MasukTopan terdiam ketika merasakan ada yang aneh dengan sikap Helena yang semakin tak acuh padanya. Mantan istrinya memilih duduk duluan, tanpa membantunya menarik kursi seperti yang dilakukan.Ia memandangi mertuanya yang hanya tersenyum tpis, seolah sudah memaklumi sikap Helena yang semakin tidak bisa dimengerti olehnya. Kecurigaan atas kehadiran Reygan kemarin, kembali membuatnya bertanya-tanya dalam hati.“Duduklah kalau kau mau ikut sarapan bersama kami,” pungkas Helena masukkan nasi dan lauk ke dalam piring kosong ayahnya. Ia melakukan itu dengan sepenuh hati hingga menimbulkan banyak harapan dari orang lain.“Ayah duduklah,” kata Helena meminta ayahnya untuk segera duduk dengan mereka, “untuk selanjutnya jangan lagi menunda-nunda sarapan.”Vincent tersenyum tipis, ucapan Helena kembali mengingatkannya pada belahan jiwanya yang entah di mana saat ini. Wanita yang berhasil membawa separuh hatinya bersama dengan bayangan dan penyesalan.Walaupun masih syok dengan sikap dingin Helen, T
Reygan memeluk istrinya dengan semakin dalam. Menyalurkan rasa nyaman di dalam hati. Perlahan, tangan Reygan mui beraksi, menjalar dan mencari jalan terbaik untuk kebahagiaan bersama. Hingga tangan itu sampai pada puncak yang diharapkan, Helena menahan napas.“Kita sudah lama tidak melakukan ini,” bisik Reygan dengan suara serak, “jangan hukum aku terlalu lama, karena aku hanya manusia biasa yang tidak akan tahan dengan pesona wanita sepertimu,” lanjutnya kembali.Helena mengangguk malu, ia memejamkan mata, merasakan sensasi yang semakin terasa memabukkan. Ia biarkan Reygan melakukan apa pun yang dia inginkan untuk kebahagiaan mereka berdua.Di dalam kamar yang tadinya dingin karena sikap mereka berdua, kini telah berubah menjadi panas dan penuh gairah. Kedunya seolah lupa di mana mereka saat ini, hingga tidak sadar suara mereka sampai terdengar samar di balik pintu.Beberapa pelayan yang tidak sengaja lewat di depan kamar sampai merinding malu. Ini pertama kalinya mereka mendengar su
Masih di kediaman Hani, Topan masih berdiri di halaman belakang dengan segala pertanyaan di dalam benaknya. Ia penasaran, tetapi juga tidak yakin ada sesuatu di rumah yang sudah lama ditempati.“Hani, kau di sana?” tanya Topan dengan suara pelan. Rasa penasarannya semakin besar, ketika sekali lagi telinganya mendengar suara lain. Ia mengerutkan kening, mencoba menerka-menerka apa yang berada di sana.Suara langkah kaki Topan semakin terdengar mendekat. Pria itu sengaja memelankan suara agar apa pun yang berada di sana tidak terkejut. Namun, ketika tangannya hendak menggapai dedaunan untuk mengungkap isi di baliknya. Suara Hani terdengar dari arah belakang.Topan menoleh dengan kening mengkerut, sebab rambut dan pakaian Hani terlihat berantakan, berbeda dari sebelum ia masuk ke dalam kamar tadi.“Dari mana saja, kau?” tanya Topan curiga dengan penampilan Hani, “aku mencarimu sejak tadi.”“A-aku,” jawab Hani tergagap, diam-diam ia mengintip ke belakang punggung Topan untuk memastikan ke
Di luar, Reygan yang menahan diri untuk tidak ikut campur urusan Helena dan Topan mencoba untuk tetap tenang, meski dadanya sudah hampir meledak ingin memastikan istrinya baik-baik saja.Saat istrinya keluar, hatinya merasa lega. Akan tetapi, ketika melihat wajah Helena yang kesal, hatinya mendadak terbakar.“Dia melakukan sesuatu padamu?” bisik Reygan dengan tangan mengepal, “aku akan–”“Duduklah, jangan katakan apa pun padanya dulu,” balas Helena berbisik. Ia duduk di sebelah Reygan tanpa canggung, tetapi tatapannya dingin pada Topan yang semakin terlihat kebingungan.“Sepertinya kerjasama kalian semakin membaik,” tukas Topan menepis rasa tidak nyaman di dalam hati, “aku hanya berharap tidak ada yang salah paham nantinya,” lanjut Topan kemudian.Di sebelah Helena, Reygan mencoba untuk tetap tenang, meski ia sudah semakin geram. Apalagi, ketika mendapati tatapan Topan yang begitu dalam untuk istrinya.“Tidak hanya semakin baik.” Reygan meraih tangan Helena dan menggenggamnya erat di
“Nona, maafkan kami.” Salah seorang pelayan mendekat dengan wajah pucat. Ia mewakili beberapa temannya untuk minta maaf secara langsung.“Helena, bukan mereka yang salah,” ucap Vincent menengahi, “Ayah yang memaksa untuk jalan-jalan ke kebun belakang.”Menarik napas pelan, Helena meminta semua pelayan ayahnya untuk keluar. Ia duduk di pinggir ranjang seraya mendesah pelan. “Ayah, apa kau tidak sayang pada dirimu sendiri? Lihat usiamu, kau masih muda, tapi terlalu memaksa untuk melakukan semuanya sendiri.”Tersenyum tipis, Vincent memegang tangan putrinya. Putri kecil yang diasuh dengan banyak air mata dan kenangan dalam kesunyian. Ia banyak bersalah pada Helena, karena keegoisannya, ia merebut kasih sayang seorang ibu untuk putri mereka.“Ayah sudah banyak membuat kesalahan di masa muda,” kata Vincent tiba-tiba dengan suara seraknya.Helena terdiam, ia mengamati wajah ayahnya yang kin terlihat kurus. Entah apa saja yang selama ini dirasa hingga membuatnya terlihat memprihatinkan.“Apa
Raisa terperanjat hingga hampir terjatuh. Akan tetapi tubuhnya segera ditangkap oleh seseorang yang tadi menegurnya.“Kau mau apa?” tanya Helena sinis sudah berada di belakang Raisa yang pucat pasi tertangkap.“A-aku … bagaimana kau bisa di sini, tadi bukannya–”Tersenyum sinis, Helena semakin dekat pada Raisa yang sontak ikut mundur ke belakang. Ia tidak mengira jika Helena memiliki tatapan yang mengerikan seperti itu.“Ini adalah rumahku, di mana pun aku berada bukankah hal yang wajar?” tanya Helena menjawab pertanyaan, “yang harus ditanya adalah kau, nona Raisa!”Raisa menelan ludah kasar saat tubuhnya terpojok di dinding pegangan besi. Ia melirik ke bawah dan memperhitungkan nyawanya jika terpaksa memilih melompat untuk menghindar.“A-aku … ada urusan penting yang harus kami bicarakan, karena itu–”“Tidak dengan menyelinap naik ke kamar kami,” potong Helena sarkas, “kau adalah tamu, bersikap sebagaimana seorang tamu kebanyakan!”“Sayang ada apa?” Reygan terlihat keluar dari kamar







