LOGINBencana apa lagi ini, baru juga pulang, rasanya dia ingin minggat dari rumah itu seketika.
“Jena, kalian sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar Arlo, Jen, beberapa hari ini Tante Anna mau menginap di sini. Lagian kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa juga satu kamar.” Dipikir setelah kejadian itu Jena baik-baik saja apa. Dia trauma, dia sakit tapi mencoba menyembuhkan lukanya sendiri. Sekarang pun demikian, seolah semua terlalu dianggap enteng dan baik-baik saja. Jena bisa gila lama-lama karena banyak ngebatin. “Iya Ma,” jawab Jena pasrah. Namanya juga menumpang, harus terima nasib di mana pun dia tinggal. Jujur, Jena ingin sekali pergi dari rumah ini. Lama-lama dia bisa stress menghadapi orang-orang ini. Bu Najwa baik, Pak Arlan apalagi, tapi mereka semua tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Dengan langkah ragu Jena masuk ke kamar Arlo. Baru masuk saja sudah membuatnya ingin putar balik. Jena meremas samping roknya dengan tatapan bingung. Apakah satu kamar dengannya aman. “Istirahat saja kalau capek, semua barangmu ada di lemari bagian kanan,” ucap Arlo lalu beranjak ke kamar. Jena tidak menyahut, tertarik untuk duduk di sofa sejenak daripada di ranjang. Masih mikir bagaimana nasibnya nanti malam dan hari-hari ke depan. Haruskah dia tetap di ruangan yang sama. Sementara Arlo terlihat sibuk dengan laptopnya. Tak berselang lama pamit keluar entah ke mana. Jena tidak tertarik untuk bertanya juga. Yang jelas dia senang saat pria itu tidak di dekatnya. “Aku ada urusan di luar, pergi dulu ya,” ucap pria itu membagi tahu. Tidak mendapatkan respon istrinya tidak masalah. Yang penting sudah melapor, merasa ada keharusan saja setelah menikah. Baru juga rasanya Jena bernapas lega mau melepas hijabnya, dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka. Untungnya saja masih selamat, sungguh ngagetin saja. “Mau ambil ponsel, ketinggalan,” katanya melihat tatapan dingin Jena. Berjalan ke arah nakas, lalu mengantongi smartphonenya. “Eh, ya, nanti aku pulang agak malam, jangan dikunci, aku tidak punya kunci ganda,” ujar pria itu memperingatkan Mau pulang malam, pulang pagi, tidak pulang sekalian. Bodo amat, Jena malah senang kalau Bang Arlo tidak pulang sekalian. Dia tidak harus repot terus berhadapan dengan pria itu. Benar saja sampai jam makan malam Arlo belum kembali. Hal itu menjadi sumber pertanyaan bagi Bu Najwa dan Pak Arlan. “Arlo kok nggak makan, apa dia belum pulang?” “Belum Ma, tadi nitip pesan katanya pulang malam.” “Dasar anak tidak ada aturan, lain kali jangan dibolehin Jen, minimal pulang kerja langsung ke rumah. Kalau ada urusan juga harus jelas. Kamu tidak apa-apa banget kalau mau protes-protes, sekarang kan kamu istrinya. Kalau ada yang tidak berkenan, ngomong langsung.” Jujur, Bu Najwa masih kepikiran. Takut kalau Arlo masih menemui mantan kekasihnya. Dia sudah bersedia menikahi Jena berarti siap meninggalkan masa lalunya. “Iya Ma,” jawab Jena mengiyakan saja. Sejujurnya Jena tidak peduli apa pun yang dilakukan Kak Arlo di luar sana. Dia mengiyakan saran mertuanya karena tidak mau banyak berdebat. “Sudah ditelfon?” tanya wanita itu lagi mengingatkan. “Iya Ma, nanti Jena telfon,” jawabnya mengiyakan. Jena malah seneng kalau Arlo tidak pulang. Dia bisa leluasa di kamarnya. Berharap suaminya tidak pulang sama sekali malam ini. Perempuan itu sengaja menempati sofa, tahu diri sedikit dari yang punya kamar. Mana tahu nanti malam Kak Arlo pulang,setidaknya Jena tidak harus seranjang. Entah jam berapa Arlo kembali, yang jelas dia sudah terjaga menemukan dirinya terlelap di ranjang dengan nyaman. Sementara pria itu, tertidur di sofa tanpa selimut. Membiarkan tubuhnya kedinginan karena hawa AC di ruangan itu lumayan dingin. “Kok aku bisa di sini, nggak mungkin kan aku tidur pindah sendiri. Apa Kak Arlo yang pindahin aku,” batin Jena kepikiran. Bisa-bisanya dia tidak ingat dan tidak terusik juga saat Kak Arlo menggendongnya. Semalam Jena sadar betul kalau dia menempati sofa. “Dia masih tidur? Ah, bodo amat, mau tidur selamanya juga bukan urusanku,” batin wanita itu turun dari ranjang. Jena bergegas membersihkan diri, hari ini dia mau masuk kuliah. Setelah beberapa hari absen sebab masalah hidupnya. Wanita itu lebih dulu menyiapkan ganti sebelum masuk ke kamar mandi. Tadinya Jena mau langsung nyelonong masuk, tapi menyadari di sofa sudah tidak terisi. Berarti Bang Arlo sudah bangun dan pria itu mungkin saja ada di dalam bilik sana. Benar saja, Kak Arlo menyerobot jatah paginya. Seharusnya Jena dulu yang bersih-bersih, sekarang malah harus menunggunya. “Duh … lama banget sih ngapain aja,” gumam Jena menunggu sedikit tidak sabar. Tak berselang lama pintu terbuka, Bang Arlo keluar dengan handuk saja. Spontan Jena shock melihat pemandangan di depan mata. Berani sekali pria ini bertelanjang dada, hampir saja membuatnya jantungan melihat tubuhnya. Seketika Jena pucat, bukan karena melihat tubuh atletisnya yang proporsional, tetapi takut dan seketika bayangan malam mendekap itu kembali berputar di otaknya. “Astaghfirullahalazim, orang gila mana yang tidak punya adan begini,” batin Jena seketika panas dingin. Tahu lah kalau sekarang mereka sudah menikah. Tapi bisa kah pria ini lebih sopan agar tidak semaunya bertingkah. Jena sangat tidak nyaman. “Mau mandi kan Jen, sok sudah lega,” ujar pria itu menginterupsi. Jena langsung kabur ke kamar mandi, sepanjang membersihkan diri otaknya tidak tenang. Merasa tidak pernah aman hidup di rumah ini. Begitu selesai, Jena tidak langsung keluar. Menyiapkan hatinya lebih dulu setelah memakai pakaiannya lengkap. Untungnya sudah mempersiapkan gantinya lebih dulu. “Sudah selesai? Lain kali tak perlu sekaku itu. Ayo keluar, kita sudah ditunggu sarapan!” Kak Arlo selalu saja berbicara tenang, saking lempengnya kadang malah membuat Jena parno sendiri. “Nanti ke kampus jam berapa? Mulai sekarang biar aku antar.” “Nggak usah, aku sudah pesan ojek.” “Nggak boleh naik motor, jalanan tidak ramah. Aku tidak mau calon anakku kenapa-napa.” “Aku bukan sakit, hanya hamil, tidak usah lebay. Bisa kan jangan terlalu mengusik kehidupan aku.” “Bisa, tidak perlu khawatir. Tapi kamu sedang membawa calon pewaris Wijaya satu-satunya. Sabar ya, hanya sampai anak itu lahir. Setelahnya kamu bebas memilih kehidupanmu sendiri,” kata Arlo tenang.Bencana apa lagi ini, baru juga pulang, rasanya dia ingin minggat dari rumah itu seketika. “Jena, kalian sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar Arlo, Jen, beberapa hari ini Tante Anna mau menginap di sini. Lagian kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa juga satu kamar.”Dipikir setelah kejadian itu Jena baik-baik saja apa. Dia trauma, dia sakit tapi mencoba menyembuhkan lukanya sendiri. Sekarang pun demikian, seolah semua terlalu dianggap enteng dan baik-baik saja. Jena bisa gila lama-lama karena banyak ngebatin. “Iya Ma,” jawab Jena pasrah. Namanya juga menumpang, harus terima nasib di mana pun dia tinggal. Jujur, Jena ingin sekali pergi dari rumah ini. Lama-lama dia bisa stress menghadapi orang-orang ini. Bu Najwa baik, Pak Arlan apalagi, tapi mereka semua tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Dengan langkah ragu Jena masuk ke kamar Arlo. Baru masuk saja sudah membuatnya ingin putar balik. Jena meremas samping roknya dengan tatapan bingung. Apakah satu kamar dengannya ama
“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah. Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal. “Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi. “Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas. “Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa. “Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.”“Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.”Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya. “Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena be
Pagi-pagi sekali Arlo terjaga lebih dulu setelah mendengar alarm di ponselnya yang sengaja dia atur lebih awal dari jam biasanya bangun. Pria itu tadinya mau bikin kejutan lantaran kesal sebab semalam dikunciin di luar. Nyatanya dia tidak tega juga, takut kalau calon ibu dari anaknya itu kenapa-napa. Dia mengurungkan niatnya untuk bersikap masa bodoh. Lagi-lagi memperingatkan hatinya untuk lebih sabar lagi menghadapi sepupunya. “Kak Arlo, kok di sini?” tanya Jena begitu membuka mata menemukan suaminya sudah berpakaian rapih. “Pagi Jena, memangnya harus di mana lagi?” balas Arlo tersenyum santai. Jena baru bangun nampak sedikit linglung, semalam dia ingat betul kalau sudah mengunci pintunya. Kenapa jadi Bang Arlo ada di dalam kamarnya pagi-pagi. “Mandi Jen, terus keluar sarapan! Aku tunggu di sini. Kita keluar bareng,” ujar Arlo menunggunya. Bu Najwa pasti akan mengomel jika Arlo tinggal keluar sendiri, ujungnya dia balik lagi memanggil istrinya. Daripada capek bolak-balik, sekal
Hening beberapa saat, keduanya tak lagi membuka obrolan. Hanya suara detak jam dinding yang begitu jelas. Menandakan kalau waktu sudah cukup malam. Jena masih terpekur di tempat duduknya, sementara Arlo sudah bergerak lebih dulu membersihkan diri. Hari ini tubuh pria itu rasanya penat sekali. Lelah, ingin segera mengistirahatkan diri seandainya Jena bisa lebih tenang sebentar saja. Tetapi sepertinya gadis itu memang tidak suka melihatnya santai sebentar saja. “Bersihkan tubuhmu, istirahat lah ini sudah malam. Bukannya tadi kamu ngeluh capek.” “Lebih capek lagi lihat kamu di sini,” jawabnya datar. Seandainya saja malam itu Arlo bisa mengendalikan diri, tidak sampai hati menyentuhnya yang membuat Jena hamil, mungkin keduanya tidak pernah akan terjebak ke dalam pernikahan menyebalkan ini. Biar bagaimana pun, menyatu tanpa cinta itu menyakitkan. Jena berlalu ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa penat acara tadi. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan setelah menanggal
"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelam







