Masuk“Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.
Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu. Kali ini berbeda. Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan. . Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana dan Aksa langsung menoleh ke arahnya dengan raut penuh harap. Namun harapan itu seketika runtuh saat mereka sadar, Reina tidak ikut bersama putri bungsu mereka. “Kakak kamu di mana, sayang?” tanya Hana lembut, meski sorot matanya terlihat cemas, “Apa dia nggak mau turun?” Iva duduk di kursinya perlahan, “Kakak nggak ada di kamarnya, Ma. Mungkin dia udah keluar dari pagi… sebelum kita bangun.” Ucapan itu membuat Hana terdiam cukup lama. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Aksa pun terlihat menghela napas berat, mencoba menahan rasa kesal yang perlahan muncul. Usai pernyataan itu, seorang asisten rumah tangga melintas diam-diam, membawa baki berisi irisan buah. Aksa mengangkat alis, dan berniat untuk bertanya kepada wanita paruh baya yang sudah bekerja cukup lama di rumahnya. “Bi,” panggil Aksa kepada wanita paruh baya itu, “apa tadi pagi ada yang melihat Reina keluar rumah?” “Dari tadi pagi saya belum melihat Non Reina, Tuan,” jawab ART itu dengan sopan. “Yang lain nggak ada yang lihat juga?” kini Hana ikut bertanya. “Saya dan Bi Ana bangun bersamaan, Nyonya. Sejak pagi kami di dapur dan ruang belakang. Kami belum melihat Non Reina sama sekali,” jelas Bi Sri. Hana terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kini perasaannya makin tak karuan. “Ya sudah, Bi Sri. Lanjutkan kerjaan saja,” ucap Hana akhirnya. “Baik, Nyonya.” Bi Sri undur diri dari meja makan dengan sopan dan kembali ke dapur. Kepergiannya meninggalkan suasana yang makin berat di meja makan keluarga itu. “Tadi kamu periksa kamar mandi juga nggak, Va?” tanya Aksa lagi. Iva menggeleng. “Aku cuma manggil kakak. Pas nggak dijawab, aku buka pintunya… kamarnya kosong.” Hana langsung berdiri. “Biar mama yang cek sendiri. Kalian sarapan dulu.” Tanpa menunggu persetujuan dari sang suami, Hana bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju lantai atas. Ada firasat buruk yang sejak tadi mengusik pikirannya. Firasat yang tidak berani ia ucapkan dengan suara. “Ayo sarapan dulu,” kata Aksa pada Iva, berusaha terdengar tenang, “Jangan sampai kamu telat sekolah.” “Iya, Pa.” Meski mengangguk, pikiran Iva sudah ke mana-mana. . Di tempat lain, jauh dari rumah mewah itu, Reina dan Kalandra sedang duduk berhadapan di sebuah restoran kecil yang buka dua puluh empat jam. Lampu-lampu kota masih menyala, sementara langit pagi perlahan berubah warna. Bagi Reina, pagi itu bukan awal hari, melainkan awal hidup baru. “Sayang, pasti sekarang keluarga kamu lagi nyariin kamu,” ucap Kalandra setelah menelan makanannya. Reina mengangkat bahu. “Biarin aja. Siapa suruh mereka selalu nentang kemauanku.” Nada suaranya terdengar ringan, seolah apa yang ia lakukan hanyalah keputusan kecil. “Apa mereka nggak bisa lacak kamu lewat ponsel?” tanya Kalandra ragu. “Nggak akan!” jawab Reina yakin, “Nanti sampai tujuan aku langsung ganti nomor,” “Kamu juga harus ganti nomor. Biar nggak ada satu orang pun yang tahu keberadaan kita,” Kalandra mengangguk pelan. “Iya, sayang,” Reina tersenyum tipis. “Ayo habisin sarapannya. Kita masih jauh.” “Tinggal satu jam setengah,” ucap Kalandra, “Kamu kuat nyetir?” “Bisa,” jawab Reina tanpa ragu, “Tenang aja.” Ia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan. Setidaknya, itu yang ia yakini. Bagi Reina, tidak ada yang terasa berat hari itu. Bahkan rasa bersalah pun seakan tertutup oleh keyakinannya sendiri. . Hana mengetuk pintu kamar Reina beberapa kali, dan hasilnya sama-sama nihil. Tak ada sahutan. Tak ada langkah kaki. Hanya sunyi yang menyambut. “Nak, kamu ada di dalam, kan?” lontar Hana sedikit berteriak, suaranya menggema pelan di lorong lantai dua. Tak ada jawaban. Hana menelan ludah. Perasaan tidak enak perlahan merayap naik, menekan dadanya. “Sayang, kalo kamu masih nggak mau menjawab, mama masuk ya?” Tanpa menunggu persetujuan, Hana memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Kosong. Kamar itu terlalu rapi, terlalu sunyi. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja keluar, tapi juga tidak terasa seperti kamar yang masih berpenghuni. Hana melangkah ke arah kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke pintu, menahan napas, berharap mendengar suara air atau gerakan kecil. “Kok nggak ada suara sama sekali ya?” Dengan rasa penasaran yang kini bercampur ketakutan, Hana membuka pintu kamar mandi itu. “Lohh… kok kosong?” Dadanya berdegup kencang. Jantung Hana seakan berpacu tanpa kendali. Ia kembali ke kamar dengan langkah pelan, lalu mulai memperhatikan setiap sudut ruangan dengan lebih saksama, tidak lagi sekilas, tapi penuh kecemasan. Nakas kosong. Ponsel Reina tidak ada. Charger juga menghilang. Hana melangkah ke arah lemari besar di sudut kamar. Tangannya gemetar saat membuka pintu lemari itu perlahan. Seketika dunia Hana terasa runtuh. Dua buah koper besar tidak ada di tempatnya. Kotak perhiasan menghilang. Beberapa barang penting, juga sejumlah pakaian Reina, lenyap tanpa sisa. “Gawat!!!” Suara Hana pecah, nyaris seperti jeritan. “Pasti anak itu marah dan pergi dari rumah karena masalah semalam!” Air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Satu, lalu menyusul yang lain. Hana menutup mulutnya, mencoba menahan isak yang sudah naik ke tenggorokan. “Aku harus kasih tau Aksa sebelum anak itu semakin jauh dari sini.” Tanpa peduli kakinya gemetar dan napasnya terengah, Hana berlari menuruni tangga. Langkahnya tergesa, pikirannya kacau, hanya satu hal yang memenuhi kepalanya, Reina. “Pa! Gawat, Pa!” teriak Hana panik dengan napas ngos-ngosan begitu sampai di ruang makan. Aksa, Iva, Bi Ana, dan Bi Sri langsung terkejut. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah tegang. “Mama kenapa?” lontar Iva, wajahnya langsung pucat. “Gawat! Ini gawat!” seru Hana lagi, suaranya bergetar hebat. Aksa segera berdiri dan menahan tubuh istrinya sebelum Hana terjatuh, “Mama duduk dulu. Tenangkan diri mama,” “Bi, tolong ambilkan air putih!” pinta Iva dengan suara panik. “Baik non.” Bi Ana berlari ke dapur untuk mengambil air putih. Setelah mendapatkannya, ia bergegas ke ruang makan dan langsung memberikannya kepada Hana. Hana menerima gelas itu dengan tangan gemetar, lalu meneguknya meski air tumpah sedikit ke sudut bibirnya. “Ini gawat, Pa…” ucap Hana lirih, namun penuh ketakutan. “Ada apa sih, Ma?!” tanya Aksa, nadanya mulai kehilangan kendali.Pukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot
Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am
“Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s
Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi
“Restoran sebagus ini kenapa sepi pengunjung ya, yang?” Reina menoleh ke sekeliling begitu mobil mereka berhenti. Dari luar, restoran itu tampak hangat dan nyaman, lampu temaram, kaca besar, dan dekorasi yang terlihat terawat. Tempat yang seharusnya ramai, setidaknya cukup untuk disebut hidup. Kalandra mengedikkan bahu santai, “Mungkin karena terlalu tenang, Yang. Orang-orang sekarang lebih suka tempat rame, yang viral, atau minimal ada spot foto,” Reina mengangguk pelan, “Hmm… bisa jadi sih,” Reina membuka pintu mobil lebih dulu, “Yaudah, daripada nebak-nebak terus, mending masuk aja. Aku udah laper!” Tanpa menunggu jawaban, Reina melangkah turun. Begitu Kalandra menyusul, ia langsung menarik tangan kekasihnya, seolah tak sabar menyingkirkan rasa laparnya. Begitu masuk, pandangan Reina menyapu seluruh ruangan. Beberapa meja terisi, tapi selebihnya kosong. Suasana hening, hanya diisi alunan musik pelan dan suara alat makan sesekali beradu. “Kita duduk di mana, yang?” tany
“Ayo, sayang!”Suara Reina menggema dari arah tangga. Nada suaranya jelas tidak sabar, sedikit manja, sedikit memerintah.Di ruang keluarga dekat tangga, Kalandra mendengarnya dengan sangat jelas. Namun alih-alih segera menghampiri, ia tetap duduk santai, punggungnya bersandar ke sofa, pandangannya lurus menatap pintu ruangan seolah menunggu sesuatu.Reina muncul dengan tangan berkacak pinggang. Bibirnya sedikit manyun ketika melihat Kalandra belum juga bergerak.Bukannya merasa bersalah, Kalandra justru tersenyum kecil. Tingkah Reina terlihat menggemaskan di matanya.“Ada apa, sayang?” tanyanya santai.“Kenapa kamu masih di situ aja?!” protes Reina ketus, “Aku udah panggil kamu, tau!”Kalandra tertawa pelan. Ia akhirnya berdiri, melangkah perlahan ke arah Reina, seolah sengaja membuat gadis itu menunggu sedikit lebih lama.“Hehehe… emangnya kita mau ke mana? Kamu kan nggak bilang apa-apa. Aku nggak bisa baca pikiran kamu,” kata Kalandra ringan.“Ya cari makan lah!” balas Reina cepat,







