Compartilhar

Bab 4

Autor: Meong
Senyum penuh kemenangan di wajah Vira membeku.

Dia menatap Ziva dengan tidak percaya.

Lagi-lagi begini!

Sebelumnya, di dalam mobil, dia sengaja mengajak Felix bernostalgia tentang masa lalu, sementara Ziva malah asyik bermain game Candy Crush Saga.

Sekarang, setelah dia terang-terangan memprovokasi Ziva, perempuan itu bukan hanya tidak marah atau membantah, tetapi malah mengatakan "kamu benar"?

Rasanya seperti melayangkan pukulan ke kapas, membuatnya kesal setengah mati!

Sebenarnya perempuan ini benar-benar tidak peduli, atau justru sedang memainkan strategi yang jauh lebih licik dengan cara mundur selangkah untuk mendapatkan keuntungan?

Vira baru saja hendak mengatakan sesuatu.

"Hati-hati! Minggir!"

Teriakan panik terdengar dari kejauhan.

Seorang pemain ski gaya bebas tampaknya kehilangan kendali dan meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.

"Ziva! Vira! Hati-hati!" Teriakan Felix terdengar dari kejauhan.

Ziva dan Vira sama-sama tertegun. Mereka hanya bisa melihat sosok itu makin mendekat.

Dalam sekejap, Felix melesat keluar dari area istirahat seperti macan tutul yang sedang mengamuk.

Sasarannya jelas dan kecepatannya luar biasa.

Dia menerjang ke sisi Vira, meraih lengannya, lalu menariknya sekuat tenaga ke tempat yang aman. Pada saat yang sama, dia melindungi tubuh Vira dengan tubuhnya sendiri.

Sementara itu, Ziva berdiri tidak sampai dua meter dari Vira.

Dia bahkan bisa melihat dengan jelas kepanikan dan sikap nekat di mata Felix saat pria itu berlari menghampiri Vira.

Kemudian, Ziva merasakan sebuah kekuatan dahsyat menghantam tubuhnya.

Dunia seakan berputar.

Tubuhnya terlempar tanpa kendali dan berguling beberapa kali di atas salju.

Papan skinya terlepas, kacamata pelindungnya terlempar, sementara serpihan salju yang dingin masuk ke hidung dan mulutnya. Telinganya berdenging keras.

Rasa sakit yang menusuk menjalar dari sekujur tubuhnya.

Pada akhirnya, bagian belakang kepalanya terbentur keras pada benda keras yang sebagian tertutup salju.

Pandangan Ziva menghitam dan dia kehilangan kesadaran.

Ketika kembali sadar, dia sudah berada di rumah sakit.

Bau antiseptik menusuk hidungnya. Rasa nyeri datang silih berganti dari bagian belakang kepala dan tubuhnya.

Ziva membuka mata dan menatap langit-langit putih di atasnya selama beberapa detik dengan pandangan linglung.

Dari luar pintu terdengar suara pertengkaran yang sengaja dikecilkan, tetapi masih terdengar jelas.

Itu suara Felix dan Vira.

"Ini yang kamu pilih sebagai calon pacar? Saat kamu dalam bahaya, dia ada di dekatmu, tapi melihat kejadian itu pun dia nggak datang melindungimu! Cepat putuskan hubungan dengannya!"

"Dia cuma nggak melihatnya! Sena itu sebenarnya baik dalam hal-hal lain! Urusanku bukan urusanmu! Itu nggak ada hubungannya denganmu! Pacarmu masih terbaring di dalam sana! Sana, urus dia!"

"Vira Danendra!" Felix tampaknya benar-benar marah. Dia meneriakkan nama lengkap Vira. "Kamu sengaja buat aku marah, ya? Kamu jelas tahu bahwa aku menjadikannya pacarku karena ...."

"Karena apa? Karena apa? Katakan!" Vira memotong perkataannya dengan suara nyaring.

Ucapan Felix terhenti seketika, seolah ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Kemudian, dia mengubah jawabannya dengan suara yang terdengar seperti menahan amarah. "Bukan apa-apa."

Vira terkekeh dingin. "Aku nggak mau bertengkar denganmu lagi! Aku mau makan bersama Kak Sena! Kamu urus saja pacarmu!"

"Coba saja kamu pergi!"

"Aku pergi! Sampai jumpa!"

Suara langkah sepatu hak tinggi yang tergesa-gesa perlahan menjauh.

Sesaat kemudian, terdengar napas berat Felix yang menahan amarah, disusul suara tinju yang menghantam dinding.

Kemudian, pintu kamar rawat perlahan didorong terbuka.

Seorang perawat masuk. "Eh, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Kepalamu masih pusing?"

Suasana di luar pintu seketika hening.

Felix masuk.

Wajahnya tampak agak muram, dengan lingkar kelelahan di bawah mata. Dia berjalan ke sisi ranjang dan menatap Ziva. Suaranya terdengar sedikit lebih lembut. "Sudah sadar? Ada bagian tubuhmu yang terasa nggak nyaman? Dokter bilang kamu mengalami gegar otak ringan dan beberapa bagian tubuhmu mengalami memar. Kamu perlu dirawat dan diobservasi selama beberapa hari."

Perawat memeriksa kondisi Ziva, mencatat beberapa hasil pemeriksaan, lalu memberikan beberapa instruksi sebelum meninggalkan ruangan.

Kini, di kamar rawat itu hanya tersisa mereka berdua.

Felix duduk di sisi ranjang. Setelah terdiam selama beberapa detik, barulah dia membuka mulut. Suaranya terdengar serak dan agak canggung.

"Ziva, tadi ... situasinya mendesak. Aku ...."

"Aku tahu." Ziva memotong perkataannya. Suaranya terdengar lemah karena kondisinya, tetapi tetap tenang luar biasa. "Kamu pasti salah melihat orang. Awalnya, kamu berniat menyelamatkanku, tapi malah salah menyelamatkan orang lain. Aku mengerti. Kamu nggak perlu menjelaskannya."

Semua penjelasan dan kata-kata penenang yang sudah disiapkan Felix seakan tercekat di tenggorokannya.

Ziva bahkan sudah menduga alasan yang telah dia siapkan?

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status