LOGIN“Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa mama lari-larian seperti tadi?” lontar Aksa setelah melihat sang istri sedikit lebih tenang. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu di raut wajah Hana yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman, seolah kepanikan itu belum benar-benar pergi.
Hana menarik napas panjang, namun dadanya masih terasa sesak. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung bajunya tanpa sadar. “Reina nggak ada di kamarnya, Pa!” seru Hana dengan paniknya. Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda. Seakan jika ia menahannya satu detik lebih lama, ia akan runtuh di tempat. “Kalo masalah itu sih papa udah tau, Ma. Tadi kan Iva juga sudah bilang,” ujar Aksa dengan santai, meski sebenarnya ia mulai merasa ada yang janggal. “Iya, masak mama lupa sih?” timpal Iva yang keheranan melihat reaksi ibunya yang tidak biasa. Ia terbiasa melihat Hana cemas, tapi tidak pernah sampai setegang ini. “Bukan itu!” suara Hana meninggi. Nafasnya memburu. “Bukan cuma dia nggak ada di kamarnya… tapi dia kabur dari rumah!” “Apa?!!” Aksa dan Iva terkejut bersamaan. Jantung Aksa berdetak lebih keras dari sebelumnya. Kata kabur itu terasa berat, jauh lebih berat dari sekadar tidak pulang semalam. Bi Ana dan Bi Sri yang berdiri tidak jauh dari mereka pun saling berpandangan, sama-sama terkejut dan gelisah. “Mama serius kalo Reina kabur?” tanya Aksa, suaranya lebih rendah, namun terdengar mengancam. Ia menatap Hana lurus, berusaha membaca apakah ini hanya kesimpulan gegabah atau sebuah kenyataan pahit. “Mama serius, Pa!” Hana menatap balik manik mata suaminya. Tatapan itu basah, penuh ketakutan, namun juga keyakinan. “Mama sudah cek semuanya. Lemarinya kosong. Dua koper besar nggak ada. Tas-tasnya hilang,” Hana berhenti sejenak, menelan ludah. “Dia juga bawa semua barang berharga yang dia punya,” imbuhnya lagi. “Nggak mungkin itu cuma pergi sebentar, pa.” Ruangan terasa semakin sunyi. Sendok dan garpu yang tadi masih sempat bergerak kini terdiam di atas piring masing-masing. Tak ada lagi suara obrolan ringan, tak ada keluhan kecil seperti biasanya. Bahkan bunyi pendingin ruangan terdengar jauh lebih jelas dari sebelumnya. Hana menunduk, menatap makanan di hadapannya tanpa benar-benar melihatnya. Nafasnya terasa berat, seolah dadanya ditekan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Pagi yang seharusnya berjalan biasa justru berubah menjadi awal kekacauan. “Ck!” decak Aksa kesal. Aksa menyandarkan punggungnya ke kursi, rahangnya mengeras. Wajahnya tetap terlihat tenang, namun sorot matanya berubah gelap. Ada kemarahan yang tertahan, bercampur rasa tidak percaya, bahkan sedikit penyesalan yang tak ingin ia akui. Iva melirik kursi kosong milik kakaknya. Untuk pertama kalinya, meja makan itu terasa tidak lengkap. Ada sesuatu yang hilang, dan perasaan itu membuat perutnya ikut terasa mual. Tak satu pun dari mereka melanjutkan sarapan. “Semalam atau pagi-pagi buta tadi kalian beneran nggak lihat Reina keluar?” lontarnya kemudian, kini pandangannya tertuju pada Bi Ana dan Bi Sri yang berdiri agak menjauh. “Tidak, Tuan,” jawab Bi Sri jujur, suaranya sedikit bergetar. “Semalam waktu kami mengunci pintu dan jendela, rumah sudah sepi. Non Reina tidak terlihat turun dari kamarnya,” sambungnya. “Iya, Tuan,” imbuh Bi Ana. “Pagi tadi saat kami membuka pintu juga sama. Tidak ada yang aneh,” “Pasti dia pakai kunci cadangannya, Pa!” tebak Hana. Dadanya kembali terasa sesak. Pikiran-pikiran buruk mulai menyerangnya tanpa ampun. Aksa menghela napas panjang, lalu berkata tegas, “Bi, tolong panggilkan Pak Joko dan Pak Tanto. Suruh mereka ke ruang tamu sekarang juga!” “Baik, Tuan.” Bi Sri dan Bi Ana bergegas pergi. Langkah mereka cepat, wajah mereka tegang. Bahkan sebelum meninggalkan ruangan, firasat buruk sudah memenuhi kepala masing-masing. Sedangkan Aksa, Hana, dan Iva sudah tidak lagi menyentuh makanan di meja. Selera makan mereka lenyap begitu saja. Tidak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya detik jam dinding yang terasa semakin nyaring, seolah ikut menghitung waktu ke arah sesuatu yang tidak menyenangkan. Di pintu gerbang, Pak Joko yang melihat Bi Ana berjalan tergesa langsung menghampirinya. “Ada apa, Bi? Kenapa bibi kelihatan panik begitu?” tanyanya. “Pak Joko, kamu dipanggil ke ruang tamu sama Tuan. Sekarang juga!” jawab Bi Ana tegas. “Ada apa memangnya?” Pak Joko ikut mempercepat langkahnya. “Non Reina kabur dari rumah. Kita semua disuruh kumpul,” jelas Bi Ana tanpa menoleh. “Waduh, gawat ini…” gumam Pak Joko. Keringat dingin langsung muncul di tengkuknya. “Sudah, jangan banyak bicara. Kita cepat sebelum Tuan makin marah!” “Iya, iya, Bi.” Keduanya berjalan cepat menuju ruang tamu. Wajah mereka tegang. Tidak ada yang berani membayangkan seperti apa kemarahan Aksa kali ini. Di kamar pekerja belakang, Bi Sri mengetuk pintu kamar Pak Tanto dengan keras. “Tanto, cepat bangun! Jangan tidur terus!” Pak Tanto yang baru saja terlelap setelah sarapan terlonjak kaget. Dengan wajah kusut dan mata setengah terpejam, ia membuka pintu. “Ada apa sih, Bi Sri? Orang lagi capek,” gerutunya. “Jangan banyak bicara! Tuan sedang marah besar!” ujar Bi Sri sambil menarik tangannya. “Hah?!” Kantuk Pak Tanto langsung menguap. Jantungnya berdegup kencang. Bayangan Reina yang keluar semalam langsung terlintas di benaknya. “Habis sudah riwayatku…” gumamnya. “Kamu tahu sesuatu, To?” Bi Sri berhenti dan menatapnya penuh curiga. Pak Tanto terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Semalam Non Reina keluar. Aku yang bukakan gerbang. Sampai ganti shift, dia nggak balik,” “Gawat, To! Kamu bisa kena marah besar!” ucap Bi Sri, wajahnya ikut cemas. “Udah, Bi. Kita ke sana sekarang,” jawab Pak Tanto cepat. “Aku harus siap terima semua risikonya.” . Kini semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Suasana terasa dingin, mencekam, dan penuh tekanan. Tidak ada yang berani bergerak sembarangan. “Siapa yang berjaga tadi malam?” tanya Aksa tegas, kedua tangannya bersedekap di dada. “S-saya, Tuan,” jawab Pak Tanto dengan suara bergetar. Aksa menghembuskan napas kasar. “Pak Joko, antar Iva ke sekolah.” “I-iya, Tuan,” jawab Pak Joko sedikit lega. “Mama jangan banyak berpikir,” ujar Iva sambil menggenggam tangan Hana, “Aku akan coba hubungi kakak,” “Iya, Nak. Fokus sekolah saja,” jawab Hana lirih. Setelah Iva pergi, Pak Tanto semakin berkeringat. “Bi Ana, Bi Sri, kalian lanjutkan aktivitas kalian. Kami hanya ingin bicara dengan Pak Tanto,” ujar Hana. “Baik, Nyonya.” Bi Ana dan Bi Sri berjalan ke dapur. Meninggalkan Pak Tanto sendirian diantara Aksa dan Hana. “Semoga saja Pak Tanto tidak dipecat ya, Bi,” bisik Bi Ana. “Semoga juga nggak. Tanto sudah lama bekerja di sini,” jawab Bi Sri lirih. “Iya, Bi. Kita doakan saja yang terbaik untuk Pak Tanto.”Pukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot
Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am
“Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s
Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi
“Restoran sebagus ini kenapa sepi pengunjung ya, yang?” Reina menoleh ke sekeliling begitu mobil mereka berhenti. Dari luar, restoran itu tampak hangat dan nyaman, lampu temaram, kaca besar, dan dekorasi yang terlihat terawat. Tempat yang seharusnya ramai, setidaknya cukup untuk disebut hidup. Kalandra mengedikkan bahu santai, “Mungkin karena terlalu tenang, Yang. Orang-orang sekarang lebih suka tempat rame, yang viral, atau minimal ada spot foto,” Reina mengangguk pelan, “Hmm… bisa jadi sih,” Reina membuka pintu mobil lebih dulu, “Yaudah, daripada nebak-nebak terus, mending masuk aja. Aku udah laper!” Tanpa menunggu jawaban, Reina melangkah turun. Begitu Kalandra menyusul, ia langsung menarik tangan kekasihnya, seolah tak sabar menyingkirkan rasa laparnya. Begitu masuk, pandangan Reina menyapu seluruh ruangan. Beberapa meja terisi, tapi selebihnya kosong. Suasana hening, hanya diisi alunan musik pelan dan suara alat makan sesekali beradu. “Kita duduk di mana, yang?” tany
“Ayo, sayang!”Suara Reina menggema dari arah tangga. Nada suaranya jelas tidak sabar, sedikit manja, sedikit memerintah.Di ruang keluarga dekat tangga, Kalandra mendengarnya dengan sangat jelas. Namun alih-alih segera menghampiri, ia tetap duduk santai, punggungnya bersandar ke sofa, pandangannya lurus menatap pintu ruangan seolah menunggu sesuatu.Reina muncul dengan tangan berkacak pinggang. Bibirnya sedikit manyun ketika melihat Kalandra belum juga bergerak.Bukannya merasa bersalah, Kalandra justru tersenyum kecil. Tingkah Reina terlihat menggemaskan di matanya.“Ada apa, sayang?” tanyanya santai.“Kenapa kamu masih di situ aja?!” protes Reina ketus, “Aku udah panggil kamu, tau!”Kalandra tertawa pelan. Ia akhirnya berdiri, melangkah perlahan ke arah Reina, seolah sengaja membuat gadis itu menunggu sedikit lebih lama.“Hehehe… emangnya kita mau ke mana? Kamu kan nggak bilang apa-apa. Aku nggak bisa baca pikiran kamu,” kata Kalandra ringan.“Ya cari makan lah!” balas Reina cepat,







