Share

Bab 6

Author: Meong
Ziva tidak menyangka bahwa wawancara jalanan yang dijawabnya secara spontan itu ternyata diedit dan dimasukkan ke dalam tayangan utama karena parasnya yang menonjol serta auranya yang tenang. Bahkan, berkat gimik gadis cantik yang mengaku masih lajang, cuplikan itu sempat menjadi perbincangan di lingkup kecil media sosial setempat.

Di kolom komentar video itu, tidak sedikit orang yang menanyakan kontaknya sambil berseru, [Kak, aku siap jadi pacarmu!]

Saat Ziva melihatnya, dia hanya merasa sedikit geli, lalu menggesernya begitu saja tanpa terlalu memikirkannya.

Malam harinya, baru saja dia tiba di rumah, pintu tiba-tiba didorong terbuka dengan keras.

Felix masuk dengan wajah dingin, tatapannya begitu suram hingga mengintimidasi.

Dia membanting ponselnya dengan keras ke atas meja di depan Ziva. Layar ponsel itu masih menyala dan menampilkan cuplikan wawancara tersebut.

"Ziva! Apa maksudnya ini?" Suaranya menahan amarah saat dia menunjuk layar ponsel. "Apa maksudmu dengan nggak punya pacar? Jelaskan padaku, apa maksud semua ini!"

Ziva menatap dirinya sendiri di layar yang sedang tersenyum sambil berkata aku nggak punya pacar. Setelah itu, dia kembali memandang wajah Felix yang dipenuhi amarah. Dalam hatinya, dia hanya merasa semua ini begitu konyol dan melelahkan.

Ziva mengambil ponsel itu dan menyerahkannya kembali kepada Felix. Dengan nada tenang, dia berkata, "Itu bukan aku. Mungkin cuma wajahnya agak mirip."

"Kamu pikir aku bodoh?" Felix langsung menepis tangannya. Ponsel itu terjatuh ke lantai dan layarnya pecah. "Kamu sendiri percaya dengan alasan seperti itu? Ziva, sebenarnya apa yang mau kamu lakukan? Selama sebulan ini, kamu sudah cukup bersikap sinis, apa itu belum cukup? Sekarang, kamu bahkan mengaku masih lajang di luar sana?"

Ziva memandangi ponsel yang layarnya telah pecah di lantai. Seketika, kenangan lima tahun lalu kembali terlintas di benaknya — saat itu juga bertepatan dengan Natal.

Saat itu, dia dan Felix baru menjalin hubungan selama dua tahun. Hubungan mereka masih cukup stabil.

Perusahaan Felix mengadakan acara tahunan, dan dia diundang untuk hadir sebagai pasangan Felix.

Di tengah acara, Ziva pergi ke kamar kecil. Saat keluar, di tikungan koridor, tanpa sengaja dia mendengar Felix sedang menjalani wawancara singkat dengan salah satu media keuangan.

Wartawan itu bertanya, "Pak Felix masih muda dan sudah begitu sukses. Hari ini Natal. Boleh tahu bagaimana rencana Anda merayakannya bersama pacar malam ini?"

Saat itu, Felix sudah agak mabuk. Nada bicaranya terdengar santai dan sedikit sarkastis.

Dia menghadap kamera dan menarik sudut bibirnya, lalu berkata.

"Pacarku? Dia pergi ke luar negeri. Aku lagi menunggunya pulang."

Ucapan itu seperti seember air es yang menyiram Ziva dari kepala hingga kaki.

Saat itu, Ziva berdiri tidak jauh dari sana dan mendengar semuanya dengan sangat jelas. Rasanya seperti ada pisau yang menghujam jantungnya dengan kejam, begitu sakit hingga dia hampir tidak bisa bernapas.

Dengan mata memerah, dia menunggu wawancara itu selesai, lalu membawa video yang diam-diam direkamnya untuk menemui Felix dan menuntut penjelasan.

Felix hanya mengernyit dan menjawab dengan nada asal-asalan, "Kamu salah dengar. Wartawan itu bertanya tentang mantan pacarku. Yang kukatakan adalah mantan pacarku pergi ke luar negeri."

"Tapi jelas-jelas kamu bilang pacar!" Ziva menangis sambil ingin menunjukkan video itu kepadanya.

Namun, Felix langsung merebut ponsel dari tangannya dan berkata dengan tidak sabar, "Ziva, bisakah kamu berhenti membuat masalah tanpa alasan? Video ini direkam dengan buram, suaranya juga nggak jelas. Apa yang bisa dibuktikan? Sudah kubilang itu mantan pacar, ya mantan pacar! Kalau kamu nggak percaya, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa!"

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi begitu saja.

Meninggalkan Ziva seorang diri di tempat itu, menangis hingga benar-benar hancur.

Saat itu, Ziva begitu mencintainya. Meskipun hatinya serasa diiris-iris, pada akhirnya dia tetap memilih memercayai alasan Felix yang begitu buruk. Dia menelan sendiri semua kepedihan dan penderitaan yang dirasakannya.

Kini, keadaan telah berbalik.

Giliran Felix yang datang mempertanyakannya.

Akhirnya, Ziva bisa membalasnya dengan cara yang sama seperti cara Felix memperlakukannya dulu.

Ziva menatap Felix, lalu menghela napas tanpa daya. Dia berkata perlahan dengan meniru nada bicara Felix saat itu.

"Itu benar-benar bukan aku. Kami cuma terlihat mirip. Kalau kamu nggak percaya, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status