Share

Bab 19. TMIS

Penulis: Asri Faris
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 04:32:36

Rasanya sangat tidak nyaman makan dilihatin begini. Jena merasa Kak Arlo ini terus mengintai dirinya, dan hal ini malah membuatnya tidak tenang.

"Kenapa masih di sini? Kak Arlo nggak makan?" tanya Jena ingin mengusirnya secara halus.

"Sudah tadi, makanannya habisin ya, terus jangan lupa obat dan vitaminnya diminum."

"Hmm, nanti aku minum," jawab Jena sembari mengunyah.

Arlo beranjak dari hadapannya, masih di dalam kamarnya menempati sofa sembari menyibukan diri di depan laptop. Banyak pekerj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Fatiya Hasna
Haha... pokoknya diimana ada Jena disitu ada Arlo :)
goodnovel comment avatar
Liyan Damiyanti
masih harus tingkat dewa sabar nya ya arlo
goodnovel comment avatar
Ida Nur
sabarnya diperpanjang ya Arlo...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 38. TMIS

    "Nugas, apa nugas?" tanya Arlo di sebrang telepon. "Beneran nugas lah, kalau tidak percaya bisa tanya sendiri sama Chika." "Oke, pulangnya jangan kesorean. Ngabari juga," kata, Arlo berpesan. "Hmm, semoga tidak lupa." "Semua tergantung niat Jena, tinggal kamunya aja yang mau apa nggak. Ingat, jangan aneh-aneh kamu lagi hamil." "Iya tahu, bawel." "Kamu ngatain suami kamu?" "Dikit, udah dulu Kak, nanggung ini." Jena langsung menutup telponnya, padahal Arlo belum selesai berbicara. Ya sudahlah, biarkan Jena melakukan kegiatannya dulu. Sebenarnya Arlo sengaja jemput mau ngajak Jena keluar untuk belanja. Membeli gaun untuk pertemuan dengan Pak Wilis besok. Tetapi berhubung istrinya sedang sangat sibuk, biarkan Arlo membelikan saja. "Selera Jena yang kaya mana ya," gumam pria itu tidak begitu paham. Namanya juga suami dadakan, mana pernah dia nanya detail kesukaan istrinya. Sebelumnya juga tidak pernah dekat sama sekali. Hanya mengenal sebagai kerabat dekat. "Tanya ma

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 37. TMIS

    "Di mana sih, bukannya tadi aku sudah bawa dari lemari. Nggak mungkin lupa kan?" gumam Jena mencari benda penting miliknya yang entah nyangkut di mana. "Duh ... beneran nggak bawa, ah sial, masa nggak pakai. Mana nyaman, lupa sungguh sangat merepotkan." Akibat bergaduh dulu dengan pak suami, jadi barang yang begitu penting sampai ketinggalan. Harusnya tidak boleh sampai terlewat, mana jadi tidak nyaman harus bolak-balik mengambil lagi. "Kak Arlo masih di kamar nggak ya," batin Jena berharap pria itu sudah minggat dari tadi. Seharusnya berangkat kerja lebih awal. Biar tidak membuat Jena repot karena kelupaan barang penting. Keluar kamar mandi sudah membaca doa, tetapi yang dijumpai pertama tetap wajah Kak Arlo yang belum beranjak dari sana, menyebalkan sekali. "Kak Arlo kok belum berangkat, bukannya ini sudah siang?" tanya Jena sedikit berbasa-basi. Dia perlu mengambil sesuatu, hanya saja malu kalau ketahuan. "Kan sudah bilang mau anter jemput, jadi ya lagi nungguin kamu lah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 36. TMSI

    "Nggak apa Ma, buat Kak Arlo saja," kata Jena tidak keberatan sama sekali. Dia belum terlalu lapar juga, nanti bisa sarapan di kantin fakultas atau warung sekitaran kampus. "Kan bisa berbagi, mau nggak Jen, enak loh," kata Arlo berinisiatif barengan. Ngerasa enak aja, tidak tahu kenapa Arlo mulai nyaman. Apa gegara semalam tidurnya barengan. "Ngawur kamu, sudah sisamu itu." Bu Najwa menggeplak kepalanya pelan. "Aduh Ma, jangan terlalu kejam. Lagian kenapa emang kalau barengan, namanya juga suami istri yang nggak apa berbagi. Jangankan makanan, lainnya aja berbagi. Iya kan Pa? Papa juga gitu kan sama Mama?" Arlo meminta pembelaan, jelas lah Pak Arlan tidak menjawab, dia juga tidak merasa hubungan putra dan menantunya sudah baikan. Memang mereka sekamar, tapi bukan tidak mungkin saling memberi jarak. Sampai ada tragedi mengeluarkan sofa segala. "Biar kamu mikirnya beneran dikit.""Ini udah paling bener kok Ma, kita berdua sedang belajar." Arlo ini lagaknya kaya sudah berumah tan

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 35. TMIS

    Perdana bobo satu ranjang, kenapa malah tidak bisa tidur. Padahal mata mulai ngantuk berat, tetapi pikiran melayang entah ke mana. Arlo masih terjaga, sementara Jena mulai terkantuk-kantuk. "Jen, sudah tidur?" tanya Arlo memastikan. Jdna terbaring dengan posisi memunggunginya. "Beneran udah tidur? Syukurlah, akhirnya bisa merem juga. Ibu hamil itu tidak boleh begadang," kata Arlo mengintip lebih dekat. Mau tahu saja kalau istrinya beneran lelap. "Eh, eh," kata pria itu tergeragsp kaget waktu Jena berpindah posisi hampir ambruk ke tubuhnya. Untungnya Arlo secepat kilat bergeser, jadi masih terselamatkan. "Ya ampun ... katanya jangan dekat-dekat, tapi kenapa malah mendekat. Hampir saja aku jantungan," ucap pria itu sedikit kaget. Jena sudah lelap, dia hanya pindah posisi tanpa terusik. Bahkan tidak menyadari kalau saat ini jarak mereka begitu dekat. Hampir tak ada pembatas malah, Jena melampau tempat yang seharusnya menjadi bagiannya. "Jen! Kamu udah nggak takut lagi ka

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 34. TMIS

    Keduanya ambruk sebab Jena kepleset minyak yang berceceran di lantai akibat tumpah tadi. Sementara Arlo yang panik tadi hendak menolongnya, dan untungnya Jena ambruk ke tubuhnya walaupun tetep kaget dan merasa kesakitan. Jena tertunduk mendesis lara memeluk perutnya sendiri. Arlo yang melihat itu langsung bergegas menolongnya. Tanpa pikir panjang langsung mengendongnya ke ranjang. "Perutnya sakit? Kita ke dokter aja ya, nanti kenapa-napa." Jena berusaha menenangkan diri dengan mengatur napasnya agar lebih rileks. Tadi kaget, jelas janin yang tumbuh di dalam bereaksi sebab ada guncangan tak terduga. Beruntung tidak kebentur apa pun, tetapi tetap saja berbahaya sebab terpental ke samping. "Udah nggak sakit," jawab Jena masih dengan jantung yang berdebar. Namanya orang kaget ya pasti deg degan. Jena kepentok tubuh Arlo, tapi setelahnya ambruk ke samping hingga terjatuh ke lantai. Pantesan saja sakit, ternyata yang tumpah minyak karena licin setelah dipegang. Arlo baru menyad

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 33. TMIS

    "Ya ampun ... apalagi ini, kenapa pintunya dikunci," ujar Arlo tak bisa masuk ke kamarnya. Dia terpaksa menunggu sampai Jena membukakan pintu. Baru juga berdamai dengan masalah tadi, istrinya mulai bertingkah lagi. Sepertinya Jena niat bikin suaminya kesal setiap hari. "Jen, buka pintunya!" seru Arlo setelah menunggu hampir setengah jam di luar. Jena sengaja mengurung diri sebab Kak Arlo suka nyelonong masuk tanpa permisi. Tahu ini kamarnya, tapi kan sekarang menjadi kamarnya juga dan Jena tidak bebas setelah mandi. Dia baru saja keramas jadi perlu mengeringkan rambutnya dulu, sementara tidak mau terlihat oleh suaminya. "Ngapain aja sih lama banget, mandi nggak usah dikunci segala," omel Arlo hampir habis kesabarannya. Lagi bad mood masalah pekerjaan, malah perempuan-perempuan di dekatnya bikin ulah. Makin tambah kesal saja. "Aku lagi ganti, kenapa nggak sabaran banget. Sudah bener kita pisah kamar biar ada privasi. Kak Arlo nggak bakalan kekunci di luar." Jena sebe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status