Share

Bab 6. TMIS

Penulis: Asri Faris
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 01:02:17

"Terserah, aku nggak mau dianter Kak Arlo."

"Anggap saja aku mengantar dan melindungi calon anakku."

"Kenapa sih harus maksa, aku nggak mau orang-orang tahu kalau kita punya hubungan."

"Tanpa harus menjelaskan juga semua orang tahu kalau kita ini punya hubungan kerabat. Jadi, apa yang kamu khawatirkan."

Arlo benar, tetapi bukankan dulu mereka memang tidak sedekat ini. Bahkan sejak Jena datang ke rumahnya, dia terkesan cuek dan tak peduli. Kena juga tidak mempermasalahkan hal itu. Mengingat tidak begitu penting juga dia mau baik atau tidak, yang penting Budhe Najwa dan suaminya itu begitu baik dan menerimanya.

"Pagi Ma!" sapa Arlo bergabung di meja makan.

"Pagi, Jena sudah rapih saja, hari ini ke kampus kah?"

"Iya Budhe, hari ini mulai masuk, kemarin sudah banyak absen."

"Hmm, kok manggilnya Budhe lagi, mama dong Jen, kamu kan sekarang istrinya Arlo."

Istri status, setelah anak ini lahir, Jena justru sudah merencanakan perpisahan. Dia tidak mungkin hidup dengan pelaku tindak kejahatan.

"Belum terbiasa ya, nggak apa sih, pelan-pelan saja. Ayo makan yang banyak, kamu harus sehat agar kehamilan kamu tumbuh sehat," ucap Bu Najwa selalu baik.

Orang-orang di sini baik, Jena sebenarnya betah, tetapi sejak malam mengerikan itu, dia justru merasa semakin terpenjara di sini dalam tekanan. Selalu ada banyak kekhawatiran dan ketakutan. Hanya saja dia simpan sendiri. Tak ada tempat mengadu baginya, sedangkan untuk pergi, bagaimana dengan biaya hidup dan kuliahnya. Orang tuanya bahkan sudah tidak mengirim uang jajan lagi setelah tahu putrinya menikah dengan Arlo.

"Iya Budhe, eh Ma," jawabnya mengangguk.

Baru beberapa suapan, mendadak Jena merasa tidak nyaman sekali. Perutnya seperti diaduk-aduk mau muntah. Seketika dia berdiri meninggalkan meja makan, berlari sembari mual-mual.

Arlo yang di sampingnya reflek ikut beranjak menyusul Jena. Mendapatinya tengah muntah-muntah kenapa justru perasaannya jadi tidak karuan begini.

"Jena, kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu iba.

Tangan Arlo terulur memijat tengkuk istrinya begitu saja, tetapi Jena justru menepisnya kasar dengan tatapan kesal.

"Nggak nyaman banget ya?" tanya pria itu tidak baper sama sekali. Malah menanyakan keadaan Jena dengan rasa khawatir.

"Minggir bisa nggak sih, nggak usah sok care," kata Jena tak suka.

Entahlah, bawaannya sebel saja sama manusia satu ini. Yang namanya kesal dan tidak suka, kalau dideketin itu tambah mual. Tetapi Arlo sepertinya tidak begitu peduli respon Jena yang begitu dingin. Dia malah berusaha sabar dan tetap menanyakan penuh khawatir.

"Emang peduli kan? Kamu itu sedang hamil anak aku. Aku harus memastikan semuanya baik-baik saja."

Masalahnya Jena ini tidak suka dulu dengan suaminya. Jadi apa pun yang Arlo lakuin serasa salah terus di mata dia. Itu semua ya karena emang salah Arlo di awal. Dia merampas yang paling berharga dengan cara yang tidak benar, siapa pun pasti murka atas peristiwa itu bukan malah dinikahkan.

"Aku bisa urus diriku sendiri, Kak Arlo tolong jaga batasan."

"Hmm, cuma sentuhan kecil. Apa yang kamu takutkan?"

Apa benar Jena setrauma itu sampai benar-benar tidak mau menerimanya. Dia memang salah, tetapi kejadian itu sungguh bukanlah sengaja. Seandainya saja malam itu Arlo tidak menemukan Jena dan berakhir di kamarnya, mungkin ceritanya tidak begini. Dan dia sudah menikah dengan kekasihnya saat ini. Tidak perlu menghabiskan drama sembilan bulan.

Perkataan Arlo justru terdengar meremehkan di telinga Jena. Dia tidak ngerti apa, kalau apa pun yang pria itu lakukan membuatnya tidak tenang. Bahkan setiap hari Jena merasa malah semakin terkekang. Hidup dalam bayang-bayang pria ini selama sembilan bulan, benar-benar bisa membuatnya gila.

"Kalau Kak Arlo ingin anak ini sehat, tolong jauhi aku," ucap Jena lalu beranjak.

"Jen, masih mual banget?" tanya Bu Najwa memastikan.

"Nggak Ma, Jena berangkat dulu, maaf perut Jena mual dengan menu pagi ini. Tapi masakannya enak kok, cuma sepertinya kondisiku yang sedang butuh adaptasi."

Namanya juga hamil muda, selain moodswing parah biasa kan mendadak alergi bau-bauan atau makanan olahan.

"Tidak apa, kamu bisa ganti sarapan di luar dengan menu yang kamu suka. Eh, Jen, kamu berangkat pakai apa?"

"Dianterin Arlo, Ma, sekalian Arlo berangkat," sahut Arlo mengekor cepat.

Pria itu ikut menyalim takzim ibu dan ayahnya, lalu berjalan cepat menyusul Jena yang sudah lebih dulu keluar.

"Kalau takut ketahuan teman-teman kamu, nanti bisa turun di jalan. Ayo naik, jangan khawatir, aku bakalan jaga jarak," kata pria itu mengalah.

Arlo yang paling bersalah, jadi dia harus memaklumi sikap Jena yang demikian. Arlo paham sebenarnya Jena dulu tidak sesengak ini. Tetapi kejadian itu merubah semuanya. Menjadikan tembok kebencian dirinya makin menyala.

Pria itu harus pandai atur strategi dan mengambil hatinya. Sebisa mungkin mendengarkan saja kalau lagi marah, jangan terpancing walaupun terus menguji kesabaran.

"Terima kasih, tapi bisa kan jadi orang nggak maksa."

Dipikir Jena bakalan mau, eh malah masih kekeh menolak. Pria itu mendengus kasar saat kang ojek menjemput istrinya. Rupanya abang-abang itu lebih laku daripada jasa dirinya.

"Bang, istriku lagi hamil, tolong bawa motornya pelan-pelan saja ya," ucap Arlo tiba-tiba saja ikut mendekat lalu berkata demikianlah.

Jena melotot di tempat, istri? Kenapa Jena tidak nyaman sekali dengan status itu. Kenapa juga harus banyak ngomong segala. Bikin mood Jena tambah berantakan.

"Siap Mas, tenang saja, saya ojek ramah lingkungan," jawabnya soft spoken.

"Alhamdulillah, nitip ya Bang, anterin sampai kampus."

"Tapi tadi rutenya bukannya ke—"

Jena mendelik kuat saat kang ojol tiba-tiba hendak menjelaskan. Ekpresi wajahnya yang berubah, jelas membuat Arlo ngeh seketika.

"Kamu nggak mau ke kampus?" tanya Arlo memastikan. Jangan sampai istri kecilnya ini kelayapan atau pergi ke tempat yang tidak benar.

"Kata siapa? Kerja berangkat aja, ngapain sih peduli banget sama hidup orang."

Jena langsung meminta kang ojol untuk tancap gas. Dia benar-benar dalam pengawasan lantaran Arlo mengikutinya dari belakang. Mau tidak mau yang tujuan Jena lain terpaksa harus ke kampus. Dia memang tidak berniat absen, hanya saja mengambil cuti sekali lagi sebab ada urusan.

"Ish, tuh orang ngapain sih, kurang kerjaan banget sampai ngikutin ke sini segala."

Satu-satunya cara memutuskan hubungan mereka ya dengan melenyapkan calon buah hatinya. Jena tidak mau mempertahankan janin ini, dia selalu merasa marah mengingat ada maklum kecil yang bersemayam di rahimnya.

"Benar-benar ya," batin gadis itu tak bisa lepas dari kacamata suaminya. Mau tidak mau akhirnya Jena mengikuti kelas dengan tertib, sudah kadung sampai di kampus juga. Bertemu dengan teman membuatnya sedikit lebih baik. Dia bisa melanjutkan misinya nanti setelah jam kuliah berakhir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Asri Faris
Up pagi kak
goodnovel comment avatar
Baim Ibrahim
kak asri tolong up
goodnovel comment avatar
bismillah
kak asri kok s jena blm up juga
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 41. TMIS

    "Istighfar yang banyak, biar pahalanya bertambah," kata Jena santai. "Ya emang harus gini hidup, kamu ngeselin banget jadi cewek.""Udah tahu ngeselin kenapa malah dinikahin.""Aku bertanggung jawab Jena, masa kamu nggak ngerti.""Makanya nafsu tuh dijaga, punya pacar kenapa maksa orang lain. Parah banget sih Kak Arlo," kata Jena puas. Biarlah ngomong begitu, dia kesal dan hanya sekarang-sekarang saja berani mengeluarkan uneg-unegnya. Kemarin dia cuma diem, memendam semuanya. Mana ada yang tahu kalau keadaannya begitu menyiksa dan menghancurkan mentalnya. Bahkan mengalami trauma yang dianggap biasa saja oleh pelaku utama. Sudah begitu masih harus mendapatkan hinaan dari pacarnya sebagai perebut laki orang. "Oke, dalam hal ini aku salah. Tapi asal kamu tahu aja ya, aku nggak mungkin ngelakuin itu kalau tidak dalam pengaruh obat. Jadi, kesimpulannya aku juga korban. Dah lah, aku malas berantem, cobain gaunnya, semoga pas."Stop berdebat sampai di sini atau perdebatan mereka bisa beru

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 40. TMIS

    "Kita masih bisa berteman kan walaupun kamu sudah menikah." "Tentu saja Git, kita masih berteman. Kamu kemarin kenapa hindarin aku?"Jena merasa Regit jadi bersikap dingin sejak munculnya vidio viral itu. Dia memang tidak bisa mengalahkan pihak mana pun dalam kasus ini, walaupun dirinya korban, tetap saja ada pihak tertentu yang masih menyudutkan. Bahkan terang-terangan mengatasinya lewat komentar pedas. "Jujur aku agak kaget sih denger berita viral itu. Aku kira karena pacar Kak Arlo cemburu aja jadi nyerang kamu. Eh, ternyata malah beneran kalau kalian udah nikah. Emang sejak kapan nikahnya Jen? Aku tetangga kok nggak tahu kalau di rumah kamu ada pernikahan.""Sudah sekitar tiga bulan ini sih, kami memang melangsungkan secara tertutup. Hanya mengundang kerabat saja dan pernikahannya juga dilakukan di lain tempat."Gegara Regit banyak nanya, akhirnya Jena spil juga masalah pernikahan mereka walaupun tidak sedetail kenyataannya. "Pantesan sikap Bang Arlo aneh gitu, aku ke rumah ka

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 39. TMIS

    "Semoga saja pas, tubuh Jena kan kira-kira segitu kan ya," gumam pria itu sembari perjalanan pulang. Sedari tadi handphone Arlo terus berisik sebab Risa yang menghubungi, dia tidak tahan lagi dan akhirnya mengangkatnya juga. *** "Arlo, di mana? Berapa kali aku menghubungimu, kenapa nggak diangkat?" "Sedang perjalanan pulang, aku sibuk maaf." "Sibuk belanja buat si jalang itu?" "Jangan ngomong gitu Ris, jaga ucapan kamu." "Iya, terus aja belain, siapa lagi sebutannya buat orang yang suka merebut laki orang." "Kita belum menikah, tidak ada yang merebut. Kalau telfon cuma mau marah tutup aja." "Berani ya kamu sekarang main tutup saja, aku belum selesai ngomong." Sebenarnya Arlo bisa saja langsung memutus panggilan, hanya saja dia malas memperpanjang urusan. Ditambah Risa pasti akan menerornya melalui pesan. Dia bukan orang yang super tegaan setelah tidak suka lalu buang. Perasaannya cenderung kasihan kalau memang tidak membuat kesalahan. Dengan Arlo bersikap demikian, biarlah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 38. TMIS

    "Nugas, apa nugas?" tanya Arlo di sebrang telepon. "Beneran nugas lah, kalau tidak percaya bisa tanya sendiri sama Chika." "Oke, pulangnya jangan kesorean. Ngabari juga," kata, Arlo berpesan. "Hmm, semoga tidak lupa." "Semua tergantung niat Jena, tinggal kamunya aja yang mau apa nggak. Ingat, jangan aneh-aneh kamu lagi hamil." "Iya tahu, bawel." "Kamu ngatain suami kamu?" "Dikit, udah dulu Kak, nanggung ini." Jena langsung menutup telponnya, padahal Arlo belum selesai berbicara. Ya sudahlah, biarkan Jena melakukan kegiatannya dulu. Sebenarnya Arlo sengaja jemput mau ngajak Jena keluar untuk belanja. Membeli gaun untuk pertemuan dengan Pak Wilis besok. Tetapi berhubung istrinya sedang sangat sibuk, biarkan Arlo membelikan saja. "Selera Jena yang kaya mana ya," gumam pria itu tidak begitu paham. Namanya juga suami dadakan, mana pernah dia nanya detail kesukaan istrinya. Sebelumnya juga tidak pernah dekat sama sekali. Hanya mengenal sebagai kerabat dekat. "Tanya ma

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 37. TMIS

    "Di mana sih, bukannya tadi aku sudah bawa dari lemari. Nggak mungkin lupa kan?" gumam Jena mencari benda penting miliknya yang entah nyangkut di mana. "Duh ... beneran nggak bawa, ah sial, masa nggak pakai. Mana nyaman, lupa sungguh sangat merepotkan." Akibat bergaduh dulu dengan pak suami, jadi barang yang begitu penting sampai ketinggalan. Harusnya tidak boleh sampai terlewat, mana jadi tidak nyaman harus bolak-balik mengambil lagi. "Kak Arlo masih di kamar nggak ya," batin Jena berharap pria itu sudah minggat dari tadi. Seharusnya berangkat kerja lebih awal. Biar tidak membuat Jena repot karena kelupaan barang penting. Keluar kamar mandi sudah membaca doa, tetapi yang dijumpai pertama tetap wajah Kak Arlo yang belum beranjak dari sana, menyebalkan sekali. "Kak Arlo kok belum berangkat, bukannya ini sudah siang?" tanya Jena sedikit berbasa-basi. Dia perlu mengambil sesuatu, hanya saja malu kalau ketahuan. "Kan sudah bilang mau anter jemput, jadi ya lagi nungguin kamu lah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 36. TMSI

    "Nggak apa Ma, buat Kak Arlo saja," kata Jena tidak keberatan sama sekali. Dia belum terlalu lapar juga, nanti bisa sarapan di kantin fakultas atau warung sekitaran kampus. "Kan bisa berbagi, mau nggak Jen, enak loh," kata Arlo berinisiatif barengan. Ngerasa enak aja, tidak tahu kenapa Arlo mulai nyaman. Apa gegara semalam tidurnya barengan. "Ngawur kamu, sudah sisamu itu." Bu Najwa menggeplak kepalanya pelan. "Aduh Ma, jangan terlalu kejam. Lagian kenapa emang kalau barengan, namanya juga suami istri yang nggak apa berbagi. Jangankan makanan, lainnya aja berbagi. Iya kan Pa? Papa juga gitu kan sama Mama?" Arlo meminta pembelaan, jelas lah Pak Arlan tidak menjawab, dia juga tidak merasa hubungan putra dan menantunya sudah baikan. Memang mereka sekamar, tapi bukan tidak mungkin saling memberi jarak. Sampai ada tragedi mengeluarkan sofa segala. "Biar kamu mikirnya beneran dikit.""Ini udah paling bener kok Ma, kita berdua sedang belajar." Arlo ini lagaknya kaya sudah berumah tan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status