Share

Bab 4. TMS

Penulis: Asri Faris
last update Tanggal publikasi: 2025-12-05 10:13:09

“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”

Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah.

Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal.

“Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi.

“Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas.

“Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa.

“Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.”

“Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.”

Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya.

“Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena bergegas turun. Deg degan banget serasa jantung mau lepas gegara Arlo mendekat. Apa pria ini tidak bisa prihatin sedikit saja dengan perasaannya yang benar-benar tidak nyaman.

Wanita itu langsung turun lalu berpindah ke jok depan sebelah kemudi. Jantungnya masih berdebar-debar saat Arlo masuk kembali.

“Ngapain?” tanya gadis itu waspada saat tiba-tiba Arlo kembali mendekat.

“Pasang seatbeltnya, aku mau jalan ini,” katanya membagi tahu.

“Bisa sendiri, nggak usah lancang,” ucap Jena dengan tatapan kesal.

Arlo tidak menjawab lagi, langsung melajukan mobilnya meninggalkan Villa. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apa pun. Jena diam saja, dia lebih tertarik menatap luar jendela. Sesekali menilik ponselnya, tidak mau tahu orang di sebelahnya. Bahkan tidak menoleh sama sekali.

Setengah perjalanan, Arlo terdengar menerima telepon sambil menyetir. Sepertinya dari kekasihnya mengingat percakapan mereka terlalu halus. Kak Arlo juga menanggapi dengan bahagia. Mengabaikan keberadaan Jena yang juga tidak berminat menyimaknya.

“Nguping ya?” tanya Arlo setelah panggilan ditutup.

“Kalau nggak mau kedengaran orang, terima telepon di hutan. Sudah tahu ada orang di sebelahnya. Aku nggak budeg, minimal nggak usah ekspos juga kedengeran,” jawab Jena geram.

“Biasa aja kali Jen, marah-marah mulu.”

“Ya kamu nyebelin, jadi cowok nggak bisa kontrol diri.”

Kesal membuat Arlo menepikan mobilnya, dia sudah berapa kali menjelaskan tentang kejadian malam itu tidak seperti yang dia inginkan. Itu sebuah kecelakaan, dan naasnya Jena adalah korbannya.

“Kenapa berhenti?” tanya gadis itu saat tiba-tiba Arlo menepikan mobilnya. Tatapan dingin Arlo seketika membuatnya ciut nyali. Apalagi itu di dalam mobil cuma berdua. Bisa saja kan pria ini melakukan apa pun sesuka hatinya.

“Biar kukasih paham, pertama, aku tidak sengaja melakukannya. Aku dalam pengaruh obat, kedua aku bukan penjahat. Dan ketiga aku juga tidak menginginkan pernikahan ini kalau tidak sebab tanggung jawab,” kata pria itu menahan sabar.

“Ya nggak usah tanggung jawab, makanya jadi cowok jangan brengsek! Kamu tuh udah ngancurin masa depan aku, sekarang meminta pengertian juga. Mikir nggak sih, kamu tuh jahat. Kak Arlo jahat!” umpat Jena menangis sejadinya.

Siapa juga yang masih bisa hidup normal setelah mengalami pelecehan dari orang terdekat. Apa pun alasannya, seharusnya Jena mendapatkan keadilan. Menikah dengannya adalah mimpi buruk bagi Jena.

“Aku berusaha tanggung jawab. Aku minta maaf, kamu boleh benci aku Jena, tapi tolong jangan brsikap terus-terusan begini,” geram pria itu meminta pengertiannya.

Arlo juga mengalami gejolak batin yang tidak biasa. Dia merasa bersalah juga, makanya berusaha bertanggung jawab walaupun tidak diterima. Tidak mudah bagi Jena, tapi minimal saling berdamai mencari solusi. Bukan terus membuka forum permusuhan.

“Harusnya Kak Arlo di penjara!” seru Jena dengan derai air mata.

“Ya, aku salah, aku khilaf Jena. Ada berapa banyak orang di luar sana yang bergantung dengan pekerjaan di bawah naungan aku Jena. Kalau aku dipenjara, mereka semua kehilangan pekerjaan. Biaya kuliah kamu, kehidupan kamu, dan bagaimana caranya aku menebus kesalahan aku. Anak itu butuh ayah, kamu butuh status,” ujar pria itu berpikir panjang.

Gemas membuat pria itu tak tahan akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya juga. Dia sudah berusaha menekan sabar, sayangnya Jena selalu memancing emosinya.

“Aku akan memberikan kompensasi lebih setelah anak itu lahir. Kalau kamu tidak menginginkan anak itu, biar aku urus sendiri. Tanpa mengenal ibunya sekalipun,” sambung pria itu berapi-api.

Jena yang menjadi korban kenapa Jena juga yang harus pengertian dan memaklumi semua keadaan. Tahu ayah menitipkan Jena pada keluarga Arlan, tapi bukan berarti semua kesalahannya harus diterima. Apalagi ini sangat fatal, merugikan Jena sekali.

“Sudah nangisnya, aku juga nggak mau ada di posisi ini,” kata pria itu menarik beberapa tisu lalu berniat mengelap pipi Jena yang basah.

Wanita itu langsung melengos menghindarinya. Sakit tapi tidak bisa berbuat apa pun. Apa memang begini nasibnya. Sementara Arlo kembali melajukan mobilnya. Emosinya yang tadi sempat meluap seketika mereda. Kasihan juga melihat Jena sampai sesenggukan begini. Tidak ada niatan sama sekali terbesit dalam hidupnya untuk merusak perempuan. Apalagi saudaranya sendiri. Kejadian malam itu benar-benar Arlo sesali seumur hidupnya.

“Tenangin diri kamu dulu, jangan sampai ketemu mama dalam keadaan begini. Nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu,” kata Arlo sengaja rehat sejenak di jalan.

Sebenarnya dia bisa langsung pulang ke rumah, tapi mata Jena yang sembab akan membuat masalah baru jika ibunya bertanya. Apalagi ibunya itu sangat menyayangi Jena.

“Sudah tenang? Nih minum,” kata pria itu biarpun kesal masih perhatian.

Jena menyambarnya dengan wajah muram, terpaksa mengaliri tenggorokannya yang sedari tadi memang kering. Tanpa menatap wajahnya dia berbalik menghindari kontak matanya.

Sesampainya di rumah hari sudah siang. Jena bergegas turun sekalian menurunkan barang miliknya lalu berniat langsung ke kamar. Suasana rumah sepi, sepertinya orang-orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing lantaran lelah. Jena juga demikian, maunya langsung rebahan bersantai sejenak setelah tadi emosinya meluap. Hanya ruangan kamar ini yang bisa membuatnya sedikit lebih aman.

“Loh, barangku pada ke mana?” gumam Jena tidak menemukan semua barangnya di kamarnya.

“Sudah dipindahkan ke kamarku, Jen, kamar ini bakalan ditempati Tante Anna selama tinggal di sini,” ujar Arlo tiba-tiba memberi tahu.

“Maksudnya kita di rumah ini juga satu kamar?” tanya Jena menekan sabar sekali lagi.

“Ya, memangnya kenapa? Kalau mau protes langsung ke mama saja,” ujar pria itu berlalu.

"Yakin nggak mau bareng?” Arlo menawarkan sekali lagi, mana tahu Jena berubah pikiran.

“Nggak usah sok baik, kalau berangkat sendiri lebih baik kenapa harus bareng kamu.”

“Aku baik beneran Jen, kalau berubah pikiran masih aku tunggu. Daripada mobilku longgar,” katanya memberi tumpangan.

Jena memutar bola matanya malas, dia tidak minat bareng, lebih tertarik memesan gojek daripada bareng suaminya yang sangat tidak Jena sukai.

“Nungguin ojol lama, berangkat bareng aja kan bisa,” ujar pria itu masih belum menyerah.

“Kenapa sih berisik banget, bisa kan langsung berangkat aja. Nggak usah peduli juga, aku nggak butuh,” katanya kesal.

“Oke, aku udah nawarin,” jawab Arlo beranjak.

Kesal tak dapat-dapat drivernya, Jena memutuskan sembari jalan ke depan. Mana tahu ada angkot lewat, lebih baik dia kesusahan di jalan itung-itung olahraga daripada bareng Bang Arlo.

Thin! Thin!

Suara klakson motor yang berbunyi membuatnya menoleh. Tepat sekali motor Regit melintas melewatinya. Tetangga kompleks yang selama ini diam-diam selalu memperhatikannya. Tidak menyangka pagi ini bertemu di jalan.

“Jena! Ayo bareng!” ajak Regit menawarkan tumpangan.

“Boleh nih,” jawabnya tanpa merasa canggung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 141. TMIS

    "Jena ... aku mencintaimu," bisik Arlo tak bisa berhenti. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Baby Zalfa juga tertidur pulas di tempatnya seolah begitu pengertian. Memberikan ruang untuk kedua orang tuanya saling memberi kehangatan. Mereka memang bukan pengantin baru, tetapi perasaan cinta mereka baru sama-sama tumbuh setelah badai berlalu. Arlo yang merasa pernah gagal dan hampir kehilangan, benar-benar ingin menjaganya. Keduanya melepas lelah dibatas peraduan cinta mereka. Saling mendekat, seolah esok tak ada waktu bersama. "Kamu milikku Jena, hanya milikku," kata pria itu meluapkan kasih sayangnya sepenuhnya. "Hmm, aku bisa merasakannya Kak," balas Jena merasa begitu dicintai. "Apakah kita akan terus seperti ini? Kak Arlo akan tetap menginginkanku walaupun kelak tidak muda lagi?""Tentu saja, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Membesarkan anak-anak kita bersama. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua.""Aku berharap tidak ada yang akan

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 140. TMIS

    Arli pulang cepat, beres kantor langsung berkemas. Tidak tahu kenapa bawaannya selalu pingin cepat-cepat sampai rumah. Rindu sama anak istrinya. Padahal setiap hari juga ketemu, melakukan banyak aktivitas bersama. Namun, ngerasa kangen terus. Jatuh cinta memang manis, berasa berbunga-bunga setiap hari. Selalu ingin menghabiskan waktu berdua. "Bik kok sepi? Jena belum pulang? Zalfa sama mama mana?" tanya Arlo begitu sampai rumah tidak menemukan yang dicari. "Ibuk sama Mbak Jena lagi keluar, Mas, Dek Zalfa di belakang sama susternya.""Keluar? Ke mana, Bik? Kok nggak ngomong?" "Kurang tahu Mas, tidak nitip pesan."Arlo langsung menghubungi istrinya. Ternyata Bu Najwa sengaja mengajak Jena keluar untuk sekedar jalan-jalan sekalian belanja. Sementara Zalfa ikut pengasuhnya. Sengaja ditinggal karena memang ingin me time dengan ibu mertua. Lebih tepatnya diajak beliau untuk perawatan. Jena nurut saja, kebetulan sedang senggang setelah beres kuliah. ***"Sayang, jalan sama mama ke mana?

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 139. TMIS

    "Kenapa sayang? Tidur, ini sudah malam. Atau ... mau lagi?" goda Arlo tersenyum jahil. "Kak, aku kepikiran Zalfa, kita pulang aja yuk!"Harap maklum, sebagai ibu muda Jena belum pernah terpisah semalam pun, jadi wajar kalau dia cemas. "Kan tadi udah telfon rumah, aman kok sama mama.""Iya sih, cuma aku nggak tenang. Zalfa kalau malam pasti kebangun. Pulang aja ya," pinta Jena membuat Arlo mengiyakan. Mana tega melihat istrinya tidak tenang begini. Walaupun ini moment spesial, mereka bisa lanjut romantisan di rumah. Yang katanya tidak bisa tidur ngajak pulang, baru sampai di mobil saja sudah menguap beberapa kali. Jena memang aslinya ngantuk, hanya saja pikirannya tidak tenang kebawa cemas dengan putrinya. Sampai rumah sudah cukup larut, jam sebelas lewat dan semua orang di kediaman itu sudah tidur. Zalfa bobo di kamar neneknya mengingat tidak ada di kamar. Jadi, Arlo pun membiarkan saja daripada bangunin ibunya yang mungkin sedang enak-enaknya tidur. "Nanti aja ya, gampang, kala

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 138. TMIS

    Wajah dan tubuh Jena menegang seketika. Belum juga mulai, dia sudah nervous duluan. Maklum lah, walaupun sudah punya anak, tetapi ini sentuhan pertama dengan lawan jenis secara normal. Mereka memang pernah menyatu, tetapi tentu saja hanya ingatan buruk yang terperangkap di otaknya. Jena benar-benar nol pengalaman, ditambah insiden yang menimpanya. Jadi, Arlo benar-benar harus sabar menghadapi istrinya yang masih polos. "Rileks sayang, tidak apa-apa, kita pelan-pelan saja ya.""Kak, aku takut," ucap Jena jujur. Arlo baru mau mendekat Jena sudah setegang ini, bagaimana dia memulainya. Pria itu seketika memeluknya, mencoba menenangkan dan memberikan rasa nyaman. "Kak Arlo nggak marah?" tanya Jena harap-harap cemas. "Bagaimana mungkin aku marah, apa alasanku buat marah, hmm?" balas Arlo mengurai pelukannya. "Aku terlalu kaku, bagaimana kalau kita mencobanya sekali lagi.""Kamu yakin?" Jena mengangguk ragu. Tetapi dalam hati sudah bertekad untuk tidak membuatnya kecewa. "Terima kas

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 137. TMIS

    Ini kali pertama Jena diajak makan malam romantis suaminya. Ya karena memang baru berkomitmen kembali setelah badai. "Kak, serius makan di sini? Emangnya nggak kemahalan ya.""Iya, apa kamu suka?" Jena ngangguk, masih speechless sih, lebih tepatnya tidak menyangka bakalan diajak dinner romantis seperti ini. Arlo menyiapkan ini semuanya. "Jena, aku mungkin tidak bisa menghapus segala kenangan buruk yang pernah ada. Namun, izinkan aku pelan-pelan menebusnya. Biar yang kamu ingat kalau kita punya kenangan yang manis juga."Jena tahu sejauh ini Arlo sudah berusaha. Dia melihatnya sendiri betapa pria itu bersungguh-sungguh memperlakukannya dengan baik. Hati perempuan mana pun pasti akan melunak jika diratukan. Selalu diprioritaskan dan bahkan mendapatkan tempat khusus di hatinya. "Terima kasih sudah kasih aku kesempatan. Aku mencintaimu," ucap pria itu membuat pengakuan mengejutkan. Belum sempat Jena membuka suara, dia sudah dikejutkan dengan surprise lainnya. "Ini bukan nyogok sih,

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 136. TMIS

    "Pagi Ma, nitip Zalfa lagi ya.""Pagi sayang, tenang, aman sama mama.""Tapi kayaknya nanti pulangnya agak telat.""Oke, tenang saja, yang penting stok susu melimpah.""Kuliah sampai sore?" tanya Arlo memastikan. "Enggak sih, cuma ada tugas gitu, di kosan Cikha Kak," katanya mau sekalian ada urusan. "Ya udah nanti aku jemput.""Nggak usah, aku kan bawa mobil. Lagian Kak Arlo pulangnya juga sore, palingan Kak Arlo duluan.""Oke, sampai ketemu nanti sore.""Ya, semangat kerjanya suamiku," ucap Jena membuat Arlo senyum-senyum bahagia. Duh ... senengnya yang baru saja balikan. Serasa jatuh cinta lagi, dan pinginnya mau cepat-cepat pulang. Padahal baru berangkat juga keingat yang lagi sibuk terus. Siangnya mereka tak lupa berkabar, saling mengingatkan untuk ibadah dan makan. Perhatian layaknya abg muda, biarpun hal yang sangat sederhana, tetapi mampu membuatnya berbunga-bunga. "Perhatian banget Buk, roman-romanya udah baikan ini," kata Chika mendapati sahabatnya mode respect. "Haha .

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status