Home / Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Menjadi Nyonya Devereaux

Share

Menjadi Nyonya Devereaux

Author: Purplexyiii
last update Last Updated: 2025-02-15 22:25:30

Saat lift bergerak naik, aku bisa merasakan tekanan di dadaku semakin berat. Tanganku masih dalam genggaman Lucian, tetapi bukan kehangatan yang kurasakan—melainkan cengkeraman kekuasaan.

Dia tidak hanya menggandengku. Dia sedang memperlihatkanku pada dunia sebagai miliknya.

Pintu lift terbuka dengan bunyi nyaring. Lantai eksekutif.

Interior di sini terasa berbeda dari lobi di bawah. Lebih sepi, lebih eksklusif. Karpet lembut meredam suara langkah kaki, tetapi keheningan yang menggantung di udara jauh lebih menusuk.

Beberapa pria dan wanita dalam setelan mahal menoleh saat kami lewat. Beberapa berbisik satu sama lain, beberapa hanya menatap tajam dengan ekspresi tak terbaca.

Aku tidak perlu menebak siapa mereka. Dewan direksi. Orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam perusahaan ini—dan mereka semua sekarang melihat ke arahku.

Seorang pria tua dengan rambut perak rapi berdiri dari kursinya saat kami memasuki ruang rapat. “Lucian,” katanya dengan nada penuh wibawa. “Kami tidak diberitahu bahwa kau akan membawa tamu.”

Lucian tetap tenang. Dia menarikku lebih dekat, seolah ingin memastikan semua orang di ruangan ini tidak melewatkan kehadiranku. “Ini istriku, Seraphina Langley yang telah menjadi Nyonya Devereaux.”

Dingin.

Hening yang terjadi setelah pengumuman itu begitu dingin hingga aku hampir bisa merasakan suhu ruangan turun beberapa derajat.

Beberapa dari mereka saling berpandangan, beberapa lainnya tampak berusaha menyembunyikan keterkejutan mereka. Namun, tidak semuanya terkejut. Beberapa justru terlihat… tidak senang.

Pria tua tadi—yang sepertinya pemegang saham utama—menyipitkan matanya. “Istri?” ulangnya, seolah dia tidak yakin mendengar dengan benar.

Lucian mengangguk santai. “Aku sudah menikah.”

“Dan kapan tepatnya keputusan ini dibuat?”

Lucian tersenyum kecil, tetapi tidak ada kehangatan di baliknya. “Aku tidak tahu kalau aku harus meminta izin terlebih dahulu.”

Pria itu mendesah pelan, sebelum menatapku dengan pandangan meneliti. Aku merasakan ketegangan merayapi tubuhku, tetapi aku menolak untuk menghindari tatapannya.

“Seraphina Devereaux,” ulangnya pelan, menguji namaku di lidahnya. “Jadi, kau sekarang bagian dari keluarga ini?”

Aku menelan ludah, lalu mengangguk. “Ya.”

“Dan kau paham apa yang sedang kau hadapi?”

Aku tidak tahu apakah dia berbicara tentang pernikahanku dengan Lucian, atau dunia yang baru saja kumasuki. Tapi aku tidak akan terlihat lemah di hadapan mereka.

Jadi aku membalas tatapannya dan berkata, “Tentu saja.”

Dia tidak tersenyum. Tetapi aku bisa melihat ketertarikan sekilas di matanya sebelum dia kembali bersandar ke kursinya.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Mari kita lihat seberapa lama kau bisa bertahan.”

Aku tidak tahu apakah itu ancaman atau sekadar pernyataan. Tapi satu hal yang kutahu pasti .…

Aku baru saja masuk ke dalam dunia di mana aku harus berjuang untuk tetap bertahan.

Dan aku tidak akan mundur.

***

Ruangan itu terasa seperti medan perang tak kasat mata.

Meskipun percakapan bisnis mulai bergulir, aku tahu bahwa sebagian besar dari mereka masih meniliku dengan tatapan tajam. Lucian duduk dengan tenang di kursinya, mendengarkan laporan yang dibacakan, sementara aku duduk di sampingnya, berusaha terlihat setenang mungkin.

Aku tidak memahami sebagian besar istilah bisnis yang mereka gunakan, tetapi aku bisa merasakan ketegangan di udara. Tidak semua orang di ruangan ini senang dengan keberadaanku. Beberapa dari mereka tidak menyembunyikan ketidaksukaan mereka, dan itu cukup untuk membuatku sadar bahwa aku sedang berada di sarang ular.

Pria tua yang tadi menanyai aku—yang ternyata adalah Henry Devereaux, paman Lucian dan salah satu pemegang saham terbesar—sesekali melirikku, seolah mengamatiku di sela-sela rapat. Aku tidak tahu apakah dia mencoba mengujiku atau sekadar mencari kelemahanku.

“Lucian,” Henry akhirnya berbicara setelah laporan selesai dibacakan. “Pernikahan mendadak ini mengejutkan banyak pihak. Kau tahu itu, bukan?”

Lucian tetap tenang. “Aku tidak melihat ada yang perlu dikejutkan. Aku sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri.”

Henry menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangannya di dada. “Benarkah? Karena yang kudengar, pernikahan ini terjadi tanpa ada satu pun dari kami yang diberi kabar.”

“Apa aku harus meminta izin terlebih dahulu?” balas Lucian dengan nada datar.

“Bukan izin,” Henry menyipitkan mata. “Tetapi setidaknya penjelasan.”

Aku bisa merasakan tatapan mereka berpindah padaku, seolah aku adalah faktor yang harus mereka pahami dalam persamaan ini.

Henry menghela napas, lalu menoleh padaku. “Nona Seraphina—atau sekarang Nyonya Devereaux, aku ingin tahu … Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau cukup kuat untuk bertahan di dunia ini?”

Aku tidak menyangka akan diserang secara langsung seperti ini, tetapi aku juga tidak akan mundur.

Aku menegakkan punggung dan menatapnya langsung. “Saya tidak berpikir, tapi saya tahu.”

Henry mengangkat alisnya, jelas tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.

“Saya mungkin bukan bagian dari dunia bisnis,” lanjutku, “tapi saya tidak pernah mundur dari tantangan.”

Ruangan menjadi sunyi sejenak sebelum Henry terkekeh pelan. “Keberanian yang menarik,” katanya. “Tapi keberanian saja tidak cukup untuk bertahan.”

“Beruntung saya memiliki lebih dari sekadar keberanian.” Aku memberikan senyum kecil, mencoba menunjukkan bahwa aku tidak akan goyah.

Lucian menatapku sekilas, dan untuk pertama kalinya, aku melihat kilatan ketertarikan di matanya.

Henry tidak berkata apa-apa lagi, tetapi aku tahu bahwa percakapan ini belum selesai.

Setelah rapat berakhir, Lucian menggandeng tanganku keluar dari ruangan. Saat kami memasuki lift, dia akhirnya bersuara.

“Kau tidak perlu menjawab Henry seperti itu,” katanya.

Aku menoleh padanya. “Kalau aku diam, dia akan menginjakku.”

Lucian menatapku selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Bagus.”

Aku terkejut dengan jawabannya. “Bagus?”

Dia menyandarkan punggungnya ke dinding lift. “Aku tidak butuh istri yang hanya menjadi pajangan. Aku butuh seseorang yang bisa berdiri di sampingku tanpa goyah.”

Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sekadar pernyataan, tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa seolah dia benar-benar mengakuiku.

***

Aku berjalan di samping Lucian dengan langkah cepat, berusaha mengikuti ritmenya yang selalu mantap dan penuh keyakinan. Rapat dewan direksi baru saja berakhir, dan meskipun aku telah berusaha menjaga ekspresi tenang, pikiranku masih dipenuhi berbagai pertanyaan.

Tatapan penuh penilaian dari para eksekutif tadi masih membekas, membuat dadaku terasa sesak. Tapi aku tetap diam, menjalani peran yang telah kusetujui sejak awal.

Di sisiku, Lucian tampak sama sekali tak terganggu. Sejak awal, dia mendominasi seluruh percakapan, menjawab pertanyaan dengan suara tegas yang membuat siapa pun di ruangan itu tak berani meragukannya. Aku seharusnya merasa lega karena semua berjalan sesuai rencana, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang menggangguku.

Saat kami berbelok menuju lorong utama, aku melihat seorang wanita berdiri di depan lift. Seketika, udara di sekitarku terasa lebih dingin.

Wanita itu tinggi, berambut cokelat gelap yang tertata sempurna, dengan sorot mata tajam yang menilai kami dengan ekspresi penuh penghinaan. Aku tidak perlu bertanya siapa dia.

Veronica Devereaux.

Adik Lucian.

Aku mengenal wajahnya dari artikel yang pernah kubaca. Dia adalah wanita yang memiliki reputasi hampir sama kuatnya dengan Lucian—sukses, dingin, dan tak kenal ampun.

"Lucian," sapanya dengan nada datar, seolah berbicara dengan seseorang yang sudah lama tak ditemuinya. "Aku dengar kau membawa seseorang ke rapat dewan hari ini."

Lucian tetap tenang, ekspresinya nyaris tidak berubah. "Lalu kenapa?"

Veronica menyilangkan tangan di depan dadanya, lalu mengalihkan pandangan ke arahku. Senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Jadi, ini wanita yang kau nikahi?" Tatapannya menyusuri diriku dari kepala hingga kaki seolah menilai barang murahan yang tidak seharusnya ada di sini.

"Kau benar-benar sudah kehilangan akal, Lucian. Dari semua wanita yang bisa kau pilih, kau memilih dia?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kehadiran Seseorang Baru

    Tubuhku terasa sedikit berat saat bangun pagi itu. Kepala pening, tenggorokan kering, dan ada hawa panas yang menempel di kulitku. Tapi karena Lucian sedang bersiap pergi ke kantor, aku menahan semuanya dengan senyum tipis. “Aku buatkan kopi, ya?” tawarku sambil menggeliat pelan. Lucian yang sedang mengenakan dasi langsung membalikkan badan. “Kau terlihat pucat. Kau demam?” Aku tertawa ringan, “Hanya sedikit pusing. Tidak usah lebay.” Namun tatapannya langsung menyipit curiga. Dalam dua langkah dia sudah sampai di hadapanku, meletakkan punggung tangannya di dahiku. “Kau terbakar, Seraphina.” “Berlebihan.” Aku menghindar sedikit dan menuju dapur, pura-pura lincah padahal lututku bergetar. “Sudah biasa. Istirahat sebentar pasti baikan.” Lucian memelototiku dari jauh seperti sedang menilai apakah aku akan pingsan atau pura-pura kuat. “Aku akan telepon Felix. Aku tidak pergi ke kantor hari ini.” Aku langsung menoleh dengan cepat, terlalu cepat hingga pusingku makin menjadi. “Janga

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Bukan Tentang Tempat

    Deru mesin bor terdengar lirih dari kejauhan saat aku melangkah masuk ke gedung yang sebentar lagi akan menjadi cabang kedua dari toko bunga kami. Tanganku menyapu debu halus dari meja kasir yang masih dibungkus plastik, dan mataku menyapu seluruh ruangan yang luas dan masih polos. Belum ada kelopak bunga di sudut mana pun, belum ada harum sedap malam atau anyelir yang menggoda dari pintu masuk. Tapi aku bisa membayangkannya. Di sinilah, tempat baru itu akan tumbuh—bukan hanya bisnis, tapi bagian dari impianku yang sempat terkubur. “Aku baru tahu tempat kosong ini bisa disulap seindah ini nanti,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri. “Aku juga baru tahu istriku punya mata tajam seperti arsitek.” Suara Lucian terdengar dari belakang, membuatku menoleh. Ia menyender di ambang pintu, menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, dan senyum kecilnya menyelip di sela-sela kalimatnya. Aku tersenyum geli. “Mata ini memang tidak bisa diam kalau soal menata ruangan.” Ia mendekat, menata

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kejutan Ulang Tahun

    Tepukan tangan serempak menggema begitu aku membuka pintu ruanganku sendiri di kantor pagi ini. Sontak aku terhenti di ambang pintu, menatap hiasan pita emas yang membentang lebar, bertuliskan: Happy Birthday, Seraphina! "Selamat ulang tahun, Bos!" teriak Scarlett dari tengah kerumunan staf, mengenakan topi ulang tahun mungil dan meniup peluit warna-warni. Aku tertawa kecil, sedikit bingung sekaligus terharu, "Kalian semua… ini kerjaan siapa?" "Siapa lagi kalau bukan aku," jawab Scarlett bangga, menghampiriku sambil menyerahkan buket bunga mawar putih yang harum semerbak. "Tapi tentu saja seluruh tim bagian pemasaran juga terlibat." "Aku bahkan menyelinap ke ruangan ini semalam untuk memastikan semua balon terisi," celetuk Theo dari tim desain, membuat yang lain tertawa. Ruanganku, yang biasanya rapi dan tenang, kini berubah penuh warna. Balon pastel melayang di setiap sudut, meja dihias dengan serpihan glitter, dan di pojok, terlihat kue ulang tahun bertingkat dua dengan tulisan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dapur Penuh Cinta

    Lucian baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dan kemeja santainya agak terbuka di bagian atas. Dia menatapku dengan senyum malas, seolah baru saja menemukan definisi baru dari kebahagiaan hanya dengan melihatku menata bunga di meja makan. Angin sore menyelinap masuk lewat jendela besar yang masih terbuka. Rumah itu—rumah baru kami—terlihat seperti potongan mimpi yang dilipat rapi dan disisipkan ke dalam kenyataan. Dinding-dindingnya putih bersih, dihiasi karya seni pilihan kami berdua. Kesan hangat dan intim terasa sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di ruang tengahnya. “Aku tidak tahu rumah bisa terasa seperti ini,” gumamnya, melangkah mendekat. “Seperti apa?” tanyaku sambil menyusun vas terakhir, lalu menatapnya. “Seperti tempat kembali… bukan cuma bangunan.” Ia menyentuh jemariku, lembut, lalu menggenggamnya. Aku tertawa kecil. “Mungkin karena ini rumah yang kita pilih bersama.” Lucian menarikku ke dalam pelukannya. “Atau karena kamu ada di dalamnya.” “Hei,

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Menata Ulang Bersama

    Mobil hitam yang kami tumpangi terus melaju di jalanan aspal yang terasa asing di mataku. Aku mengenal hampir setiap sudut kota ini, namun area ini tampak berbeda. Pepohonan tumbuh rapi di sisi kanan-kiri, dedaunannya bergerak ringan ditiup angin musim semi. Aroma tanah basah masih tersisa dari gerimis semalam, memberi kesan segar dan tenang. Lucian duduk di sampingku, menyetir tanpa suara. Pandangannya lurus ke depan, tapi dari cara jemarinya mengetuk setir dan sesekali melirikku dengan senyum setengah jadi, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. “Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyaku, menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. “Sabarlah. Tidak semua hal bisa dijelaskan sebelum waktunya,” balasnya, kali ini dengan senyum penuh makna. Aku menyipit. “Kau tahu aku tidak suka kejutan.” “Dan kau juga tahu aku senang membuatmu berubah pikiran.” Ia menjawab cepat, membuatku tak bisa tidak tersenyum meskipun kesal. Kukalungkan lenganku di dada, berpura-pura jengkel, pada

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Cara Melihat Dunia

    Aku memperhatikan Lucian menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemariku erat. Malam sudah larut, tetapi jalanan masih terang oleh lampu kota yang menghiasi trotoar dan membentuk pantulan indah di kaca jendela mobil. "Apa ada yang menganggu?" tanya Lucian, lirih tapi jelas. Aku menunduk sebentar, mengumpulkan keberanian. "Aku ingin bertanya sesuatu sejak lama, tapi ... selalu tertunda." Dia melirikku sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. "Kau bisa tanya apapun." Aku menarik napas panjang. "Apa kau ... pernah tinggal di panti asuhan kecil di wilayah timur kota? Sekitar umur lima atau enam tahun?" Lucian mendadak memperlambat laju mobil. Matanya terpejam sesaat, lalu dia berhenti di bahu jalan. Tak menjawab. Hanya diam. Tangannya masih menggenggamku erat. Aku melanjutkan dengan suara pelan, "Aku ... menemukan gelang kecil di laci kerjamu. Terukir inisial L.S. dan S.L.—aku tahu itu bukan kebetulan. Aku mengenali bentuknya. Aku yang membuat gelang itu. U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status