Compartilhar

Bab 2

Autor: Meong
Hingga hari ini, Ziva masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan Felix.

Itu terjadi pada hari pertama saat dia pindah dari kota kecil ke kota besar untuk bersekolah di SMA.

Di dalam bus, dia mengobrak-abrik semua sakunya dan baru sadar dompetnya sudah dicuri.

Sopir dengan tidak sabar mendesaknya, "Kalau nggak punya uang, turun!"

Para penumpang di sekitarnya memandangnya dengan aneh sambil berbisik dan menunjuk-nunjuk.

Wajah Ziva memerah. Saat dia sedang tidak tahu harus berbuat apa, seseorang di belakangnya mengulurkan uang.

"Aku yang bayar."

Ziva menoleh dan melihat seorang anak laki-laki berseragam sekolah.

Dia tinggi dan tampan, dengan sorot mata yang dalam serta hidung yang mancung. Seluruh dirinya memancarkan aura dingin dan elegan yang seolah tidak cocok dengan suasana di sekitarnya.

Ziva buru-buru mengucapkan terima kasih. Namun, dia hanya meliriknya sekilas dan berkata, "Sama-sama." Kemudian, pria itu berjalan ke bagian belakang bus, mengenakan penyuara telinga, dan memandang ke luar jendela.

Pertemuan singkat itu cukup untuk menerangi seluruh masa muda Ziva yang sepi.

Kemudian, Ziva baru tahu bahwa dia adalah Felix, siswa paling populer sekaligus idola di sekolah mereka.

Nilainya bagus, keluarganya terpandang, dan wajahnya pun tampan. Dia adalah sosok yang diam-diam disukai oleh banyak siswi.

Namun, di sisinya sudah ada seseorang yang sama-sama bersinar — Vira, primadona sekolah.

Mereka serasi, bak pasangan sempurna yang diakui seluruh sekolah, dan hubungan mereka pun sangat baik.

Rasa suka yang baru saja tumbuh di hati Ziva hanya bisa dia pendam dalam-dalam, hingga berubah menjadi cinta diam-diam yang panjang dan sunyi.

Dia melihat bagaimana Felix selalu memperlakukan Vira dengan penuh perhatian, sekaligus melihat bagaimana Vira memanfaatkan kasih sayangnya dan menyia-nyiakan ketulusan Felix.

Setelah ujian masuk perguruan tinggi berakhir, Vira memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Dia tidak mau menjalani hubungan jarak jauh, sehingga langsung meminta putus dari Felix.

Tidak peduli bagaimana Felix berusaha menahannya, bahkan sampai memohon dengan mengesampingkan harga dirinya, Vira tetap bersikeras pergi.

Pada akhirnya, Vira menarik koper masuk ke area pemeriksaan keamanan tanpa sekali pun menoleh.

Felix berdiri di luar bandara sepanjang malam, seperti patung yang telah kehilangan jiwanya.

Tidak lama setelah itu, Felix menemui Ziva.

Di atap gedung sekolah, dia bersandar pada pagar dan bertanya dengan suara serak, "Ziva, maukah kamu ... bersamaku?"

Saat itu, jantung Ziva berdegup kencang, seolah hampir melompat keluar dari dadanya.

Namun, dia bukan orang bodoh. Dia tahu alasan Felix mencarinya.

Karena selama SMA, Ziva adalah orang yang paling tidak disukai Vira.

Vira selalu menjadi primadona sekolah, sampai pada pertunjukan seni di kelas tiga SMA, Ziva melepas kacamata berbingkai hitam tebalnya dan memotong poni yang selama ini menutupi separuh wajahnya. Wajah cantik yang selama ini tersembunyi itu langsung membuat semua orang terpukau.

Saat itu juga, dia menggeser posisi Vira dan menjadi primadona sekolah yang baru.

Vira terus menyimpan dendam karena hal itu dan selama satu semester selalu mencari masalah dengannya.

Felix sengaja mendatanginya hanya untuk membuat Vira kesal — berpacaran dengan orang yang paling dibencinya agar Vira terpaksa pulang ke negara ini.

Ziva tahu semua itu, tetapi dia tetap mengangguk.

Mereka bersama selama enam tahun.

Ziva berusaha sekuat tenaga untuk memperlakukan Felix dengan baik, sementara Vira juga tidak pernah kembali.

Felix terus menunggu, sampai akhirnya dia seperti menyerah pada keadaan.

Dia mulai membalas cinta Ziva.

Felix mengingat makanan yang disukainya, menemaninya saat sakit, dan mengirimkan bunga saat dia tampil.

Ziva mengira, akhirnya hari-hari mereka mulai membaik.

Sebulan yang lalu, dia bahkan menemukan sebuah cincin berlian di saku pakaian Felix. Di bagian dalam lingkarannya terukir namanya.

Jantung Ziva seketika berhenti berdetak, lalu berdebar kencang. Rasa terkejut dan bahagia yang luar biasa langsung memenuhi hatinya.

Felix akan melamarnya!

Dengan hati-hati, Ziva mengembalikan cincin itu ke tempatnya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Namun, sepanjang hari dia tidak bisa tenang, sudut bibirnya terus terangkat tanpa bisa dikendalikan.

Benar saja, malam itu Felix pulang lebih awal dari biasanya, bahkan memasak sendiri makan malam romantis dengan cahaya lilin, meski hasilnya tidak terlalu berhasil.

Suasananya begitu bagus. Setelah sedikit mabuk oleh anggur merah, keduanya berpelukan dan terjatuh ke ranjang besar di kamar.

Namun, tepat ketika Felix memasuki tubuhnya dan keduanya menyatu erat, di saat mereka sedang larut dalam gairah, ponsel Felix tiba-tiba bergetar.

Felix melirik layarnya.

Kemudian, saat mencapai klimaks, tanpa sadar dia memanggil.

"Vira ...."

Seluruh tubuh Ziva menegang. Dia mengambil ponsel Felix. Layarnya masih menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari Vira.

Hanya ada tiga kata.

[Aku sudah kembali.]

Pada saat itu, Ziva merasa seluruh dunianya runtuh dan hancur di depan mata.

Sambil mengangkat ponsel itu, suaranya bergetar hebat.

"Setelah selama ini ... kamu masih belum melupakannya?"

Felix terdiam. Dia meraih kotak rokok di samping ranjang, mengambil sebatang, lalu menyalakannya. Bara merah menyala itu berkedip-kedip dalam kegelapan, menerangi wajahnya yang tanpa ekspresi.

Diamnya jauh lebih kejam daripada jawaban apa pun.

"Felix!" Ziva meninggikan suara. "Jawab aku!"

Felix mengisap rokoknya beberapa kali dengan kesal, lalu mengembuskan asap putih keabu-abuan. Dia menatap Ziva dari balik kepulan asap. "Cukup! Ziva, sebelum kamu setuju buat bersamaku, bukannya kamu sudah tahu kalau orang yang kusukai itu Vira?"

Ziva tertegun.

Felix bangkit, mengenakan pakaiannya, lalu berbalik hendak pergi.

Saat sampai di pintu, dia berhenti. Dia mengeluarkan cincin itu dari sakunya, menatapnya sekilas, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.

Trang!

Suara nyaring terdengar.

Ziva menatap cincin itu bergulir hingga masuk jauh ke dalam tumpukan sampah. Dadanya terasa seolah ditusuk dengan kejam.

Ternyata, sosok cinta pertamanya yang tidak pernah Felix bicarakan itu tidak pernah dia lupakan.

Hanya dengan satu pesan darinya, Felix sampai mencium pacarnya sekarang sambil memanggil nama mantannya.

Hanya dengan satu kalimat aku sudah kembali darinya, Felix bahkan sampai tidak jadi melamarnya!

Pada saat itu, Ziva benar-benar telah menyerah.

Malam itu juga, dia mengajukan permohonan kepada kelompok teaternya untuk mengikuti tur internasional.

Namun, keesokan harinya, Felix kembali membawa hadiah mahal dan menjelaskan kepadanya bahwa saat itu dirinya terlalu mabuk. Dia hanya kehilangan kendali sesaat dan mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan, jadi dia meminta Ziva untuk tidak memasukkannya ke hati.

Namun, saat menatap Felix, Ziva hanya merasa semua itu menggelikan.

Dia tahu, Felix kembali bukan karena merasa bersalah.

Felix hanya tidak ingin harga dirinya membiarkannya kembali seperti enam tahun lalu, merendahkan diri untuk memohon Vira kembali kepadanya.

Jadi, dia membutuhkan pacar yang sekarang ini untuk tetap berada di sisinya, sebagai kartu truf dan alat untuk berhadapan dengan Vira serta memaksanya menyerah lebih dulu.

Namun, Ziva bukanlah cadangan, apalagi alat.

Kebodohan seperti ini, cukup dilakukan sekali.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status