LOGIN"Em, coba nanti aku pastikan lagi pak. Soalnya dia sibuk akhir-akhir ini."
Bapak meyahut "Sesibuk apapun laki-laki, kalau kamu tujuannya, dia akan menyempatkan waktu."
Aku membenarkan perkataan bapak.
Aku memang heran, kekasih menjadinya selama tujuh tahun, tapi mas Arka selalu menolak kalau aku minta silaturahim ke rumah. Aku memang pernah meminta untuk jangan datang ke rumah kalau bukan untuk meminta restu. Desa Gilisari ini memang sangat menjaga etika bertamu.
Tapi, kalau sudah lama menjalin hubungan, bukankah sudah pantas ke hubungan serius dan silaturahim kesini? Ataukah karena dilarang orangtuanya sejak lama?
Sejak dahulu kala. Dia penurut dan penyayang orang tua, namun bukankah wanita seusia 27 tahun sepertiku butuh kepastian?
“Ada apa bapak tiba-tiba tanya sepagi ini?”
Aku kembali resah. Pasalnya, minggu lalu mengatakan serius dan dua hari lagi mau kesini, nyatanya hari ini menjatuhkanku.
"Kemarin habis dzuhur saat kamu pelatihan UMKM, mas Adi kesini bertanya lagi tentang dirimu."
Duh, siapa lagi deret nama orang yang akan datang lagi kesini. Sebenarnya aku juga malu untuk terus menolak. Tapi aku tidak bisa dengan sembarang orang. Apalagi, dihatiku nama mas Arka masih terukir begitu dalam. Sayangnya, Mas Arka kenapa menodai kepercayaanku. Harus menjawab apa ini?
"Hei, melamun?" Tegur bapak.
Aku tersentak. Masih tercekat merangkai kata. sepertinya bapak memahami keadaanku. Mungkin wajahku terlihat kacau. Padahal sudah kututupi make up.
"Maafkan bapak, nak. Kamu tahu sendiri, kamu sudah 27 tahun. Sudah sangat berumur, bapak sudah sakit-sakitan begini. Banyak pria yang sudah kamu tolak dengan alasan kamu menunggu dia yang belum pernah datang kesini. Padahal mereka tahu, bapak ini mantan napi. Apakah kamu yakin dia serius kamu?" tanya bapak dengan lembut.
"Coba aku usahakan pak. Aku pastikan lagi. Bapak jangan khawatir." Ucapku sambil mengulas senyum. Aku meyakinkan bapak.
"Cobalah cari pria lain misal dia memang tidak serius denganmu. Pria tidak hanya satu orang, nak. Kamu ini masih muda dan cantik. Jangan bersandar pada orang yang tidak mau memperjuangkanmu."
Ulu hatiku terasa begitu sakit mendengar kata-kata itu. Selama ini mas Arka begitu banyak baik dan perhatian padaku. Namun, semua itu salah, nyatanya chatnya hari ini begitu menyakitiku.
"Dua-seminggu lagi, minta calonmu melamarmu kesini bersama keluarganya. Kalau dia tidak datang kesini, pilihlah salah satu dari orang yang datang kemari dengan serius, pastinya orang yang baik dan paham agama." Saran bapak lembut namun tegas.
Aku masih mengamati.
"Setidaknya, jika pria itu benar-benar datang, bapak sudah lega. Ada yang menjagamu."
Aku menghela napas. Pikiranku bercelaru. Apakah bapak sudah mendekati ajalnya?
***
Kok, wajahmu tampak lesu hari ini, nduk? Tanya bu Arum saat aku sampai dikediaman beliau untuk mengantarkan pesanan didekat pantai Glagah, Kulon Progo. Beliau pelanggan tetap cateringku yang selalu ramah dan perhatian padaku.
"Tidak apa bu. Hanya sedikit lelah saja. Aman." Jawabku tersenyum menutup semua luka.
Sesegera mungkin aku berpamitan, tidak ingin lebih lama lagi kepedihanku tertangkap oleh beliau. Aku sengaja membawa motor sendiri tadi. Mobil pak Ali hanya berisi beliau dan catering saja karena aku ingin menenangkan diri dan menyendiri.
"Pak Ali, ini upah bapak, maaf aku tak bisa ikut pulang, pengen mencari udara segar." Ucapku sambil tersenyum menyerahkan amplop berisi gaji bulanan.
"Siap mbak. Terimakasih. Siapa tahu dapat calon suami disana." Ledek pak Ali.
"Ah, ada-ada saja, pak Ali."
Setelah berpamitan, aku menuju pantai Glagah seorang diri. Ingin berteriak, sesaat kulihat ombak besar yang terus menghantam beton.
Seperti itulah perasaanku, terhantam ombak tanpa ampun. Tiba-tiba ada pesan masuk, tiga deret foto mas Arka dengan Angel, begitu dekat. Meski keduanya tertangkap kamera dalam keadaan berpelukan, mas Arka memeluk erat pinggang Angel disofa. Hatiku semakin hancur.
Aku menjerit sepuasnya, menghabiskan seluruh air mata. Bahkan suaraku sudah habis, jeritan tak jelas tanpa henti. Biar saja, semesta harus tahu sehancur lebur apa perasaan seorang wanita yang selalu dilambungkan kekasihnya dan kini dilempar sejatuh-jatuhnya.
"Bagaimana aku menjelaskan kepada bapak, bahwa pria yang ingin datang seminggu lagi tidak jadi datang?" Gumamku, memunculkanku masih teringat pada deburan ombak.
"Dia memang penghianat. Buat apa aku menangis, sedangkan dia bermesra-mesraan dengan Angel?" Teriakku sambil mengusap air mataku yang terlalu berharga untuk pria yang tak tahu diri itu.
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyendiri, tanpa kusadari langit mendung dan rintik tipis hujan mulai turun. Aku segera pergi, kebetulan lupa tidak membawa jas hujan.
***
Usai melaksanakan sholat dzuhur di Masjid dekat pantai Glagah, hujan semakin deras. Mengingat rumahku masih sangat jauh dipelosok perdesaan Purworejo, aku memutuskan mencari homestay didaerah sini. Aku tidak lupa menghubungi bapak agar tidak khawatir.
Ditengah jalan yang kanan kirinya begitu rindang pepohonan dan minim bangunan, petir dan kilat menggemparkan dadaku. Aku begitu takut, teringat ibuku yang tersambar petir dan meninggal.
Duniaku kembali runtuh. Ditengah cepatnya laju motor, aku ingin memeluk diriku sendiri. Air mataku mengucur tanpa henti menyatu dengan hujan yang begitu deras. Mungkinkah aku akan mati mengenaskan karena rasa trauma petir dan patah hati?
Kali ini, biarkanlah aku menangis sepuasnya. Lelah juga membayangkan-pura tangguh. Selama ini, mereka bilang aku keras kepala, tak peduli. Nyatanya saat hatiku hancur air mataku tetap meleleh dalam kesendirian.
Tiba-tiba dari arah depan, cahaya mobil menyorot wajahku. Aku hampir kehilangan fokus. Namun dengan cepat mobil itu banting setir menghindariku dan hampir saja menabrak pohon. Ban berdecit.
“Aaaa..” Teriakku terkejut bersamaan dengan gemuruh petir dilangit.
Aku mengerem mendadak dan terkulai lemas. Begitu terkesiap sehingga motorku roboh kehilangan keseimbangan. Beberapa detik setelahnya, derap kaki mendekatiku.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Suara itu terdengar dengan nafas tersengal.
"Sofia?"
"Aku akan menikahimu. Kembalilah padaku."“Harus dengan cara apa mengingatkanmu, bahwa kita sudah selesai. Kamu pasti akan menemukan wanita yang kau cintai, mas.”“Tidak, Vi. Aku hanya menginginkanmu. Aku akan mengumpulkan bukti untuk memberi balasan setimpal pada orang yang telah menggagalkan hubungan kita kejenjang serius saat itu.”“Aku menghargai usahamu selama ini padaku mas. Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.”Dia segera menyahut “Keras kepalamu masih utuh ya, namun kali ini aku tak menyukai keras kepalamu yang memilih Al.”“Karena aku sadar mas, jodoh itu rahasia ilahi. Dan mas Al Adalah jodohku.”“Jika aku saja tidak bisa memilikimu, maka pria manapun tak boleh memilikimu, termasuk Al.”“Jangan egois Arya!”“Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, Vi. Aku akan memberi pelajaran pada Al karena telah mempengaruhimu.”Aku sungguh geram “Kemana Arya yang dulu kukenal baik dan tak pernah menyakiti orang?”“Aku seperti ini karena kalian.”Aku memo
“Aku ingin kita sama-sama move on. Kau sudah punya Angel.""Aku tak pernah mencintainya. Dia yang terus mengejarku."Ya, sekarang aku mengerti. Dia tidak pernah mencintai Angel. Mungkin dulu, dia memang benar-benar dijebak. Namun, aku tak boleh menuduh tanpa bukti. "Kamu punya banyak kesempatan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dariku, mas. Semua yang berlalu menjadi cerita yang usai.”“Aku tidak bisa, Vi. Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur gila karenamu.” Teriaknya.Ucapannya membuatku dikepung ketakutan, apalagi tempat ini sangat sepi. Sungguh, aku ingin mati saja. Tiba-tiba ia melajukan mobil dengan begitu cepat tanpa kendali. Aku sampai mual-mual diperjalanan.“Kau harus menerima hukuman dariku karena telah membuatku gila sepanjang malam memikirkanmu.”Dengan teganya, dia kembali menutup mataku dengan kain. Dalam setiap nafasku, aku hanya berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal buruk. Apalagi Arya dalam kondisi kesetanan seperti ini.Kali ini aku benar-benar pasrah, tidak
“Ada mama dan kakak.”“Wah, boleh dong aku dikenalin ke kakakmu.”Tiba-tiba handphone mas Al berdering, aku sedikit mengintip dilayar handponenya. Barangkali ada wanita cantik yang menggoda suamiku.“Kenapa?” Tanya mas Al dengan menahan senyum.Dia pasti ingin sekali menertawaiku. Duh, bisa-bisanya aku mendadak seposesif ini. Mungkin, karena dulu pernah sebegitu dalam mencintai laki-laki dan direbut kali ya. Lebih baik aku cari alasan buat jalan-jalan aja. “Tidak apa-apa. Angkat saja mas. Oh ya, boleh aku jalan-jalan ke taman depan itu?”Mas Al mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menerima panggilan itu. Dengan tas kecil yang setia menemaniku kemanapun aku pergi, langkah kakiku dengan anggunnya menuju arah taman restoran. Sesekali aku menengok suamiku, ternyata dia masih dalam mode serius menelpon. Sesampainya ditaman, aku terkesima dengan hamparan hijaunya rumput yang tertata sempurna, dipangkas rapi dan berdampingan dengan bunga-bunga. Aku duduk didekat kolam kristal yang meme
“Angel, belum puas juga kau?”“Aku hanya ingin kita bersama, Arya.” Pintanya dengan nada penuh iba. “Dasar wanita pengemis cinta!” Batinku. Pesanan menu makananku datang. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat terimakasih, wajahku menunduk masih berpura-pura scroll handphone. Jangan sampai mereka berdua tahu keberadaanku.“Jangan seperti anak kecil, Angel. Kau tak perlu selalu membuntuti aku.” Bentak Arya. Angel menyahut kesal “Hey, jangan lupa. Kalau bukan karena aku, perusahaan keluargamu sudah mati, Arya.” “Kalau kau butuh kalimat itu untuk merasa menang, silakan.”Napas Arya tertahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.“Tapi dengar baik-baik, jangan pernah berpikir aku hidup dalam permainanmu, Angel. Suatu saat kau akan menyesal.”“Kau bicara apa, Arya?”Suara langkah kakinya menjauh, disusul suara langkah kaki high heels wanita itu. Syukurlah aku bisa bernapas lega. Manusia-manusia berkuasa itu sudah pergi dari tempat dekat aku duduk. Aku berharap takkan pernah lagi bertemu mereka.Se
“Masih diselidiki Fatih. Dugaan kuatnya pelaku asli menyewa saksi palsu.” Jawabnya tenang sambil menyetir. "Jahat sekali. Lalu kemana Saksi asli selama ini? Kenapa dia tidak muncul dan berkata sebenarnya?" Dengusku. "Saksi asli terancam dan terintimidasi. Tapi lebih jelasnya masih ditelusuri. Sabar, sayang." "Tuh kan. Semakin sak-sak e dewe. Bagaimana bisa itu terjadi?" “Ada rekayasa barang bukti dan hakim memutuskan berdasarkan alat bukti sah.” “Harusnya hakim memutuskan berdasarkan kebenaran absolut dong mas?” “Dalam proses pengadilan, kunci utama alat bukti, sayang.Ketika semua saksi dan alat bukti kuat mengarah ke bapak, maka bapak diputuskan bersalah meski bukan pelaku.” Ucapannya tanpa rasa bersalah padaku. “Enteng sekali kau bicara seperti itu. Bapak tidak bersalah lho mas.” Tiba-tiba aku kecewa padanya. Mood ini memang naik turun kalau bicara sama dia, entahlah. Akupun tak tahu. "Iya, aku tahu. Aku hanya bicara kenyataan yang terkadang terjadi dilapangan. Tidak ada ma
“Bisa kita selesaikan setelah kita pindah, sayang.”“Hmmm.”"Kalau kamu keberatan, kita didesa aja. Sejujurnya, aku lebih tenang hidup sederhana bersamamu seperti ini. Aku tidak capek kok kalau harus bolak-balik Purworejo-Jogja."Perkataannya menyambar ulu hatiku. Seakan egoku begitu tinggi. Apa sulitnya mengiyakan permintaan suami, sedangkan selama ini dia telah melakukan banyak hal untukku dengan begitu tulus. Bahkan bapak bisa sembuh karena mas Al. "Aku nggak keberatan kok, kamu kan harus kerja setiap hari di Jogja. Kesehatanmu juga penting. Disisi lain, aku memang harus ikut kamu, mas. Aku juga penasaran dengan keluargamu di sana."Dia menoleh kearahku, senyumnya mengembang. “Nanti kita menghadapi apapun bareng-bareng ya.”Aku hanya mengangguk, teringat saat awal pernikahan itu dia sempat berkata kalau keluarganya bisa dibilang tidak baik-baik saja. Semoga aku salah mendengarnya. “Btw, kita mau kemana mas?”“Ke tempat makan paling enak. Aku traktir, kamu pilih apapun yang kamu







