Share

5. menghilang

Author: Relisyaaa
last update Huling Na-update: 2025-12-30 11:23:59

“Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.

Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu.

Kali ini berbeda.

Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan.

.

Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana dan Aksa langsung menoleh ke arahnya dengan raut penuh harap. Namun harapan itu seketika runtuh saat mereka sadar, Reina tidak ikut bersama putri bungsu mereka.

“Kakak kamu di mana, sayang?” tanya Hana lembut, meski sorot matanya terlihat cemas, “Apa dia nggak mau turun?”

Iva duduk di kursinya perlahan, “Kakak nggak ada di kamarnya, Ma. Mungkin dia udah keluar dari pagi… sebelum kita bangun.”

Ucapan itu membuat Hana terdiam cukup lama. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Aksa pun terlihat menghela napas berat, mencoba menahan rasa kesal yang perlahan muncul.

Usai pernyataan itu, seorang asisten rumah tangga melintas diam-diam, membawa baki berisi irisan buah. Aksa mengangkat alis, dan berniat untuk bertanya kepada wanita paruh baya yang sudah bekerja cukup lama di rumahnya.

“Bi,” panggil Aksa kepada wanita paruh baya itu, “apa tadi pagi ada yang melihat Reina keluar rumah?”

“Dari tadi pagi saya belum melihat Non Reina, Tuan,” jawab ART itu dengan sopan.

“Yang lain nggak ada yang lihat juga?” kini Hana ikut bertanya.

“Saya dan Bi Ana bangun bersamaan, Nyonya. Sejak pagi kami di dapur dan ruang belakang. Kami belum melihat Non Reina sama sekali,” jelas Bi Sri.

Hana terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kini perasaannya makin tak karuan.

“Ya sudah, Bi Sri. Lanjutkan kerjaan saja,” ucap Hana akhirnya.

“Baik, Nyonya.”

Bi Sri undur diri dari meja makan dengan sopan dan kembali ke dapur. Kepergiannya meninggalkan suasana yang makin berat di meja makan keluarga itu.

“Tadi kamu periksa kamar mandi juga nggak, Va?” tanya Aksa lagi.

Iva menggeleng. “Aku cuma manggil kakak. Pas nggak dijawab, aku buka pintunya… kamarnya kosong.”

Hana langsung berdiri. “Biar mama yang cek sendiri. Kalian sarapan dulu.”

Tanpa menunggu persetujuan dari sang suami, Hana bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju lantai atas. Ada firasat buruk yang sejak tadi mengusik pikirannya. Firasat yang tidak berani ia ucapkan dengan suara.

“Ayo sarapan dulu,” kata Aksa pada Iva, berusaha terdengar tenang, “Jangan sampai kamu telat sekolah.”

“Iya, Pa.”

Meski mengangguk, pikiran Iva sudah ke mana-mana.

.

Di tempat lain, jauh dari rumah mewah itu, Reina dan Kalandra sedang duduk berhadapan di sebuah restoran kecil yang buka dua puluh empat jam.

Lampu-lampu kota masih menyala, sementara langit pagi perlahan berubah warna. Bagi Reina, pagi itu bukan awal hari, melainkan awal hidup baru.

“Sayang, pasti sekarang keluarga kamu lagi nyariin kamu,” ucap Kalandra setelah menelan makanannya.

Reina mengangkat bahu. “Biarin aja. Siapa suruh mereka selalu nentang kemauanku.”

Nada suaranya terdengar ringan, seolah apa yang ia lakukan hanyalah keputusan kecil.

“Apa mereka nggak bisa lacak kamu lewat ponsel?” tanya Kalandra ragu.

“Nggak akan!” jawab Reina yakin, “Nanti sampai tujuan aku langsung ganti nomor,”

“Kamu juga harus ganti nomor. Biar nggak ada satu orang pun yang tahu keberadaan kita,”

Kalandra mengangguk pelan. “Iya, sayang,”

Reina tersenyum tipis. “Ayo habisin sarapannya. Kita masih jauh.”

“Tinggal satu jam setengah,” ucap Kalandra, “Kamu kuat nyetir?”

“Bisa,” jawab Reina tanpa ragu, “Tenang aja.”

Ia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan. Setidaknya, itu yang ia yakini. Bagi Reina, tidak ada yang terasa berat hari itu. Bahkan rasa bersalah pun seakan tertutup oleh keyakinannya sendiri.

.

Hana mengetuk pintu kamar Reina beberapa kali, dan hasilnya sama-sama nihil.

Tak ada sahutan. Tak ada langkah kaki. Hanya sunyi yang menyambut.

“Nak, kamu ada di dalam, kan?” lontar Hana sedikit berteriak, suaranya menggema pelan di lorong lantai dua.

Tak ada jawaban.

Hana menelan ludah. Perasaan tidak enak perlahan merayap naik, menekan dadanya.

“Sayang, kalo kamu masih nggak mau menjawab, mama masuk ya?”

Tanpa menunggu persetujuan, Hana memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan.

Kosong.

Kamar itu terlalu rapi, terlalu sunyi. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja keluar, tapi juga tidak terasa seperti kamar yang masih berpenghuni.

Hana melangkah ke arah kamar mandi. Ia menempelkan telinganya ke pintu, menahan napas, berharap mendengar suara air atau gerakan kecil.

“Kok nggak ada suara sama sekali ya?”

Dengan rasa penasaran yang kini bercampur ketakutan, Hana membuka pintu kamar mandi itu.

“Lohh… kok kosong?”

Dadanya berdegup kencang. Jantung Hana seakan berpacu tanpa kendali. Ia kembali ke kamar dengan langkah pelan, lalu mulai memperhatikan setiap sudut ruangan dengan lebih saksama, tidak lagi sekilas, tapi penuh kecemasan.

Nakas kosong.

Ponsel Reina tidak ada.

Charger juga menghilang.

Hana melangkah ke arah lemari besar di sudut kamar. Tangannya gemetar saat membuka pintu lemari itu perlahan.

Seketika dunia Hana terasa runtuh. Dua buah koper besar tidak ada di tempatnya. Kotak perhiasan menghilang. Beberapa barang penting, juga sejumlah pakaian Reina, lenyap tanpa sisa.

“Gawat!!!”

Suara Hana pecah, nyaris seperti jeritan.

“Pasti anak itu marah dan pergi dari rumah karena masalah semalam!”

Air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Satu, lalu menyusul yang lain. Hana menutup mulutnya, mencoba menahan isak yang sudah naik ke tenggorokan.

“Aku harus kasih tau Aksa sebelum anak itu semakin jauh dari sini.”

Tanpa peduli kakinya gemetar dan napasnya terengah, Hana berlari menuruni tangga. Langkahnya tergesa, pikirannya kacau, hanya satu hal yang memenuhi kepalanya, Reina.

“Pa! Gawat, Pa!” teriak Hana panik dengan napas ngos-ngosan begitu sampai di ruang makan.

Aksa, Iva, Bi Ana, dan Bi Sri langsung terkejut. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah tegang.

“Mama kenapa?” lontar Iva, wajahnya langsung pucat.

“Gawat! Ini gawat!” seru Hana lagi, suaranya bergetar hebat.

Aksa segera berdiri dan menahan tubuh istrinya sebelum Hana terjatuh, “Mama duduk dulu. Tenangkan diri mama,”

“Bi, tolong ambilkan air putih!” pinta Iva dengan suara panik.

“Baik non.”

Bi Ana berlari ke dapur untuk mengambil air putih. Setelah mendapatkannya, ia bergegas ke ruang makan dan langsung memberikannya kepada Hana.

Hana menerima gelas itu dengan tangan gemetar, lalu meneguknya meski air tumpah sedikit ke sudut bibirnya.

“Ini gawat, Pa…” ucap Hana lirih, namun penuh ketakutan.

“Ada apa sih, Ma?!” tanya Aksa, nadanya mulai kehilangan kendali.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   6. pagi yang salah

    “Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa mama lari-larian seperti tadi?” lontar Aksa setelah melihat sang istri sedikit lebih tenang. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu di raut wajah Hana yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman, seolah kepanikan itu belum benar-benar pergi.Hana menarik napas panjang, namun dadanya masih terasa sesak. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung bajunya tanpa sadar.“Reina nggak ada di kamarnya, Pa!” seru Hana dengan paniknya.Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda. Seakan jika ia menahannya satu detik lebih lama, ia akan runtuh di tempat.“Kalo masalah itu sih papa udah tau, Ma. Tadi kan Iva juga sudah bilang,” ujar Aksa dengan santai, meski sebenarnya ia mulai merasa ada yang janggal.“Iya, masak mama lupa sih?” timpal Iva yang keheranan melihat reaksi ibunya yang tidak biasa. Ia terbiasa melihat Hana cemas, tapi tidak pernah sampai setegang ini.“Bukan itu!” suara Hana meninggi. Nafasnya me

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   5. menghilang

    “Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu.Kali ini berbeda.Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan..Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   4. kepergian

    “Hahhh?!!”Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya.Dugg…Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat.“Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal.“M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina.“Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil.“Ayo, cepat jalan lagi! Jan

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   3. pelarian

    Setelah berada sedikit lebih jauh dari rumahnya, Reina menepikan mobil terlebih dahulu untuk menghubungi sang kekasih. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara lampu jalan yang remang memantulkan bayangan wajah Reina di kaca depan. Tangannya sedikit bergetar saat meraih ponsel, bukan karena dingin, melainkan karena keputusan besar yang baru saja ia ambil. Keputusan yang mungkin tak bisa ia tarik kembali.Tuttt... Tuttt... Tuttt...Nada sambung itu terdengar begitu panjang di telinganya. Sekali dua kali, panggilannya belum dijawab oleh Kalandra. Hatinya semakin berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menggerogoti, takut jika rencananya berantakan, takut jika semesta seolah menolaknya malam ini.Sampai pada panggilannya yang keempat, barulah laki-laki itu mengangkat teleponnya.“Halo sayang, ada apa malam-malah gini telepon?” lontar Kalandra dari seberang telepon, dengan suara serak khas bangun tidur.Reina menghela napas lega, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi.Ya, jam

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   2. kabur

    Reina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil.“Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis.Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin.“Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya.“Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutn

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   1. tanpa jalan keluar

    "Pokoknya kamu nggak boleh menikah dengan laki-laki itu!" tegas seorang lelaki paruh baya pada putrinya, suaranya menggema memenuhi ruang keluarga."Tapi yang aku mau cuma dia, Pa! Aku nggak mau menikah sama orang lain selain dia!" balas Reina, meninggikan suara. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi yang menumpuk sejak sore tadi."Sudah, stop!" suara Hana, ibu Reina memotong pertikaian keduanya. Wanita itu berdiri di antara suami dan putrinya, seolah tubuh kurusnya mampu menghentikan pertikaian yang sudah berkali-kali terjadi.Malam yang tenang berubah panas di rumah keluarga Aksa. Bau wangi diffuser lavender yang biasanya menenangkan bahkan tidak mempan meredakan suasana. Ketegangan seperti asap pekat yang menempel di dinding, sulit hilang. Ini bukan pertama kalinya Reina Clarista dan ayahnya saling serang argumen. Keduanya sama-sama keras, sama-sama tidak mau kalah.Walaupun Hana mencoba menengahi, pertengkaran itu justru makin memanas. Reina melipat kedua tangan, m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status