LOGINPagi-pagi sekali Arlo terjaga lebih dulu setelah mendengar alarm di ponselnya yang sengaja dia atur lebih awal dari jam biasanya bangun.
Pria itu tadinya mau bikin kejutan lantaran kesal sebab semalam dikunciin di luar. Nyatanya dia tidak tega juga, takut kalau calon ibu dari anaknya itu kenapa-napa. Dia mengurungkan niatnya untuk bersikap masa bodoh. Lagi-lagi memperingatkan hatinya untuk lebih sabar lagi menghadapi sepupunya. “Kak Arlo, kok di sini?” tanya Jena begitu membuka mata menemukan suaminya sudah berpakaian rapih. “Pagi Jena, memangnya harus di mana lagi?” balas Arlo tersenyum santai. Jena baru bangun nampak sedikit linglung, semalam dia ingat betul kalau sudah mengunci pintunya. Kenapa jadi Bang Arlo ada di dalam kamarnya pagi-pagi. “Mandi Jen, terus keluar sarapan! Aku tunggu di sini. Kita keluar bareng,” ujar Arlo menunggunya. Bu Najwa pasti akan mengomel jika Arlo tinggal keluar sendiri, ujungnya dia balik lagi memanggil istrinya. Daripada capek bolak-balik, sekalian ditungguin saja. “Ngapain sih, tunggu di luar saja. Sana keluar dulu, aku mau mandi!” Jena jelas mengusir Arlo, baru jadi suaminya sehari sudah terlihat menyebalkan begini. Melihat tidak ada pergerakan sedikit pun dari pria itu, membuat Jena merasa harus mengambil tindakan. Wanita itu terpaksa menarik tangan Arlo agar beranjak dari tempat duduknya. “Ada apa Jen, jangan narik-narik, kamu sudah tidak takut lagi padaku?” tanya pria itu mendapati Jena membuat sentuhan kasar pada tangannya. Lebih tepatnya terpaksa menyentuh karena menariknya agar Arlo beranjak dari ranjang. “Kak Arlo bisa tunggu di luar? Aku tidak punya tenaga untuk berdebat.” “Bagaimana caranya aku keluar, pintunya kan kamu kunci. Aku nggak tahu cara bukannya. Bisa minta tolong dibukain Nyonya Ar.” “Aku tidak suka sebutan itu, mana mungkin aku mengunci kamar. Terus bagaimana caranya kamu masuk,” sanggah Jena mangkir. Dia juga lagi mikir bagaimana suaminya masuk. “Menurutmu,” ujar pria itu berdiri mengikis jarak. “Jangan macam-macam ya, saya bakalan teriak kalau Kak Arlo berani dekat-dekat.” Arlo menghela napas kasar, meniup wajahnya dengan gemas. Sebenarnya hubungan mereka sejak kali bertemu datar saja. Tidak ada kedekatan dan cenderung canggung satu sama lain. Tetapi sejak kejadian malam panas itu, Jena membenci abang sepupunya. Pertanggungjawaban itu tak membuatnya senang, sebab memang Jena tidak pernah menginginkan akhir seperti ini. Jena berkedip gelagapan akibat ulah jailnya. Dia mundur memberi jarak aman, yang pasti kesal bukan kepalang dibuatnya. “Mandi Jen, jangan khawatir, aku tidak tertarik dengan tubuhmu. Kemarin hanya sebuah kesalahan, kamu tahu kan aku sudah mempunyai kekasih. Rencana pernikahan kami jadi tertunda gegara aku harus bertanggung jawab padamu.” “Dasar rapist, teriak pun tetap brengsek!” umpat Jena beranjak ke kamar mandi. Arlo terperanjat dengan perkataannya. Kesal sih pagi-pagi dikatain begitu. Dia memang membuat kesalahan besar, tapi bukan penjahat juga. Seandainya saja Jena tidak hamil pun Arlo berencana untuk bertanggung jawab. “Terserah kamu saja lah,” gumam pria itu pasrah. Pria itu masih menunggu di ruangan. Sampai Jena keluar pun belum beranjak dari tempatnya. Untung saja Jena memakai bathrobe panjang, walaupun tidak bisa menyelamatkan kaki jenjangnya yang terekspos nyata. Pandangan mereka langsung bertemu saat pintu dibuka. Jena langsung memutus lebih dulu, lalu beranjak mengambil ganti. Sebenarnya dia tidak nyaman sama sekali, tetapi bagaimana caranya mengusir pria ini agar lenyap dari hadapannya. Jena memakai pakaian longgar untuk menutupi perutnya. Dia tidak ingin terlihat seperti sedang berbadan dua. Biar bagaimanapun, pernikahan itu hanya status untuk menyelamatkan reputasinya karena sudah kadung hamil. Seandainya tidak, Jena enggan menikah dengan pria yang telah merenggut kehormatannya. Gegara Kak Arlo, pergerakan Jena menjadi begitu terbatas. Seolah pergerakan dirinya diperhatikan dan Jena jujur risih saja. Bahkan ruang kamar yang menjadi tempat ternyaman selama ini tidak lagi sejak kedatangan pria itu nimbrung di ranjangnya. Stop menormalisasi perbuatan bejat pelaku hanya karena dia tampan dan mapan. Lebih-lebih bertanggung jawab terhadap korban. Karena sesungguhnya pihak yang dirugikan sangat tidak aman dan mempunyai trauma mendalam tanpa bisa bersuara dengan lantang. “Jangan menatapku seperti itu. Lakukan saja sesukamu, aku tidak akan mengganggumu,” kata Arlo mendapati tatapan dingin istrinya. Sebenarnya Jena itu cantik, cuma memang galak dari sananya. Arlo sudah menganggapnya adik, walaupun mereka tidak dekat satu sama lain. Mereka menyadari betul ada batasan persaudaraan di antara keduanya. Namun, keadaan lah yang justru menyatukan mereka. “Keberadaan Kakak membuat mataku sakit, nyampah pemandangan aku pagi-pagi.” “Sepertinya kamu harus ke rumah sakit,” balas Arlo dibawa santai saja. “Kenapa?” sahut Jena tertarik untuk meladeni walaupun sebenarnya sudah muak sekali dengan tampangnya yang minim rasa bersalah. “Ya mata kamu perlu diperiksa, barang kali silindernya nambah. Masa setampan ini bisa juga membuat yang melihat sakit mata.” Please … ini bukan waktunya bercanda, hanya saja Arlo memang butuh sedikit hiburan untuk menyamarkan perasaan dan harga dirinya. Jena kalau ngomong pedes level tiga belas, sebisa mungkin jangan menanggapi serius biar minim sakit hati. “Aku nggak silinder ya,” sanggah Jena cepat. Dan apa katanya? Tampan? Iya, Kak Arlo memang tampan, tetapi Jena sama sekali tidak tertarik pada suaminya. Lebih dengan akhlaknya yang minus setelah malam itu. Bagi Jena semua hal buruk menempel pada pria itu karena tidak bisa mengontrol diri. “Owh, mana tahu, soalnya nggak bisa lihat cowok ganteng di dekatnya.” “Nggak usah kepedean,” katanya berlalu kesal. Ya Tuhan … rasanya Jena tidak pernah semuak ini dengan orang. Bisanya dia terperangkap pernikahan dengan pria macam ini. “Pagi Jena, ayo sarapan!” sapa Bu Najwa selalu murah senyum dan baik hati. Ibu mertuanya itu memang paling pengertian dan sulit Jena abaikan. Begitu pun dengan Pak Pak Arlan yang begitu bijak. Mereka sudah menempati meja makan lebih dulu. “Pagi Budhe, Pakde,” jawab Jena mengambil duduk. Panggilan Jena belum berubah, dia masih belum terbiasa walaupun kemarin sudah mendapatkan teguran halus dari Bu Najwa. “Hari ini Jena mau langsung pulang atau di Villa dulu?” tanya Bu Jena melihat penampilan Jena sudah rapih. Ya barang kali mau menghabiskan waktu berdua dulu di sini. “Pulang, Jena mau masuk kuliah Budhe , kemarin udah banyak absennya,” jawabnya beralasan. Memang benar sih, bosen juga di sini, apalagi sama Bang Arlo yang sok itu. “Pulangnya bareng setelah sarapan, Ma.” “Jena ikut mobil Budhe,” kata Jena sengaja menghindari pulang bareng Arlo. “Kamu bareng aku Jen, mobil papa nggak muat, yang lainnya mau dikemanain,” tanggap Arlo mengingat ada dua pekerja rumah yang pulang bareng juga. Belum lagi barang bawannya banyak. Jena terdiam dengan tatapan tak setuju, tapi lagi-lagi dia tidak bisa membantah. Seolah hidupnya distrir oleh keluarga ini semua.Bencana apa lagi ini, baru juga pulang, rasanya dia ingin minggat dari rumah itu seketika. “Jena, kalian sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar Arlo, Jen, beberapa hari ini Tante Anna mau menginap di sini. Lagian kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa juga satu kamar.”Dipikir setelah kejadian itu Jena baik-baik saja apa. Dia trauma, dia sakit tapi mencoba menyembuhkan lukanya sendiri. Sekarang pun demikian, seolah semua terlalu dianggap enteng dan baik-baik saja. Jena bisa gila lama-lama karena banyak ngebatin. “Iya Ma,” jawab Jena pasrah. Namanya juga menumpang, harus terima nasib di mana pun dia tinggal. Jujur, Jena ingin sekali pergi dari rumah ini. Lama-lama dia bisa stress menghadapi orang-orang ini. Bu Najwa baik, Pak Arlan apalagi, tapi mereka semua tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Dengan langkah ragu Jena masuk ke kamar Arlo. Baru masuk saja sudah membuatnya ingin putar balik. Jena meremas samping roknya dengan tatapan bingung. Apakah satu kamar dengannya ama
“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah. Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal. “Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi. “Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas. “Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa. “Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.”“Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.”Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya. “Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena be
Pagi-pagi sekali Arlo terjaga lebih dulu setelah mendengar alarm di ponselnya yang sengaja dia atur lebih awal dari jam biasanya bangun. Pria itu tadinya mau bikin kejutan lantaran kesal sebab semalam dikunciin di luar. Nyatanya dia tidak tega juga, takut kalau calon ibu dari anaknya itu kenapa-napa. Dia mengurungkan niatnya untuk bersikap masa bodoh. Lagi-lagi memperingatkan hatinya untuk lebih sabar lagi menghadapi sepupunya. “Kak Arlo, kok di sini?” tanya Jena begitu membuka mata menemukan suaminya sudah berpakaian rapih. “Pagi Jena, memangnya harus di mana lagi?” balas Arlo tersenyum santai. Jena baru bangun nampak sedikit linglung, semalam dia ingat betul kalau sudah mengunci pintunya. Kenapa jadi Bang Arlo ada di dalam kamarnya pagi-pagi. “Mandi Jen, terus keluar sarapan! Aku tunggu di sini. Kita keluar bareng,” ujar Arlo menunggunya. Bu Najwa pasti akan mengomel jika Arlo tinggal keluar sendiri, ujungnya dia balik lagi memanggil istrinya. Daripada capek bolak-balik, sekal
Hening beberapa saat, keduanya tak lagi membuka obrolan. Hanya suara detak jam dinding yang begitu jelas. Menandakan kalau waktu sudah cukup malam. Jena masih terpekur di tempat duduknya, sementara Arlo sudah bergerak lebih dulu membersihkan diri. Hari ini tubuh pria itu rasanya penat sekali. Lelah, ingin segera mengistirahatkan diri seandainya Jena bisa lebih tenang sebentar saja. Tetapi sepertinya gadis itu memang tidak suka melihatnya santai sebentar saja. “Bersihkan tubuhmu, istirahat lah ini sudah malam. Bukannya tadi kamu ngeluh capek.” “Lebih capek lagi lihat kamu di sini,” jawabnya datar. Seandainya saja malam itu Arlo bisa mengendalikan diri, tidak sampai hati menyentuhnya yang membuat Jena hamil, mungkin keduanya tidak pernah akan terjebak ke dalam pernikahan menyebalkan ini. Biar bagaimana pun, menyatu tanpa cinta itu menyakitkan. Jena berlalu ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa penat acara tadi. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan setelah menanggal
"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelam