Bab 2 Nara mematung di ambang pintu masuk. Layar ponselnya yang meredup menyisakan bayangan siluet intim dirinya dan Arkan di parkiran kampus tadi siang. "Nara? Kenapa melamun di sana? Ayo masuk, Sayang, makanannya keburu dingin." Suara lembut Ratna mamanya, memecah keheningan. Nara tersentak, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ah... iya, Ma! Ini baru mau duduk." Di meja makan, Baskoro tampak berwibawa melirik jam dinding, sementara Arkan sudah duduk tenang di seberang kursi Nara. Pria itu memotong daging steaknya dengan gerakan yang teratur, sangat santai seolah tidak terjadi apa-apa beberapa menit lalu di dalam mobil. "Bagaimana simulasi sidangnya tadi, Nara? Arkan?" Baskoro meletakkan dokumen hukumnya. "Kalian berada di tim mosi yang berseberangan, kan?" Nara menelan ludah yang terasa kesat. "Lancar, Pa. Tapi... argumen Kak Arkan memang masih sulit ditembus," jawab Nara, sengaja menekan kata 'Kak' dengan bibir yang sedikit gemetar. Arkan menghentikan garpunya. D
Last Updated : 2026-08-19 Read more