เข้าสู่ระบบ“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”
Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah. Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal. “Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi. “Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas. “Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa. “Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.” “Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.” Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya. “Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena bergegas turun. Deg degan banget serasa jantung mau lepas gegara Arlo mendekat. Apa pria ini tidak bisa prihatin sedikit saja dengan perasaannya yang benar-benar tidak nyaman. Wanita itu langsung turun lalu berpindah ke jok depan sebelah kemudi. Jantungnya masih berdebar-debar saat Arlo masuk kembali. “Ngapain?” tanya gadis itu waspada saat tiba-tiba Arlo kembali mendekat. “Pasang seatbeltnya, aku mau jalan ini,” katanya membagi tahu. “Bisa sendiri, nggak usah lancang,” ucap Jena dengan tatapan kesal. Arlo tidak menjawab lagi, langsung melajukan mobilnya meninggalkan Villa. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apa pun. Jena diam saja, dia lebih tertarik menatap luar jendela. Sesekali menilik ponselnya, tidak mau tahu orang di sebelahnya. Bahkan tidak menoleh sama sekali. Setengah perjalanan, Arlo terdengar menerima telepon sambil menyetir. Sepertinya dari kekasihnya mengingat percakapan mereka terlalu halus. Kak Arlo juga menanggapi dengan bahagia. Mengabaikan keberadaan Jena yang juga tidak berminat menyimaknya. “Nguping ya?” tanya Arlo setelah panggilan ditutup. “Kalau nggak mau kedengaran orang, terima telepon di hutan. Sudah tahu ada orang di sebelahnya. Aku nggak budeg, minimal nggak usah ekspos juga kedengeran,” jawab Jena geram. “Biasa aja kali Jen, marah-marah mulu.” “Ya kamu nyebelin, jadi cowok nggak bisa kontrol diri.” Kesal membuat Arlo menepikan mobilnya, dia sudah berapa kali menjelaskan tentang kejadian malam itu tidak seperti yang dia inginkan. Itu sebuah kecelakaan, dan naasnya Jena adalah korbannya. “Kenapa berhenti?” tanya gadis itu saat tiba-tiba Arlo menepikan mobilnya. Tatapan dingin Arlo seketika membuatnya ciut nyali. Apalagi itu di dalam mobil cuma berdua. Bisa saja kan pria ini melakukan apa pun sesuka hatinya. “Biar kukasih paham, pertama, aku tidak sengaja melakukannya. Aku dalam pengaruh obat, kedua aku bukan penjahat. Dan ketiga aku juga tidak menginginkan pernikahan ini kalau tidak sebab tanggung jawab,” kata pria itu menahan sabar. “Ya nggak usah tanggung jawab, makanya jadi cowok jangan brengsek! Kamu tuh udah ngancurin masa depan aku, sekarang meminta pengertian juga. Mikir nggak sih, kamu tuh jahat. Kak Arlo jahat!” umpat Jena menangis sejadinya. Siapa juga yang masih bisa hidup normal setelah mengalami pelecehan dari orang terdekat. Apa pun alasannya, seharusnya Jena mendapatkan keadilan. Menikah dengannya adalah mimpi buruk bagi Jena. “Aku berusaha tanggung jawab. Aku minta maaf, kamu boleh benci aku Jena, tapi tolong jangan brsikap terus-terusan begini,” geram pria itu meminta pengertiannya. Arlo juga mengalami gejolak batin yang tidak biasa. Dia merasa bersalah juga, makanya berusaha bertanggung jawab walaupun tidak diterima. Tidak mudah bagi Jena, tapi minimal saling berdamai mencari solusi. Bukan terus membuka forum permusuhan. “Harusnya Kak Arlo di penjara!” seru Jena dengan derai air mata. “Ya, aku salah, aku khilaf Jena. Ada berapa banyak orang di luar sana yang bergantung dengan pekerjaan di bawah naungan aku Jena. Kalau aku dipenjara, mereka semua kehilangan pekerjaan. Biaya kuliah kamu, kehidupan kamu, dan bagaimana caranya aku menebus kesalahan aku. Anak itu butuh ayah, kamu butuh status,” ujar pria itu berpikir panjang. Gemas membuat pria itu tak tahan akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya juga. Dia sudah berusaha menekan sabar, sayangnya Jena selalu memancing emosinya. “Aku akan memberikan kompensasi lebih setelah anak itu lahir. Kalau kamu tidak menginginkan anak itu, biar aku urus sendiri. Tanpa mengenal ibunya sekalipun,” sambung pria itu berapi-api. Jena yang menjadi korban kenapa Jena juga yang harus pengertian dan memaklumi semua keadaan. Tahu ayah menitipkan Jena pada keluarga Arlan, tapi bukan berarti semua kesalahannya harus diterima. Apalagi ini sangat fatal, merugikan Jena sekali. “Sudah nangisnya, aku juga nggak mau ada di posisi ini,” kata pria itu menarik beberapa tisu lalu berniat mengelap pipi Jena yang basah. Wanita itu langsung melengos menghindarinya. Sakit tapi tidak bisa berbuat apa pun. Apa memang begini nasibnya. Sementara Arlo kembali melajukan mobilnya. Emosinya yang tadi sempat meluap seketika mereda. Kasihan juga melihat Jena sampai sesenggukan begini. Tidak ada niatan sama sekali terbesit dalam hidupnya untuk merusak perempuan. Apalagi saudaranya sendiri. Kejadian malam itu benar-benar Arlo sesali seumur hidupnya. “Tenangin diri kamu dulu, jangan sampai ketemu mama dalam keadaan begini. Nanti dikira aku ngapa-ngapain kamu,” kata Arlo sengaja rehat sejenak di jalan. Sebenarnya dia bisa langsung pulang ke rumah, tapi mata Jena yang sembab akan membuat masalah baru jika ibunya bertanya. Apalagi ibunya itu sangat menyayangi Jena. “Sudah tenang? Nih minum,” kata pria itu biarpun kesal masih perhatian. Jena menyambarnya dengan wajah muram, terpaksa mengaliri tenggorokannya yang sedari tadi memang kering. Tanpa menatap wajahnya dia berbalik menghindari kontak matanya. Sesampainya di rumah hari sudah siang. Jena bergegas turun sekalian menurunkan barang miliknya lalu berniat langsung ke kamar. Suasana rumah sepi, sepertinya orang-orang sedang beristirahat di kamarnya masing-masing lantaran lelah. Jena juga demikian, maunya langsung rebahan bersantai sejenak setelah tadi emosinya meluap. Hanya ruangan kamar ini yang bisa membuatnya sedikit lebih aman. “Loh, barangku pada ke mana?” gumam Jena tidak menemukan semua barangnya di kamarnya. “Sudah dipindahkan ke kamarku, Jen, kamar ini bakalan ditempati Tante Anna selama tinggal di sini,” ujar Arlo tiba-tiba memberi tahu. “Maksudnya kita di rumah ini juga satu kamar?” tanya Jena menekan sabar sekali lagi. “Ya, memangnya kenapa? Kalau mau protes langsung ke mama saja,” ujar pria itu berlalu. Yakin nggak mau bareng?” Arlo menawarkan sekali lagi, mana tahu Jena berubah pikiran. “Nggak usah sok baik, kalau berangkat sendiri lebih baik kenapa harus bareng kamu.” “Aku baik beneran Jen, kalau berubah pikiran masih aku tunggu. Daripada mobilku longgar,” katanya memberi tumpangan. Jena memutar bola matanya malas, dia tidak minat bareng, lebih tertarik memesan gojek daripada bareng suaminya yang sangat tidak Jena sukai. “Nungguin ojol lama, berangkat bareng aja kan bisa,” ujar pria itu masih belum menyerah. “Kenapa sih berisik banget, bisa kan langsung berangkat aja. Nggak usah peduli juga, aku nggak butuh,” katanya kesal. “Oke, aku udah nawarin,” jawab Arlo beranjak. Kesal tak dapat-dapat drivernya, Jena memutuskan sembari jalan ke depan. Mana tahu ada angkot lewat, lebih baik dia kesusahan di jalan itung-itung olahraga daripada bareng Bang Arlo. Thin! Thin! Suara klakson motor yang berbunyi membuatnya menoleh. Tepat sekali motor Regit melintas melewatinya. Tetangga kompleks yang selama ini diam-diam selalu memperhatikannya. Tidak menyangka pagi ini bertemu di jalan. “Jena! Ayo bareng!” ajak Regit menawarkan tumpangan. “Boleh nih,” jawabnya tanpa merasa canggung. Kebetulan diaBencana apa lagi ini, baru juga pulang, rasanya dia ingin minggat dari rumah itu seketika. “Jena, kalian sudah sampai. Kamu bisa istirahat di kamar Arlo, Jen, beberapa hari ini Tante Anna mau menginap di sini. Lagian kalian kan sudah menikah, tidak apa-apa juga satu kamar.”Dipikir setelah kejadian itu Jena baik-baik saja apa. Dia trauma, dia sakit tapi mencoba menyembuhkan lukanya sendiri. Sekarang pun demikian, seolah semua terlalu dianggap enteng dan baik-baik saja. Jena bisa gila lama-lama karena banyak ngebatin. “Iya Ma,” jawab Jena pasrah. Namanya juga menumpang, harus terima nasib di mana pun dia tinggal. Jujur, Jena ingin sekali pergi dari rumah ini. Lama-lama dia bisa stress menghadapi orang-orang ini. Bu Najwa baik, Pak Arlan apalagi, tapi mereka semua tidak ada yang mau mengerti perasaannya. Dengan langkah ragu Jena masuk ke kamar Arlo. Baru masuk saja sudah membuatnya ingin putar balik. Jena meremas samping roknya dengan tatapan bingung. Apakah satu kamar dengannya ama
“Ayo pulang! Dari sini tidak ada angkot ataupun mobil yang lewat. Kamu nggak berniat jalan kan?”Sebenarnya males banget harus pulang bareng, tetapi Jena tidak ada pilihan daripada jalan. Bisa juga memutuskan memesan gojek atau taksi online, tapi berpotensi membuat pertanyaan mematikan nanti setelah sampai rumah. Pasti akan menjadi pertanyaan kenapa bisa pulang terpisah. Jena sengaja menempati jok belakang, males banget harus duduk bersebelahan. Ternyata keputusannya berhasil membuat Arlo kesal. “Pindah depan Jen, aku bukan supirmu,” titah Arlo menginterupsi. “Aku mau di sini, bisa langsung jalan. Nggak usah berdebat,” katanya malas. “Pindah!” ulang pria itu jelas memaksa. “Apa sih, aku nyaman di sini. Nggak usah maksa.”“Kamu sukanya dipaksa, mau pindah sendiri atau aku yang pindahin.”Jena masih belum juga beranjak, dia pikir tidak mungkin Arlo bakalan mindahin tubuhnya, nyatanya pria itu kembali turun dan nekat mengangkat tubuhnya. “Gila ya, bisa pindah sendiri,” omel Jena be
Pagi-pagi sekali Arlo terjaga lebih dulu setelah mendengar alarm di ponselnya yang sengaja dia atur lebih awal dari jam biasanya bangun. Pria itu tadinya mau bikin kejutan lantaran kesal sebab semalam dikunciin di luar. Nyatanya dia tidak tega juga, takut kalau calon ibu dari anaknya itu kenapa-napa. Dia mengurungkan niatnya untuk bersikap masa bodoh. Lagi-lagi memperingatkan hatinya untuk lebih sabar lagi menghadapi sepupunya. “Kak Arlo, kok di sini?” tanya Jena begitu membuka mata menemukan suaminya sudah berpakaian rapih. “Pagi Jena, memangnya harus di mana lagi?” balas Arlo tersenyum santai. Jena baru bangun nampak sedikit linglung, semalam dia ingat betul kalau sudah mengunci pintunya. Kenapa jadi Bang Arlo ada di dalam kamarnya pagi-pagi. “Mandi Jen, terus keluar sarapan! Aku tunggu di sini. Kita keluar bareng,” ujar Arlo menunggunya. Bu Najwa pasti akan mengomel jika Arlo tinggal keluar sendiri, ujungnya dia balik lagi memanggil istrinya. Daripada capek bolak-balik, sekal
Hening beberapa saat, keduanya tak lagi membuka obrolan. Hanya suara detak jam dinding yang begitu jelas. Menandakan kalau waktu sudah cukup malam. Jena masih terpekur di tempat duduknya, sementara Arlo sudah bergerak lebih dulu membersihkan diri. Hari ini tubuh pria itu rasanya penat sekali. Lelah, ingin segera mengistirahatkan diri seandainya Jena bisa lebih tenang sebentar saja. Tetapi sepertinya gadis itu memang tidak suka melihatnya santai sebentar saja. “Bersihkan tubuhmu, istirahat lah ini sudah malam. Bukannya tadi kamu ngeluh capek.” “Lebih capek lagi lihat kamu di sini,” jawabnya datar. Seandainya saja malam itu Arlo bisa mengendalikan diri, tidak sampai hati menyentuhnya yang membuat Jena hamil, mungkin keduanya tidak pernah akan terjebak ke dalam pernikahan menyebalkan ini. Biar bagaimana pun, menyatu tanpa cinta itu menyakitkan. Jena berlalu ke kamar mandi, membersihkan diri dari sisa-sisa penat acara tadi. Rasanya tubuh ini menjadi lebih ringan setelah menanggal
"Lepaskan tanganmu Kak! Kamu menyakitiku!"Jena menyentak tangan Kak Arlo yang sedari tadi menggenggamnya erat. Berani sekali pria ini menyentuhnya. Tidak tahu apa kalau dia mempunyai trauma mendalam atas peristiwa malam itu. “Tenanglah sedikit Jena, aku tidak akan menyakitimu,” kata pria itu melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya ingin menahan istrinya agar tidak lari dari panggung pelaminan. Apa katanya tenang, sumpah demi apa pun pernikahan ini tidak pernah membuatnya tenang. Seandainya saja Jena tidak menanggung atas perbuatan Arlo malam itu. Dia tidak harus menikah dengan saudara yang sama sekali tidak Jena inginkan. Umur mereka terpaut jauh, sudah begitu pria yang kini menjelma sok baik itu sudah mempunyai kekasih yang jelas-jelas menyalahkan dirinya gegara pernikahan ini. Jena berlalu gesit melanjutkan langkahnya yang langsung diikuti Arlo. Pria itu hanya ingin pernikahan mereka terlihat normal di depan banyak orang. Tetapi nampaknya Jena memilih pergi dari panggung pelam







