LOGINUntuk ke-99 kalinya, pacarku salah menekan tombol lift hingga kami berhenti di lantai tempat sahabatku tinggal. Bukannya meminta maaf, dia malah menatapku dan bertanya dengan nada menyalahkan, "Kenapa kamu nggak ngingetin aku? Ah sudahlah. Mumpung sudah sampai sini, sekalian saja ganti bohlam di apartemen Winna." Aku hanya terpaku sesaat sebelum memaksakan seulas senyum tipis. Lagi-lagi kalimat itu. "Mumpung sudah sampai sini." Sejak Winna Satriya pindah ke unit tepat di atas apartemenku setahun yang lalu, pacarku selalu saja "tak sengaja" menekan tombol lift ke lantai yang salah. Kalau kami berencana menonton film, dia akan mampir dulu ke apartemen Winna sambil membawa dua gelas teh susu. Saat aku demam tinggi dan memintanya mengantarkan obat, obat itu justru berakhir di tangan Winna yang sedang datang bulan. Alhasil, kencan kami yang seharusnya berdua berubah jadi bertiga, sementara obat penurun demamnya malah dipakai sebagai obat pereda nyeri haid. Bahkan saat ulang tahunku, dia lebih dulu membawa kue ke apartemen Winna. "Mumpung sudah sampai sini, anggap saja sekalian merayakan 300 hari persahabatan kalian." "Mumpung sudah sampai sini, kebetulan saluran air di apartemen Winna mampet. Sekalian bantu benerin, ya." Dan sekarang, saat kulihat dia melangkah masuk ke apartemen sahabatku tanpa sekali pun menoleh ke belakang, aku menekan tombol tutup lift dengan wajah dingin.
View MoreSejak saat itu, hubunganku dengan mereka benar-benar berakhir.Aku tak perlu lagi menebak-nebak hubungan mereka, juga tak perlu terus terjebak dalam pergulatan batin yang menguras diriku.Hidup kembali tenang, dan aku mulai mencurahkan seluruh tenagaku pada pekerjaan.Proyek yang kuselesaikan sebelumnya berhasil melewati tahap serah terima dengan sangat baik. Klien pun merasa sangat puas.Perusahaan memberiku bonus sebagai bentuk penghargaan. Jumlahnya bahkan jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.Setelah rapat selesai, atasan menatapku sambil tersenyum."Di kantor cabang sedang ada posisi supervisor yang kosong. Safira, kamu tertarik nggak?"Aku tertegun sejenak, belum langsung memahami maksudnya."Bukan sekarang. Keputusannya baru akan dibuat setelah Tahun Baru," kata atasan sambil melambaikan tangan. "Pikirkan dulu baik-baik. Nggak perlu buru-buru menjawab."Pengakuan yang kudapat dari pekerjaanku memberiku rasa tenang dan kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Saat p
Setelah hari itu, Sakha tidak pernah lagi menghubungiku ataupun datang mencariku.Aku dengar dia mengajukan diri untuk penugasan ke luar kota, ke sebuah kota yang jauh di wilayah utara.Seorang teman meneleponku dengan nada takjub."Katanya dia sendiri yang ngajuin permohonan itu. Sudah berapa orang mencoba bujuk dia, tapi dia tetap nggak mau berubah pikiran. Padahal begitu banyak proyek yang sedang dia tangani, semuanya langsung ditinggalin begitu saja. Safira ... apa ini karena kamu?"Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pembicaraan.Ada hubungannya atau tidak, semua itu sudah tidak penting lagi.Mulai sekarang kami akan menjalani hidup masing-masing di tempat yang berbeda, tanpa saling berkaitan lagi. Mungkin memang itulah akhir terbaik bagi kami.Tak lama kemudian, aku juga mendengar kabar tentang Winna.Tidak lama setelah aku putus dengan Sakha, dia menyatakan perasaannya kepada pria itu.Namun Sakha justru bersikap sangat dingin, bahkan terus terang berk
Setibanya kembali di Kota Naraya, baru saja pesawat mendarat, aku langsung menerima telepon dari rekan kerjaku."Halo, Kak Safira. Syukurlah akhirnya Kakak ngangkat telepon.""Ada orang yang mengaku sebagai pacar Kakak. Dia sudah duduk di ruang tamu sejak pagi dan tetap nggak mau pergi meski sudah kami bujuk berkali-kali."Setibanya di kantor, Sakha masih duduk di ruang tamu.Baru beberapa hari tidak bertemu, dia sudah tampak jauh lebih kuyu.Kemejanya kusut, dagunya dipenuhi janggut tipis yang mulai tumbuh, dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. Sorot matanya seketika berbinar."Safira ... kamu sudah pulang."Demi menghindari keributan di kantor, aku mengajaknya ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari sana.Setelah kami duduk berhadapan, Sakha akhirnya membuka percakapan dengan suara pelan."Safira, kamu pindah rumah. Kenapa nggak ngabarin aku?"Aku memotong ucapannya dengan tenang, "Sakha, kita sudah putus.""Putus?" Dia meng
Setelah pindah rumah, hidupku menjadi jauh lebih tenang.Dulu, demi menyesuaikan jadwal Sakha, aku selalu mengesampingkan urusanku sendiri.Dinas luar kutolak, pelatihan kutolak, bahkan acara kumpul dengan teman-teman pun selalu kutolak.Setiap kali atasan bertanya siapa yang bersedia ditugaskan ke luar kota, aku hanya menundukkan kepala dan tak pernah berani mengajukan diri.Lama-kelamaan semua orang di kantor tahu. "Yang paling penting dalam hidup Safira itu memang cuma pacarnya."Aku mengosongkan seluruh waktuku agar kapan pun Sakha memanggil, aku selalu bisa datang.Namun sekarang berbeda. Yang perlu kupikirkan hanyalah diriku sendiri. Aku tak perlu lagi memusatkan hidupku pada dirinya.Hari itu, di dalam rapat, atasan kembali bertanya, "Minggu depan ada proyek di Kota Bestara. Siapa yang bersedia berangkat?"Ruang rapat langsung hening. Semua orang menundukkan kepala, menghindari tatapan atasan.Minggu depan kebetulan bertepatan dengan Hari Valentine, jadi tak seorang pun ingin be












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.