LOGINHening beberapa saat, keduanya tak lagi membuka obrolan. Hanya suara detak jam dinding yang begitu jelas. Menandakan kalau waktu sudah cukup malam. Jena masih terpekur di tempat duduknya, sementara Arlo sudah bergerak lebih dulu membersihkan diri.
Hari ini tubuh pria itu rasanya penat sekali. Lelah, ingin segera mengistirahatkan diri seandainya Jena bisa lebih tenang sebentar saja. Tetapi sepertinya gadis itu memang tidak suka melihatnya santai sebentar saja. “Bersihkan tubuhmu, istirahat lah ini sudah malam. Bukannya tadi kamu ngeluh capek.” “Lebih capek lagi lihat kamu di sini,” jawabnya datar. Seandainya saja malam itu Arlo bisa mengendalikan diri, tidak sampai hati menyentuhnya yang membuat Jena hamil, mungkin keduanya tidak pernah akan terjebak ke dalam pernikahan menyebalkan ini. Biar bagaimana pun, menyatu tanpa cinta itu menyakitkan. Jena berlalu ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa penat acara tadi. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan setelah menanggalkan kebaya pengantin yang dikenakannya. Perempuan itu menghabiskan waktu lumayan lama, membuat Arlo yang di luar sana merasa khawatir. Mandi apa semalam ini lama sekali. Sudah lebih dari setengah jam belum juga pintunya terbuka. Baru juga beringsut dari tempat tidur untuk turun, pas kebetulan pintu kamar mandi dibuka. Pandangan mereka langsung bertemu. Setidaknya ada wajah lega di hati Arlo sebab istrinya tidak kenapa-napa. Dia memperhatikan piyama panjang yang dikenakan istrinya. Sangat sopan untuk ukuran malam pertama mereka. "Sudah selesai?" tanya pria itu tenang, terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk Jena meremang seketika. “Hmm, kalau Kak Arlo tidur di ranjang, aku mau tidur di bawah,” ujar Jena tak mau bercampur. “Aku tidak akan menyentuhmu,” kata Arlo lebih dulu membuat statement itu. Biarpun mereka suami istri, tetapi keduanya mempunyai batasannya sendiri yang belum bisa didamaikan. Yang jelas, Jena merasa tidak tenang hanya berdua saja dalam radius yang terlalu dekat. “Memang seharusnya tidak, seharusnya Kak Arlo juga pindah kamar.” “Setelah pulang nanti bisa kita pertimbangkan. Sekarang jangan bergaduh, nanti akan menjadi pertanyaan orang serumah. Biar aku yang tidur di bawah, kamu bisa menempati ranjang,” ujar pria itu mengalah. Jena masih berdiri malas memperhatikan Kak Arlo yang berpindah tempat ke bawah. Beralaskan karpet yang terpasang di kamarnya. Malam ini mereka pertama kali satu ruangan setelah kejadian mengerikan itu. Perempuan itu akhirnya menempati ranjang dengan posisi memunggungi Arlo. Menarik selimutnya hingga rapat. Tubuhnya lelah, tetapi matanya tak kunjung bisa terpejam. Tangan Jena beralih meraba perutnya, sejujurnya dia lumayan lapar. Sedari tadi siang dia melewatkan mengisi perutnya karena terlalu sibuk dengan perasaannya. Giliran malam baru menyadari kalau perutnya meminta diisi. Jena kembali menyibak selimutnya, bangkit dari pembaringan mengambil sikap duduk. Dia kaget saat menoleh menemukan Kak Arlo belum tidur juga. Pria itu tengah fokus tenggelam di depan laptopnya. Jena pikir tadi Kak Arlo sudah tidur atau berharap pergi dari kamar, tapi pria itu malah tengah sibuk di depan layar laptopnya. Ia duduk di lantai, menghadap sisi ranjang yang saat ini digunakan sebagai tempat laptop. Sepertinya Kak Arlo sedikit terusik dengan pergerakannya. Terbukti pria itu kepo tanpa Jena jelaskan. "Mau ke mana? Ini sudah malam?” tanya pria itu sepenuhnya mengalihkan tatapannya pada Jena. “Keluar, aku lapar,” jawab Jena jujur. Beranjak dari tempat tidur, lalu meninggalkan kamar. Jujur, Arlo juga lapar, hanya saja dia sedikit malas untuk keluar. Berhubung Jena sudah lebih dulu keluar, pria itu pun tertarik untuk mengikutinya. “Jangan makan mie instant, nggak baik buat kesehatan. Bukannya masih ada banyak makanan sisa walimahan tadi. Kenapa tidak makan yang ada saja.” “Aku lagi pingin ini, tidak usah peduli.” “Aku berusaha menjaga calon anak kita.” “Cuma sekali doang nggak bakalan mati juga. Kenapa sih berisik banget. Mau ada gizinya ataupun enggak biar saja. Aku yang makan kenapa jadi kamu yang riweh." “Jangan gitu Jen, aku peduli. Mau makan yang lain? Biar aku usahakan, atau mau apa?” tawar pria itu perhatian. Memperbanyak sabar, karena dari tadi terus diuji. “Apaan sih, perkara makan saja harus banget sesuai kemauan kamu.” Jena bersikap bodo amat karena memang dia tidak menginginkan kehamilan ini. Jadi, jangan harap kalau dia bisa bertingkah seperti ibu hamil pada umumnya. Dia malah ingin sekali bayi ini tidak terlahir ke dunia. Arlo menghela napas dalam, prihatin sekali lagi. Memperpanjang sabarnya yang sepertinya akan terus diuji. Dia tidak bisa mengabaikan Jena begitu saja lantaran ada calon anaknya di dalam perut sana. Perempuan itu tetap melanjutkan menyeduh mie instan. Tidak peduli dilarang, makanan ini bahkan rasanya lebih enak dari jamuan prasmanan. Sebenarnya dia jarang juga mengkonsumsi, tapi kalau malam begini rasanya lebih nampol. “Uhuks!” Kurang asem, gegara makan diperhatikan sang suami, Jena sampai tersedak yang membuatnya terbatuk-batuk. Lagian ini orang kurang kerjaan sekali ngapain terus menerus memperhatikan dirinya. “Pelan-pelan, ini minum!” ujar pria itu berbaik hati menyodorkan segelas air putih untuknya. Tadinya Jena mau menolak apa pun dari tangannya, tetapi karena butuh akhirnya disikat juga. Seketika Jena mendadak kenyang, padahal belum habis separonya. Selera makannya tiba-tiba lenyap tak tersisa. “Nggak dihabisin? Tadi bukannya lapar?” tanya pria itu mendapati isi piringnya masih banyak. “Sudah kenyang,” jawab perempuan itu beranjak membawa sisanya ke belakang. Jena buang ke tempat sampah, lalu membersihkan tempatnya. Jena kembali ke kamar lebih dulu, disusul Arlo setelah mengisi perutnya dengan kue-kuenan sisa tadi siang. Masih banyak makanan di meja, dia mengambil secukupnya kenyang, lalu kembali ke kamar. “Astaghfirullah … ini anak beneran sadar nggak sih, kenapa malah dikunci,” batin Arlo kesal bukan main. Pintu kamar tak bisa dibuka. Tidak mungkin juga dia tidur di luar. Pria itu pun mencari cara untuk masuk. Malam-malam terpaksa menemui penjaga Villa meminta kunci kamar cadangan. Untungnya saja ada, walaupun harus menurunkan harga dirinya sebab terpaksa banyak bertanya. Tidak apa juga daripada harus tidur di luar. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. “Dasar nakal, awas saja nanti kubikin kaget sekalian,” batin pria itu berniat tidur di dekatnya. Tadinya cuma mau iseng, kok malah bablas ketiduran beneran. Jena juga sudah tidur, tidak menyadari keberadaan suaminya sama sekali. Wanita itu terlihat nyenyak dengan dengkuran halus yang terdengar. Dia pikir suaminya masih ketinggalan di luar, makanya leluasa menjemput mimpi. Ditambah memang tubuhnya yang lelah butuh istirahat yang nyaman. Sementara Arlo menyadari sepenuhnya kesalahannya. Sebenarnya dia tidak ingin membuat batasan apa pun agar trauma Jena bisa sembuh dengan sendirinya. Dia hanya terjebak dalam situasi yang kurang beruntung. Berharap suatu saat nanti Jena tidak lagi membencinya.Bencana apa lagi ini, baru juga pulang, rasanya dia ingin minggat dari rumah itu seketika. “Jena, kalian sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar Arlo, Jen, beberapa hari ini Tante Anna mau menginap di sini. Lagian kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa juga satu kamar.”Dipikir setelah kejadian itu Jena baik-baik saja apa. Dia trauma, dia sakit tapi mencoba menyembuhkan lukanya sendiri. Sekarang pun demikian, seolah semua terlalu dianggap enteng dan baik-baik saja. Jena bisa gila lama-lama karena banyak ngebatin. “Iya Ma,” jawab Jena pasrah. Namanya juga menumpang, harus terima nasib di mana pun dia tinggal. Jujur, Jena ingin sekali pergi dari rumah ini. Lama-lama dia bisa stress menghadapi orang-orang ini. Bu Najwa baik, Pak Arlan apalagi, tapi mereka semua tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Dengan langkah ragu Jena masuk ke kamar Arlo. Baru masuk saja sudah membuatnya ingin putar balik. Jena meremas samping roknya dengan tatapan bingung. Apakah satu kamar dengannya ama
“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah. Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal. “Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi. “Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas. “Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa. “Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.”“Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.”Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya. “Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena be
Pagi-pagi sekali Arlo terjaga lebih dulu setelah mendengar alarm di ponselnya yang sengaja dia atur lebih awal dari jam biasanya bangun. Pria itu tadinya mau bikin kejutan lantaran kesal sebab semalam dikunciin di luar. Nyatanya dia tidak tega juga, takut kalau calon ibu dari anaknya itu kenapa-napa. Dia mengurungkan niatnya untuk bersikap masa bodoh. Lagi-lagi memperingatkan hatinya untuk lebih sabar lagi menghadapi sepupunya. “Kak Arlo, kok di sini?” tanya Jena begitu membuka mata menemukan suaminya sudah berpakaian rapih. “Pagi Jena, memangnya harus di mana lagi?” balas Arlo tersenyum santai. Jena baru bangun nampak sedikit linglung, semalam dia ingat betul kalau sudah mengunci pintunya. Kenapa jadi Bang Arlo ada di dalam kamarnya pagi-pagi. “Mandi Jen, terus keluar sarapan! Aku tunggu di sini. Kita keluar bareng,” ujar Arlo menunggunya. Bu Najwa pasti akan mengomel jika Arlo tinggal keluar sendiri, ujungnya dia balik lagi memanggil istrinya. Daripada capek bolak-balik, sekal
Hening beberapa saat, keduanya tak lagi membuka obrolan. Hanya suara detak jam dinding yang begitu jelas. Menandakan kalau waktu sudah cukup malam. Jena masih terpekur di tempat duduknya, sementara Arlo sudah bergerak lebih dulu membersihkan diri. Hari ini tubuh pria itu rasanya penat sekali. Lelah, ingin segera mengistirahatkan diri seandainya Jena bisa lebih tenang sebentar saja. Tetapi sepertinya gadis itu memang tidak suka melihatnya santai sebentar saja. “Bersihkan tubuhmu, istirahat lah ini sudah malam. Bukannya tadi kamu ngeluh capek.” “Lebih capek lagi lihat kamu di sini,” jawabnya datar. Seandainya saja malam itu Arlo bisa mengendalikan diri, tidak sampai hati menyentuhnya yang membuat Jena hamil, mungkin keduanya tidak pernah akan terjebak ke dalam pernikahan menyebalkan ini. Biar bagaimana pun, menyatu tanpa cinta itu menyakitkan. Jena berlalu ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa penat acara tadi. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan setelah menanggal
"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelam







