LOGIN“Hahhh?!!”
Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya. Dugg… Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat. “Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal. “M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina. “Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil. “Ayo, cepat jalan lagi! Jangan sampai kita sampai di sana malam hari!” lanjutnya tajam, saat Kalandra masih terpaku dengan pikirannya sendiri. “I-iya, sayang,” jawab Kalandra tergagap. Bukan Reina yang sebenarnya ia takuti. Melainkan Aksa, ayah Reina yang dalam bayangannya sudah siap memarahinya tanpa ampun. Jika hanya dimarahi, mungkin masih bisa ditahan. Tapi bagaimana jika ia benar-benar dianggap menculik anak orang? Masuk penjara? Tamatlah hidupnya. “Sayang, apa kamu sudah pikirkan matang-matang semua ini?” tanya Kalandra akhirnya, suaranya terdengar ragu. “Apa nggak sebaiknya kamu terus bujuk papa kamu sampai beliau restui kita?” sambungnya, hati-hati. “Mau sampai kapan?” potong Reina cepat. “Aku udah capek bujuknya!” “Kamu aja aku ajak ke rumah buat bujuk papa bareng-bareng nggak mau,” tambahnya, matanya menatap lurus ke depan, kepalanya bersandar lelah pada sandaran kursi. “Aku belum siap, yang. Aku juga malu karena belum punya apa-apa. Kontrakan aja kamu yang sewain,” ungkap Kalandra jujur. “Ya makanya itu, Kamu harus nurut dan sepemikiran sama aku!” tegas Reina tak terbantahkan. “Cuma ini satu-satunya cara supaya kita bisa cepat menikah dan bersama selamanya, Kalandra!” Kalandra menghela napas panjang, berat, “Yaudah… aku ikut maumu aja,” “Nah, gitu dong!” seru Reina girang. Senyum puas terbit di wajahnya. Keinginannya terasa semakin dekat untuk terwujud. “Tapi nanti kita gimana, yang?” Kalandra kembali gelisah. “Aku nggak bisa kerja lagi. Cari kerja juga pasti susah. Kita orang baru di sana,” sambungnya mengungkapkan kegelisahannya. “Kita bakal tinggal dan menetap di sana, sayang,” jawab Reina sambil menggenggam tangan Kalandra, mencoba menenangkannya. “Soal uang dan tempat tinggal, kamu nggak usah khawatir. Aku udah bawa semua uang dan barang berhargaku yang bisa dijual,” lanjutnya penuh keyakinan. “Nanti sisa uang buat beli rumah, kita beliin aja restoran yang dijual. Dari situ kita bisa hidup,” tambahnya, jelas sudah memikirkan semuanya jauh ke depan. “Tapi orang tua kamu gimana?” tanya Kalandra pelan. “Kalo mereka datang dan maksa kamu pulang gimana?” “Aku nggak akan mau!” tegas Reina, suaranya dingin namun penuh tekad. “Kamu harus percaya sama aku. Kalo aku nggak serius, aku nggak bakal sejauh ini,” Reina terus meyakinkan Kalandra. Kalandra menoleh sekilas ke arah Reina. “Yaudah… aku percayakan semuanya sama kamu,” “Iya, sayang. Kamu jangan banyak tanya lagi, ya. Kita mulai hidup baru bersama,” ucap Reina tersenyum. “Iya, sayang,” jawab Kalandra sambil mengusap kepala Reina dengan tangan yang bebas dari kemudi. “Sekarang kamu tidur dulu. Nanti kalo kamu udah bangun, kita gantian nyetir,” ucapnya lembut. “Iya, sayang. Aku tidur ya?” lontar Reina. “Iya, mimpi indah.” Reina pun memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama sampai napasnya menjadi teratur, tertidur pulas di tengah pelarian yang belum sepenuhnya disadari risikonya. Kalandra menepikan mobil sebentar untuk mengambil selimut dari kursi belakang. Ia menyelimuti tubuh Reina dengan hati-hati, lalu kembali melanjutkan perjalanan panjang itu, dengan pikiran yang semakin berat. Setelah mobil kembali melaju, hanya suara mesin dan desiran angin malam yang menemani perjalanan mereka. Reina terlelap, napasnya teratur, seolah semua keputusan besar barusan bukan apa-apa. Seolah dunia bisa dihentikan hanya dengan menutup mata. Sementara itu, Kalandra tetap terjaga. Lampu-lampu jalanan berkelebat, satu per satu tertinggal di belakang mereka. Setiap kilometer yang ditempuh terasa seperti jarak yang makin menjauhkan Reina dari rumahnya, dan makin mendekatkannya pada masalah yang belum terlihat wujudnya. Tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Ia melirik Reina sekilas, lalu kembali menatap jalan. Tidak ada jalan pulang. Tidak ada putar balik. Yang ada hanya maju, meski dadanya dipenuhi rasa bersalah yang belum berani ia ucapkan. Malam terus bergulir. Dan tanpa mereka sadari, di waktu yang sama, hari baru mulai menyapa rumah yang mereka tinggalkan. . Pagi di rumah keluarga Aksa tetap berjalan seperti biasa. Tenang, teratur, dan berbalut kemewahan. Aroma kopi Arabika dan roti panggang memenuhi ruang makan luas. Cahaya matahari pagi memantul di atas meja marmer putih yang bersih tanpa cela. Aksa sudah duduk rapi dengan setelan jas abu-abu. Hana tampak anggun dalam gaun rumah krem. Iva pun siap berangkat sekolah, tampil rapi dalam seragamnya. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Namun kursi Reina kosong. “Reina mana? Kenapa dia belum turun?” tanya Aksa, nadanya mulai terdengar tidak sabar. “Biasanya jam segini dia sudah turun,” ucap Hana cemas. “Apa dia masih marah karena semalam?” Aksa menghela napas panjang, “Iva, tolong panggil kakak kamu,” pintanya. “Siap, Pa.” Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Iva langsung bergerak menuju ke lantai dua. Langkahnya sedikit tergesa, takut jika terlambat datang ke sekolahnya. “Nanti kalo Reina udah turun, jangan dimarahin lagi. Kasihan dia kalo kamu marah-marah terus,” pesan Hana ketika Iva sudah tidak terlihat. “Iya ma, aku akan mencoba,” ucap Aksa lembut. “Asalkan dia nggak membahas laki-laki itu, aku juga nggak akan marahin dia,” imbuhnya lagi. “Iya pa, kamu juga jangan mulai bahas-bahas duluan!” Hana memperingati sang suami dengan tegas. “Iya ma.” Jawab Aksa yang pasrah, sembari menyeruput kopinya yang masih hangat itu. . Sesampainya di depan kamar Reina, Iva langsung mengetuk pintu. “Kak disuruh papa turun!” Iva sedikit berteriak karena takut sang kakak masih tidur. Namun setelah menunggu beberapa saat, tak ada pergerakan ataupun jawaban dari dalam sana. “Kakak udah bangun kan?!” Masih tetap tidak ada jawaban dari Reina. “Kakak ada di dalam kan?” Iva kembali memastikan keberadaan sang kakak, namun masih tetap tidak mendapatkan jawaban. “Aku buka pintunya ya kak.” Pintu terbuka dengan mudah, tidak terkunci. Iva masuk beberapa langkah ke dalam kamar Reina. Kamar itu kosong. Tempat tidur rapi, lemari tertutup. Tak ada tanda-tanda seseorang baru saja bangun tidur. “Kok… nggak ada orang?” gumamnya, jantungnya mulai berdegup tak nyaman. Ia melangkah masuk lebih dalam, matanya menyapu seluruh ruangan. “Jangan-jangan kakak sengaja pergi pagi-pagi biar nggak ketemu papa sama mama?” pikirnya, mencoba menenangkan diri. Namun entah kenapa perasaan itu justru semakin menekan dadanya. Seolah ada sesuatu yang sangat salah.Pukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot
Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am
“Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s
Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi
“Restoran sebagus ini kenapa sepi pengunjung ya, yang?” Reina menoleh ke sekeliling begitu mobil mereka berhenti. Dari luar, restoran itu tampak hangat dan nyaman, lampu temaram, kaca besar, dan dekorasi yang terlihat terawat. Tempat yang seharusnya ramai, setidaknya cukup untuk disebut hidup. Kalandra mengedikkan bahu santai, “Mungkin karena terlalu tenang, Yang. Orang-orang sekarang lebih suka tempat rame, yang viral, atau minimal ada spot foto,” Reina mengangguk pelan, “Hmm… bisa jadi sih,” Reina membuka pintu mobil lebih dulu, “Yaudah, daripada nebak-nebak terus, mending masuk aja. Aku udah laper!” Tanpa menunggu jawaban, Reina melangkah turun. Begitu Kalandra menyusul, ia langsung menarik tangan kekasihnya, seolah tak sabar menyingkirkan rasa laparnya. Begitu masuk, pandangan Reina menyapu seluruh ruangan. Beberapa meja terisi, tapi selebihnya kosong. Suasana hening, hanya diisi alunan musik pelan dan suara alat makan sesekali beradu. “Kita duduk di mana, yang?” tany
“Ayo, sayang!”Suara Reina menggema dari arah tangga. Nada suaranya jelas tidak sabar, sedikit manja, sedikit memerintah.Di ruang keluarga dekat tangga, Kalandra mendengarnya dengan sangat jelas. Namun alih-alih segera menghampiri, ia tetap duduk santai, punggungnya bersandar ke sofa, pandangannya lurus menatap pintu ruangan seolah menunggu sesuatu.Reina muncul dengan tangan berkacak pinggang. Bibirnya sedikit manyun ketika melihat Kalandra belum juga bergerak.Bukannya merasa bersalah, Kalandra justru tersenyum kecil. Tingkah Reina terlihat menggemaskan di matanya.“Ada apa, sayang?” tanyanya santai.“Kenapa kamu masih di situ aja?!” protes Reina ketus, “Aku udah panggil kamu, tau!”Kalandra tertawa pelan. Ia akhirnya berdiri, melangkah perlahan ke arah Reina, seolah sengaja membuat gadis itu menunggu sedikit lebih lama.“Hehehe… emangnya kita mau ke mana? Kamu kan nggak bilang apa-apa. Aku nggak bisa baca pikiran kamu,” kata Kalandra ringan.“Ya cari makan lah!” balas Reina cepat,







