Share

Bab 5

Author: Meong
Dia menatap wajah Ziva yang tenang dan sorot matanya yang begitu datar tanpa sedikit pun gejolak. Rasa jengkel dan tidak nyaman yang sulit dijelaskan kembali memenuhi dadanya, bahkan terasa lebih kuat daripada sebelumnya.

"Kamu ... masih nggak marah?" tanyanya tanpa bisa menahan diri.

Ziva menatapnya dengan heran. "Kamu punya alasan yang masuk akal. Kenapa aku harus marah?"

Felix langsung terdiam.

Benar, dia punya alasan yang masuk akal. Lalu, mengapa sikap Ziva yang begitu pengertian justru membuat dadanya makin sesak?

Dia lebih memilih Ziva menangis, mengamuk, mempertanyakannya, atau meluapkan amarahnya.

Bukan menjadi pacar sempurna yang tenang, rasional, dan tidak pernah membuat keributan seperti sekarang.

"Aku ...." Felix membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya berkata, "Semua urusan perusahaan beberapa hari ini sudah kutunda. Aku bakal tinggal buat menjagamu."

Felix berdiri dan hendak mengambilkan segelas air untuknya.

Namun, saat itu juga, ponselnya berdering.

Tubuh Felix seketika menegang.

Ziva juga mendengarnya. Dia mengalihkan pandangan ke luar jendela dengan tenang.

Felix sempat ragu, tetapi akhirnya mengeluarkan ponselnya, berjalan ke dekat jendela, lalu mengangkat telepon.

Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, wajah Felix seketika berubah sangat muram. Suaranya pun mendadak meninggi, dipenuhi amarah yang tertahan. "Vira, kamu gila, ya? Berani-beraninya kamu pergi ke hotel bersama dia? Hotel mana? Tunggu aku! Aku segera ke sana!"

Felix menutup telepon dan berbalik. Kecemasan dan kemarahan tampak jelas di wajahnya.

"Ziva, ada sedikit masalah mendadak di perusahaan. Aku harus segera ke sana buat menanganinya. Aku bakal segera kembali!"

Setelah mengatakan itu, Felix meraih jaketnya dan buru-buru meninggalkan kamar rawat.

Pintu ditutup dengan keras hingga menimbulkan suara yang menggelegar.

Kamar rawat itu kembali sunyi.

Ziva berbaring di ranjang, menatap langit-langit tanpa ekspresi.

Dia sudah menduganya sejak awal.

Bahkan tanpa perlu menebak, dia tahu apa yang dikatakan Vira.

Tidak lebih dari kata-kata yang sengaja dilontarkan untuk memprovokasi Felix, membuatnya kehilangan kendali dan meninggalkan pacarnya yang sedang terluka untuk bergegas menghampirinya.

Adegan yang begitu familiar.

Hanya saja, kali ini, bahkan rasa sakit di hatinya pun sudah tidak ada.

Ziva menekan tombol panggil di samping ranjang untuk memanggil perawat, lalu berkata dengan tenang, "Tolong carikan seorang perawat pendamping buatku, yang terbaik. Selain itu, ponselku kehabisan baterai. Bolehkah aku meminjam pengisi daya?"

Selama beberapa hari berikutnya, Ziva menyewa seorang perawat pendamping sendiri dan beristirahat dengan tenang untuk memulihkan lukanya.

Felix tidak pernah menelepon lagi untuk menanyakan keadaannya, bahkan tidak pernah muncul.

Ziva juga tidak mengganggunya. Dia menghabiskan waktu sendirian dengan tenang di kamar rawat, membaca buku, menonton serial, dan sesekali mengobrol dengan perawat pendampingnya.

Pada hari dia keluar dari rumah sakit, cuacanya sangat cerah.

Ziva mengurus semua prosedur kepulangannya sendiri, lalu naik taksi pulang ke rumah.

Rumah itu masih terasa dingin dan kosong seperti sebelumnya. Dia meletakkan barang-barangnya, lalu mulai mengurus beberapa hal terakhir sebelum pergi ke luar negeri.

Hari itu, Ziva keluar untuk mengurus beberapa dokumen.

Setelah semuanya selesai, suasana hatinya cukup baik. Dia membeli kopi panas di pinggir jalan, lalu berjalan pulang dengan santai.

Ketika melewati sebuah alun-alun di kawasan pertokoan, seorang gadis muda yang membawa mikrofon dan kamera menghentikannya.

"Halo, Kak! Kami dari acara 'Suasana Hati Kota'. Kami sedang melakukan wawancara jalanan menyambut Hari Kasih Sayang! Bolehkah kami mengajukan beberapa pertanyaan?"

Awalnya Ziva ingin menolak, tetapi melihat tatapan penuh harap gadis itu, dia akhirnya mengangguk.

"Wah, bagus sekali! Kak, sebentar lagi Hari Kasih Sayang. Bagaimana rencanamu merayakannya bersama pacar? Apa ada rencana khusus?" Gadis itu menyodorkan mikrofon ke hadapannya.

Ziva tertegun sejenak.

Pacar?

Dia berpikir sejenak, lalu tersenyum tipis ke arah kamera. Nada suaranya terdengar ringan dan alami.

"Aku nggak punya pacar."

Setelah mengatakannya, dia mengangguk kepada gadis itu, lalu berbalik dan pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status