/ Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Pernikahan yang Hancur

공유

Terpikat Hasrat CEO Dingin
Terpikat Hasrat CEO Dingin
작가: Purplexyiii

Pernikahan yang Hancur

작가: Purplexyiii
last update 게시일: 2025-02-15 22:06:04

Aku tidak diundang ke sini, dan aku tidak peduli.

Kuperhatikan ruangan yang penuh dengan suara tawa dan ucapan selamat yang berulang-ulang. Gaun mahal berkibar saat para tamu bergerak, menyesap sampanye dan menikmati kemewahan pesta yang seharusnya tidak pernah terjadi. Aku berdiri di tengah ruangan, jantungku berdegup kencang, jemariku mencengkeram gelas anggur yang dingin.

Untungnya, mereka tidak menyadari kehadiranku.

Mataku sontak tertuju pada sosok pengantin pria, Damien Vaughn.

Dulu, aku berpikir nama itu akan menjadi bagian dari hidupku selamanya.

Tapi sekarang, dia berdiri di sana, mengenakan setelan hitam sempurna dengan dasi putih, tersenyum kepada wanita yang kini menjadi istrinya. Celeste Moreau. Wanita dengan nama belakang yang lebih berarti dalam dunia bisnis daripada milikku.

Aku seharusnya menjadi orang yang berdiri di sisinya. Aku seharusnya yang mengenakan gaun pengantin itu. Tapi tidak—karena baginya, aku tidak cukup baik.

Aku mengangkat gelas anggurku, menyesap sedikit, lalu tanpa berpikir panjang, aku melemparkan seluruh isinya ke arah mereka.

Cairan merah membasahi gaun putih Celeste, meninggalkan noda yang tidak mungkin dihapus begitu saja. Ruangan yang tadinya dipenuhi tawa kini hening seketika.

Celeste terperangah, menatap noda di bajunya dengan horor. Damien menegang, matanya bertemu denganku dalam keterkejutan yang segera berubah menjadi amarah.

Aku menyeringai. "Ups."

Seseorang di antara kerumunan tersentak, bisikan mulai menyebar seperti api. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata menatapku, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Damien melangkah maju, ekspresinya penuh kemarahan. "Seraphina, apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat," kataku santai, meskipun hatiku berdebar kencang. "Dan aku pikir, pernikahan ini butuh sedikit warna."

Celeste terengah-engah, matanya membelalak tidak percaya. "Kau gila!"

Aku terkekeh. "Oh, baru sekarang kau sadar?"

Aku tidak tahu apa yang membuatku melakukan ini. Mungkin kemarahan yang kupendam selama ini, mungkin kepuasan melihat wajah Damien yang menegang. Aku ingin melihatnya hancur, seperti bagaimana dia menghancurkanku.

Damien menggeram, lalu menoleh ke arah salah satu penjaga di sudut ruangan. "Bawa dia keluar."

Aku merasakan ketegangan di udara sebelum aku benar-benar menyadarinya. Beberapa penjaga mulai bergerak ke arahku. Langkah mereka mantap, jelas berusaha mencegahku kabur.

Brengsek.

Aku bisa saja berlari. Bisa saja mencoba melawan. Tapi aku tidak punya kesempatan menghadapi mereka semua. Aku menegakkan dagu, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi—

Lalu tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku mundur dengan cepat.

Aku hampir tersandung tumitku sendiri saat aku terseret keluar dari ballroom dalam kecepatan yang sulit untuk diikuti. Aku berbalik, berniat memprotes, tapi kata-kata itu tertelan saat aku melihat siapa yang membawaku pergi.

Lucian Devereaux.

Jantungku hampir berhenti.

CEO Devereaux Corporation. Pria paling berkuasa di ruangan ini, mungkin bahkan di kota ini. Dingin, tak tersentuh, dan dikenal tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.

Apa yang dia lakukan?

Aku tidak punya waktu untuk bertanya. Dia membawaku melewati lorong-lorong hotel yang sepi, jauh dari tatapan para tamu. Nafasku memburu saat akhirnya dia berhenti di ruangan yang lebih pribadi, melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik menghadapku.

Aku menyentakkan tanganku, menatapnya tajam. "Apa yang kau lakukan?"

Lucian menatapku datar. "Menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri."

Aku mendengkus. "Aku tidak butuh penyelamatan."

Dia mengangkat alis, seolah meragukan ucapanku. "Benarkah? Kau ingin dijebloskan ke dalam tahanan atas tuduhan mengganggu acara publik? Atau lebih buruk lagi, membuat musuh dari Damien Vaughn?"

Aku mengepalkan tangan. "Dia sudah menjadi musuhku sejak lama."

Lucian mengamati wajahku sejenak, ekspresinya sulit ditebak. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku memberimu kesempatan untuk membalas dendam?"

Aku menyipitkan mata, curiga. "Apa maksudmu?"

Dia mendekat, suaranya lebih rendah dan lebih tajam. "Menikahlah denganku."

Aku menahan napas.

Lucian melanjutkan dengan nada datarnya yang khas. "Kau ingin membuat Damien menyesal, dan aku butuh seorang istri."

Aku menatapnya, mencoba menemukan niat tersembunyi di balik matanya yang abu-abu tajam.

Ini gila. Lebih gila dari semua hal yang telah kulakukan malam ini.

Tapi mungkin ... ini juga kesempatan yang tidak bisa kusiakan.

Aku menatap Lucian dengan skeptis, mencoba memahami maksud di balik kata-katanya. Pernikahan? Dengan pria yang bahkan tidak kukenal secara pribadi? Ini pasti semacam lelucon.

"Apa kau sedang bercanda?" tanyaku, mencoba mencari tanda-tanda bahwa dia hanya bermain-main.

Wajahnya tetap datar. "Apakah aku terlihat seperti orang yang suka bercanda?"

Tidak. Tidak sama sekali.

Aku melangkah mundur, mencoba menenangkan diri. Ini terlalu cepat. Baru beberapa menit yang lalu, aku melemparkan anggur ke gaun pengantin Celeste, dan sekarang aku berdiri di hadapan pria paling berkuasa di ruangan itu, yang entah bagaimana menawarkan sesuatu yang lebih gila dari aksiku sendiri.

Aku tertawa sinis, menyilangkan tangan di depan dada. "Jadi, kau ingin menikah denganku hanya untuk membuat Damien menyesal? Itu rencana yang sangat kekanak-kanakan untuk seseorang sepertimu, Tuan Devereaux."

Lucian menghela napas, seolah tidak terkesan dengan reaksiku. "Kau salah paham. Aku tidak peduli dengan Damien atau siapa pun. Aku butuh seorang istri untuk memenuhi persyaratan dalam wasiat keluarga. Dan kau butuh cara yang lebih efektif untuk menghancurkan pria yang telah mengkhianatimu. Ini murni kesepakatan bisnis."

Aku diam.

Lucian melanjutkan, suaranya tetap stabil. "Dengan menikah denganku, kau akan memiliki lebih banyak kekuatan dari pada yang pernah kau miliki sebelumnya. Damien akan melihatmu di sampingku, dan dia akan tahu bahwa dia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya."

Kata-kata itu menggema dalam pikiranku. Membayangkan ekspresi Damien ketika melihatku menjadi istri Lucian Devereaux ... ada sesuatu yang begitu memuaskan tentang gagasan itu.

Tapi ... pernikahan?

Aku menggelengkan kepala, mencoba berpikir jernih. "Mengapa aku? Kau bisa memilih wanita lain, seseorang yang lebih cocok dengan citramu."

Lucian tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. "Karena kau tidak akan jatuh cinta padaku."

Aku membeku.

Lucian melanjutkan seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang sepele. "Aku tidak tertarik pada pernikahan yang berujung pada drama emosional. Aku butuh seseorang yang mengerti batasannya. Dan kau, Seraphina, jelas masih terjebak dalam kebencianmu terhadap pria lain. Itu membuatmu jadi kandidat yang sempurna."

Aku mengepalkan tangan. "Jadi, menurutmu aku ini apa? Alat untuk membantumu memenuhi syarat warisanmu?"

Lucian mengangkat bahu. "Dan aku hanyalah alat untuk membantumu membalas dendam. Kita sama-sama mendapat keuntungan."

Aku menggigit bibir, mencoba menenangkan detak jantungku yang menggila. Semuanya terjadi begitu cepat, tapi bagian terdalam dalam diriku tahu bahwa ini adalah kesempatan yang tidak bisa kusiakan. Aku ingin Damien menyesal. Aku ingin dia melihatku berdiri lebih tinggi daripada yang pernah dia bayangkan.

Lucian sepertinya bisa membaca pikiranku, karena dia mengambil satu langkah mendekat. Udara di antara kami terasa berat, seolah dia sedang memberiku pilihan yang tidak bisa kutolak.

"Ambil tawaranku, Seraphina. Ini satu-satunya cara untuk menang."

Aku menatapnya. Mata abu-abunya tidak menunjukkan kebohongan, hanya ketegasan. Dingin. Berbahaya. Tapi juga menawarkan sesuatu yang tidak pernah kumiliki sebelumnya—kekuatan.

Aku menarik napas dalam. Semua yang terjadi hari ini terasa gila, tapi bukankah hidupku memang sudah berantakan? Jika aku bisa menghancurkan Damien dan membangun kembali diriku sendiri dari puing-puing ini, bukankah itu layak dicoba?

Jadi, aku mengangkat daguku dan menjawab, "Baiklah. Aku terima."

Lucian menyunggingkan senyum tipis, seolah sudah menduga jawabanku.

"Bagus," katanya. "Kalau begitu, kita mulai sekarang."

Aku mengerutkan kening. "Sekarang?"

Dia tidak menjawab. Hanya merogoh ponselnya, menelepon seseorang, lalu berbicara dengan nada datar, "Siapkan semuanya. Aku ingin pernikahan ini terjadi dalam waktu secepat mungkin."

Jantungku mencelos. Aku tahu aku baru saja membuat keputusan besar. Tapi aku belum siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan saat Lucian menatapku lagi dengan ekspresi tak terbaca, aku sadar satu hal—aku mungkin baru saja menjual jiwaku kepada iblis.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Selalu Jadi Miliknya

    Aku mengeringkan rambut sambil duduk di sisi kolam, kaki masih terendam di air yang mulai terasa dingin. Lucian baru saja muncul dari permukaan, mengibaskan rambutnya seperti anjing laut tampan yang menyebalkan, lalu menggeser posisinya duduk di sebelahku. Bahunya yang lebar sedikit menyentuh pundakku. Kulirik tubuhnya yang masih basah, dan entah kenapa aku seperti lupa cara bernapas. "Seharusnya kita renang begini tiap malam," ucapnya dengan mata penuh menggoda. "Kau terlihat bahagia. Aku senang Melihatmu yang seperti ini." Aku mengangguk, menyeka leherku yang dingin dengan handuk kecil. "Setidaknya malam ini tidak ada panggilan bisnis yang menculikmu, tidak ada tumpukan laporan, tidak ada Liora yang tiba-tiba menangis." Lucian menoleh dan menyeringai. "Jadi selama ini aku dicuri banyak orang, ya?" "Setiap hari," sahutku cepat. "Tapi aku terlalu baik untuk komplain." Dia tertawa pelan, lalu berdiri dan menju

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tidak Bisa Menahan

    Aku tak pernah menyangka suara tawa kecil bisa menciptakan kehangatan sedalam ini. Taman bermain itu tidak terlalu ramai malam ini, hanya beberapa keluarga yang tampaknya juga ingin membiarkan anak-anak mereka menikmati udara segar sebelum tidur. Lampu-lampu temaram memantul di permukaan perosotan logam, dan aroma manis dari jajanan kaki lima bercampur dengan wangi rumput basah menyelimuti suasana. “Papa! Ayun ... Liora mau ayun ....” Suara cempreng putri kecil kami, Liora, memecah pikiranku. Dengan dua gigi mungil yang menyembul di senyumnya, dia menunjuk ke arah ayunan sambil melompat-lompat kecil. Lucian menunduk, mengangkat Liora dengan cekatan lalu menggendongnya tinggi di udara sebelum menurunkannya ke ayunan. “Siap terbang, Putri Kecil?” “Iya yang tinggi yaa!” Liora berseru. Aku duduk di bangku tak jauh dari mereka, mengenakan jaket panjang dan syal tipis. Tangan memeluk termos kecil berisi cokelat pan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Ketakutan Terasa Kecil

    Jalanan ibu kota tampak bersahabat malam itu. Lampu-lampu gedung memantulkan kilauan lembut ke permukaan mobil yang meluncur perlahan melewati trotoar-trotoar berisi pejalan kaki yang masih ramai meski waktu sudah mendekati malam. Aku menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan embun tipis yang menempel di kaca sedikit menyejukkan kulitku. Lucian mengemudi dengan satu tangan di setir, satu lagi menggenggam tanganku tanpa melepaskan sedetik pun. "Ayah dan Ibu pasti sudah tertidur," gumamku sambil tersenyum kecil. Lucian melirikku sekilas, "Kau yakin mereka tidak kerepotan dengan anak kita?" "Ibu sudah bilang dia senang bisa menghabiskan waktu dengan cucunya. Dan Ayah bahkan bilang mereka merasa muda kembali karena rumah jadi ramai." Lucian tertawa pendek. "Kalau begitu kita harus sering-sering menitipkannya." Aku menyipitkan mata. "Lucian ...." "Berlebihan, ya?" Dia tersenyum bers

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Sesuatu Tak Ternilai

    Begitu pintu utama terbuka, aroma makanan lezat segera memenuhi seluruh ruangan. Aku bahkan belum melihat siapa yang datang, tapi aroma ayam panggang madu dan jamur krim itu jelas tidak salah lagi. Aku buru-buru berjalan ke arah pintu, dan begitu melihat Lucian berdiri di sana, lengkap dengan setumpuk kantong makanan dan ekspresi lelah yang terlukis samar di wajahnya, aku langsung tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya dan menyandarkan kepalaku ke dadanya. "Aku kangen," ucapku pelan, menyembunyikan wajahku di balik jas kerjanya yang dingin. Lucian menunduk, mencium pelipisku singkat. "Aku juga. Maaf, baru pulang sekarang. Tadi ada rapat tambahan. Tapi aku bawa pulang semua makanan favoritmu." "Kak, serius deh! Ini anakmu seharian tidak mau tidur, dan tadi muntah di bajuku!" Veronica menyusul keluar dari kamar dengan ekspresi jengkel, rambut diikat seenaknya dan mengenakan kaos kebesa

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dalam Segala Lelah

    Tidur malam menjadi kemewahan. Bayi kecil kami—yang baru saja menginjak usia tiga minggu—menguasai segalanya. Dari waktu, emosi, hingga batas kesabaran yang tak pernah kutahu ternyata begitu lentur. Lucian sedang berusaha memasang popok. Lagi. Ini sudah kelima kalinya malam ini. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan kemejanya terlipat tak karuan seolah habis diremas mesin cuci. Tapi dia tetap teguh, seolah sedang memimpin pertemuan direksi. "Aku rasa ... bagian ini ke depan?" gumamnya, menatap popok seperti menatap dokumen merger yang tak dia pahami. "Bukan. Itu bagian belakang." Aku menahan senyum, menyodorkan tisu basah. "Kau sudah salah tiga kali. Mau aku bantu?" "Jangan, ini soal harga diri," balasnya serius. Aku tertawa pelan sambil menyandarkan punggung ke dinding, menggendong bayi kami yang baru saja selesai menyusu. Lucian mungkin terlihat konyol sekarang, tapi hanya aku yang tahu betapa cepatnya

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Menatap Keajaiban Kecil

    Punggungku terasa pegal sejak tadi, tapi aku tak begitu memperhatikannya. Kupikir hanya karena duduk terlalu lama saat menyortir dokumen dari yayasan. Tapi ketika nyeri itu merambat ke perut dan membuatku sedikit meringis, aku mulai curiga.Lucian sedang duduk di seberang meja, menatap layar tablet dengan mata serius. Dahi pria itu berkerut, namun tetap sesekali mencuri pandang ke arahku. Ia memang akhir-akhir ini terlalu protektif, terlebih setelah dokter berkata usia kehamilanku sudah cukup matang.Kupaksakan tersenyum padanya, walau tubuh ini terasa seperti akan meledak dari dalam.“Lucian,” panggilku pelan, menutup map di tanganku. “Kau sibuk?”Tatapan kelamnya langsung berpindah padaku. “Tidak. Kenapa?”Aku menarik napas perlahan. “Perutku … agak nyeri. Tapi bukan seperti kontraksi hebat. Mungkin cuma karena terlalu banyak duduk.”Lucian langsung berdiri, menarik kursinya hingga berderit. “Sakitnya seperti apa? Tajam? Menusu

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Alasan Terus Mencintai

    Suara centang printer yang tak henti dari ruang sebelah membuatku berhenti sejenak membaca laporan klien. Kugerakkan bahu kiri dan kanan, mencoba melonggarkan otot-otot yang menegang sejak pagi. Hari ini cukup melelahkan—tetapi dengan cara yang menyenangkan. Dalam beberapa bulan terakhir, grafik

    last update최신 업데이트 : 2026-04-04
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Masalah Perlahan Selesai

    Langit mendung menggantung rendah di atas gedung Devereaux Industries, seakan memantulkan suasana yang akan terjadi di dalamnya. Lucian duduk di ruang pertemuan lantai tiga, dengan aku di sampingnya, tangannya menggenggam erat tangan sang istri. Tidak ada kata-kata yang teruca

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Gila Sejak Awal

    Langkah kaki Lucian terdengar berat di koridor apartemen, seperti memikul beban yang tak ingin dibagi. Aku sedang di dapur, masih mengenakan apron dan mengaduk saus sup krim yang hampir matang ketika suara pintu utama terbuka. Aroma mentega dan bawang putih semestinya menyambutnya pulang dengan h

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tanpa Takut Jatuh

    [Hai, Seraphina. Apa kau bebas malam ini?] Pesan itu muncul dari Verena tidak lama setelah aku masuk ke mobil dan menyandarkan kepala di kursi. Aku sempat menatap layar ponselku beberapa detik sebelum mengetik balasan cepat. [Bebas. Kau butuh hiburan?]

    last update최신 업데이트 : 2026-04-03
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status