Compartilhar

Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan
Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan
Autor: Meong

Bab 1

Autor: Meong
Ziva tersenyum dan menyela ucapannya, "Aku mengerti. Kamu nggak perlu menjelaskan. Sana, lanjutkan bermain. Jangan sampai merusak keseruan semua orang."

Pada saat itu, Felix tertegun.

Selama sebulan terakhir, Ziva seolah benar-benar telah berubah menjadi orang lain.

Ziva tidak lagi mempermasalahkan kepulangannya yang larut malam, tidak lagi memeriksa ponselnya, dan tidak lagi menunjukkan sedikit pun kepedulian terhadap perempuan mana pun yang muncul di sekitarnya.

Bahkan saat kaki Vira terkilir beberapa waktu lalu, Felix mengantarnya ke rumah sakit dan menemaninya hingga baru pulang tengah malam. Ziva hanya tidur lebih awal dan keesokan harinya bahkan tidak menyinggung hal itu sepatah kata pun.

Dia seperti air dalam yang tiba-tiba tidak lagi menimbulkan riak, begitu tenang, tetapi justru membuat orang merasa gelisah.

"Aku nggak mau bermain lagi." Tenggorokan Felix terasa tercekat. Dia mengambil jaketnya. "Kamu memang nggak pernah suka acara seperti ini. Aku bakal mengantarmu pulang."

Ziva menghela napas tidak berdaya. "Kalian baru saja mulai ...."

"Ayo!"

Tanpa memberi Ziva kesempatan untuk menolak, dia menarik Ziva berdiri, berpamitan kepada semua orang, lalu meninggalkan ruangan itu.

Baru saja mereka masuk ke dalam mobil, jendela mobil itu diketuk.

Felix menurunkan jendela. Vira berdiri di luar dengan rambut panjang yang sedikit berkibar ditiup angin malam.

Sambil tersenyum, dia menunjuk awan yang menumpuk di kejauhan. "Sepertinya bakal hujan. Semua orang sudah bubar. Aku nggak bisa mendapatkan taksi. Boleh sekalian mengantarku pulang?"

Felix bahkan belum sempat membuka mulut ketika Ziva sudah tersenyum dan membukakan pintu mobil.

"Tentu saja boleh. Oh, ya, aku ingat kamu mabuk kendaraan. Duduklah di depan."

Felix tertegun.

Vira juga tertegun. Senyum yang telah dipersiapkannya membeku di sudut bibirnya. Dia menatap Ziva, seulas keterkejutan melintas di matanya, sebelum akhirnya masuk dan duduk di dalam.

"Kalau begitu ... terima kasih."

Mobil melaju menembus malam, sementara suara Vira mengalun lembut di dalam mobil.

"Felix, kamu masih ingat? Waktu SMA dulu, juga pada hari hujan seperti ini. Aku lupa membawa payung, tanpa berpikir panjang kamu langsung melepaskan seragam sekolahmu buat menutupi kepalaku. Kamu sendiri kehujanan sambil menemaniku berjalan pulang. Akibatnya, keesokan harinya kamu demam."

Jakun Felix bergerak. Suaranya terdengar agak rendah. "Ya, aku ingat."

"Selain itu, waktu itu aku sakit perut karena lagi haid. Kamu bahkan membolos dari bimbingan olimpiade, manjat tembok buat keluar, dan beliin aku wedang jahe. Tapi kamu tertangkap basah sama guru dan harus membacakan surat pernyataan di depan bendera."

"Aku ingat."

"Menjelang ujian masuk perguruan tinggi, aku sangat tertekan. Setiap hari, kamu melipat satu burung bangau kertas dan meletakkannya di dalam laci mejaku. Di atasnya tertulis kata-kata penyemangat, sampai terkumpul satu kotak penuh."

"Aku ingat."

Mereka saling menyambung percakapan tanpa memedulikan orang lain. Nada suara Vira manis dan lembut, dipenuhi nostalgia. Tanggapan Felix singkat, tetapi setiap ucapannya selalu menanggapi dengan tenang.

Sambil berbicara, Vira melirik melalui kaca spion dan melemparkan pandangan penuh kemenangan sekaligus provokatif ke arah kursi belakang.

Dia menunggu untuk melihat Ziva kehilangan kendali, menahan diri, atau setidaknya menunjukkan sedikit ketidaksenangan.

Namun, Ziva hanya duduk diam di kursi belakang, sedikit menundukkan kepala, sementara jemarinya dengan cepat menggeser layar ponsel.

Vira membelalakkan mata dengan tidak percaya!

Provokasinya sudah sejelas itu. Felix dan dirinya juga begitu asyik mengenang masa lalu, tetapi Ziva ... malah sedang bermain Candy Crush Saga?

Dia benar-benar tidak menunjukkan reaksi apa pun?

Felix juga melihat Ziva melalui kaca spion. Dia menatap layar ponselnya dengan penuh perhatian, sedikit mengernyitkan kening, seolah sedang kesulitan melewati suatu level. Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri dan sama sekali tidak memedulikan percakapan mereka sebelumnya.

Rasa kesal yang muncul entah dari mana itu kembali mencengkeramnya. Felix menggenggam erat setir dan baru saja hendak membuka mulut.

Meong!

Seekor kucing hitam tiba-tiba melompat keluar dari pinggir jalan.

Felix membanting setir, membuat mobil kehilangan kendali dan langsung menabrak pembatas jalan.

Dalam benturan hebat itu, Felix secara naluriah mengulurkan tangan untuk melindungi Vira yang duduk di kursi penumpang depan.

Sementara itu, Ziva yang duduk di kursi belakang terlempar keras ke depan hingga dahinya menghantam sandaran kursi depan.

Rasa sakit yang hebat langsung menyerang, diikuti cairan hangat yang seketika mengalir dari dahinya.

"Ziva!" Felix menoleh ke belakang. Melihat wajahnya berlumuran darah, wajahnya langsung pucat. "Kamu gimana? Bagian mana yang terluka? Sini, biar aku lihat!"

"Aku nggak apa-apa." Ziva menyeka darah yang menutupi matanya dengan punggung tangan. Suaranya terdengar sedikit lemah, tetapi tetap tenang. "Cuma terbentur sedikit. Nanti pulang tinggal dikasih obat. Antar Nona Vira dulu saja."

Felix tidak bisa membantahnya dan hanya bisa menyalakan kembali mobil.

Setelah mengantar Vira pulang, Felix langsung memacu mobil dengan kecepatan tinggi untuk membawa Ziva pulang.

Begitu masuk ke dalam rumah, dia segera mencari kotak P3K. Kedua tangannya bahkan gemetar.

"Ziva, tadi aku ..." Dia ingin menjelaskan.

"Aku tahu." Ziva mengambil kapas lidi dan mengobati lukanya sendiri sambil bercermin di depan cermin dekat pintu masuk. "Kamu lebih dekat dengannya. Wajar kalau secara naluriah kamu melindunginya. Aku mengerti."

Felix menatap wajah sampingnya yang tenang. Amarah yang dipendamnya selama sebulan, bersama dengan kegelisahan yang tidak jelas asalnya, tiba-tiba meluap.

Dia langsung merebut kapas lidi dari tangan Ziva dan melemparkannya ke lantai.

"Ziva! Sudah sebulan!" Felix mencengkeram bahunya, suaranya bergetar. "Kalimat yang paling sering kamu ucapkan cuma 'aku mengerti', 'aku paham', dan 'aku nggak marah'! Sebenarnya kamu maunya apa? Apa kamu masih marah karena kejadian malam itu? Aku waktu itu mabuk! Kita cuma sama-sama terbawa emosi! Aku juga sudah minta maaf! Kita juga nggak putus! Jadi, sebenarnya kamu mau aku bagaimana?"

Ziva sampai merasa pandangannya menggelap karena diguncang oleh Felix, sementara luka di dahinya berdenyut nyeri.

Dia menghela napas pelan, nadanya terdengar hampir tidak berdaya. "Felix, aku benar-benar nggak marah. Aku juga nggak memikirkannya lagi."

"Aku nggak percaya!"

Ziva menatapnya, lalu perlahan mengangkat tiga jari. "Aku bersumpah, kalau aku masih marah karena masalah itu, biar aku disambar petir. Puas?"

Tatapannya begitu jernih dan nadanya sangat meyakinkan, tanpa sedikit pun kemarahan atau kepura-puraan.

Felix tertegun. Cengkeramannya di bahu Ziva perlahan mengendur.

Dia benar-benar tidak marah?

Apa jangan-jangan selama ini dia hanya terlalu banyak berpikir? Ziva hanya ... menjadi lebih dewasa?

"Kalau begitu ...." Suaranya merendah. "Jangan begini lagi. Dulu, kamu nggak seperti ini."

"Memangnya aku dulu seperti apa?"

"Dulu, kamu bakal cemburu, mempermasalahkan banyak hal, dan peduli padaku."

Mendengar itu, Ziva tiba-tiba tersenyum tipis. "Bukannya itu berarti aku dulu nggak dewasa dan nggak pengertian? Bukannya sekarang lebih baik?"

Felix terdiam.

Dia membuka mulut, tetapi mendapati dirinya tidak mampu membantah.

Pada akhirnya, seolah berhasil meyakinkan dirinya sendiri, dia melepaskan Ziva dan berbalik menuju kamar mandi.

"Aku mandi dulu."

Pintu tertutup, lalu terdengar suara air mengalir.

Senyum di wajah Ziva perlahan menghilang, seolah tersapu oleh air laut yang surut.

Dia berjalan ke dekat jendela. Malam tampak begitu pekat.

Layar ponselnya menyala. Ada pemberitahuan surel baru.

[Nona Ziva, selamat! Anda telah lolos tahap akhir audisi pemeran utama untuk Tur Nasional Teater. Harap tiba di Neo Yark sebelum akhir bulan ini untuk memulai tur dunia selama tiga tahun. Mohon mengatur urusan pribadi Anda dengan baik.]

Ziva menundukkan pandangan dan mengetik balasan singkat. [Baik.]

Kemudian, dia mengangkat pandangannya ke arah kamar mandi.

Di balik kaca buram, uap air memenuhi ruangan, membuat sosok di dalamnya tampak samar.

Suara air yang mengalir terus terdengar.

Ziva memang benar-benar tidak marah lagi.

Karena syarat untuk tidak lagi marah adalah ....

Dia sudah tidak mencintainya lagi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status