar memantul di wajahnya yang tenang. Ia bahkan tidak tampak terkejut melihat Andreas datang dengan ekspresi penuh tuntutan.
“Aku tidak tahu.” Jawaban singkat itu membuat rahang Andreas mengeras.
“Jangan berbohong kepadaku.” Andreas melangkah mendekat. Tatapannya menusuk. “Gresyuan memberitahuku semuanya. Semalam kau menyuruhnya mengunci pintu kamar mandi.”
Adrian diam. Jemarinya masih memegang ponsel, tetapi layar yang semula menyala perlahan meredup. Ia tidak memberikan bantahan, seolah tuduhan itu tidak cukup penting untuk ditanggapi.
“Di mana Yura?” ulang Andreas. Kali ini suaranya lebih rendah, tetapi justru terdengar semakin mengancam.
Adrian mengangkat dagu sedikit. “Itu bukan urusanmu.”
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir. Andreas langsung mencengkeram kerah baju Adrian dan menariknya ke depan. Roda kursi Adrian bergeser sedikit akibat tarikan tersebut.
“Dia adalah istrimu!”
“Lepaskan!” Adrian menepis tangan Andreas dengan kasar. Wajah tenangnya akhirnya retak, digantikan oleh tatapan penuh kejengkelan.
Andreas tidak mundur. “Apa yang sudah kau lakukan?”
“Aku hanya memberinya sedikit pelajaran.”
“Pelajaran?” Sudut mata Andreas memicing. Ia sulit mempercayai ketenangan Adrian setelah mendengar pengakuan itu.
Adrian menyandarkan tubuhnya kembali pada sandaran kursi roda. “Dia harus tahu bagaimana rasanya membuat orang lain menderita.”
Andreas mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Buku-buku jarinya memutih, sementara dadanya naik turun menahan dorongan untuk memukul.
“Kau gila.”
Tanpa menunggu jawaban, Andreas berlari menuju kamar mandi. Langkahnya panjang dan tergesa-gesa. Adrian hanya memandang punggung saudaranya dengan tatapan dingin, tetapi sorot matanya sempat bergerak gelisah ketika mendengar suara langkah Andreas menjauh.
Gresyuan yang sejak tadi menunggu di luar kamar Adrian segera mengikutinya. Begitu tiba di depan pintu, Andreas langsung memutar gagangnya. Tidak bergerak, terkunci.
“Yura!”
Suaranya menggema memenuhi seisi kamar, tetapi tidak ada jawaban dari balik pintu. Andreas menempelkan telinganya pada permukaan kayu, berusaha menangkap suara sekecil apa pun.
Hanya kesunyian yang menyambutnya, ia mengetuk pintu dengan keras.
“Yura!”
Tetap tidak ada jawaban. Perasaan buruk seketika memenuhi dadanya. Bayangan tentang Yura yang mungkin terjatuh, terluka, atau bahkan tidak sadarkan diri membuat napasnya tercekat.
“Yura, ini aku, Andreas!” Ia kembali menggedor pintu. “Kalau kau mendengarku, jawab!”
Tidak ada suara.
Andreas menoleh kepada Gresyuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah pria itu tampak pucat, dan kedua tangannya saling menggenggam dengan gelisah.
“Buka pintunya!”
“Baik, Pak.”
Gresyuan buru-buru berlari untuk mengambil kunci. "Pak Adrian."
Adrian tidak menjawab, ia hanya melirik kunci yang tergeletak di atas laci. Gresyuan mengambil kunci tersebut, dan kembali berlari menuju kamar mandi. Tangannya gemetar ketika memasukkan kunci ke lubang pintu. Ia harus mencoba dua kali sebelum kunci itu berhasil diputar.
Klek.
Bunyi kecil tersebut terdengar begitu jelas di tengah keheningan.
Saat pintu terbuka, Andreas langsung menerobos masuk tanpa menunggu Gresyuan menyingkir. Udara lembap dan pengap menyambutnya, bercampur dengan aroma sabun yang samar.
“Yura!” Pemandangan di hadapannya membuat langkah Andreas terhenti.
Yura tergeletak di lantai dekat pintu. Tubuhnya meringkuk lemah, seolah ia telah berusaha merangkak keluar sebelum akhirnya kehabisan tenaga. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan rambutnya menempel di pelipis karena keringat.
“Ya Tuhan!”
Andreas segera berjongkok. Ia menyelipkan satu tangan di bawah leher Yura dan tangan lainnya di bawah lututnya, lalu mengangkat tubuh wanita itu.
“Yura! Bangun!” Tubuh Yura tidak memberikan respons. Kepalanya terkulai di dada Andreas.
“Gresyuan, panggil Dokter Rian sekarang!”
“Baik!”
Gresyuan langsung berlari mengambil ponsel, sementara Andreas membawa Yura keluar dari kamar mandi. Langkahnya tergesa-gesa, tetapi ia berusaha menjaga agar tubuh Yura tidak terguncang terlalu keras.
Ia membaringkan Yura di ranjang milik Adrian. Wajahnya semakin cemas ketika melihat Yura tetap tidak bergerak.
“Yura, dengar aku.” Andreas menepuk pipinya pelan. “Buka matamu.”
Andreas menahan amarah yang membakar dadanya. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan sesuatu, tetapi melihat kondisi Yura membuatnya memaksa diri untuk tetap tenang.
Andreas menoleh ke arah suara kursi roda yang bergerak menuju ke arahnya. Wajah Adrian masih tampak tenang, meskipun sorot matanya tertuju pada tubuh Yura yang terbaring lemah.
Andreas bangkit dan langsung menghampirinya. Setiap langkahnya dipenuhi kemarahan yang nyaris tidak terbendung.
“Kau tahu apa yang hampir kau lakukan?”
Adrian diam. Tatapannya berpindah dari Andreas kepada Yura.
“Kau mengurungnya lebih dari 24 jam!” bentak Andreas. “Dia bisa mati di dalam sana!”
“Aku tidak menyangka dia akan sampai seperti itu.”
Andreas tertawa sinis. Tawa itu terdengar hambar dan penuh penghinaan. “Tidak menyangka?”
Ia menunjuk Yura yang terbaring lemah di atas ranjang. “Lihat dia!”
Adrian menatap Yura. Untuk sesaat, ekspresinya berubah. Matanya turun pada wajah pucat dan bibir kering wanita itu. Ada sesuatu yang bergerak di dalam sorot matanya, tetapi ia segera menyembunyikannya di balik wajah dingin.
“Dia tidak akan mati.”
“Bagaimana kau bisa yakin?”
“Aku hanya ingin membuatnya takut.”
“Kalau aku terlambat datang?” Pertanyaan itu menggantung di udara.
Adrian tidak menjawab. Keheningan yang muncul justru membuat amarah Andreas semakin besar. Andreas mendekat hingga wajah mereka hampir berhadapan.
“Kalau sesuatu terjadi pada Yura, aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Adrian mengangkat wajahnya. “Dia penyebab aku seperti ini.”
“Dan itu bukan alasan untuk menyiksanya!”
Suara Andreas menggema di seluruh kamar. Gresyuan menundukkan kepala, sementara Yura masih memejamkan mata karena terlalu lemah.
Adrian terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban yang cukup kuat untuk membalas.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Rian datang dengan membawa tas medis menghampiri Gresyuan yang berdiri di depan kamar.
“Mana Yura?”
“Di sini,” jawab Andreas, lalu menyingkir sedikit agar Rian dapat memeriksanya.
Rian segera memeriksa kondisi Yura. Ia mengecek denyut nadinya, tekanan darah, suhu tubuh, serta kondisi matanya. Wajahnya perlahan berubah serius.
“Dia mengalami dehidrasi dan kekurangan energi. Tubuhnya sangat lemah.”
Andreas menatap Adrian dengan marah. “Dengar sendiri.”
Rian melirik Adrian, lalu kembali memusatkan perhatian pada Yura. “Kenapa dia bisa sampai seperti ini?”
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, sementara kedua tangannya mencengkeram sisi kursi roda.
Rian menghela napas panjang. “Dia harus diberi cairan dan makanan secara bertahap. Jangan langsung diberi terlalu banyak karena tubuhnya belum mampu menerimanya. Kalau terlambat ditangani, kondisinya bisa jauh lebih buruk.”
Andreas duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Yura dengan hati-hati. Ia takut sentuhan yang terlalu kuat akan membuat wanita itu semakin kesakitan.
Adrian memperhatikan pemandangan itu dari kursi rodanya. Entah mengapa, ada perasaan asing yang muncul di dadanya.
Ia tidak menyukai melihat Andreas begitu memperhatikan Yura. Namun, untuk pertama kalinya, ia juga tidak merasa puas melihat Yura terbaring lemah. Justru sebaliknya. Ada rasa tidak nyaman yang terus mengusik pikirannya.
“Andreas.”
Andreas menoleh. “Apa?”
Adrian mengalihkan pandangan. “Pastikan dia makan setelah bangun.”
“Kau peduli?” Andreas mengerutkan kening. Ia seolah tidak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Adrian.
Adrian langsung memasang wajah dingin. “Aku hanya tidak ingin dia sakit lebih parah.”
Andreas tertawa kecil tanpa rasa senang. “Setidaknya kali ini kau memikirkan akibat dari perbuatanmu.”
Adrian tidak membalas. Andreas kemudian kembali menatap Yura.
Beberapa menit berlalu, Yura akhirnya bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan. Tatapannya kosong, seolah belum sepenuhnya menyadari keberadaannya.
“Air...”
Andreas segera mengambil gelas.
“Pelan-pelan.” Ia membantu Yura duduk dan memberikan beberapa teguk air. Yura menelan perlahan, kemudian bersandar kembali ke bantal.
“Aku...” Suaranya nyaris tidak terdengar. “Aku di kamar ini?”
“Iya.”
Yura menatap sekeliling. Begitu matanya menangkap keberadaan Adrian di sudut ruangan, tubuhnya seketika menegang. Tangannya menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, perubahan kecil itu tidak luput dari pandangan Adrian.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Adrian melihat dengan jelas bahwa Yura bukan sekadar wanita yang ia benci. Wanita itu benar-benar ketakutan dan ketakutan itu... disebabkan olehnya.
Air laut terasa dingin saat tubuh Yura menghantam permukaannya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga kepalanya. Ia berusaha berteriak, tetapi air asin langsung memenuhi mulutnya. Tubuhnya tenggelam semakin dalam, sementara gaun yang dikenakannya terasa berat dan membatasi gerakan.Yura mengayunkan tangan sekuat tenaga, tapi gelombang ombak terlalu keras menghantamnya, tapi ia tidak ingin mati.Bukan di tempat ini, bukan setelah ia merasa sedikit tenang, bukan setelah Adrian mulai memperlakukannya dengan lembut, meskipun pria itu masih menyimpan luka dan kebencian kepadanya.Bayangan Adrian muncul di benaknya, wajah dingin itu, senyum tipisnya, tatapan yang sulit dibaca. Yura tersentak ketika menyadari sesuatu.Adrian adalah satu-satunya orang yang berada bersamanya di tepi tebing, Adrian pula yang paling mengenal seluruh sudut vila. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.Pikiran itu membuat Yura semakin panik. Ia terus berusaha berenang ke permukaan, tetapi tubu
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd







