LOGIN"Kapan kalian menikah?"Mas Al masih mengelap darah diujung bibir atasnya. Keduanya kembali duduk dengan perasaan berdarah-darah. Aku duduk disebelah mas Al."4 Mei kemarin." Jawabku tegas. Mas Arka tampak mengingat-ingat. Mungkin saat itu dia sedang koma.Sungguh hati ini begitu pedih. Saat kuliah dulu, mereka sangat akrab sebagai aktivis di organisasi dan saling bertukar pikiran sebagai pria pemikir. Aku dan mas Arka jurusan Management Bisnis, sedangkan mas Al jurusan Hukum satu tahun diatas kami."Ternyata kau sungguh licik, Al. Memanfaatkan keadaan, kau sudah tahu pasti sejak dulu aku kekasih Sofia, kan?" Todong mas Arka."Jangan menuduh! Aku menikahinya karena keadaan mendesak. Sebelumnya pun, aku sudah mengirim pesan kenomormu dan kau tak mempermasalahkan, kan?""Pesan? Kenomorku? Jangan-jangan kaulah yang berbuat kelicikan ini. Katakan dimana ponselku?!""Aku tak pernah tahu menahu tentang ponselmu, Arka. Bahkan, sejak lulus kuliah, kita jarang berkontak, bukan? Hanya kemarin,
Sofia POV"Assalamualaikum." Suara ketukan pintu terdengar. Aku segera mengambil bergo dan membukanya."Waalaikumsalam."Aku terkejut melihat seorang pria yang tak asing masuk rumahku. Beraninya dia datang kesini sendirian. Dia pikir ini kota, bagaimana dengan pandangan warga yang melihat bukan mahram masuk kesini seorang diri, harusnya dia bawa saudara perempuan atau siapapun itu. Mas Al bilang pulang telat lagi. Hm. Semoga tidak lama dan tidak jadi fitnah. Aku jadi panik. "Silahkan duduk, mas." Sebenarnya hatiku masih menyambut perasaannya. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah aku juga harus butuh waktu tujuh tahun juga untuk melupakannya?Aku membuatkan minum dan memberi kabar pada mas Al atas kedatangan mas Arka. Sayang, kucari-cari handphoneku sama sekali tak kutemukan. Aku semakin panik. Duh, bagaimana ini? Bapak lagi solat lagi dimushola, pasti lama banget wiridannya. Aku segera keluar membawa minum."Sendirian saja mas dari Jakarta?" Tanyaku memecah keheningan."Iya
Arka's POVSetelah sadar dari koma selama 10 hari di ICU, mereka berkata tubuhku mulai stabil dan dipindah ke ruang perawatan. "Alhamdulillah, kamu sudah kembali sadar." Suara yang sangat tidak asing terdengar begitu mencemaskanku. Mama.Aku mengerjapkan mata. Teringat hari-hari yang berlalu. Terakhir aku menyetir dalam keadaan mabuk dan berujung entah kemana. Ternyata aku masih hidup.Sesaat beberapa memori melintas dibenakku. Menyelinap halus betapa pedihnya ujian kali ini.Aku teringat betul, aku mabuk karena melampiaskan stres berkepanjangan karena bisnis papa dihantam ujian yang hebat. Padahal sejak dulu aku paling takut minum benda haram itu, benar juga. Minuman haram itu membuatku sampai kecelakaan karena nyetir sambil mabuk. Kepalaku kembali berat, apalagi mengingat hal lain yang lebih berat lagi. Setelah memberikan kepastian untuk datang silaturahim dan melamar kerumahnya. Aku justru terkapar disini.Hal yang lebih menyakitkan lagi, saat papa berkata ingin menjodohkanku deng
Dapur dipenuhi aneka masakan untuk bahan kontenku. Meskipun tubuhku seperti remuk redam dikuasai suami sendiri tadi malam. Namun aku tetap tak boleh malas. Aku masih terngiang. Betapa romantisnya malam-malam teduh kami. Setelah salat subuh, mas Al kembali terlelap. Sebenarnya aku masih takut, kami belum mengadakan pelegalan nikah dan resepsi. Meskipun, tadi malam mas Al sempat bilang hal yang meyakinkanku."Setelah bapak sudah berangsur membaik. Kita akan mengadakan resepsi dan menikah secara sah agama dan negara. Namun, kuharap suatu saat nanti, kamu bisa menerima keluargaku. Meskipun, hubungan keluargaku bisa dikatakan tidak baik-baik saja." Aku jadi penasaran, keluarga mas Al seperti apa?Padahal sejauh ini aku mengenal dia pria yang sangat baik dan bijaksana. Terkadang, memang dibalik bijaknya seseorang tergantung dari sikap yang dibentuk saat menghadapi banyak masalah.Aku jadi teringat dengan biaya operasi bapak yang tidak sedikit. Setiap kali aku tanya, dia selalu mengalihkan t
"Maaf." Ucap mas Al dengan raut begitu bersalah.Tanpa menjawabnya, aku beranjak pergi kekamar. Benar-benar hatiku tak berhenti berdebar. Mungkin karena posisiku halal baginya. Jantungku yang berpacu kian hebat memilih untuk berwudhu untuk salat Isya.Saat memakai mukena, sekilas handphoneku bergetar. Nomor asing. Beberapa kali panggilan tak terjawab. Ada deret pesan didalamnya.[Assalamualaikum, Vi.][Vi, tolong maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu besok di cafe Lestari?][Aku masih begitu mencintaimu, Vi.]Aku membalas pesannya. Meski tidak menyebutkan nama, aku tahu, ini dari mas Arka. Entah berapa kali dia bilang mencintaiku sebagai kekasih. Tidak seperti mas Al yang sama sekali tidak pernah bilang begitu.[Cukup berdustanya. Aku sudah tidak percaya bualan-bualanmu, apapun itu. Saat kamu memutuskanku lewat chat dan keluargamu yang tidak menyetujuiku, aku harap kita beteman saja, tidak lebih. Maaf kalau banyak salah selama ini.]Aku sudah tidak mau berur
"Mas Al seorang advokat?"Dia mengangguk. Oh, kebetulan sekali. Pucuk dicinta ulampun tiba, suami sendiri yang akan membersihkan nama bapak. Apakah ini dibalik ujian yang bertubi-tubi?"Aku akan membantumu mencari pelaku aslinya. Dia berhak menuai perbuatannya dalam keadilan." Ucapnya tenang, namun tajam dan dalam.Kali ini aku terharu. Tanpa sadar, diriku yang labil ini melompat kepelukannya. Mas Al tampak terkejut dengan sikapku."Terimakasih banyak, mas." Saking senangnya mendengar ada partner yang membantu membersihkan nama bapak. Tanpa sadar, aku memeluknya erat."Sama-sama, sayang."Sekarang giliran aku yang terkejut saat mendengar bibirnya mengatakan 'sayang'. Aku mendongak ke wajahnya. Dia tersenyum hangat. Melihatnya sedekat ini, baru kusadari. Ternyata suamiku setampan ini."Aku tahu aku tampan, jangan menatapku begitu! Nanti kau lebih cepat jatuh cinta padaku." Ucapannya membuatku segera melepaskan diri. Bisa-bisanya salah tingkah begini."Dimakan dulu buburnya. Aku suapi.







