Compartir

Bab 15

Autor: PUCHA
last update Fecha de publicación: 2026-09-18 19:49:21

Bab 15

Satu bulan berlalu dengan keheningan yang mencekam di dalam rumah mewah itu. Hubungan Nara dan Ratna tidak pernah benar-benar pulih, mereka hanya berbicara jika ada keperluan administrasi beasiswa yang mendesak.

Dua hari menjelang keberangkatannya ke London, Nara tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dadanya. Dia membutuhkan satu jawaban mutlak sebelum terbang membelah benua.

Sore itu, Nara berdiri di depan sebuah bangunan sebuah kos-kosan berlantai tiga yang terletak di gang sempit
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 26

    Bab 26 "Setahun ini aku menahan diri di Jakarta, membiarkanmu bertarung sendirian disini. Sekarang, katakan padaku ... apa kamu masih mau memanggilku 'Kakak' saat ini?" Nara menatap mata pekat di depannya, merasakan detak jantung Arkan yang bertalu-talu sama liarnya dengan degup jantungnya sendiri. Seluruh benteng pertahanan dan rasa bersalah pada ibunya mendadak luluh lantak di bawah kungkungan Arkan. "Aku membencimu, Arkananta ...," bisik Nara parau, air mata kerinduan akhirnya luruh di sudut matanya. "Aku membencimu karena kamu selalu menghancurkan seluruh rencana kebebasan yang telah kubuat." "Bagus! Tetaplah membenciku," Arkan menyeringai tipis, dengan ekspresi yang membuat Nara kehilangan akal sehatnya, sebelum ia menundukkan kepalanya perlahan, mengikis sisa jarak di antara bibir mereka. "Karena monster ini tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Rival Abadiku." Di balik jendela asrama yang berembun, dinginnya London membekukan jalanan luar, namun di dalam ruang tengah yang

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 25

    Bab 25 Dia menatap anak kandungnya dengan tatapan hancur. "Kamu benar-benar monster yang egois, Arkananta ... Kamu tidak akan pernah berhenti, kan?" "Tidak akan pernah, Pa. Sampai Nara benar-benar menjadi milik saya yang sah," jawab Arkan dengan seringai tipisnya yang menyebalkan. Baskoro tidak mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dengan bahu yang merosot, melangkah lebar meninggalkan ruang kerja yang sunyi itu dan menutup pintu dengan sangat pelan sebagai tanda kekalahan dirinya di depan Arkan. Tiga hari kemudian, di dalam kabin pesawat kelas bisnis rute Jakarta–London yang sepi karena penerbangan malam, Arkan menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang nyaman. Di luar jendela kabin, lampu-lampu bandara Soekarno-Hatta perlahan menjauh saat pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu. Arkan meraih ponselnya yang berada dalam mode pesawat, membuka aplikasi panggilan video yang terhubung dengan Wi-Fi satelit kabin khusus eksekutif. Di seberang panggilan itu, wajah Nara seketika mu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 24

    Bab 24 Suasana di dalam aula begitu megah, dengan jajaran kursi kayu bertingkat melingkar, yang diisi oleh para profesor senior Oxford. Di podium tengah, sebuah mikrofon perak dan proyektor catatan riset sudah dalam posisi menyala. Profesor William, yang duduk di barisan juri tengah bersama Lord Sterling, mengetuk palu kayu kecil dua kali. "Sesi sidang hukum maritim internasional resmi dibuka. Kandidat nomor urut satu, Nara Anindita, silakan maju ke podium." Nara menarik nafas panjang, merapatkan blazer hitamnya, lalu berjalan mantap menaiki tangga podium. Ia menyalakan salinan draf revisi terbarunya yang telah digabungkan dengan evaluasi akhir gelombang kedua dari Arkan. "Selamat pagi, jajaran panelis Dewan Penyantun yang terhormat," Nara membuka suaranya, lantang dan bergema sempurna di langit-langit tinggi aula. "Pagi ini, saya akan memaparkan rekonstruksi klausul pembatasan ketertiban umum pada yurisdiksi arbitrase internasional, membuktikan bahwa kedaulatan domestik tidak bis

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 23

    Bab 23 Tok! Tok! "Masuk," suara berat Lord Sterling terdengar dari dalam. Begitu pintu terbuka, Nara melihat Lord Sterling sedang memeriksa selembar dokumen tebal dengan stempel lilin merah khas berkas komersial Inggris. Di sebelah mejanya, layar monitor menampilkan draf permohonan sertifikasi wewenang asing yang sedang terpampang. "Selamat pagi, Lord Sterling," sapa Nara, berdiri tegak di depan meja. "Julian bilang Anda memanggil saya terkait berkas baru." Lord Sterling melepas kacamatanya, menatap Nara dengan pandangan yang sulit diartikan. "Duduklah, Miss Anindita. Dan Julian, kunci pintunya dari dalam," titah Lord Sterling. Nara menarik kursi kayu di depan meja, duduk dengan punggung yang tegap. "Apa ada masalah dengan berkas sidang saya, Sir?" "Berkas sidangmu sempurna, Nara. Tapi pria dari Jakartamu itu ... dia benar-benar tidak memberi saya ruang untuk bernafas," Lord Sterling mengetuk dokumen di mejanya dengan ujung jarinya. "Dua jam lalu, perwakilan dari lembaga serti

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 22

    Bab 22 "Aku ke sini agar bisa bebas dari jangkauan matamu, Arkan! Kenapa kamu terus mengejarku?" ungkap Nara. "Sudah kubilang saat di kamar kosku waktu itu, Nara," bisik Arkan, suaranya mendadak melunak namun obsesi nya pada Nara begitu terasa jelas di setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. "Aku melepaskanmu pergi ke London untuk berkembang dan memenangkan gagasanmu, bukan untuk bebas dariku. Aku membiarkanmu berjalan di depan, tapi aku tidak pernah bilang aku tidak akan menyusulmu." Nara mencengkram ponselnya erat-erat, air matanya luruh membasahi pipi. "Kamu egois ... kamu tidak pernah memikirkan posisiku ...," ucap Nara lirih. "Aku memikirkan posisimu setiap detik, Nara Anindita. Karena itu aku menghancurkan Kevin, karena itu aku memaksa Lord Sterling bersikap objektif dan karena itu pula aku harus berada di wilayah hukum yang sama denganmu tahun depan," Arkan menjeda kalimatnya sejenak, nadanya berubah seperti sebuah peringatan. "Persiapkan materi presentasimu untuk seni

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 21

    Bab 21 Nara menyambar ponselnya dengan gerakan secepat kilat, lalu menatap Julian dengan tatapan panik, "Julian, kamu harus keluar sekarang!" ucap Nara, suaranya naik satu oktaf. Julian mengernyitkan dahi, menatap notifikasi di laptop Nara dengan senyum yang meremehkan. "Nara, kamu bercanda? Dia di Jakarta, bagaimana mungkin dia bisa meretas jaringan listrik asrama ini? Itu cuma gertakan omong kosong," ucap Julian santai. "Arkan tidak pernah main-main dengan gertakan nya, Julian! Tolong, keluar sekarang!" Nara bangkit dari kursi dan melangkah mendekati Julian, sambil mendorong pelan pundak Julian menuju pintu depan kamarnya. "Nara, tenanglah ...," Tak!!! Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, seluruh lampu di dalam asrama mendadak padam. Suara dengung mesin pemanas ruangan mati seketika, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh cahaya lampu jalanan dari balik jendela kaca. Julian tersentak, hampir menjatuhkan cangkir coklat panasnya. "Gila ... ini ... bagaim

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status