Share

121

last update publish date: 2026-09-12 09:07:00

Dewa tak bisa menahan senyum tipisnya. Ia mengecup kedua mata Nabila bergantian, lalu mendaratkan kecupan hangat di hidung istrinya yang memerah.

"Kamu tetep cantik di mata Mas,"

"Bohong..." cibir Nabila pelan, berusaha memalingkan wajah.

"Pasti kamu cuma mau nenang-nenangin aku aja kan? Laki-laki mana coba yang betah liat istrinya segendut ini?"

Dewa memegang dagu Nabila lembut, memaksa sang istri kembali menatap matanya.

"Mas enggak pernah bohong. Kamu gemuk karena apa? Karena di dalam sini a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   149

    Pagi harinya, Nabila sudah selesai menyusui Nevan langsung bergerak cepat mandi dan makeup sendiri."Mas itu Nevan tolong di ajak main dulu lah, jangan malah lihatin aku gitu." Ucap Nabila menahan rasa kesalnya karena sejak tadi suaminya itu terus menatapnya yang sedang makeup."Kan ada kakaknya sayang, biar aja Nevan main sama Diana.""Ya terus kamu mau lihatin aku terus gitu?" Sinis Nabila yang menghentikan sejenak kegiatannya membingkai alis."Ya memangnya kenapa? Kamu grogi ya?""Grogi apanya? Aku tuh risih, Mas! Muka aku lagi bentol-bentol kena sisa bedak, belum selesai di-blend, kamu ngeliatinnya kayak mau ngerampok," semprot Nabila tanpa menoleh, tangannya kembali lihai memoleskan beauty blender ke pipinya.Dewa malah tertawa kecil. Ia beranjak dari tepi tempat tidur, berjalan perlahan mendekati meja rias, lalu menyandarkan kedua tangannya di sandaran kursi tempat Nabila duduk. Wajahnya menunduk, menyejajarkan posisinya tepat di samping telinga Nabila lewat pantulan kaca."Ngap

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   148

    Dengan hati-hati, Dewa membaringkan Nabila di sisi ranjang yang kosong, tepat di samping Nevan yang masih terlelap tenang berpagarkan bantal."Masih lemes banget, Hm?" bisik Dewa seraya menyibak beberapa helai rambut yang menempel di dahi Nabila akibat keringat."Pikir aja sendiri. Kamu tadi kesetanan banget, tau gak?" omel Nabila dengan suara seraknya. Ia menarik selimut hingga sebatas dada, mencari posisi paling nyaman untuk memejamkan mata."Ya udah tidur, Mas juga mau tidur atau kamu pengen Mas peluk lagi sampai pagi, hmmm..""Mas udah ya jangan banyak omong tidur aja sana, pokonya aku gak mau tau kalo Nevan bangun nanti malam kamu yang urus ya.""Iya sayang ku." Dewa mengecup kening istrinya.Saat jam 2 pagi Nevan rewel membuat Dewa bingung sudah di gendong, di kasih susu tapi tetep saja Nevan nangis."Sayang, bangun dulu dong ini gimana Nevan kok nangis terus dari tadi sayang," Dewa membangunkan Nabila yang tertidur lelap.Nabila pun yang mendengar suara langsung bangun."Kenapa

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   147

    Ciuman itu awalnya terasa lembut, hanya kecupan-kecupan ringan yang menggoda. Namun, saat Nabila membalas rentetan kecupan itu, Dewa langsung menahan tengkuk istrinya, memperdalam ciuman mereka dengan penuh tuntutan.Nabila membelalakkan matanya sesaat sebelum akhirnya perlahan terpejam. Tangan mungilnya yang tadi berada di depan dada Dewa, kini merambat naik, mencengkeram erat kerah piyama suaminya.Dewa tidak memberinya celah sama sekali. Ia melumat bibir Nabila dengan gairah yang sudah ia tahan sejak sore tadi. Lidahnya menyapu rongga mulut Nabila. Ciuman Dewa semakin menuntut, memanas, hingga membuat tubuh Nabila terasa meleleh."Mmphh... Mas..." Nabila memukul pelan dada Dewa, dadanya naik turun dengan cepat. Ia benar-benar kehabisan napas karena ciuman suaminya yang seolah tidak memberinya ruang untuk menghirup oksigen.Merasakan pukulan kecil itu, Dewa melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan. Dewa menatap lekat wajah Nabila yang kini memerah padam, dengan mata sayu dan b

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   146

    Jam 8 malam, setelah selesai makan malam Diana sempat bermain dengan Nevan dan saat Nevan tidur Diana kembali ke kamarnya. Nabila sudah merapihkan alat make-up dan juga kebayanya untuk acara besok pagi."Udah, gak perlu pusing Mama, besok Ayah bangunin biar kamu langsung mandi, make-up, Nevan biar Ayah yang urus ya anak ayah," ucap Dewa yang sedang menimang Nevan yang baru saja terbangun lagi."Halah, kamu tuh mesti ada mau nya itu." Balas Nabila sambil duduk di pinggiran ranjang."Ya emang kan pengen cobain itu," Dewa tersenyum dagunya menunjuk sofa tantra."Jam segini Nevan aja belom tidur Mas, aku gak mau ya malam ini begadang.""Iya gak sampe malam janji. Sebentar doang kok.""Itu matanya Nevan masih kinclong kaya gitu sih lama tidurnya Mas,""Ya kamu susuin aja deh sayang biar bisa langsung tidur.""Ya mana bisa gitu Mas. Udah ah aku mau tidur bentar aja kalo Nevan nangis mau nyusu bangunin aja ya Mas,"Nabila memiringkan posisinya di atas kasur hotel yang empuk, membelakangi Dew

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   145

    Dewa terus tersenyum senang melihat wajah istrinya yang menggemaskan."Pintu kan udah di tutup rapat, Sayang. Lagian Diana palingan lagi fokus scroll-scroll pake earphone-nya.""Tetep aja nggak usah diomongin vulgar begitu! Lagian aku minta lepas kan gara-gara kamu yang ngomong nggak berasa!" omel Nabila gemas, jemarinya memilin ujung kaos suaminya dengan kesal."Ya kan emang enakan nggak pakai, Sayang. Lebih kerasa hangatnya," bisik Dewa tepat di telinga Nabila, menyenggolkan hidungnya ke pipi sang istri yang makin merona."Nggak ada ya! Pokoknya malam ini wajib hukumnya pakai. Kalo kamu nolak, aku tidur di kamar Diana!" ancam Nabila tegas, mendorong pelan dada Dewa agar berjarak."Kok gitu? Tega biarin suaminya tidur sendiri. Kalo Mas kangen tengah malam gimana?" Dewa merengut sok sedih, memasang wajah paling memelas yang ia punya."Gak ada penawaran lagi kalo mau ya harus pake pengaman. Kalo Mas gak mau yaudah kita gak usah gituan. Lagian aneh banget masa minta jatah hampir tiap ha

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   144

    Perjalanan menuju hotel sore itu terasa menyenangkan. Nevan tertidur pulas di dalam baby car seat di bangku belakang ditemani Diana yang telaten menjaga adik bayi mungil nya. Sementara itu, di kursi depan, Nabila sibuk memeriksa ulang isi tas pakaian serta beberapa keperluan wisudanya untuk besok pagi.Dewa memutar kemudi dengan santai, melirik sesekali ke arah istrinya yang masih saja tampak sedikit cemas."Mas, kemeja sama jas kamu buat besok udah kebawa semua kan? Nggak ada yang ketinggalan di lemari?" tanya Nabila sembari menoleh ke belakang sekilas, memastikan tas jasnya tergantung rapi."Udah aman semua, Sayang. Dari tadi siang kan kamu sendiri yang meriksa tiga kali sebelum dimasukin ke mobil," jawab Dewa diselingi terkekeh pelan."Kamu tenang aja kenapa sih, jangan tegang gitu.""Bukan tegang, Mas. Aku cuma pengen besok semuanya lancar. Soalnya besok kan aku harus bangun pagi-pagi banget buat make up," keluh Nabila seraya menyandarkan punggungnya ke jok mobil."Udah panggil MU

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 2

    Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 1

    "Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 6

    Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 5

    Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status