로그인Tadi malam Nabila melahirkan putri cantik yang di beri nama Kanaya Zenika Wiralesmana. Suasana di ruang rawat inap Nabila siang ini sangat ramai. Nevan yang sejak datang terus mengocehi adeknya."Adik kecil banget ya Opa," ucap Nevan yang di gendongan Papa Wira."Dulu, Abang juga kecil ya Opa. Abang lihat di foto." Tambah Nevan.Papa Wira tertawa terkeke-kekeh sambil mengecup pipi gembul cucu lakinya itu."Sekarang Abang Nevan udah gede, udah pinter, siap jadi pelindung buat adek,""Iya, nanti Abang yang jagain adek biar nggak digigit nyamuk!" seru Nevan polos, tangannya terulur-ulur ingin menyentuh pipi mungil adiknya yang sedang tertidur lelap di dalam boks bayi."Aduh, pinter banget si Abang," sahut Mama Saras yang sedang duduk di samping ranjang Nabila sambil mengelus lembut jemari menantunya."Gimana kondisinya sekarang, Nabila? Masih kerasa nyeri bekas jahitan?"Nabila tersenyum tipis, merapikan selimutnya."Udah agak mendingan kok, Ma. Tadi udah dibawa jalan pelan-pelan ke kama
Dewa perlahan memutar gagang pintu kamar utama. Di atas ranjang, Nabila sedang berbaring miring, membelakanginya dengan napas yang tidak teratur."Sayang... masih tidur?" bisik Dewa lembut sambil menduduki tepi ranjang dan mengelus bahu istrinya.Nabila membalikkan badan dengan cepat. Bukannya tersenyum, wajahnya justru ditekuk masam. Matanya yang sembap menatap Dewa penuh kekesalan."Mas Dewa tuh ya! Bener-bener nakal!" semprot Nabila tiba-tiba, membuat Dewa mengernyit bingung."Loh... kok Mas baru pulang langsung dimarahi? Salah Mas apa, Sayang?" tanya Dewa heran.Nabila melempar sebuah testpack ke pangkuan Dewa."Lihat tuh! Kan aku udah pernah bilang, kalau gituan itu inget waktu! Mas selalu telat cabut, sekarang lihat hasilnya, Nevan masih kecil, Mas!" cerocos Nabila meluapkan rasa kesalnya yang dipendam sejak pagi.Dewa terpaku menatap dua garis merah di tangannya. Senyum lebar perlahan terbit di wajah tampannya, meski ia sadar sang istri sedang mengomel habis-habisan."Sayang...
Beberapa bulan kemudian, Nabila mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia jadi sangat mudah lelah dan hampir setiap pagi selalu mual dan pusingPagi ini, begitu Dewa berangkat ke kantor, Nabila merapikan sisa sarapan dan menghampiri pengasuh anaknya."Mbak Yanti, tolong pegang Nevan sebentar ya. Saya mau ke kamar dulu, agak pusing," pamit Nabila sembari menyerahkan Nevan."Oh, iya, Bu Nabila. Mari sama Mbak Yanti dulu ya, Nevan," jawab Mbak Yanti ramah.Dengan perasaan campur aduk takut, cemas, sekaligus penasaran Nabila melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamarnya untuk melakukan tes kehamilan.Tiga menit terasa sangat lama. Nabila meletakkan testpack itu di pinggiran wastafel, lalu langsung membalikkan badan karena tak sanggup menatapnya secara langsung. Tangannya bertaut rapat di depan dada, sementara jantungnya berdegup kencang."Ya Allah... Apapun hasilnya, hamba pasrah... Tapi kalau boleh minta, Nevan masih kecil banget..." gumamnya lirih.Perlahan, Nabila memutar t
Setelah menyelesaikan hidangan fine dining mereka yang disajikan penuh estetika, Dewa langsung menuntun Nabila menuju lift khusus yang membawanya menuju lantai area kamar Presidential Suite hotel.Nabila yang berdiri di samping Dewa di dalam lift terus memperhatikan angka lantai yang merambat naik."Mas, beneran cuma sebentar kan?" Tanya Nabila memecah keheningan lift, jari-jarinya meremas pelan ujung pakaiannya."Iya, Sayangku. Kamu udah tanya itu lima kali sepanjang jalan tadi," jawab Dewa lembut sembari menarik jemari Nabila, menyatukan sela-sela jari mereka dengan erat."Ya aku kepikiran Nevan, Mas. Aku takut dia rewel terus Mama kesusahan.""Nevan itu udah biasa sama Oma dan Opa-nya. Lagian tadi Mama sendiri kan yang nyuruh kita puas-puasin? Kamu percayain aja sama Mama, ya?"Ting.Pintu lift terbuka. Dewa membawa Nabila melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap, berhenti tepat di depan sebuah pintu suite berukiran elegan. Begitu kartunya ditempelkan dan pintu terbu
Begitu melangkah keluar rumah dan pintu mobil tertutup rapat, suasana mendadak terasa begitu hening.Nabila menghela napas panjang, bersandar di jok mobil sambil menatap ke luar jendela. Sudah lama ia tak merasakan sensasi duduk di dalam mobil tanpa kerepotan menggendong Nevan."Aneh ya, Mas..." gumam Nabila pelan.Dewa yang sedang memutar kemudi melirik sebentar."Aneh kenapa, Sayang?""Bisa pergi cuma berdua gini. Kangen sih, tapi kepikiran Nevan terus."Dewa tersenyum tipis. Tangan kirinya terulur dari kemudi, menggenggam jemari Nabila dan membawanya ke atas paha. Ia mengelus punggung tangan istrinya telaten."Itu wajar, Mama Nabila. Tapi hari ini, khusus beberapa jam ke depan, lupain dulu pusingnya urusan rumah. Fokusnya cuma kamu dan Mas." Dewa mengecup singkat punggung tangan Nabila sebelum kembali memegang setir.Rencana Dewa benar-benar padat. Tujuan pertama mereka adalah bioskop. Dewa sengaja memesan tiket kelas premier agar Nabila bisa duduk nyaman tanpa takut pegal.Ketika
Pagi ini Nabila dan Dewa benar-benar akan pergi berduaan."Udah siap sayang?" Tanya Dewa sambil memakai jam tangan nya."Menurut kamu aku cocoknya pake sendal, heels, atau sneakers?" Tanya Nabila yang berdiri di depan rak sepatu nya."Jangan pake heels nanti kamu ngeluh pegel. Lagian kita kan mau pergi ke banyak tempat sayang jadi pake yang kamu merasa nyaman aja,""Tapi aku jadi tinggi kalo pake heels jadi gak jomplang banget berdiri di samping kamu yang tinggi banget.""Udah pake sendal aja biar cepet." Usul dewa saat Nabila sudah mengambil sepatu heels 15cm nya."Aku udah lama loh gak peke ini. Dulu waktu aku masih kerja selalu pake heels ini Mas.""Ya tapi itu terlalu tinggi sayang. Nanti kalo keseleo gimana coba kamu kan udah lama gak pake.""Ahh.. ribet kamu, yaudah lah kalo gitu gak usah aja kita pergi males dari tadi aku pake baju kamu kontarin terus," sewot Nabila yang memilih menjauhi rak sepatu nya dan duduk di sofa pojok kamarnya."Duhh... Salah ngomong nih aku," batin Dew
Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal







