Share

Bab 13. TMIS

Penulis: Asri Faris
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-27 10:16:53

Jena merasa tubuhnya sangat tidak nyaman, kendati demikian, dia masih berusaha menyalakan ponselnya mana tahu bisa.

"Ayo dong nyala, satu persen saja tidak apa, aku butuh menghubungi seseorang."

Salah Jena sendiri kenapa dia ninggalin resto. Tetapi diam di sana menunggu Arlo yang jelas sudah keluar lebih dulu membawa kekasihnya sama sekali bukan solusi. Semua orang menggunjingnya sebagai perusak hubungan orang. Jelas kuping Jena panas, hati Jena meledak tak tahan. Dia tidak bisa menjelaskan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Null_null
Ceritanya bagus , lagi baca kisah raja dan rumah juga haha. Bnyakin bab tiap harinya thor
goodnovel comment avatar
Asri Faris
Baru saja upload kak, silahkan merapat
goodnovel comment avatar
Nur Siti
up lagi kak biasanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 40. TMIS

    "Kita masih bisa berteman kan walaupun kamu sudah menikah." "Tentu saja Git, kita masih berteman. Kamu kemarin kenapa hindarin aku?"Jena merasa Regit jadi bersikap dingin sejak munculnya vidio viral itu. Dia memang tidak bisa mengalahkan pihak mana pun dalam kasus ini, walaupun dirinya korban, tetap saja ada pihak tertentu yang masih menyudutkan. Bahkan terang-terangan mengatasinya lewat komentar pedas. "Jujur aku agak kaget sih denger berita viral itu. Aku kira karena pacar Kak Arlo cemburu aja jadi nyerang kamu. Eh, ternyata malah beneran kalau kalian udah nikah. Emang sejak kapan nikahnya Jen? Aku tetangga kok nggak tahu kalau di rumah kamu ada pernikahan.""Sudah sekitar tiga bulan ini sih, kami memang melangsungkan secara tertutup. Hanya mengundang kerabat saja dan pernikahannya juga dilakukan di lain tempat."Gegara Regit banyak nanya, akhirnya Jena spil juga masalah pernikahan mereka walaupun tidak sedetail kenyataannya. "Pantesan sikap Bang Arlo aneh gitu, aku ke rumah ka

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 39. TMIS

    "Semoga saja pas, tubuh Jena kan kira-kira segitu kan ya," gumam pria itu sembari perjalanan pulang. Sedari tadi handphone Arlo terus berisik sebab Risa yang menghubungi, dia tidak tahan lagi dan akhirnya mengangkatnya juga. *** "Arlo, di mana? Berapa kali aku menghubungimu, kenapa nggak diangkat?" "Sedang perjalanan pulang, aku sibuk maaf." "Sibuk belanja buat si jalang itu?" "Jangan ngomong gitu Ris, jaga ucapan kamu." "Iya, terus aja belain, siapa lagi sebutannya buat orang yang suka merebut laki orang." "Kita belum menikah, tidak ada yang merebut. Kalau telfon cuma mau marah tutup aja." "Berani ya kamu sekarang main tutup saja, aku belum selesai ngomong." Sebenarnya Arlo bisa saja langsung memutus panggilan, hanya saja dia malas memperpanjang urusan. Ditambah Risa pasti akan menerornya melalui pesan. Dia bukan orang yang super tegaan setelah tidak suka lalu buang. Perasaannya cenderung kasihan kalau memang tidak membuat kesalahan. Dengan Arlo bersikap demikian, biarlah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 38. TMIS

    "Nugas, apa nugas?" tanya Arlo di sebrang telepon. "Beneran nugas lah, kalau tidak percaya bisa tanya sendiri sama Chika." "Oke, pulangnya jangan kesorean. Ngabari juga," kata, Arlo berpesan. "Hmm, semoga tidak lupa." "Semua tergantung niat Jena, tinggal kamunya aja yang mau apa nggak. Ingat, jangan aneh-aneh kamu lagi hamil." "Iya tahu, bawel." "Kamu ngatain suami kamu?" "Dikit, udah dulu Kak, nanggung ini." Jena langsung menutup telponnya, padahal Arlo belum selesai berbicara. Ya sudahlah, biarkan Jena melakukan kegiatannya dulu. Sebenarnya Arlo sengaja jemput mau ngajak Jena keluar untuk belanja. Membeli gaun untuk pertemuan dengan Pak Wilis besok. Tetapi berhubung istrinya sedang sangat sibuk, biarkan Arlo membelikan saja. "Selera Jena yang kaya mana ya," gumam pria itu tidak begitu paham. Namanya juga suami dadakan, mana pernah dia nanya detail kesukaan istrinya. Sebelumnya juga tidak pernah dekat sama sekali. Hanya mengenal sebagai kerabat dekat. "Tanya ma

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 37. TMIS

    "Di mana sih, bukannya tadi aku sudah bawa dari lemari. Nggak mungkin lupa kan?" gumam Jena mencari benda penting miliknya yang entah nyangkut di mana. "Duh ... beneran nggak bawa, ah sial, masa nggak pakai. Mana nyaman, lupa sungguh sangat merepotkan." Akibat bergaduh dulu dengan pak suami, jadi barang yang begitu penting sampai ketinggalan. Harusnya tidak boleh sampai terlewat, mana jadi tidak nyaman harus bolak-balik mengambil lagi. "Kak Arlo masih di kamar nggak ya," batin Jena berharap pria itu sudah minggat dari tadi. Seharusnya berangkat kerja lebih awal. Biar tidak membuat Jena repot karena kelupaan barang penting. Keluar kamar mandi sudah membaca doa, tetapi yang dijumpai pertama tetap wajah Kak Arlo yang belum beranjak dari sana, menyebalkan sekali. "Kak Arlo kok belum berangkat, bukannya ini sudah siang?" tanya Jena sedikit berbasa-basi. Dia perlu mengambil sesuatu, hanya saja malu kalau ketahuan. "Kan sudah bilang mau anter jemput, jadi ya lagi nungguin kamu lah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 36. TMSI

    "Nggak apa Ma, buat Kak Arlo saja," kata Jena tidak keberatan sama sekali. Dia belum terlalu lapar juga, nanti bisa sarapan di kantin fakultas atau warung sekitaran kampus. "Kan bisa berbagi, mau nggak Jen, enak loh," kata Arlo berinisiatif barengan. Ngerasa enak aja, tidak tahu kenapa Arlo mulai nyaman. Apa gegara semalam tidurnya barengan. "Ngawur kamu, sudah sisamu itu." Bu Najwa menggeplak kepalanya pelan. "Aduh Ma, jangan terlalu kejam. Lagian kenapa emang kalau barengan, namanya juga suami istri yang nggak apa berbagi. Jangankan makanan, lainnya aja berbagi. Iya kan Pa? Papa juga gitu kan sama Mama?" Arlo meminta pembelaan, jelas lah Pak Arlan tidak menjawab, dia juga tidak merasa hubungan putra dan menantunya sudah baikan. Memang mereka sekamar, tapi bukan tidak mungkin saling memberi jarak. Sampai ada tragedi mengeluarkan sofa segala. "Biar kamu mikirnya beneran dikit.""Ini udah paling bener kok Ma, kita berdua sedang belajar." Arlo ini lagaknya kaya sudah berumah tan

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 35. TMIS

    Perdana bobo satu ranjang, kenapa malah tidak bisa tidur. Padahal mata mulai ngantuk berat, tetapi pikiran melayang entah ke mana. Arlo masih terjaga, sementara Jena mulai terkantuk-kantuk. "Jen, sudah tidur?" tanya Arlo memastikan. Jdna terbaring dengan posisi memunggunginya. "Beneran udah tidur? Syukurlah, akhirnya bisa merem juga. Ibu hamil itu tidak boleh begadang," kata Arlo mengintip lebih dekat. Mau tahu saja kalau istrinya beneran lelap. "Eh, eh," kata pria itu tergeragsp kaget waktu Jena berpindah posisi hampir ambruk ke tubuhnya. Untungnya Arlo secepat kilat bergeser, jadi masih terselamatkan. "Ya ampun ... katanya jangan dekat-dekat, tapi kenapa malah mendekat. Hampir saja aku jantungan," ucap pria itu sedikit kaget. Jena sudah lelap, dia hanya pindah posisi tanpa terusik. Bahkan tidak menyadari kalau saat ini jarak mereka begitu dekat. Hampir tak ada pembatas malah, Jena melampau tempat yang seharusnya menjadi bagiannya. "Jen! Kamu udah nggak takut lagi ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status