MasukAku menegang. Aku tahu ini akan terjadi—aku tahu cepat atau lambat, aku akan berhadapan dengan Veronica. Tapi menghadapi tatapannya secara langsung tetap saja membuat dadaku terasa sesak.
Sebelum aku bisa mengatakan apa pun, Lucian menarikku lebih dekat, tangannya melingkari pinggangku dengan cara yang begitu alami, seolah ingin mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian. "Seraphina adalah istriku," katanya, suaranya terdengar begitu dingin dan tak terbantahkan. "Aku tidak butuh persetujuan siapa pun, termasuk kau." Veronica tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti ejekan daripada sesuatu yang tulus. "Lucian, kau tahu betapa berharganya nama keluarga kita. Dan sekarang, kau membawa seorang wanita tanpa latar belakang jelas ke dalam keluarga ini? Apa kau serius?" Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. Aku tidak peduli dengan pendapatnya, tapi cara dia mengatakannya seolah aku ini sampah yang tidak layak berada di sini benar-benar mengusikku. Namun, sebelum aku bisa membalas, Lucian sudah lebih dulu berbicara. "Hati-hati dengan ucapanmu, Veronica." Veronica mendesah, lalu menggeleng. "Aku hanya memperingatkanmu. Jangan sampai ini menjadi keputusan yang kau sesali." Dia menatapku sekali lagi, sebelum melangkah pergi, meninggalkan udara yang masih terasa tegang di sekeliling kami. Aku menarik napas dalam, berusaha mengendalikan emosi yang mulai berkecamuk dalam diriku. Tapi sebelum aku bisa berkata apa-apa, Lucian menatapku dan berkata dengan tenang, "Jangan biarkan dia mengusikmu." Aku mengangguk pelan, meskipun dalam hati aku tahu—ini baru permulaan. *** Aku mencoba menenangkan diri, tapi kata-kata Veronica masih menggema di kepalaku. Aku tahu dia tidak menyukaiku, tapi melihat kebenciannya secara langsung adalah hal lain. Lucian menggenggam tanganku, mengarahkan langkahku menuju lift tanpa berkata apa-apa. Aku bisa merasakan kehangatan dari genggamannya, sebuah pengingat bahwa aku tidak sendirian, setidaknya untuk saat ini. Begitu pintu lift tertutup, aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya. “Dia benar-benar membenciku, ya?” Lucian menghela napas pendek. “Veronica selalu membenci siapa pun yang masuk ke dalam hidupku.” Aku menoleh ke arahnya, mencoba mencari kebenaran di balik kata-katanya. “Kenapa?” Dia tidak langsung menjawab. Ada ketegangan di wajahnya, sesuatu yang jarang kulihat dari pria yang selalu tampak terkendali ini. “Dia punya caranya sendiri dalam melihat dunia. Dan dalam caranya itu, aku adalah satu-satunya yang bisa dia percaya.” Aku mengerutkan kening, mencoba memahami maksudnya. “Jadi, dia merasa aku merebutmu darinya?” Lucian mengangkat bahu. “Kurang lebih begitu.” Aku memproses informasi itu dalam diam. Veronica bukan hanya seorang adik yang protektif—dia melihat Lucian sebagai satu-satunya orang yang bisa diandalkannya. Jika itu masalahnya, aku bisa mengerti mengapa dia begitu membenciku. Tapi, meskipun aku bisa memahami, itu tidak berarti aku akan membiarkan dia meremehkanku. “Bagaimana kau bisa begitu tenang?” tanyaku akhirnya. “Dia jelas tidak menyukaiku, dan dia tidak segan-segan menunjukkannya.” Lucian menatapku, matanya yang tajam mengamati ekspresiku. “Karena aku sudah terbiasa.” Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi lift sudah sampai di lantai tujuan kami. Lucian melangkah keluar lebih dulu, dan aku mengikutinya. Begitu kami keluar dari lorong, seorang pria paruh baya dengan setelan rapi menghampiri kami. “Tuan Devereaux, maaf mengganggu, tapi ada sesuatu yang mendesak yang perlu Anda lihat.” Lucian mengangguk. “Aku akan segera ke sana.” Pria itu tampak ragu sebelum melirik ke arahku. “Bagaimana dengan Nona Seraphina?” Lucian menoleh padaku. “Tunggu di kantorku. Aku tidak akan lama.” Aku ingin protes, tapi ekspresinya memberitahuku bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mendebatnya. Jadi, aku hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Aku berjalan menuju kantor Lucian, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan pertemuanku dengan Veronica. Aku tahu satu hal pasti—aku tidak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan dia menginjak-injakku. Jika aku ingin bertahan dalam pernikahan ini, aku harus menunjukkan bahwa aku bukan wanita lemah yang bisa dia remehkan. Aku harus membuktikan bahwa aku pantas berada di sini. *** Aku berjalan masuk ke dalam kantor Lucian, ruangan luas dengan dinding kaca yang memberikan pemandangan kota yang megah. Meja kerjanya tertata rapi, dengan beberapa dokumen yang ditumpuk dengan sempurna. Aku duduk di sofa dekat jendela, mencoba menenangkan pikiranku, tapi itu tidak mudah. Sebelum menikah dengan Lucian, hidupku sederhana. Aku tidak terbiasa dengan dunia penuh intrik ini. Aku hanya seorang wanita biasa yang menjalankan toko bunga ibuku. Setiap hariku dihabiskan di antara kelopak mawar, tulip, dan anggrek, merangkai buket untuk pelanggan yang ingin memberikan sesuatu yang indah kepada orang yang mereka cintai. Tapi sekarang? Aku terjebak dalam kehidupan seorang miliarder, dikelilingi oleh orang-orang yang menatapku seolah aku adalah penyusup. Aku mengembuskan napas panjang. Jika aku ingin bertahan, aku harus belajar beradaptasi. Baru saja aku memikirkan itu, pintu kantor tiba-tiba terbuka. Aku menoleh dan melihat Veronica masuk tanpa izin, wajahnya tetap dengan ekspresi meremehkan seperti sebelumnya. “Lucian tidak ada di sini,” kataku dingin. Aku tidak ingin bertengkar, tapi aku juga tidak akan membiarkan dia mendominasi percakapan ini. “Aku tahu.” Veronica melangkah lebih dalam, matanya mengamati ruangan seolah-olah dia menilai sesuatu yang tidak terlihat. “Aku ingin bicara denganmu.” Aku tidak bergerak dari tempatku. “Tentang apa?” Dia tersenyum kecil, tapi bukan senyum yang menyenangkan. “Kau pikir kau bisa bertahan di sini? Dalam keluarga ini?” Aku menegang, tapi aku tidak membiarkan emosiku terlihat. “Aku tidak tahu apa maksudmu.” Veronica mendekat, berhenti tepat di depanku. “Aku sudah tahu. Ternyata kau hanya seorang gadis biasa dari toko bunga. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha, kau tidak akan pernah bisa menyesuaikan diri dengan dunia Lucian. Kau mungkin bisa berpura-pura, tapi pada akhirnya, kau akan gagal.” Aku mengepalkan tangan di pangkuanku. Aku tahu dia mencoba memprovokasiku, mencoba melihat apakah aku akan goyah. Aku tidak akan memberinya kepuasan itu. “Aku tidak perlu menjelaskan diriku kepadamu, Veronica,” kataku dengan tenang. “Pernikahan ini mungkin mendadak, tapi aku ada di sini sekarang. Dan aku tidak akan lari hanya karena kau ingin aku pergi.” Tatapan Veronica berubah sedikit, seolah dia tidak menyangka aku akan menanggapinya dengan setenang itu. Tapi itu hanya sesaat, sebelum dia tersenyum sinis lagi. “Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan,” katanya sebelum berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan jejak hawa dingin di ruangan itu. Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungku yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku tahu Veronica bukan ancaman satu-satunya. Tapi jika dia pikir aku akan menyerah begitu saja, dia salah besar. Aku menatap pintu yang baru saja tertutup, membiarkan kata-kata Veronica menggantung di udara. Aku tahu dia mencoba menggoyahkanku, membuatku meragukan posisiku di sisi Lucian. Tapi yang tidak dia sadari adalah aku sudah terbiasa dengan orang-orang yang meremehkanku. Dulu, saat aku mengelola toko bunga ibuku, banyak yang mengatakan bisnis kecil itu tidak akan bertahan lama. Mereka mengira aku hanya seorang gadis biasa tanpa ambisi besar. Tapi aku tetap menjalankannya, bertahan melewati masa-masa sulit, dan membuktikan bahwa aku bisa. Aku tidak akan membiarkan Veronica atau siapa pun membuatku merasa tidak pantas berada di sini. Jika aku harus berjuang untuk bertahan di dunia Lucian, maka itulah yang akan kulakukan. Aku berdiri dan berjalan ke jendela besar ruangan itu. Kota di bawah terlihat begitu luas, seolah menawarkan banyak kemungkinan. Aku tidak akan mundur. Aku tidak akan kalah.Tubuhku terasa sedikit berat saat bangun pagi itu. Kepala pening, tenggorokan kering, dan ada hawa panas yang menempel di kulitku. Tapi karena Lucian sedang bersiap pergi ke kantor, aku menahan semuanya dengan senyum tipis. “Aku buatkan kopi, ya?” tawarku sambil menggeliat pelan. Lucian yang sedang mengenakan dasi langsung membalikkan badan. “Kau terlihat pucat. Kau demam?” Aku tertawa ringan, “Hanya sedikit pusing. Tidak usah lebay.” Namun tatapannya langsung menyipit curiga. Dalam dua langkah dia sudah sampai di hadapanku, meletakkan punggung tangannya di dahiku. “Kau terbakar, Seraphina.” “Berlebihan.” Aku menghindar sedikit dan menuju dapur, pura-pura lincah padahal lututku bergetar. “Sudah biasa. Istirahat sebentar pasti baikan.” Lucian memelototiku dari jauh seperti sedang menilai apakah aku akan pingsan atau pura-pura kuat. “Aku akan telepon Felix. Aku tidak pergi ke kantor hari ini.” Aku langsung menoleh dengan cepat, terlalu cepat hingga pusingku makin menjadi. “Janga
Deru mesin bor terdengar lirih dari kejauhan saat aku melangkah masuk ke gedung yang sebentar lagi akan menjadi cabang kedua dari toko bunga kami. Tanganku menyapu debu halus dari meja kasir yang masih dibungkus plastik, dan mataku menyapu seluruh ruangan yang luas dan masih polos. Belum ada kelopak bunga di sudut mana pun, belum ada harum sedap malam atau anyelir yang menggoda dari pintu masuk. Tapi aku bisa membayangkannya. Di sinilah, tempat baru itu akan tumbuh—bukan hanya bisnis, tapi bagian dari impianku yang sempat terkubur. “Aku baru tahu tempat kosong ini bisa disulap seindah ini nanti,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri. “Aku juga baru tahu istriku punya mata tajam seperti arsitek.” Suara Lucian terdengar dari belakang, membuatku menoleh. Ia menyender di ambang pintu, menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, dan senyum kecilnya menyelip di sela-sela kalimatnya. Aku tersenyum geli. “Mata ini memang tidak bisa diam kalau soal menata ruangan.” Ia mendekat, menata
Tepukan tangan serempak menggema begitu aku membuka pintu ruanganku sendiri di kantor pagi ini. Sontak aku terhenti di ambang pintu, menatap hiasan pita emas yang membentang lebar, bertuliskan: Happy Birthday, Seraphina! "Selamat ulang tahun, Bos!" teriak Scarlett dari tengah kerumunan staf, mengenakan topi ulang tahun mungil dan meniup peluit warna-warni. Aku tertawa kecil, sedikit bingung sekaligus terharu, "Kalian semua… ini kerjaan siapa?" "Siapa lagi kalau bukan aku," jawab Scarlett bangga, menghampiriku sambil menyerahkan buket bunga mawar putih yang harum semerbak. "Tapi tentu saja seluruh tim bagian pemasaran juga terlibat." "Aku bahkan menyelinap ke ruangan ini semalam untuk memastikan semua balon terisi," celetuk Theo dari tim desain, membuat yang lain tertawa. Ruanganku, yang biasanya rapi dan tenang, kini berubah penuh warna. Balon pastel melayang di setiap sudut, meja dihias dengan serpihan glitter, dan di pojok, terlihat kue ulang tahun bertingkat dua dengan tulisan
Lucian baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dan kemeja santainya agak terbuka di bagian atas. Dia menatapku dengan senyum malas, seolah baru saja menemukan definisi baru dari kebahagiaan hanya dengan melihatku menata bunga di meja makan. Angin sore menyelinap masuk lewat jendela besar yang masih terbuka. Rumah itu—rumah baru kami—terlihat seperti potongan mimpi yang dilipat rapi dan disisipkan ke dalam kenyataan. Dinding-dindingnya putih bersih, dihiasi karya seni pilihan kami berdua. Kesan hangat dan intim terasa sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di ruang tengahnya. “Aku tidak tahu rumah bisa terasa seperti ini,” gumamnya, melangkah mendekat. “Seperti apa?” tanyaku sambil menyusun vas terakhir, lalu menatapnya. “Seperti tempat kembali… bukan cuma bangunan.” Ia menyentuh jemariku, lembut, lalu menggenggamnya. Aku tertawa kecil. “Mungkin karena ini rumah yang kita pilih bersama.” Lucian menarikku ke dalam pelukannya. “Atau karena kamu ada di dalamnya.” “Hei,
Mobil hitam yang kami tumpangi terus melaju di jalanan aspal yang terasa asing di mataku. Aku mengenal hampir setiap sudut kota ini, namun area ini tampak berbeda. Pepohonan tumbuh rapi di sisi kanan-kiri, dedaunannya bergerak ringan ditiup angin musim semi. Aroma tanah basah masih tersisa dari gerimis semalam, memberi kesan segar dan tenang. Lucian duduk di sampingku, menyetir tanpa suara. Pandangannya lurus ke depan, tapi dari cara jemarinya mengetuk setir dan sesekali melirikku dengan senyum setengah jadi, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. “Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyaku, menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. “Sabarlah. Tidak semua hal bisa dijelaskan sebelum waktunya,” balasnya, kali ini dengan senyum penuh makna. Aku menyipit. “Kau tahu aku tidak suka kejutan.” “Dan kau juga tahu aku senang membuatmu berubah pikiran.” Ia menjawab cepat, membuatku tak bisa tidak tersenyum meskipun kesal. Kukalungkan lenganku di dada, berpura-pura jengkel, pada
Aku memperhatikan Lucian menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemariku erat. Malam sudah larut, tetapi jalanan masih terang oleh lampu kota yang menghiasi trotoar dan membentuk pantulan indah di kaca jendela mobil. "Apa ada yang menganggu?" tanya Lucian, lirih tapi jelas. Aku menunduk sebentar, mengumpulkan keberanian. "Aku ingin bertanya sesuatu sejak lama, tapi ... selalu tertunda." Dia melirikku sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. "Kau bisa tanya apapun." Aku menarik napas panjang. "Apa kau ... pernah tinggal di panti asuhan kecil di wilayah timur kota? Sekitar umur lima atau enam tahun?" Lucian mendadak memperlambat laju mobil. Matanya terpejam sesaat, lalu dia berhenti di bahu jalan. Tak menjawab. Hanya diam. Tangannya masih menggenggamku erat. Aku melanjutkan dengan suara pelan, "Aku ... menemukan gelang kecil di laci kerjamu. Terukir inisial L.S. dan S.L.—aku tahu itu bukan kebetulan. Aku mengenali bentuknya. Aku yang membuat gelang itu. U







