Share

155

last update publish date: 2026-10-16 09:47:58

Setelah menyelesaikan hidangan fine dining mereka yang disajikan penuh estetika, Dewa langsung menuntun Nabila menuju lift khusus yang membawanya menuju lantai area kamar Presidential Suite hotel.

Nabila yang berdiri di samping Dewa di dalam lift terus memperhatikan angka lantai yang merambat naik.

"Mas, beneran cuma sebentar kan?" Tanya Nabila memecah keheningan lift, jari-jarinya meremas pelan ujung pakaiannya.

"Iya, Sayangku. Kamu udah tanya itu lima kali sepanjang jalan tadi," jawab Dewa le
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   155

    Setelah menyelesaikan hidangan fine dining mereka yang disajikan penuh estetika, Dewa langsung menuntun Nabila menuju lift khusus yang membawanya menuju lantai area kamar Presidential Suite hotel.Nabila yang berdiri di samping Dewa di dalam lift terus memperhatikan angka lantai yang merambat naik."Mas, beneran cuma sebentar kan?" Tanya Nabila memecah keheningan lift, jari-jarinya meremas pelan ujung pakaiannya."Iya, Sayangku. Kamu udah tanya itu lima kali sepanjang jalan tadi," jawab Dewa lembut sembari menarik jemari Nabila, menyatukan sela-sela jari mereka dengan erat."Ya aku kepikiran Nevan, Mas. Aku takut dia rewel terus Mama kesusahan.""Nevan itu udah biasa sama Oma dan Opa-nya. Lagian tadi Mama sendiri kan yang nyuruh kita puas-puasin? Kamu percayain aja sama Mama, ya?"Ting.Pintu lift terbuka. Dewa membawa Nabila melangkah menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap, berhenti tepat di depan sebuah pintu suite berukiran elegan. Begitu kartunya ditempelkan dan pintu terbu

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   154

    Begitu melangkah keluar rumah dan pintu mobil tertutup rapat, suasana mendadak terasa begitu hening.Nabila menghela napas panjang, bersandar di jok mobil sambil menatap ke luar jendela. Sudah lama ia tak merasakan sensasi duduk di dalam mobil tanpa kerepotan menggendong Nevan."Aneh ya, Mas..." gumam Nabila pelan.Dewa yang sedang memutar kemudi melirik sebentar."Aneh kenapa, Sayang?""Bisa pergi cuma berdua gini. Kangen sih, tapi kepikiran Nevan terus."Dewa tersenyum tipis. Tangan kirinya terulur dari kemudi, menggenggam jemari Nabila dan membawanya ke atas paha. Ia mengelus punggung tangan istrinya telaten."Itu wajar, Mama Nabila. Tapi hari ini, khusus beberapa jam ke depan, lupain dulu pusingnya urusan rumah. Fokusnya cuma kamu dan Mas." Dewa mengecup singkat punggung tangan Nabila sebelum kembali memegang setir.Rencana Dewa benar-benar padat. Tujuan pertama mereka adalah bioskop. Dewa sengaja memesan tiket kelas premier agar Nabila bisa duduk nyaman tanpa takut pegal.Ketika

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   153

    Pagi ini Nabila dan Dewa benar-benar akan pergi berduaan."Udah siap sayang?" Tanya Dewa sambil memakai jam tangan nya."Menurut kamu aku cocoknya pake sendal, heels, atau sneakers?" Tanya Nabila yang berdiri di depan rak sepatu nya."Jangan pake heels nanti kamu ngeluh pegel. Lagian kita kan mau pergi ke banyak tempat sayang jadi pake yang kamu merasa nyaman aja,""Tapi aku jadi tinggi kalo pake heels jadi gak jomplang banget berdiri di samping kamu yang tinggi banget.""Udah pake sendal aja biar cepet." Usul dewa saat Nabila sudah mengambil sepatu heels 15cm nya."Aku udah lama loh gak peke ini. Dulu waktu aku masih kerja selalu pake heels ini Mas.""Ya tapi itu terlalu tinggi sayang. Nanti kalo keseleo gimana coba kamu kan udah lama gak pake.""Ahh.. ribet kamu, yaudah lah kalo gitu gak usah aja kita pergi males dari tadi aku pake baju kamu kontarin terus," sewot Nabila yang memilih menjauhi rak sepatu nya dan duduk di sofa pojok kamarnya."Duhh... Salah ngomong nih aku," batin Dew

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   152

    Beberapa Minggu setelah mpasi Nevan sudah mulai berkurang menyusu,hampir setiap weekend Mama Saras dan Papa Wira selalu mampir untuk bermain bersama Nevan."Nevan akhir-akhir ini jadi jarang nyusu Ma, apa itu wajar ya?" Tanya Nabila pada Mama Saras yang sedang duduk di sofa ruang keluarga."Wajar itu, Bil. Nevan kan makin pintar makannya, perutnya udah keisi. Makanan utamanya tetap ASI atau susu formula, tapi jelas frekuensi nyusunya nggak bakal sebanyak waktu dia cuma mengandalkan ASI," jelas Mama Saras telaten saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga sore itu.Nevan sendiri tampak asyik merangkak di atas matras bermainnya, mencoba meraih mainan bunyi-bunyian bersama Papa Wira."Tapi kadang payudara aku kerasa kenceng dan agak nyeri, Ma, kalau jam nyusunya kelewat gara-gara dia gak mau nyusu," aduh Nabila sambil mengelus dadanya pelan, memasang wajah sedikit meringis."Nah, itu harus rajin dipumping sedikit biar gak keras. Jangan dibiarkan menumpuk, nanti bisa meriang kamu k

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   151

    Hari berlalu begitu cepat hari ini adalah hari pertama Nevan mpasi. Semua anggota keluarga sangat senang dan menunggu momen ini sejak Nevan lahir."Di suapnya sedikit-sedikit aja, Bil." Ucap Mama Saras yang menginap di rumahnya sejak kemarin karena tau Nevan akan mulai makan hari ini."Aduhhh, aduhhh cucu Opa makannya doyan ya," suara Papa Wira yang sama senang nya melihat cucunya itu lahap."Ihhh lucu bangett, Nevannn, manyun-manyun gitu bibirnya" girang Diana yang sejak awal siap mendokumentasikan dengan kamera handphone nya.Suapan demi suapan Nevan makan dengan lahap sampai tak bersisa di mangkuk kecilnya."Udah habiss yeeeyyyy...." Ucap Nabila sambil di iringi tepukan tangan dari seluruh anggota keluarga."Yaampun lucunya anak ayah, duhh jadi pengen punya anak bayi lagi deh sayang," celetuk Dewa yang langsung mendapati jeweran di telinganya dari Mama Saras."Anak baru 6 bulan kok ya kepikiran tambah anak lagi, Dewa, Dewa kamu pikir hamil itu gampang hah...""Aduhh.. Ma sakit loh

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   150

    Dan saat mereka sampai di pekarangan rumahnya Nabila di buat takjub melihat dekorasi seperti acara pernikahan terlihat di sana."Ini acara apaan sih?" Tanya Nabila yang mengerutkan keningnya."Mana Mas Tau." Jawab Dewa cepat."Kamu mau nikah lagi Mas,""Astaghfirullah sayang, mulutnya. Mana ada Mas kepikiran begitu. Ini kerjaan siapa sih sumpah Mas gak tau,"Diana yang melihat itu senyum-senyum sendiri karena semua ini dia sendiri yang menyiapkan sebagai hadiah untuk Mama sambungnya sekaligus sahabat sejak hari pertama kuliah."Udah, udah jangan ribut mending ayo kita masuk ke rumah. Nevan nanti aku aja yang gendong. Lagian Mama kok bisa-bisanya kepikiran ayah Nikah lagi sih, ini tuh aku yang siapin buat kelulusan Mama.""Ya itu dekorasinya kaya dekorasi orang mau nikahan.""Ah, iya juga ya." Ringis Diana menggit bibirnya ia memang sengaja membuat kejutan ini supaya Mama nya senang tapi malah membuat Mama sambungnya overthinking."Nah tuh kan Diana aja merasa gitu.""Udah-udah gak usa

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 2

    Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 1

    "Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 6

    Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 5

    Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status