LOGINArthur benar-benar menemui Joshua sepulang kerja di cafe shop langganan mereka yang cukup jauh dari kantor cabangnya sekarang. Dan di sana Joshua sudah datang terlebih dahulu. Duduk di salah satu meja dekat dinding kaca yang mengarah ke luar. "Maaf Josh, kamu sudah menunggu lama ya? Sekarang aku tinggal lebih jauh dari pusat kota. Jadinya aku agak terlambat. Maaf." Ucap Arthur begitu datang dan duduk di hadapan Joshua. "Gak apa-apa, aku juga baru datang. Gimana kabar kamu?" Jawab Joshua sembari bertanya kabar sahabatnya itu. "Baik, kamu sendiri?" Jawab Arthur bertanya balik. "Huuff... Tidak begitu baik, sepertinya ada yang main-main di dalam tubuh Josh Hotel." Jawab Joshua sambil menghela napas. "Apa kamu sudah menyelidikinya?" Tanya Arthur. "Sudah tapi belum ada hasil apa-apa." Jawab Joshua sembari menggelengkan kepanya pelan. "Kalau begitu kebetulan sekali, coba kau lihat ini..." Ujar Arthur sambil meletakkan sebuah map coklat di atas meja tepat di hadapan Joshua. "D
Rania langsung beristirahat di ruangan divisi mereka begitu sampai di kantor, sementara Rama harus menemui Arthur untuk melaorkan hasil meeting mereka. Kenapa hanya Rama yang harus menghadap Arthur? Padahal projek kerjasama itu adalah tanggung jawab Rania. Bukan apa-apa, hanya saja Rama sudah cukup kasihan pada Rania yang terlalu lelah dan stress setelah menghadapi si pecundang Ruben. Jadi untuk masalah laporan, Rama saja sudah cukup. Tok, tok, tok...! "Masuk!" Sahut Arthur begitu mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya. Dan dengan wajah serius Rama pun masuk ke dalam sana. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Kaidan yang kebetulan sudah berada di dalam ruangan Arthur sejak tadi. "Sesuai perkiraan Pak Kaidan, ada yang tidak beres dengan Manager Josh Hotel bernama Ruben itu." Jawab Rama sembari meletakkan bolpoin yang diberikan Kaidan sebelum dia berangkat meeting tadi di atas meja kerja Arthur. Dengan tatapannya, Arthur menyuruh Kaidan mengambil bolpoin tersebut. Seakan mengert
Sepanjang perjalanannya kembali ke kantor, Rania terus saja menggerutu di dalam mobil dan mengumpati mantan suaminya tadi tanpa henti. "Seharusnya kamu nggak usah nyegah aku buat nonjok mukanya yang songong itu! Aku dah bener-bener sebel tahu gak Ram?! Heran aku, kok bisa aku nikah ma dia dulu? Padahal itu laki gak ada bagus-bagusnya. Atau jangan-jangan aku kepelet ya dulu?" Ujar Rania ngedumel terus. "Astaga... Kamu mikirnya kejauhan Ran, mungkin kamu lagi apes aja dulu. Mending kamu tenangin diri aja dulu, dari tadi kamu terus mengumpat tanpa henti. Tidak bagus buat emosi kamu." Tutur Rama mencoba menenangkanny. Rama merupakan sosok yang penyabar dan penyayang, cerdas dan bisa diandalkan. Beda dengan Ruben yang arogan padahal tidak mempunyai kemampuan apa pun, licik dan culas. Maka dari itu Rania lebih merasa nyaman dan dilindungi ketika bersama Rama dibanding dulu ketika masih menjadi istrinya Ruben. "Tenang gimana? Kamu tahu sendiri kan gimana kerja kerasnya kita sama tem
Di tempat lain Rama dan Rania sedang melakukan meeting dengan perwakilan Josh Hotel untuk membahas proyek design interior dan iklan cafe baru di dalam hotel tersebut. Tapi anehnya si manager malah meminta untuk meeting di tempat lain, yaitu di lapangan golf padahal tadinya dia minta untuk meeting di cabang Josh Hotel "Ram, beneran kita harus meeting di tempat ini? Memangnya bakalan kondusif?" Tanya Rania ragu. "Entahlah, aku juga merasa sedikit aneh? Tapi mau gimana lagi? Pak Ruben yang menginginkannya. Pihak mereka merupakan klien lama kita. Selama ini belum pernah ada masalah yang begitu pelik dengan mereka kecuali masalah dateline kemarin yang miscommunication." Terang Rama. "Aku juga tahu itu, tapi dulu dengan sekarang itu berbeda Ram. Dulu Pak Joshua selalu menanganinya sendiri atau paling tidak dia hanya mempercayakannya pada asisten pribadinya. Namun sekarang kamu tahu sendiri kan siapa yang dipercayanya untuk mengurus proyek ini? Itu Ruben, mantan suami aku!" Ujar Rania.
Yuana kembali ke ruangannya dengan langkah kaki yang setengah diseret. Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Lesu, sudah mirip orang yang kena anemia saja. Bahkan membuat Angela terheran melihatnya."Ekspresi muka kamu kenapa kayak gitu? Jalan gontai kayak orang kurang darah aja. Baru putus cinta? Upss, lupa! Kamu kan jomblo dari lahir, hihihi..." Tanya Angela setengah meledek Yuana. Bukannya menjawab pertanyaan sahabatnya itu, Yuana malah bersendawa dengan cukup keras."Erggkhh....!""Busyeett! Yu itu cewek apa tokek sih?! Yu kagak ada anggun-anggunnya jadi cewek, sendawa sampai bikin meja ai bergetar begini!" Seru Jimy dengan tatapan tak percayanya."Sumpah, demi apa Yuaann...??! Barusan kamu bikin aku shock tahu..?!" Ujar Angela sambil mengelus dadanya."Kamu sebenarnya baru dari mana sih? Keluar lama, sampai ngabisin waktu istirahat baru balik. Eh iya, tadi kan kamu keluar sama Pak Kaidan. Keluar kemana sih?" Tanya Vor sedikit penasaran."Ho'oh, bener apa kata keriting. Kok yu kelu
"Mas Ar sedari tadi pagi mogok buat sarapan. Setiap melihat ke arahku langsung melengos. Jelas siapa yang gak marah jika wajah rupawannya kena tonjok? Dan kini perasaanku jadi gak enak. Ah bodoh ah!! Meski tadinya gak berniat nonjok matanya, tapi tetap saja aku yang salah." Gerutu Yuana yang sejak tadi hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan Arthur. Dari tadi tangannya hanya menggantung ketika hendak mengetuk pintu ruangan itu. Namun setelah memikirkannya dia cepat atau lambat memang harus bertemu dan bicara dengab Arthur. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, Yuana memberanikan diri buat mengetuk pintu. Tok, tok, tok...! "Masuk!" Terdengar suara bariton Arthur menyahut dari dalam sana. Dengan perlahan, Yuana pun membuka pintu tersebut. Mengintip sejenak sebelum masuk dengan langkah kaki perlahan layaknya slow motion. Hening... Di tempat duduknya Arthur terlihat sibuk dengan tumpukan dokumen di atas mejanya dan mengabaikan Yuana yang kini ber







