Short
Bukan Prioritas

Bukan Prioritas

By:  TasyaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Untuk ke-99 kalinya, pacarku salah menekan tombol lift hingga kami berhenti di lantai tempat sahabatku tinggal. Bukannya meminta maaf, dia malah menatapku dan bertanya dengan nada menyalahkan, "Kenapa kamu nggak ngingetin aku? Ah sudahlah. Mumpung sudah sampai sini, sekalian saja ganti bohlam di apartemen Winna." Aku hanya terpaku sesaat sebelum memaksakan seulas senyum tipis. Lagi-lagi kalimat itu. "Mumpung sudah sampai sini." Sejak Winna Satriya pindah ke unit tepat di atas apartemenku setahun yang lalu, pacarku selalu saja "tak sengaja" menekan tombol lift ke lantai yang salah. Kalau kami berencana menonton film, dia akan mampir dulu ke apartemen Winna sambil membawa dua gelas teh susu. Saat aku demam tinggi dan memintanya mengantarkan obat, obat itu justru berakhir di tangan Winna yang sedang datang bulan. Alhasil, kencan kami yang seharusnya berdua berubah jadi bertiga, sementara obat penurun demamnya malah dipakai sebagai obat pereda nyeri haid. Bahkan saat ulang tahunku, dia lebih dulu membawa kue ke apartemen Winna. "Mumpung sudah sampai sini, anggap saja sekalian merayakan 300 hari persahabatan kalian." "Mumpung sudah sampai sini, kebetulan saluran air di apartemen Winna mampet. Sekalian bantu benerin, ya." Dan sekarang, saat kulihat dia melangkah masuk ke apartemen sahabatku tanpa sekali pun menoleh ke belakang, aku menekan tombol tutup lift dengan wajah dingin.

View More

Chapter 1

Bab 1

Dia sudah lupa.

Hari ini adalah hari terakhir masa sewa apartemenku. Hari ini juga, aku akan pindah dan pergi.

Karena dia sudah memilih datang ke sana, biarlah dia tak usah kembali lagi.

….

Saat lift membawaku turun, truk jasa pindahan sudah lebih dulu tiba.

"Nona Safira, kami akan mulai mengangkut barangnya."

Aku mengangguk. Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Sakha masuk.

[Kamu ke mana? Jangan keluyuran.]

Aku sedikit tertegun.

Riwayat obrolan kami hampir seluruhnya dipenuhi pesan dariku.

Bukti bahwa selama ini akulah yang selalu lebih dulu menghubunginya.

Kalimat perhatiannya yang tiba-tiba itu membuat jemariku sedikit bergetar.

Namun, baru saja kubuka percakapan kami, pesan berikutnya darinya langsung muncul.

[Coba turun ke toko perkakas dan belikan kunci inggris. Di tempat Winna nggak ada.]

Aku menatap dua baris pesan itu selama beberapa detik.

Rupanya dia bukan tiba-tiba sadar aku tidak mengikutinya. Dia baru menyadari aku tidak ada di sisinya saat ingin menyuruhku melakukan sesuatu.

Saat kugulir riwayat percakapan kami ke atas, hampir semua pesannya selalu berkaitan dengan Winna.

[Kasih saja set perawatan kulit yang dulu dibawakan rekan kerjamu dari luar negeri itu ke Winna. Nanti aku belikan yang baru buatmu.]

[Winna bilang dia kepingin makan susyi. Nanti setelah kamu pulang kerja kita makan sama-sama. Aku sudah reservasi.]

Setiap pesan yang dikirim Sakha kepadaku selalu berupa pernyataan.

Semua keputusan sudah dia buat sendiri, dan tak sekali pun dia terpikir untuk meminta pendapatku.

Pesan terakhir yang masih kuingat adalah saat hujan deras beberapa hari lalu. Waktu itu aku menghubunginya dan bertanya apakah dia bisa menjemputku.

Dia hanya menjawab, [Aku sudah sampai rumah. Pulang saja naik taksi.]

Namun tak lama kemudian, Winna mengunggah foto di media sosialnya.

Sebuah payung dimiringkan untuk melindunginya saat dia masuk ke kursi penumpang depan.

[Hampir saja kehujanan. Untung ada pahlawan yang datang menyelamatkan.]

Interior mobil itu sangat kukenal.

Dulu aku selalu berpikir, Sakha adalah pacarku, sedangkan Winna adalah sahabat terbaikku. Hubungan mereka yang akrab seharusnya membuatku ikut senang.

Namun, semua kesabaranku hanya membuat Sakha kian menjadi-jadi.

Kali ini, aku tidak membalas pesannya.

Saat sedang membereskan barang-barang di kamar, Sakha kembali mengirim pesan.

[Kenapa belum pulang juga? Winna bilang dia kepingin makan pasta, jadi aku pergi duluan sama dia.]

[Nanti kamu nyusul saja sendiri.]

Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi.

Padahal kami sudah berjanji akan makan bersama.

Namun, setiap kali aku terlambat sedikit saja karena pekerjaan atau terjebak macet, yang tersisa untukku hanyalah makanan yang sudah dingin.

Menghadapi kekecewaanku, Sakha hanya bersikap acuh.

"Lambung Winna memang sensitif, jadi dia makan duluan. Cuma jadi agak dingin sedikit, rasanya juga masih enak. Jangan dibesar-besarin."

Jangan banyak tingkah.

Saat pipa air di apartemenku pecah hingga rumah berantakan, aku meneleponnya meminta bantuan.

Jawabannya juga sama. "Mana sempat aku bantuin kamu? Cari tukang saja sendiri. Jangan banyak tingkah."

Sejak hari itu, aku mencuci gorden sendiri, mengganti bohlam sendiri, dan perlahan belajar untuk tidak lagi bergantung padanya.

Namun di hadapan Winna, Sakha selalu menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda.

"Kamu perempuan, nggak perlu selalu maksain diri. Mulai sekarang kalau ada apa-apa biar aku bantu. Lagi pula kamu tinggal dekat Safira, sekalian saja."

Aku benar-benar tidak mengerti.

Mengapa saat dia membantuku sebagai pacarnya, semuanya dianggap merepotkan, sedangkan membantu Winna selalu disebut sekalian?

Aku menelan pahit di dalam hati, lalu membalas pesannya. [Kalian makan saja. Aku masih ada urusan.]

Setelah sekian lama, barulah dia membalas.

[Masih ngambek juga? Safira, kita ini sudah sama-sama dewasa. Sudahlah, jangan dibesar-besarkan.]

Memang dulu aku pernah membuat keributan.

Musim hujan tahun lalu, aku demam hingga tiga puluh sembilan derajat. Seluruh tubuhku menggigil, jadi aku meneleponnya dan memintanya mengantarkan obat.

Ternyata dia sedang berada di rumah Winna. Katanya, Winna sampai tak bisa bangun dari tempat tidur karena nyeri haid, jadi Sakha sedang merebus Wedang Jahe untuknya.

Aku bilang aku juga sedang tidak enak badan. Dia terdiam selama dua detik, lalu berkata, "Kalau kamu masih bisa nelepon, berarti nggak separah itu, 'kan?"

"Pesan saja lewat layanan antar. Dua puluh menit juga sampai. Tahan sedikit."

Saat itulah, untuk pertama kalinya aku merasa sudah tidak sanggup bertahan lagi.

Jelas-jelas aku pacarnya, tapi aku tak pernah menjadi proritasnya.

Aku pun memilih untuk putus.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia justru lebih dulu memblokir semua kontakku.

Dia tahu aku terlalu mencintainya. Dia tahu aku tidak akan sanggup melepaskannya.

Karena itu dia membiarkanku menangis selama dua hari, sampai air mataku benar-benar habis.

Barulah kemudian Winna mengajakku makan bersama.

Dengan bodohnya, aku memilih untuk kembali berdamai dengan Sakha.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meributkan hubungan kami.

Namun kali ini berbeda.

Aku tidak sedang ngambek. Aku benar-benar serius.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status