로그인Christhoper menjadi suami Amber dengan anak-anak mereka Marcelo dan Jenifer, menjadi pasangan paling kaya dan dominan di antara semua keluarga yang ada di sana. Kekayaan Christhoper yang bersatu dengan kekayaan Amber Hilton membuat siapapun tercengang. Namun tidak semua orang tahu kisah menyedihkan mereka di balik kebahagiaan yang mereka kecap sekarang. Keduanya pernah gila karena harus terpisah dan menjalani perceraian, beruntung karena cinta yang begitu besar, mereka dipersatukan kembali. Sedangkan Aaron dan Catelyn menjadi pasangan yang paling ramah dan bisa bergaul bersama siapa saja. Anak mereka bernama Hailey dan Joe menjadi sumber kebahagiaan di keluarga. Aaron adalah pria baik dan sederhana yang sampai detik ini masih menjadi kesayangan Gloria. Meski Gloria sudah menerima kenyataan jika Aaron tidak bisa menjadi menantunya, tapi perhatian Gloria pada Aaron terlihat lebih besar dibanding dengan pria mana pun yang ada
Bride berusaha merenggangkan tubuhnya tapi tertahan karena tubuh suaminya yang memeluknya posesif. Dia berusaha menyingkirkan tangan Wiston dari pinggangnya, tapi Wiston berhasil mendekapnya lagi. “Wiston, lepaskan aku! Aku butuh ruang untuk bernafas,” gerutu Bride. “Mau ke mana pagi-pagi begini sudah bangun? Aku butuh kehangatanmu untuk membuat tidurku lelap,” gumam Wiston masih dengan mata terpejam. “Apanya yang pagi? Ini sudah siang, lihatlah matahari sudah tinggi,” sanggah Bride. “Bagiku ini masih pagi, tidurlah kembali dan jangan menjauh dariku!” pinta Wiston. Namun Bride tetap menggeliat berusaha melepaskan diri dari suaminya tersebut. Di tengah pemberontakannya, tiba-tiba … “Singkirkan tanganmu dari tubuhku! Perutku sangat mual, aku ingin muntah,” seru Bride sambil menutup mulutnya. Mendengar hal tersebut, Wiston langsung membuka mata dan
“Apakah kamu baik-baik saja? Apakah aku menyakitimu,” cecar Bride tampak khawatir dengan keadaan suaminya. “Jangan pukul aku kuat-kuat! Pukulanmu tepat mengenai lukaku,” jawab Wiston. “Maafkan aku,” ucap Bride lagi. “Jangan meminta maaf karena kamu tidak salah apapun. Lakukan saja dengan lembut,” pinta Wiston yang kemudian mendekatkan kepalanya dan melumat kembali bibir istrinya. Dengan perlahan dan lembut, Bride menyambut Wiston. Lidahnya menyapu luka robek di bibir suaminya, membuat pria itu mengerang antara rasa sakit dan nikmat yang bercampur menjadi satu. “Kamu benar-benar sudah menjadi canduku,” ungkap Wiston. “Aku tahu apa yang membuatmu tidak sakit,” ucap Bride yang tiba-tiba menjauhkan bibirnya dari bibir Wiston, hingga membuat pria itu mengerang kesal. Namun kekesalannya tidak berlangsung lama ketika istrinya turun dari pangkuannya dan berlutut di antara
Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada suara dari Bride, Catelyn kembali bersuara. “Jika kamu tidak menjawab, aku akan masuk sekarang.” Tetap saja ancaman itu tidak membuat Bride bergeming. Catelyn akhirnya memutar pegangan pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Dia membukanya dan melihat Bride sedang menangis di ujung ranjang. Catelyn berjalan mendekati adiknya dan duduk di sebelahnya. “Kenapa kamu menangis? Semuanya sudah beres, aku dan Aaron tidak menyimpan kemarahan lagi pada Wiston. Kami semua sudah merestui pernikahanmu dengan Wiston. Aunty Gloria juga sudah akur dengan suamimu. Apakah kamu tidak akan keluar dari kamar?” “Apakah kalian sedang mempermainkanku?” tanya Bride di sela isak tangisnya. “Apa maksudmu mempermainkanmu? Kami semua tidak pernah memikirkan hal tersebut apalagi melakukannya padamu,” sanggah Catelyn. “Kenapa kalian diam saja ketika Aaron memukuli Wiston sampai separah itu? Ba
“Hmmm … enak sekali,” seru Bride sambil memakan makanannya dengan lahap. Dia benar-benar kelaparan karena tenaga dan energinya terkuras habis. “Meski makanan siap saji, ini adalah yang terbaik,” ucap Wiston dengan mulut yang penuh dengan makanan. “Aku percaya itu, rasanya seperti makanan segar.” Wiston tersenyum menanggapi respon istrinya. “Apakah kamu menyukainya?” Bride mengangguk menjawab pertanyaan suaminya. “Sepertinya aku harus membeli ini untuk stock di rumah sehingga jika aku kelaparan, aku tidak perlu memasak lama.” Mendengar kata rumah, Wiston menghentikan kegiatan makannya. Dia sadar tidak bisa menyembunyikan pesan yang Gloria kirimkan padanya. “Apakah kamu sudah memikirkan setelah dari sini ke mana kamu akan tinggal?” pancing Wiston. “Aku telah menyerahkan hati dan tubuhku padamu, jadi aku akan mengikuti ke mana pun kamu pergi,” jawa
Sambil memberi waktu pada istrinya, Wiston membawa tubuh Bride ke dalam gendongan dengan milik mereka yang masih menyatu. Dia membersihkan tubuh istrinya dan tubuhnya sendiri dari air laut yang menempel. Wiston kemudian menarik handuk dan menutupkannya ke punggung telanjang istrinya, sedangkan Bride menopangkan kepala di pundak suaminya dengan pasrah dan melingkarkan kedua kaki ke pinggang kokoh Wiston. Merasakan milik suaminya bergerak di dalamnya ketika pria itu membawanya entah ke mana. Sebelum membaringkan tubuh istrinya ke ranjang, Wiston menarik selimut tebal lalu menutupkannya ke atas ranjang agar tidak basah karena tubuhnya dan tubuh Bride yang belum kering sempurna. Setelah selimut tebal itu tertata sempurna, perlahan dia membaringkan tubuh istrinya di atasnya dengan tubuhnya yang menindih tubuh wanita itu. Bride yang kini telah mendapatkan tenaganya kembali, melingkarkan lengannya di leher Wiston. Dia melepaskan k
Tanpa mengatakan apa pun, Ricky berjalan mendekatinya, membuat Tanisa semakin gugup. Setelah berdiri di depan Tanisa, Ricky membisikkan sesuatu di telinga wanita itu. “Aku tahu apa arti dari nada suaramu itu,” ujar Ricky seakan pikirannya tak sehat lagi. “A-pa mak-sud-mu?” suara Tanisa semakin gug
“Apakah aku tidak bisa tinggal bersamamu sampai kamu menikah nanti? Memastikan jika kamu menemukan pria yang tepat untuk hidup bersamamu? Memastikan jika kamu mendapatkan pria yang bertanggung jawab yang bisa membahagiakanmu?” Tanisa berusaha membujuk adiknya. “Selama Kakak masih tinggal di sini,
Tanisa kemudian menenggelamkan dirinya ke dalam air lalu menyelam sesaat ke danau untuk menenangkan hatinya. Ketika dirinya merasa tenang, dia muncul dari dalam air dan berenang ke pinggir danau. Setelah memakai pakaiannya, dia menatap danau tersebut dengan tatapan kosong. “Maafkan aku, Cooper. Ak
Dengan susah payah, Tanisa berusaha menjauhkan bibirnya dari bibir Ricky. “Apakah kamu sedang mabuk?” seru Tanisa ketika dia berhasil menjauhkan bibirnya. Dia bisa merasakan aroma minuman dari mulut pria itu. Bukannya menjawab, Ricky berusaha melumat bibir Tanisa kembali. “Lepaskan aku! Sadarlah!







