مشاركة

4. kepergian

مؤلف: Relisyaaa
last update آخر تحديث: 2025-12-30 11:22:54

“Hahhh?!!”

Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya.

Dugg…

Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat.

“Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal.

“M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina.

“Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil.

“Ayo, cepat jalan lagi! Jangan sampai kita sampai di sana malam hari!” lanjutnya tajam, saat Kalandra masih terpaku dengan pikirannya sendiri.

“I-iya, sayang,” jawab Kalandra tergagap.

Bukan Reina yang sebenarnya ia takuti. Melainkan Aksa, ayah Reina yang dalam bayangannya sudah siap memarahinya tanpa ampun. Jika hanya dimarahi, mungkin masih bisa ditahan. Tapi bagaimana jika ia benar-benar dianggap menculik anak orang? Masuk penjara? Tamatlah hidupnya.

“Sayang, apa kamu sudah pikirkan matang-matang semua ini?” tanya Kalandra akhirnya, suaranya terdengar ragu.

“Apa nggak sebaiknya kamu terus bujuk papa kamu sampai beliau restui kita?” sambungnya, hati-hati.

“Mau sampai kapan?” potong Reina cepat.

“Aku udah capek bujuknya!”

“Kamu aja aku ajak ke rumah buat bujuk papa bareng-bareng nggak mau,” tambahnya, matanya menatap lurus ke depan, kepalanya bersandar lelah pada sandaran kursi.

“Aku belum siap, yang. Aku juga malu karena belum punya apa-apa. Kontrakan aja kamu yang sewain,” ungkap Kalandra jujur.

“Ya makanya itu, Kamu harus nurut dan sepemikiran sama aku!” tegas Reina tak terbantahkan.

“Cuma ini satu-satunya cara supaya kita bisa cepat menikah dan bersama selamanya, Kalandra!”

Kalandra menghela napas panjang, berat, “Yaudah… aku ikut maumu aja,”

“Nah, gitu dong!” seru Reina girang. Senyum puas terbit di wajahnya. Keinginannya terasa semakin dekat untuk terwujud.

“Tapi nanti kita gimana, yang?” Kalandra kembali gelisah.

“Aku nggak bisa kerja lagi. Cari kerja juga pasti susah. Kita orang baru di sana,” sambungnya mengungkapkan kegelisahannya.

“Kita bakal tinggal dan menetap di sana, sayang,” jawab Reina sambil menggenggam tangan Kalandra, mencoba menenangkannya.

“Soal uang dan tempat tinggal, kamu nggak usah khawatir. Aku udah bawa semua uang dan barang berhargaku yang bisa dijual,” lanjutnya penuh keyakinan.

“Nanti sisa uang buat beli rumah, kita beliin aja restoran yang dijual. Dari situ kita bisa hidup,” tambahnya, jelas sudah memikirkan semuanya jauh ke depan.

“Tapi orang tua kamu gimana?” tanya Kalandra pelan.

“Kalo mereka datang dan maksa kamu pulang gimana?”

“Aku nggak akan mau!” tegas Reina, suaranya dingin namun penuh tekad.

“Kamu harus percaya sama aku. Kalo aku nggak serius, aku nggak bakal sejauh ini,” Reina terus meyakinkan Kalandra.

Kalandra menoleh sekilas ke arah Reina. “Yaudah… aku percayakan semuanya sama kamu,”

“Iya, sayang. Kamu jangan banyak tanya lagi, ya. Kita mulai hidup baru bersama,” ucap Reina tersenyum.

“Iya, sayang,” jawab Kalandra sambil mengusap kepala Reina dengan tangan yang bebas dari kemudi.

“Sekarang kamu tidur dulu. Nanti kalo kamu udah bangun, kita gantian nyetir,” ucapnya lembut.

“Iya, sayang. Aku tidur ya?” lontar Reina.

“Iya, mimpi indah.”

Reina pun memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama sampai napasnya menjadi teratur, tertidur pulas di tengah pelarian yang belum sepenuhnya disadari risikonya.

Kalandra menepikan mobil sebentar untuk mengambil selimut dari kursi belakang. Ia menyelimuti tubuh Reina dengan hati-hati, lalu kembali melanjutkan perjalanan panjang itu, dengan pikiran yang semakin berat.

Setelah mobil kembali melaju, hanya suara mesin dan desiran angin malam yang menemani perjalanan mereka. Reina terlelap, napasnya teratur, seolah semua keputusan besar barusan bukan apa-apa. Seolah dunia bisa dihentikan hanya dengan menutup mata.

Sementara itu, Kalandra tetap terjaga.

Lampu-lampu jalanan berkelebat, satu per satu tertinggal di belakang mereka. Setiap kilometer yang ditempuh terasa seperti jarak yang makin menjauhkan Reina dari rumahnya, dan makin mendekatkannya pada masalah yang belum terlihat wujudnya.

Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.

Ia melirik Reina sekilas, lalu kembali menatap jalan. Tidak ada jalan pulang. Tidak ada putar balik. Yang ada hanya maju, meski dadanya dipenuhi rasa bersalah yang belum berani ia ucapkan.

Malam terus bergulir.

Dan tanpa mereka sadari, di waktu yang sama, hari baru mulai menyapa rumah yang mereka tinggalkan.

.

Pagi di rumah keluarga Aksa tetap berjalan seperti biasa. Tenang, teratur, dan berbalut kemewahan. Aroma kopi Arabika dan roti panggang memenuhi ruang makan luas. Cahaya matahari pagi memantul di atas meja marmer putih yang bersih tanpa cela.

Aksa sudah duduk rapi dengan setelan jas abu-abu. Hana tampak anggun dalam gaun rumah krem. Iva pun siap berangkat sekolah, tampil rapi dalam seragamnya.

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit.

Namun kursi Reina kosong.

“Reina mana? Kenapa dia belum turun?” tanya Aksa, nadanya mulai terdengar tidak sabar.

“Biasanya jam segini dia sudah turun,” ucap Hana cemas.

“Apa dia masih marah karena semalam?”

Aksa menghela napas panjang, “Iva, tolong panggil kakak kamu,” pintanya.

“Siap, Pa.”

Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Iva langsung bergerak menuju ke lantai dua. Langkahnya sedikit tergesa, takut jika terlambat datang ke sekolahnya.

“Nanti kalo Reina udah turun, jangan dimarahin lagi. Kasihan dia kalo kamu marah-marah terus,” pesan Hana ketika Iva sudah tidak terlihat.

“Iya ma, aku akan mencoba,” ucap Aksa lembut.

“Asalkan dia nggak membahas laki-laki itu, aku juga nggak akan marahin dia,” imbuhnya lagi.

“Iya pa, kamu juga jangan mulai bahas-bahas duluan!” Hana memperingati sang suami dengan tegas.

“Iya ma.” Jawab Aksa yang pasrah, sembari menyeruput kopinya yang masih hangat itu.

.

Sesampainya di depan kamar Reina, Iva langsung mengetuk pintu.

“Kak disuruh papa turun!” Iva sedikit berteriak karena takut sang kakak masih tidur.

Namun setelah menunggu beberapa saat, tak ada pergerakan ataupun jawaban dari dalam sana.

“Kakak udah bangun kan?!”

Masih tetap tidak ada jawaban dari Reina.

“Kakak ada di dalam kan?” Iva kembali memastikan keberadaan sang kakak, namun masih tetap tidak mendapatkan jawaban.

“Aku buka pintunya ya kak.”

Pintu terbuka dengan mudah, tidak terkunci.

Iva masuk beberapa langkah ke dalam kamar Reina.

Kamar itu kosong.

Tempat tidur rapi, lemari tertutup. Tak ada tanda-tanda seseorang baru saja bangun tidur.

“Kok… nggak ada orang?” gumamnya, jantungnya mulai berdegup tak nyaman.

Ia melangkah masuk lebih dalam, matanya menyapu seluruh ruangan.

“Jangan-jangan kakak sengaja pergi pagi-pagi biar nggak ketemu papa sama mama?” pikirnya, mencoba menenangkan diri.

Namun entah kenapa perasaan itu justru semakin menekan dadanya. Seolah ada sesuatu yang sangat salah.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   6. pagi yang salah

    “Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa mama lari-larian seperti tadi?” lontar Aksa setelah melihat sang istri sedikit lebih tenang. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu di raut wajah Hana yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman, seolah kepanikan itu belum benar-benar pergi.Hana menarik napas panjang, namun dadanya masih terasa sesak. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung bajunya tanpa sadar.“Reina nggak ada di kamarnya, Pa!” seru Hana dengan paniknya.Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda. Seakan jika ia menahannya satu detik lebih lama, ia akan runtuh di tempat.“Kalo masalah itu sih papa udah tau, Ma. Tadi kan Iva juga sudah bilang,” ujar Aksa dengan santai, meski sebenarnya ia mulai merasa ada yang janggal.“Iya, masak mama lupa sih?” timpal Iva yang keheranan melihat reaksi ibunya yang tidak biasa. Ia terbiasa melihat Hana cemas, tapi tidak pernah sampai setegang ini.“Bukan itu!” suara Hana meninggi. Nafasnya me

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   5. menghilang

    “Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu.Kali ini berbeda.Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan..Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   4. kepergian

    “Hahhh?!!”Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya.Dugg…Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat.“Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal.“M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina.“Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil.“Ayo, cepat jalan lagi! Jan

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   3. pelarian

    Setelah berada sedikit lebih jauh dari rumahnya, Reina menepikan mobil terlebih dahulu untuk menghubungi sang kekasih. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara lampu jalan yang remang memantulkan bayangan wajah Reina di kaca depan. Tangannya sedikit bergetar saat meraih ponsel, bukan karena dingin, melainkan karena keputusan besar yang baru saja ia ambil. Keputusan yang mungkin tak bisa ia tarik kembali.Tuttt... Tuttt... Tuttt...Nada sambung itu terdengar begitu panjang di telinganya. Sekali dua kali, panggilannya belum dijawab oleh Kalandra. Hatinya semakin berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menggerogoti, takut jika rencananya berantakan, takut jika semesta seolah menolaknya malam ini.Sampai pada panggilannya yang keempat, barulah laki-laki itu mengangkat teleponnya.“Halo sayang, ada apa malam-malah gini telepon?” lontar Kalandra dari seberang telepon, dengan suara serak khas bangun tidur.Reina menghela napas lega, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi.Ya, jam

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   2. kabur

    Reina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil.“Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis.Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin.“Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya.“Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutn

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   1. tanpa jalan keluar

    "Pokoknya kamu nggak boleh menikah dengan laki-laki itu!" tegas seorang lelaki paruh baya pada putrinya, suaranya menggema memenuhi ruang keluarga."Tapi yang aku mau cuma dia, Pa! Aku nggak mau menikah sama orang lain selain dia!" balas Reina, meninggikan suara. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi yang menumpuk sejak sore tadi."Sudah, stop!" suara Hana, ibu Reina memotong pertikaian keduanya. Wanita itu berdiri di antara suami dan putrinya, seolah tubuh kurusnya mampu menghentikan pertikaian yang sudah berkali-kali terjadi.Malam yang tenang berubah panas di rumah keluarga Aksa. Bau wangi diffuser lavender yang biasanya menenangkan bahkan tidak mempan meredakan suasana. Ketegangan seperti asap pekat yang menempel di dinding, sulit hilang. Ini bukan pertama kalinya Reina Clarista dan ayahnya saling serang argumen. Keduanya sama-sama keras, sama-sama tidak mau kalah.Walaupun Hana mencoba menengahi, pertengkaran itu justru makin memanas. Reina melipat kedua tangan, m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status