LOGINTerkadang atas nama cinta, seseorang bisa melakukan segala hal di luar logika. Tetapi apakah cinta sebuta itu? Apakah cinta bisa mengubah seseorang menjadi sejahat itu? Saat salah satu rasa ingin diikat dan kemudian pergi meninggalkan dengan keterpurukan, lalu apakah ia masih bisa mendefinisikan dari makna cinta itu sendiri? Sedangkan masa lalu orangtua membuat kita yakin bahwa takdir itu ada. Bahwa takdir Tuhan adalah di atas segala-segalanya. Lalu kita diwajibkan mengambil keputusan. Memilih atau melepas. Cinta membawa mereka pergi dan membawa untuk kembali. Frel. ............................***.............................. Novel Humor Romantis / Comedy Romance / Romantic Comedy Baca dan buktikan, kalian akan mendapatkan banyak kejutan di dalamnya. Selain cinta segitiga yang sangat kocak dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi tentang persahabatan, keluarga, luka, rahasia masa lalu orangtua yang akan membuat cerita ini lebih seru, geregetan, gemas, baper dan pastinya akan menjungkirbalikkan perasaab kalian semua
View MoreAlice’s POV
“You are getting married to Victor Arc soon.” My father’s voice was calm.....too calm for the storm those words unleashed inside me. For a moment, I just stared at him. My lips parted, but nothing came out. My heart slammed hard against my ribs like it wanted to escape. “W-what?” I finally whispered. “Who?” “Victor Arc,” my father repeated, folding his arms as if this was a normal conversation. “He brought a letter to the house. It states that you and him were engaged as children and should be married when you turn twenty-five.” The room suddenly felt too small. Too hot. Too suffocating. “A letter?” I echoed, my voice barely mine. I had never heard of such a thing. Never. “He said his father told him about it before he died. Though, I was not aware there was a letter like this but I believe it's from my friend because it's his handwriting and the letter looks old,” Dad continued. “Mark Arc was my best friend once… before we fought over that land. After that, everything fell apart. Our friendship ended and your uncle disappeared leaving me and you all alone. It has not been easy for me, you know. This marriage is going to grant me a son, a son I can talk to.” His eyes brighten as he said the last sentence. I swallowed hard. Getting married to Victor? That would be the worst thing that could ever happen to me. …Wouldn’t it? You might be wondering why there’s such bitterness between us. Victor Arc was my childhood friend. No… more than that. He was my first crush. Back then, it was always the three of us.... Victor, Evans Moss, and me. We were inseparable. I can still remember the laughter echoing in Victor’s compound, the way we’d run until we were breathless. Those were the happiest days of my childhood. Our parents were close too… until the land dispute. After that, everything changed. I was no longer allowed to visit Victor’s house. I still remember the night my father told me. I cried myself to sleep, my hands clutching my pillow as if that would somehow bring my best friend back. At first, Victor had only been like a big brother to me. But when I grew older… something shifted. I began to notice the way my heart raced whenever he called my name. How my cheeks burned when he smiled at me. How my stomach fluttered when he winked. And whenever he stood close to me, I felt… safe. Like nothing bad in the world could ever reach me. Victor wasn’t just my friend back then. He was my whole world. “But that was years ago,” I muttered, folding my arms tightly across my chest as if I could shield myself from the past. “I know better now. I won’t let myself get tangled with him again… especially not now that he’s… promiscuous.” The word tasted bitter on my tongue. Different women on his arm every day. I knew. I had seen the photos. Not stalking… just following him on social media. My father’s voice cut through my thoughts like a blade. “And now, I want to honour my late friend’s wishes. The letter is authentic. I trust Victor and I gain a son who will take care of my daughter and my empire. So you must get married to Victor Arc after your twenty-fifth birthday.” His words yanked me back to the present. My stomach dropped. “But Dad…” My voice came out smaller than I intended. “I don’t love him. I barely even know him now. He’s not the same Victor you knew.” My father leaned back in his chair, studying me carefully. “How do you know he’s not the same Victor?” My throat tightened. I opened my mouth… then closed it again. Because I had no answer I could say out loud. “Well?” he pressed. “I’m not marrying him,” I grumbled, my nails digging into my palm. He sighed, the kind that meant the conversation was already over. “Since you have nothing to say, you will marry him. So get ready.” Heat rushed to my face. I spun on my heel and stormed out of the study, my vision blurred with anger. And promptly walked straight into something solid. “Oof....” Not a wall. A chest. Warm. Firm. Breathing. My hands were pressed against it. Slowly, I looked up. Victor. For a second, the world went completely still. I hadn’t seen him in ten years… not in person. But he looked… bigger. Sharper. More dangerous. His jaw was harder, his shoulders broader, his eyes darker.....yet painfully familiar. He stared at me like he’d been expecting this moment. “Hello, Allie. Long time.” He winked. My traitorous face flushed instantly, just like it used to when I was younger. I hated that my body remembered him before my mind could protest. I shoved him away, harder than necessary. “I am NOT getting married to you,” I snapped. He didn’t move. Didn’t even look offended. Instead, that slow, confident smile spread across his face. “Oh, my little Allie…” he said softly. “You will get married to me.” My heart slammed violently against my ribs at the nickname. No one had called me that in years. “No, Victor. I will never marry you,” I shot back, my voice shaking despite my effort to sound firm. “You’re promiscuous. Wicked. And completely terrible.” He raised a brow, amused. “Promiscuous?” he repeated, chuckling under his breath. “What made you say that?” His eyes sparkled with mischief. “Have you been stalking me?” “That’s not....” I stopped myself, clenching my fists. Bloody hell, that smile. It did ridiculous, embarrassing things to my stomach. Victor was devastatingly handsome.... and worse, he knew it. I felt heat creep up my neck. I brushed past him quickly before he could see how flustered I was and rushed into my room, shutting the door behind me. I collapsed onto the bed, pressing a hand to my chest. “Calm down,” I whispered to my racing heart. “Calm down…” Through the wall, I could hear Victor’s voice drifting from my father’s study. Laughter followed. I stared at the ceiling, confusion twisting inside me. Victor had always treated me like a little sister. So where was this marriage coming from? He could have ignored the letter. Destroyed it. Forgotten it. So why now? Why bring it back after all these years? I swallowed hard. What is he planning? Semilir angin, hijaunya pepohonan, serta kicauan burung seakan menyambutku tiap aku datang kemari. Seolah mereka menyapaku dengan salam terindah yang begitu manis.Aku berlari riang ke tempat yang lebih tinggi. Mataku terpejam, terbuai oleh rasa damai yang menentramkan jiwa. Kurentangkan kedua tangan, lalu kuhirup udara sebanyak-banyaknya. Bibir ini sontak tertarik ke atas saat udara segar telah memasuki paru-paruku."Lo kayaknya senang banget tiap gue ajak ke sini." Suara itu memecah kesunyian dalam beberapa menit terakhir.Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum. "Karena di sini gue merasa tenang.""Emang sama gue, lo nggak tenang?" Ia menatapku lekat. Tanpa senyum."Ya ..., t-t-tenang." Mendadak aku gelagapan. Aku mencoba berpikir cepat. "Cuma di sini suasananya lebih damai. Bikin betah. "Ia masih me
Salah satu pelayan restoran menyambutku dan mengantarku berjalan menuju ke dalam. Semakin masuk, aku makin tidak mengerti. Bukannya berhenti di salah satu ruangan, pelayan itu malah tetap mengajakku melangkah terus sampai tiba di sebuah tempat bagian belakang restoran. Dan anehnya, di sini semua gelap tanpa penerangan apa pun.Aku berpaling pada pelayan restoran, melemparkan tatapan bertanya. Bukannya menjawab, ia justru memintaku menutup mata untuk beberapa saat. Walaupun masih banyak tanda tanya di kepala, tetapi tak urung aku melakukannya juga.Kupejamkan mata sambil menghitung waktu. Dalam enam puluh detik, aku sudah mendengar aba-aba membuka mata. Aku menoleh pada pelayan itu dan bertanya, "Apakah ada instruksi lain lagi?" Ia menggeleng dan tersenyum sopan, mempersilakanku maju dan menunjuk sesuatu di depan kami.Mataku melebar dan mulutku menganga dalam detik itu juga. Apa yang terdapat di
Kami berdiri di depan sebuah restoran besar dan mewah. Dari sini, lampunya masih tampak menyala semua, tetapi rasanya sangat sepi. Mungkin karena permintaan Kenn, restoran ini sengaja dikosongkan.Aku dan Dara maju bermaksud mencapai pintu, namun sebelum itu terjadi tiba-tiba dari balik tiang besar yang berada di sisi kiri pintu masuk, Tomi keluar bersama seseorang yang tak asing bagiku.Mataku membola disertai rasa setengah tak percaya. Kututup mulutku begitu melihat jelas sosok cewek yang kini berjalan mendekat ke arahku. Seperti biasanya, ia sangat cantik dan anggun."Sasha, kan?" tanyaku, memastikan dengan mengacungkan jari telunjuk. Ia mengangguk. "Beneran? Sasha yang gampar Tomi pakai kamus?"Sekali lagi Sasha mengangguk sembari tersenyum geli, sedangkan Tomi melotot kejam ke arahku.Tanpa menanggapi Tomi, aku langsung berlari memel
'Untukmu,Cahaya dan napasku.Hidup membawaku pada sebuah misteri yang tak pernah kutahu jawabnya. Memberikan sepercik rasa dan asa namun sekejap hilang tanpa jejak. Memaksaku untuk melupakan seberkas cahaya hangat yang pernah menjadi milikku, dan harus rela menerima apa yang telah digariskan.Memangnya sekuat apa diriku? Memangnya, sebesar apa hati bisa menguasai diri? Jika akal berbicara, apakah hati juga diharuskan menerima? Lalu, untuk apa cahaya itu mendekat jika nyatanya tidak memberikan keleluasaan dalam alur napasku?Semua perasaan ini sangat menyiksaku. Berulangkali mencoba meyakinkan diri dan menghibur diri sendiri agar bisa kuat menerima takdir kita. Namun, sekuat apa pun aku berusaha, hatiku tetap sama. Masih mencintaimu sebagai gadisku yang dulu.Alam menunjukkan banyak peristi
Semuanya sudah berubah. Semua. Tidak ada yang tertinggal satu pun.Dulu, aku berusaha untuk tidak melepasnya dengan cara apa pun. Mencoba tuli, tak mendengar bisikan hati untuk menyerahkan dia padanya. Mencoba buta, tak melihat wajah sedihnya ketika terpaksa harus mem
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku kecil yang jatuh dari atas bufet di ruang tamu. Kupicingkan mataku, dan aku langsung tahu bahwa itu adalah buku tabungan yang diperlihatkan kakek tadi siang kepadaku.Dengan langkah tegas, aku maju dan
Wajahku kini pastinya sudah bersinar-sinar begitu keinginanku terpenuhi. Berbagai macam orang berlalu lalang di sekitar kami. Rata-rata mereka menenteng banyak belanjaan, dihiasi senyum merekah dengan dandanan dan pilihan gaya fashionmereka masing-masing.
Kuhitung sudah tiga kali lebih aku menguap. Ngantuk banget. Ini gara-gara ide Kak Rian yang sungguh gila. Dara lebih gila lagi, mau aja nurutin saran Kak Rian. Padahal dari kemarin ia tolak mentah-mentah ide darinya.Dan tadi, di pagi-pagi buta dengan seenak jidatny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore