LOGINAlessia langsung memukul pelan lengan Gabby dengan ekspresi setengah jengkel. “Kau gila ya?!” serunya dan pipinya memanas karena ucapan Gabby tadi.
Gabby tergelak lalu mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Hei, hei! Tenang. Aku hanya bercanda, Alessia,” katanya sambil mengerling jahil.
“Tapi serius deh, kau harus segera punya pacar. Biar gosip murahan dari Thomas itu cepat mati.”
Alessia mendengus dan memutar sedotan di gelas jus jeruknya. Tidak mau menanggapi ucapan sahabatnya itu. Hatinya masih panas karena ucapan Gabby barusan, meskipun dia tahu sahabatnya itu hanya menggoda.
“Lihat wajahmu itu,” lanjut Gabby lalu pura-pura menghela napas panjang. “Bahkan kalau kau diam seperti ini, orang akan makin yakin kau menyimpan sesuatu.”
“Gabby, berhenti,” kata Alessia pelan, tapi nada suaranya cukup membuat Gabby berhenti tertawa.
Suasana kantin mendadak sunyi di antara mereka. Gabby menatap Alessia beberapa detik, lalu ponselnya bergetar.
Ia menunduk dan membaca sebuah pesan yang masuk, lalu senyum samar terbit di bibirnya.
“Ayahku mengajak kita makan malam bersama,” katanya dengan nada santai.
Alessia langsung menggeleng. “Aku tidak bisa,” tolaknya dengan cepat.
“Kenapa?” Gabby menaikkan alisnya, jelas tidak puas dengan jawaban singkat itu. “Kau sudah tahu rumahku dan mulai hari ini kau harus sering datang ke rumahku, Alessia!”
Namun, Alessia hanya diam sambil menghabiskan sisa minumannya.
Gabby lantas menyipitkan matanya. “Aku tahu malam ini kau libur kerja, Alessia!”
Alessia menghela napas kasar. “Karena sedang libur, aku ingin istirahat di rumah,” sahut Alessia cepat.
Ia menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya sendiri.
Sebenarnya bukan soal merepotkan. Tapi bertemu Leonardo di rumah setelah kejadian malam itu—tatapan matanya, kata-katanya—itu membuat jantung Alessia seperti dikejar sesuatu.
Gabby mendesah pendek. “Selalu saja beralasan.”
Alessia memaksakan senyum tipis. “Maaf, Gabby. Mungkin lain kali saja. Sampaikan pada ayahmu, ya?”
“Hh! Baiklah.” Gabby melihat ke jendela, awan sudah mendung dan jam sudah menunjuk angka empat sore.
Gerimis kecil yang tadi hanya membasahi jalan kini berubah menjadi hujan deras yang mengguyur tanpa ampun.
“Ayo, pulang!” ajak Gabby sambil beranjak dari duduknya.
Alessia mengangguk dan beranjak dari duduknya mengikuti langkah Gabby menuju parkiran.
“Setidaknya aku mengantarmu ke apartemenmu meskipun kau menolak makan malam di rumahku,” ujar Gabby sambil melajukan mobilnya.
Sementara Alessia hanya menempelkan dahinya ke jendela mobil milik Gabby, tengah memperhatikan tetesan air yang memburamkan pandangan ke luar.
“Lihat ini,” keluh Gabby dari kursi pengemudi. “Hujan deras dan jalanan macet. Sangat luar biasa.”
Alessia hanya tersenyum tipis. “Setidaknya kita sudah hampir sampai apartemenku.”
Tapi seperti adegan buruk dalam film, suara mesin mobil tiba-tiba mengerang, lalu mati total. Lampu dashboard pun mulai berkedip-kedip.
“Jangan bilang—” Gabby mencoba men-starter ulang. Tapi mesin tetap mati.
“Kau bercanda, kan?” tanya Alessia tampak mulai panik.
“Sayangnya tidak,” jawab Gabby sambil mengetuk setir. “Mobil sialan ini mogok, Alessia.”
Alessia menarik napas panjang dan mengusap rambutnya yang mulai lembap sambil menatap Gabby yang sedang menggerutu karena mobilnya tiba-tiba mogok.
“Baiklah,” gumam Gabby. “Saat seperti ini, hanya ada satu orang yang bisa kuhubungi.”
Alessia menoleh dengan cepat. “Jangan bilang—”
“Ya,” potong Gabby dengan senyum tipis. “Papa.”
**
Butuh waktu dua puluh menit sebelum lampu mobil hitam mewah menembus derasnya hujan sore itu.
Alessia menunduk dalam jaketnya, berharap hujan segera reda—atau setidaknya berharap bumi menelannya bulat-bulat.
Dari balik kaca kabur, dia melihat Leonardo keluar dari mobil. Pria itu mengenakan jas gelap, rambutnya sedikit basah oleh air hujan, dan membuatnya terlihat semakin berwibawa.
Alessia menelan ludahnya tanpa sadar memperhatikan langkah Leonardo yang begitu menawan.
Leonardo mengetuk kaca jendela dan Gabby langsung membuka pintu. “Maaf, Pa. Mobilku benar-benar mati,” ucapnya sedikit menyesal.
Leonardo tidak banyak bicara. Hanya menatap kondisi mobil sekilas, lalu menatap mereka berdua.
“Kalian berdua ikut aku. Mobil ini tidak akan hidup dengan cepat. Aku akan menghubungi montir dan membawanya ke bengkel.”
Gabby mengangguk cepat dan keluar dari mobil dengan payung. Sementara Alessia ragu-ragu beberapa detik, tapi akhirnya ikut keluar. Hujan begitu deras, bahkan udara pun terasa menggigit kulitnya karena dingin.
Namun sebelum Gabby masuk ke mobil ayahnya, ponselnya berdering. Ia melihat layar dan wajahnya berubah jadi kesal.
“Asisten dosenku menelepon. Aku harus ke kampus lagi—katanya file seminar untuk besok error semua.” Ia mendesah panjang lalu menatap Alessia dan ayahnya bergantian.
“Pa, boleh Alessia ikut pulang bersamamu? Aku harus pergi ke kampus lagi.”
Alessia membelalak. “Apa?! Ta-tapi, Gabby!”
Leonardo menatapnya dengan tenang. “Tentu.”
“T-tunggu! Aku bisa naik taksi—”
Gabby langsung menggeleng. “Di hujan seperti ini? Tidak mungkin. Lagi pula, Papa arah pulangnya sejalan dengan apartemenmu. Jangan banyak alasan, Alessia.”
Alessia sontak kehabisan kata. Akhirnya, dengan langkah ragu, dia masuk ke dalam mobil Leonardo.
Begitu pintu tertutup, suara hujan terdengar seperti irama jauh—meninggalkan mereka dalam keheningan di dalam mobil yang hangat dan remang.
Hanya ada mereka berdua. Lampu jalan memantul di kaca depan, menerangi wajah Leonardo dari samping.
Alessia menundukkan kepalanya mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba tidak teratur.
“Kau basah,” suara baritonnya terdengar tenang.
Alessia terperanjat. “Hah?”
Leonardo merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sapu tangan putih bersih. “Pakai ini.”
Alessia menerimanya dengan tangan gemetar. Saat ujung jari mereka bersentuhan, sesuatu seperti aliran listrik kecil menyusup ke dalam kulitnya. Napas Alessia pun langsung tercekat.
Leonardo berhenti sejenak, dan matanya turun ke arah tangannya yang menyentuh jari Alessia.
Lalu dia berkata pelan, “Tanganmu dingin sekali.”
Alessia buru-buru menarik tangannya. “A-aku baik-baik saja, Paman.”
Leonardo tidak mengalihkan pandangannya dari jalan, tapi senyum samar muncul di sudut bibirnya. “Kau selalu begini kalau gugup?”
Pertanyaan itu seperti petir kecil di dada Alessia. Ia membeku di kursinya, sapu tangan itu masih tergenggam di tangannya.
“A-aku tidak gugup, Paman,” jawabnya cepat bahkan terlalu cepat.
“Benarkah?” tanyanya dengan alis terangkat. “Jangan takut. Aku tidak akan melakukan sesuatu padamu.”
Tiga bulan pertama pernikahan mereka seharusnya menjadi masa transisi yang tenang, di mana Rafael fokus memperkuat fondasi GRB-Enterprises dan Gabby kembali mengelola jaringan restorannya.Namun, alam semesta tampaknya memiliki rencana percepatan untuk keluarga kecil ini.Pagi itu, suasana di kediaman Deveroux yang biasanya teratur berubah menjadi sedikit kacau.Gabby sudah menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam kamar mandi utama, suara mualnya terdengar samar hingga ke telinga Rafael yang sedang merapikan dasi di depan cermin.Rafael terdiam, tangannya membeku. Ingatannya melayang pada cerita Gabby tentang masa-masa sulitnya saat mengandung Bianca sendirian di London.“Gabby? Kau baik-baik saja?” Rafael mengetuk pintu dengan cemas.Pintu terbuka pelan. Gabby muncul dengan wajah pucat, namun matanya berbinar dengan cara yang sulit dijelaskan.Di tangannya, dia menggenggam sebuah benda plastik kecil. Tanpa berkata-kata, ia menyerahkannya pada Rafael.Dua garis merah. Tegas dan jel
Pulau pribadi keluarga Deveroux di perairan Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu berakhirnya badai delapan tahun yang lalu.Air laut yang biru jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi, berpadu dengan dekorasi serba putih yang melilit pilar-pilar kayu ulin di tepi pantai.Tidak ada media, tidak ada kolega bisnis yang datang demi kepentingan politik, hanya keluarga inti dan segelintir sahabat yang menjadi saksi penyatuan kembali dua jiwa yang sempat hancur.Momen yang paling dinantikan tiba saat musik organ mulai mengalun lembut, memainkan melodi yang syahdu. Pintu besar paviliun terbuka, memperlihatkan Bianca yang berjalan lebih dulu.Gadis kecil itu tampak seperti malaikat dalam balutan gaun tutu putih dengan aksen mutiara dan mahkota bunga melati di kepalanya.Dia membawa kotak cincin beludru dengan langkah yang sangat bangga, sesekali melambai ke arah Rafael yang sudah berdiri di altar dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.Lalu, suasana menjadi sunyi saat sosok Gabriella mu
Dua bulan telah berlalu sejak operasi besar yang hampir merenggut nyawa Rafael.Langit sore itu tampak bersih, memantulkan cahaya matahari pada dinding kaca gedung perkantoran baru di kawasan bisnis bergengsi.Di depan lobi gedung tersebut, sebuah papan nama minimalis namun elegan terpahat: GRB-Enterprises.Nama itu bukan sekadar singkatan; itu adalah simbol dari tiga nyawa yang kini menjadi pusat semesta Rafael: Gabriella, Rafael, dan Bianca.Setelah secara resmi melepaskan nama besar Dirgantara, Rafael benar-benar memulai hidupnya dari titik nadir.Dia meninggalkan kemewahan penthouse-nya, mengembalikan mobil-mobil sport miliknya, dan menutup semua akses rekening yang terhubung dengan R-Corp.Dia keluar dari rumah sakit bukan sebagai putra mahkota sebuah dinasti, melainkan sebagai seorang pria yang hanya memiliki harga diri dan cinta di pundaknya.Namun, membangun bisnis dari nol tidak semudah membalik telapak tangan, terutama di bawah pengawasan ketat Leonardo Deveroux.Di ruang ke
Bau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan di koridor lantai khusus ICU. Dokter spesialis bedah saraf terbaik yang didatangkan Leonardo baru saja keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.Penjelasannya singkat namun menghancurkan: pendarahan di bekas luka lama telah menekan saraf pusat. Operasi ulang adalah satu-satunya jalan, namun risikonya sangat fatal.“Peluang keberhasilannya adalah 50:50,” ujar dokter itu dengan nada datar. “Jika gagal, Tuan Rafael mungkin tidak akan pernah bangun lagi, atau mengalami kelumpuhan permanen.”Gabby merasa kakinya lemas, ia nyaris ambruk jika Alessia tidak mendekapnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang perawat keluar dan mengatakan bahwa Rafael ingin bertemu dengan Leonardo Deveroux. Sendirian.Di dalam ruang isolasi yang dingin, Rafael terbaring dengan berbagai alat penunjang hidup.Napasnya pendek, namun matanya terbuka, menatap langit-langit dengan kesadaran yang dipaksakan. Saat pintu terbuka dan Leo
Hari-hari berikutnya setelah amukan Leonardo di aula besar menjadi periode yang paling sunyi sekaligus paling tegang dalam sejarah kediaman Deveroux.Rafael, yang menyadari bahwa kekuatan finansial dan kemarahan tidak akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Leonardo, mengubah taktiknya menjadi “serangan lembut”.Dia tidak lagi datang dengan pengawal atau tuntutan hukum, melainkan dengan kerendahan hati yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Dirgantara.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kiriman tiba di gerbang utama.Bunga peony putih langka yang sangat segar untuk Alessia, bunga kesukaannya yang hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu dan satu kotak cerutu Cohiba Behike yang sudah tidak diproduksi lagi untuk Leonardo.Setiap kiriman disertai kartu kecil dengan tulisan tangan Rafael yang rapi namun tegas: “Aku tidak meminta harta Anda, aku hanya meminta kesempatan untuk menjadi ayah yang baik.”Alessia mulai luluh. Dia sering menatap bunga-bung
Pagi itu, sinar matahari yang hangat menyapu halaman depan kediaman Deveroux, menciptakan pemandangan yang seharusnya menjadi potret kedamaian.Rafael sedang berdiri di dekat air mancur, menggendong Bianca yang tertawa riang sambil menceritakan tentang proyek sains sekolahnya.Rafael menatap putrinya dengan binar mata yang penuh pemujaan, sementara Bianca melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ayah, merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya.Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Pintu terbuka bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.Leonardo Deveroux melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tongkatnya yang berujung perak menghantam aspal dengan bunyi dentuman yang mengancam.Leonardo seharusnya masih berada di Singapura untuk pertemuan dewan direksi selama tiga hari lagi.Namun, laporan dari intelijen pribadinya tentang apa yang terjadi di paviliun sema







