Share

Terpaksa Nikah Diratukan Parah
Terpaksa Nikah Diratukan Parah
Author: Hidayatun Q

1. Dijatuhkan Harapan

Author: Hidayatun Q
last update Last Updated: 2025-05-13 06:46:47

[Sofia, Aku mau kita selesai!]

[Aku tidak ingin menyakitimu terlalu dalam. Kita bisa bahagia masing-masing. Aku sudah menemukan seseorang yang tepat untukku. Keluarga kami juga sepakat. Maafkan aku.]

Pesan itu terbaca dinetraku. Tulisan itu mengabur seiring mataku yang sudah digenangi air mata. Tenggorokanku tercekat. Ingin rasanya aku mengobrak-abrik pesanan catering yang sudah bertumpuk rapi didapur.

Kucoba menghubungi nomor mas Arka. Namun tidak diangkat, padahal online. Bagaimana bisa, setiba-tiba itu? Bahkan seminggu lalu dia bilang mau melanjutkan hubungan serius dan hendak melamarku kesini.

Oh, aku teringat pertemuan tiga bulan lalu dengan mama dan kakaknya mas Arka. Percakapan yang begitu menyayat hati di cafe Alam Saga. Ingatan itu masih segar dibenakku.

"Maaf ya Sofia, kamu harus tahu sendiri, tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menikah dengan anak mantan narapidana. Bayangan masa lalu akan selalu membawa luka. Meskipun kata Arka kamu baik, namun pikirkan baik-baik. Arka pantas mendapatkan wanita yang lebih layak darimu." Tutur bu Ratna begitu tajam.

"Luka itu bukan dari saya bu, namun dari penilaian yang salah. Saya lebih tahu siapa bapak saya, beliau orang yang lebih jujur daripada orang yang bertopeng dari kepalsuan dan haus pujaan." Ucapku tenang. Pandanganku masih lurus namun tajam.

Aku berhak membela diri bahwa bapak tidak salah. Suatu saat, aku akan membersihkan nama itu. Tunggu saja. Mentalku sudah cukup  lelah.

Kak Afia, kakak mas Arka sudah tidak sabar ingin menyambarku saja. "Oh, tolong jangan meromantisasi narapidana. Kalau pembunuh ya pembunuh saja. Kamu pikir kamu bisa jadi bagian dari keluarga kita? Jangan mimpi!" Ejeknya sembari mengulas senyum sinis.

"Ha ha. Ternyata anda yang takut aku masuk bagian keluargamu. Padahal selama ini mas Arkalah yang terus mengejarku. Justru anda yang terlihat takut pada orang yang kalian anggap rendahan ini jika kalau aku masuk kehidupan kalian. Santai saja, orang yang kalian anggap anak napi ini lebih bangga tetap bisa berdiri sampai tahap ini tanpa jadi orang yang berpura-pura baik daripada mereka yang berpura-pura suci." Tandasku dengan tatapan tajam. Sebenarnya hidungku mulai pengar menahan air mata. Namun, bersikap lemah saat direndahkan membuat mereka tinggi hati.

Padahal selain mas Arka yang terus mengejarku. Aku juga terlanjur dalam mencintainya.

Aku menandaskan itu agar mereka tahu, betapa tidak adilnya dunia yang hanya melihat dari kacamata luar tanpa tahu sedalam apa luka yang kualami selama ini. Bahkan bertahan dititik ini sangatlah tidak mudah. Tuduhan telah meruntuhkan duniaku.    

Bu Ratna kembali bersuara "Kami hanya ingin kamu berkaca bahwa dirimu akan menghancurkan nama baik keluarga kami dan masa depan Arka. Jangan kau kira dunia semulus bayanganmu!"  

Mendengar pernyataan bu Ratna, aku hanya tersenyum hambar. Dunia macam apa yang beliau kira mulus menurutku. Andai beliau bukan orang tua, sudah kusambar saja bahwa sejak kecil duniaku memang sudah seterjal bebatuan karena kehilangan ibu dan adikku. Ditambah beban mental sebagai penyandang anak pembunuh.

Hatiku kembali hancur. Teringat bagaimana ketulusan mas Arka dan kebersamaan kami sejak kuliah. Hanya satu harapanku, jika dia benar mencintaiku. Dia akan berjuang dan berkorban demi restu.

Namun hari ini, bukannya meluluhkan hati orang tua dan rela berkorban, justru menambah rasa sakit yang kian dalam. Pertemuan dengan mereka dan pernyataan pesan dari mas Arka pagi ini meruntuhkan seluruh harapanku.

Aku berlari kekamar mandi dan menyalakan kran agar bapak tidak mendengar tangisku. Aku luapkan semuanya, disaat semua sudah sedalam ini, dengan mudahnya dia mengakhiri. Meskipun aku sebenarnya sudah mewanti-waniti diri sejak dulu jangan kasih ruang untuk orang berkuasa sepertinya.

Padahal jika aku tanya mengenai orang tuanya, dia akan berusaha sekeras mungkin untuk meluluhkan. Kulihat juga selama ini dia selalu ada untukku. Bahkan saat dia pindah kekota, ditengah kesibukannya tetap selalu ada meski hanya lewat online. Tapi, sejak dua bulan ini memang dia bilang agak kacau hidupnya, lantas karena apa?

Ponselku berpendar, menyadarkan lamunanku. Ternyata dari pak Ali sopir catering sewaanku. 

"Halo mbak, saya sudah hampir sampai rumahmu." Ucapnya dari seberang telepon. 

"Baik pak. Catering juga sudah siap." 

Setelah puas menangis, aku segera mengusap air mata yang tersisa. Baru kali ini menangis sampai sebegininya. Biasanya aku memang selalu tangguh didepan semua manusia, bahkan orang-orang mengenalku keras kepala.

Ya, dunia yang keras membentukku menjadi seperti ini. Anggaplah ini sebagai benteng pertahanan diri.

"Oh tidak, pagiku yang kacau ini tidak boleh tertangkap bapak." Batinku sembari cuci muka agar sisa air mata tak terlihat. 

Hanya didepan bapak aku selalu terlihat lembut dan penurut. Entahlah kenapa?

Aku kembali menutup luka dengan sapuan make up tipis dan mempertebal lipstik. Sesegera mungkin aku mengalihkan tumpukan catering kedepan kemudian berpamitan pada bapak yang tengah duduk disofa kecil dengan koran pagi ditangannya.

Semenjak bapak mengendap ginjal yang sudah parah setelah beberapa kali cuci darah, aku meminta beliau istirahat total dan melarang kerja. Biarlah aku saja yang mati-matian jadi tulang punggung. Toh, sejak kecil hidupku terlatih menderita sejak kepergian ibu dan Sheila.

"Kamu buru-buru, nak?" Tanya bapak tiba-tiba saat aku baru selesai memasukkan catering kedalam mobil dan menyalami hendak mengantar pesanan.

"Oh, tidak pak. Ini sengaja aku antar lebih awal memang. Ada apa?" Hatiku berdebar seolah ada hal penting yang mau ditanyakan.

Aku mencoba duduk disebelahnya sembari menelisik. Perasaanku mulai tidak tenang.

"Pria yang kamu ceritakan kemarin itu jadi silaturahim atau melamarmu kesini?" Pertanyaan itu kembali membuat hatiku remuk redam.

Duh, bagaimana ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   12. Hancur Bersama

    "Kapan kalian menikah?"Mas Al masih mengelap darah diujung bibir atasnya. Keduanya kembali duduk dengan perasaan berdarah-darah. Aku duduk disebelah mas Al."4 Mei kemarin." Jawabku tegas. Mas Arka tampak mengingat-ingat. Mungkin saat itu dia sedang koma.Sungguh hati ini begitu pedih. Saat kuliah dulu, mereka sangat akrab sebagai aktivis di organisasi dan saling bertukar pikiran sebagai pria pemikir. Aku dan mas Arka jurusan Management Bisnis, sedangkan mas Al jurusan Hukum satu tahun diatas kami."Ternyata kau sungguh licik, Al. Memanfaatkan keadaan, kau sudah tahu pasti sejak dulu aku kekasih Sofia, kan?" Todong mas Arka."Jangan menuduh! Aku menikahinya karena keadaan mendesak. Sebelumnya pun, aku sudah mengirim pesan kenomormu dan kau tak mempermasalahkan, kan?""Pesan? Kenomorku? Jangan-jangan kaulah yang berbuat kelicikan ini. Katakan dimana ponselku?!""Aku tak pernah tahu menahu tentang ponselmu, Arka. Bahkan, sejak lulus kuliah, kita jarang berkontak, bukan? Hanya kemarin,

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   11. Kenyataan dan Pernyataan

    Sofia POV"Assalamualaikum." Suara ketukan pintu terdengar. Aku segera mengambil bergo dan membukanya."Waalaikumsalam."Aku terkejut melihat seorang pria yang tak asing masuk rumahku. Beraninya dia datang kesini sendirian. Dia pikir ini kota, bagaimana dengan pandangan warga yang melihat bukan mahram masuk kesini seorang diri, harusnya dia bawa saudara perempuan atau siapapun itu. Mas Al bilang pulang telat lagi. Hm. Semoga tidak lama dan tidak jadi fitnah. Aku jadi panik. "Silahkan duduk, mas." Sebenarnya hatiku masih menyambut perasaannya. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah aku juga harus butuh waktu tujuh tahun juga untuk melupakannya?Aku membuatkan minum dan memberi kabar pada mas Al atas kedatangan mas Arka. Sayang, kucari-cari handphoneku sama sekali tak kutemukan. Aku semakin panik. Duh, bagaimana ini? Bapak lagi solat lagi dimushola, pasti lama banget wiridannya. Aku segera keluar membawa minum."Sendirian saja mas dari Jakarta?" Tanyaku memecah keheningan."Iya

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   10. Penyesalan Arka

    Arka's POVSetelah sadar dari koma selama 10 hari di ICU, mereka berkata tubuhku mulai stabil dan dipindah ke ruang perawatan. "Alhamdulillah, kamu sudah kembali sadar." Suara yang sangat tidak asing terdengar begitu mencemaskanku. Mama.Aku mengerjapkan mata. Teringat hari-hari yang berlalu. Terakhir aku menyetir dalam keadaan mabuk dan berujung entah kemana. Ternyata aku masih hidup.Sesaat beberapa memori melintas dibenakku. Menyelinap halus betapa pedihnya ujian kali ini.Aku teringat betul, aku mabuk karena melampiaskan stres berkepanjangan karena bisnis papa dihantam ujian yang hebat. Padahal sejak dulu aku paling takut minum benda haram itu, benar juga. Minuman haram itu membuatku sampai kecelakaan karena nyetir sambil mabuk. Kepalaku kembali berat, apalagi mengingat hal lain yang lebih berat lagi. Setelah memberikan kepastian untuk datang silaturahim dan melamar kerumahnya. Aku justru terkapar disini.Hal yang lebih menyakitkan lagi, saat papa berkata ingin menjodohkanku deng

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   9. Menantu Idaman Bapak

    Dapur dipenuhi aneka masakan untuk bahan kontenku. Meskipun tubuhku seperti remuk redam dikuasai suami sendiri tadi malam. Namun aku tetap tak boleh malas. Aku masih terngiang. Betapa romantisnya malam-malam teduh kami. Setelah salat subuh, mas Al kembali terlelap. Sebenarnya aku masih takut, kami belum mengadakan pelegalan nikah dan resepsi. Meskipun, tadi malam mas Al sempat bilang hal yang meyakinkanku."Setelah bapak sudah berangsur membaik. Kita akan mengadakan resepsi dan menikah secara sah agama dan negara. Namun, kuharap suatu saat nanti, kamu bisa menerima keluargaku. Meskipun, hubungan keluargaku bisa dikatakan tidak baik-baik saja." Aku jadi penasaran, keluarga mas Al seperti apa?Padahal sejauh ini aku mengenal dia pria yang sangat baik dan bijaksana. Terkadang, memang dibalik bijaknya seseorang tergantung dari sikap yang dibentuk saat menghadapi banyak masalah.Aku jadi teringat dengan biaya operasi bapak yang tidak sedikit. Setiap kali aku tanya, dia selalu mengalihkan t

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   8. Memililikimu Seutuhnya

    "Maaf." Ucap mas Al dengan raut begitu bersalah.Tanpa menjawabnya, aku beranjak pergi kekamar. Benar-benar hatiku tak berhenti berdebar. Mungkin karena posisiku halal baginya. Jantungku yang berpacu kian hebat memilih untuk berwudhu untuk salat Isya.Saat memakai mukena, sekilas handphoneku bergetar. Nomor asing. Beberapa kali panggilan tak terjawab. Ada deret pesan didalamnya.[Assalamualaikum, Vi.][Vi, tolong maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu besok di cafe Lestari?][Aku masih begitu mencintaimu, Vi.]Aku membalas pesannya. Meski tidak menyebutkan nama, aku tahu, ini dari mas Arka. Entah berapa kali dia bilang mencintaiku sebagai kekasih. Tidak seperti mas Al yang sama sekali tidak pernah bilang begitu.[Cukup berdustanya. Aku sudah tidak percaya bualan-bualanmu, apapun itu. Saat kamu memutuskanku lewat chat dan keluargamu yang tidak menyetujuiku, aku harap kita beteman saja, tidak lebih. Maaf kalau banyak salah selama ini.]Aku sudah tidak mau berur

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   7. Kecupan Pertama

    "Mas Al seorang advokat?"Dia mengangguk. Oh, kebetulan sekali. Pucuk dicinta ulampun tiba, suami sendiri yang akan membersihkan nama bapak. Apakah ini dibalik ujian yang bertubi-tubi?"Aku akan membantumu mencari pelaku aslinya. Dia berhak menuai perbuatannya dalam keadilan." Ucapnya tenang, namun tajam dan dalam.Kali ini aku terharu. Tanpa sadar, diriku yang labil ini melompat kepelukannya. Mas Al tampak terkejut dengan sikapku."Terimakasih banyak, mas." Saking senangnya mendengar ada partner yang membantu membersihkan nama bapak. Tanpa sadar, aku memeluknya erat."Sama-sama, sayang."Sekarang giliran aku yang terkejut saat mendengar bibirnya mengatakan 'sayang'. Aku mendongak ke wajahnya. Dia tersenyum hangat. Melihatnya sedekat ini, baru kusadari. Ternyata suamiku setampan ini."Aku tahu aku tampan, jangan menatapku begitu! Nanti kau lebih cepat jatuh cinta padaku." Ucapannya membuatku segera melepaskan diri. Bisa-bisanya salah tingkah begini."Dimakan dulu buburnya. Aku suapi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status