LOGINUcapan ambigu itu berhasil membuat Alessia terdiam, bahkan membuat tubuhnya semakin membeku di kursinya.
“Kau tidak pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya?” tanya Leonardo tiba-tiba.
Gadis itu menoleh dengan cepat. Wajahnya refleks menatap lelaki dewasa di sebelahnya yang kini menatap jalan dengan pandangan fokus.
Namun, rahang tegas dan garis bibirnya tetap memancarkan wibawa yang entah mengapa membuat Alessia semakin gugup. Dia pun menelan ludah, lalu mengangguk dengan pelan.
“Ya,” jawabnya dengan suara pelan namun jujur. “Maaf jika aku terlihat gugup setiap kali di dekatmu, Paman.”
Leonardo mengangguk paham. Ia menghela napas panjang sambil memutar sedikit kemudi, melewati genangan air di tepi jalan.
“Aku mengerti sekarang,” ujarnya singkat.
Setelah itu, hanya suara hujan yang terdengar. Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan kawasan sibuk yang sempat macet karena hujan deras.
Alessia bersandar sambil mencoba mengatur napasnya. Ia bisa merasakan jantungnya masih berdetak cepat, seolah baru saja berlari berkilo-kilo meter.
Setiap kali mencium aroma samar parfum lelaki itu—campuran musk dan cedarwood, dia merasa pikirannya berantakan.
Hingga akhirnya, mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen studio sederhana, tempat Alessia tinggal.
Leonardo menatap gedung kecil itu sejenak, lalu menoleh pada gadis muda di sampingnya yang sudah bersiap membuka pintu.
“Terima kasih untuk tumpangannya, Paman. Maaf, sudah merepotkan,” ucap Alessia dengan nada sungkan, sambil mencoba menyembunyikan debar yang belum juga mereda.
“Tidak merepotkan sama sekali,” jawab Leonardo santai, namun dengan senyum tipis yang membuat Alessia kembali salah tingkah.
Tatapan matanya yang dalam seolah bisa menembus pertahanan gadis itu.
Dengan cepat, Alessia keluar dari mobil, hampir seperti melarikan diri dari sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan.
Ia membungkuk sedikit sebagai tanda pamit, lalu berjalan cepat menuju lobi apartemen. Dari kaca pintu masuk, bayangan mobil hitam itu masih terlihat diam di tempat sampai membuat hatinya kembali berdebar.
Setelah menekan tombol lift dan menunggu beberapa detik yang terasa begitu lama, akhirnya pintu lift terbuka.
Ia masuk dan menatap pantulan dirinya di cermin lift. Pipi merona, rambut sedikit berantakan, dan senyum bodoh tanpa sadar muncul di wajahnya.
Begitu sampai di lantai tempat unitnya berada, Alessia keluar terburu-buru dan membuka pintu apartemennya.
Ia segera menutup pintu di belakangnya dan bersandar di sana sambil menghela napas panjang.
“Astaga! Sepertinya aku bisa gila jika bertemu dengannya setiap hari,” gumamnya lirih, setengah menyesal, setengah masih terbawa perasaan.
Ia melempar tasnya ke atas ranjang kecilnya lalu duduk di tepinya sambil menenangkan dirinya.
Namun pandangannya tiba-tiba jatuh pada sesuatu di tangannya—sebuah saputangan berwarna putih dengan inisial “L.D.” yang terjahit rapi di sudutnya.
“Ya ampun, aku membawa saputangannya?” katanya panik. “Kalau dia mencarinya, bagaimana?”
Ia menatap benda itu lama, jemarinya menggenggam lembut kain yang masih menyimpan aroma khas lelaki itu.
Dalam kepalanya, bayangan saat tangan mereka bersentuhan tadi kembali muncul—singkat, tapi cukup untuk membuat pipinya memanas lagi.
“Kenapa aku seperti ini?” desisnya frustrasi. “Berhenti memikirkannya, Alessia! Ingat, itu ayah temanmu! Kalau kau jatuh cinta padanya, semuanya akan jadi kacau!”
Dia lalu berdiri dengan cepat sambil mencoba menepis bayangan itu dari pikirannya.
Tanpa pikir panjang, dia melangkah menuju kamar mandi. Air dingin segera menyentuh wajahnya, membantu meredakan panas di pipi dan dadanya yang berdebar tak karuan.
Namun bahkan di tengah suara gemericik air, wajah Leonardo tetap muncul di benaknya—sorot matanya yang tajam, suara beratnya yang menenangkan, dan sikap tenangnya yang entah kenapa terasa berbahaya bagi hatinya.
“Sudahlah,” gumamnya lirih, menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. “Aku hanya harus menjaga jarak, sejauh mungkin.”
Tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu—itu akan jauh lebih sulit daripada sekadar mengucapkannya.
**
Sementara itu, di rumah megah milik Leonardo, suasana tampak tenang dan hangat.
Leonardo duduk bersandar di sofa abu-abu besar, masih mengenakan kemeja hitam yang lengan atasnya tergulung hingga siku.
Di hadapannya, sebuah tablet menyala dengan cahaya kebiruan, menampilkan beberapa berkas dan halaman berita yang sesekali membuatnya mengerutkan kening.
Sesekali ia menatap layar itu lama, lalu menatap kosong ke depan seolah pikirannya berada di tempat lain.
Pintu utama tiba-tiba terbuka, diiringi suara langkah ringan dan ceria.
“Papa! I’m home!” seru Gabby.
Gadis itu kemudian meletakkan tasnya di kursi dekat pintu, lalu berjalan cepat ke arah sang ayah dengan senyum lebar.
Leonardo mengangkat pandangannya sekilas dan menanggapi dengan singkat, “Hm.”
Jawaban datar itu membuat Gabby langsung manyun. Ia menjatuhkan diri ke sofa di samping ayahnya dengan gaya manja, menyilangkan kaki dan menatap sang ayah yang tampak lebih sibuk dengan tabletnya daripada dengan kehadirannya.
“Papa, kau bahkan tidak melihatku,” keluhnya sambil sedikit mencondongkan tubuh untuk melongok ke arah layar tablet.
“Apa yang sedang kau cari, Pa?” tanyanya penasaran, lalu mencoba membaca apa pun yang terpampang di sana.
Gerak-gerik Leonardo langsung berubah. Dengan cepat, dia menekan tombol beranda dan menutup tab yang tadi dia buka, lalu meletakkan tabletnya di atas meja kaca di depan mereka.
“Nothing,” jawabnya singkat, menenangkan nada suaranya agar terdengar alami. “Hanya pekerjaan yang belum aku selesaikan.”
Ia lalu meraih kepala Gabby dan mengusapnya dengan lembut. Sentuhan itu membuat gadis itu tersenyum kecil, meski masih memandangi ayahnya dengan tatapan curiga.
Gabby menaikkan alisnya. Ia tahu betul nada suara ayahnya ketika sedang menutupi sesuatu—bukan kebohongan, tapi semacam hal yang tidak ingin dibicarakan.
Namun, gadis itu terlalu malas untuk menekannya lebih jauh.
“By the way, Papa. Kau mengantar Alessia sampai depan apartemennya, kan?” tanyanya dengan nada santai, seolah hanya ingin memastikan sesuatu yang sepele.
Leonardo menoleh dan mengangguk. “Ya,” jawabnya datar. “Dan sepertinya tidak ada yang memotretku kali ini. Anak nakal itu sudah kuberi pelajaran karena sudah bermain-main denganku.”
Gabby lantas terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
“Papa ini, terdengar seperti detektif yang baru saja menaklukkan musuh,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi baguslah kalau tidak ada masalah lagi.”
Leonardo hanya mengangguk ringan. Namun, tatapannya sempat melayang sesaat ke arah tablet yang tadi dia tutup.
Hal yang baru saja dia cari dan masih dia sembunyikan dari siapa pun termasuk anak semata wayangnya—Gabby.
“Gabby,” panggil Leonardo kemudian.
“Ya, Pa?” Gadis itu menoleh dan kali ini memperhatikan ayahnya dengan lebih fokus.
Leonardo menatapnya dalam-dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang berat untuk diucapkan.
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” ujarnya pelan, lalu menambahkan setelah jeda singkat, “Tentang Alessia.”
Tiga bulan pertama pernikahan mereka seharusnya menjadi masa transisi yang tenang, di mana Rafael fokus memperkuat fondasi GRB-Enterprises dan Gabby kembali mengelola jaringan restorannya.Namun, alam semesta tampaknya memiliki rencana percepatan untuk keluarga kecil ini.Pagi itu, suasana di kediaman Deveroux yang biasanya teratur berubah menjadi sedikit kacau.Gabby sudah menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam kamar mandi utama, suara mualnya terdengar samar hingga ke telinga Rafael yang sedang merapikan dasi di depan cermin.Rafael terdiam, tangannya membeku. Ingatannya melayang pada cerita Gabby tentang masa-masa sulitnya saat mengandung Bianca sendirian di London.“Gabby? Kau baik-baik saja?” Rafael mengetuk pintu dengan cemas.Pintu terbuka pelan. Gabby muncul dengan wajah pucat, namun matanya berbinar dengan cara yang sulit dijelaskan.Di tangannya, dia menggenggam sebuah benda plastik kecil. Tanpa berkata-kata, ia menyerahkannya pada Rafael.Dua garis merah. Tegas dan jel
Pulau pribadi keluarga Deveroux di perairan Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu berakhirnya badai delapan tahun yang lalu.Air laut yang biru jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi, berpadu dengan dekorasi serba putih yang melilit pilar-pilar kayu ulin di tepi pantai.Tidak ada media, tidak ada kolega bisnis yang datang demi kepentingan politik, hanya keluarga inti dan segelintir sahabat yang menjadi saksi penyatuan kembali dua jiwa yang sempat hancur.Momen yang paling dinantikan tiba saat musik organ mulai mengalun lembut, memainkan melodi yang syahdu. Pintu besar paviliun terbuka, memperlihatkan Bianca yang berjalan lebih dulu.Gadis kecil itu tampak seperti malaikat dalam balutan gaun tutu putih dengan aksen mutiara dan mahkota bunga melati di kepalanya.Dia membawa kotak cincin beludru dengan langkah yang sangat bangga, sesekali melambai ke arah Rafael yang sudah berdiri di altar dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.Lalu, suasana menjadi sunyi saat sosok Gabriella mu
Dua bulan telah berlalu sejak operasi besar yang hampir merenggut nyawa Rafael.Langit sore itu tampak bersih, memantulkan cahaya matahari pada dinding kaca gedung perkantoran baru di kawasan bisnis bergengsi.Di depan lobi gedung tersebut, sebuah papan nama minimalis namun elegan terpahat: GRB-Enterprises.Nama itu bukan sekadar singkatan; itu adalah simbol dari tiga nyawa yang kini menjadi pusat semesta Rafael: Gabriella, Rafael, dan Bianca.Setelah secara resmi melepaskan nama besar Dirgantara, Rafael benar-benar memulai hidupnya dari titik nadir.Dia meninggalkan kemewahan penthouse-nya, mengembalikan mobil-mobil sport miliknya, dan menutup semua akses rekening yang terhubung dengan R-Corp.Dia keluar dari rumah sakit bukan sebagai putra mahkota sebuah dinasti, melainkan sebagai seorang pria yang hanya memiliki harga diri dan cinta di pundaknya.Namun, membangun bisnis dari nol tidak semudah membalik telapak tangan, terutama di bawah pengawasan ketat Leonardo Deveroux.Di ruang ke
Bau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan di koridor lantai khusus ICU. Dokter spesialis bedah saraf terbaik yang didatangkan Leonardo baru saja keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.Penjelasannya singkat namun menghancurkan: pendarahan di bekas luka lama telah menekan saraf pusat. Operasi ulang adalah satu-satunya jalan, namun risikonya sangat fatal.“Peluang keberhasilannya adalah 50:50,” ujar dokter itu dengan nada datar. “Jika gagal, Tuan Rafael mungkin tidak akan pernah bangun lagi, atau mengalami kelumpuhan permanen.”Gabby merasa kakinya lemas, ia nyaris ambruk jika Alessia tidak mendekapnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang perawat keluar dan mengatakan bahwa Rafael ingin bertemu dengan Leonardo Deveroux. Sendirian.Di dalam ruang isolasi yang dingin, Rafael terbaring dengan berbagai alat penunjang hidup.Napasnya pendek, namun matanya terbuka, menatap langit-langit dengan kesadaran yang dipaksakan. Saat pintu terbuka dan Leo
Hari-hari berikutnya setelah amukan Leonardo di aula besar menjadi periode yang paling sunyi sekaligus paling tegang dalam sejarah kediaman Deveroux.Rafael, yang menyadari bahwa kekuatan finansial dan kemarahan tidak akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Leonardo, mengubah taktiknya menjadi “serangan lembut”.Dia tidak lagi datang dengan pengawal atau tuntutan hukum, melainkan dengan kerendahan hati yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Dirgantara.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kiriman tiba di gerbang utama.Bunga peony putih langka yang sangat segar untuk Alessia, bunga kesukaannya yang hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu dan satu kotak cerutu Cohiba Behike yang sudah tidak diproduksi lagi untuk Leonardo.Setiap kiriman disertai kartu kecil dengan tulisan tangan Rafael yang rapi namun tegas: “Aku tidak meminta harta Anda, aku hanya meminta kesempatan untuk menjadi ayah yang baik.”Alessia mulai luluh. Dia sering menatap bunga-bung
Pagi itu, sinar matahari yang hangat menyapu halaman depan kediaman Deveroux, menciptakan pemandangan yang seharusnya menjadi potret kedamaian.Rafael sedang berdiri di dekat air mancur, menggendong Bianca yang tertawa riang sambil menceritakan tentang proyek sains sekolahnya.Rafael menatap putrinya dengan binar mata yang penuh pemujaan, sementara Bianca melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ayah, merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya.Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Pintu terbuka bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.Leonardo Deveroux melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tongkatnya yang berujung perak menghantam aspal dengan bunyi dentuman yang mengancam.Leonardo seharusnya masih berada di Singapura untuk pertemuan dewan direksi selama tiga hari lagi.Namun, laporan dari intelijen pribadinya tentang apa yang terjadi di paviliun sema







