Home / Romansa / Tertawan Gairah Panas sang Penguasa / 108. Kebahagiaan Kecil Bella

Share

108. Kebahagiaan Kecil Bella

last update Last Updated: 2026-01-05 23:15:12

**

Perjalanan menuju pusat kota San Diego pada awalnya terasa menyenangkan. Giovanni menyetir dengan tenang, sementara Bella menikmati pemandangan jalanan yang mulai ramai oleh lalu lintas siang hari. Ya, Giovanni sengaja menyetir sendirian, tidak bersama Felix. Ia ingin menikmati waktu berdua bersama Bella, meski diam-diam beberapa bawahannya mengawal di belakang tanpa mencolok. Nah, namun semakin mereka mendekat ke jantung kota, suara klakson dan kerumunan manusia mulai mendominasi.

Bella menatap keluar jendela, lalu menghela napas pelan. “Gio .…”

Giovanni melirik sekilas. “Kenapa, Sayang? Kau ingin sesuatu?”

“Tidak, tidak ingin apa-apa. Tapi di sini terlalu ramai,” jawab Bella jujur. “Aku tiba-tiba pusing. Banyak sekali orang. Maafkan aku, tapi bisakah kita mencari tempat yang lain saja?”

Giovanni tidak langsung menjawab. Ia mengamati ekspresi istrinya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita ganti rencana. Kita tidak jadi ke pusat kota.”

Bella menoleh, sedikit terkejut.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   114. Petunjuk

    **Keputusasaan membuat Giovanni jatuh terduduk di lantai ruang kendali yang berpenerangan remang-remang. Dadanya naik turun, napasnya berat. Dunia seakan menyempit pada satu pertanyaan yang terus bergaung di kepalanya: ke mana lagi ia harus mencari Bella? Sampai sejauh ini, belum ada petunjuk ke mana ia harus pergi. Sementara itu anak-anak buahnya yangsedang berpencar di seluruh penjuru kota, juga masih nihil tanpa kabar. Kendati demikian, ia masih yakin bahwa dalang di balik semua kejadian ini adalah Damian.Para bawahannya yang berada di sana pun demikian, semuanya menunduk dalam, tidak ada yang berani membuka percakapan. Hingga kemudian ketika beberapa saat sudah berlalu dalam hening, barulah ada yang berkata-kata.“Tuan,” suara salah satu bawahannya memecah keheningan. Pria itu berdiri ragu di dekat pintu, matanya menatap deretan monitor yang padam. “Mungkin … kita bisa menyalakan komputer-komputer ini dan mencari petunjuk keberadaan Nyonya dari dalamnya.”Giovanni menoleh lambat

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   113. Kejahatan Damian

    **Bella terkesiap. Barangkali ia sudah salah bicara dengan pria di hadapannya ini. Sekarang Damian sedang memandangnya seakan Bella adalah objek langka yang menarik. Pria itu kemudian mengeluarkan pistol dari saku pinggangnya dan membelainya dengan sayang."Mau aku bantu mempercepat prosesnya, Bella? Aku janji, ini tidak akan terlalu terasa sakit.""Damian, kau benar-benar bajingan bangsat!"Damian tertawa tergelak selama beberapa saat sebelum kembali menyimpan pistol itu dan kembali memandang Bella penuh pemujaan. "Bella, aku sudah bilang aku menyukaimu, kan? Aku sangat menyukaimu. Aku ingin memilikimu, tapi tidak dengan makhluk dalam perutmu itu."Bella tersentak. Reflek ia memeluk dirinya sendiri, seakan melindungi perutnya yang menonjol dan kehidupan kecil yang sedang berdenyut di sana. Wajah perempuan itu memucat, menyiratkan ketakutan yang sangat, meski ia berusaha tidak menangis."Ja-jangan pernah sakiti bayiku, Damian!""Aku juga tidak mau menyakiti bayimu." Damian mencebik c

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   112. Terperangkap

    **Damian Estes duduk santai di kursi kulitnya. Dinding batu kastil pribadinya di perbukitan utara San Diego memantulkan cahaya kebiruan dari puluhan layar yang menampilkan sudut-sudut Paradise Hotel. Rekaman CCTV yang telah diretas itu memperlihatkan kekacauan yang baru saja terjadi—Giovanni berlari keluar masuk bangunan, wajahnya tegang, matanya liar, amarah dan kepanikan bercampur tanpa bisa disembunyikan.Senyum lebar perlahan terbit di wajah Damian.“Lihatlah dirimu, Giovanni,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Selalu kau kira dirimu kebal. Selalu kau anggap dirimu adalah pemenang. Tapi lihat, lihat sekarang ini. Kau adalah pecundang!”Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai seakan yang sedang ia saksikan itu adalah sebuah drama ringan. Di layar utama, Giovanni terlihat berlutut di samping tubuh Felix yang tergeletak tak sadarkan diri. Adegan itu membuat Damian tertawa kecil, puas. Meski Felix tidak mati, tapi peluru bius dosis tingg

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   111. Permulaan

    **Sementara itu, di gudang senjata tepi dermaga San Diego, keadaan berangsur kembali terkendali. Pintu-pintu baja ruang penyimpanan memang rusak—beberapa engsel tercabut, beberapa panel besi penyok akibat benturan keras—namun setelah pemeriksaan menyeluruh, satu fakta tak terbantahkan muncul ke permukaan: tidak ada satu pun senjata yang hilang.“Jumlahnya lengkap,” lapor salah satu orang kepercayaan Giovanni sembari menutup buku inventaris. “Tidak ada selisih sama sekali, Tuan. Mereka tidak mengambil apapun.”Giovanni berdiri dengan tangan di pinggang, menatap lorong panjang gudang yang kini berantakan. Bau asin laut bercampur dengan debu logam memenuhi udara. Ia mengembuskan napas panjang—setengah lega, setengah bingung.“Kalau begitu, ini bukan perampokan,” gumamnya. "Jadi apa tujuannya mereka melakukan ini?"“Lebih seperti … gangguan,” sahut bawahannya. “Mereka datang, membuat kekacauan, lalu pergi.”Giovanni mengangguk pelan. Nalurinya yang terasah selama bertahun-tahun segera me

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   110. Babak Pertama

    **Bella melangkah lebih dekat ke arah pria itu, namun tetap menjaga jarak aman. Hak sepatunya berhenti beberapa langkah sebelum garis imajiner yang ia tentukan sendiri. Wajahnya tenang, meski dadanya berdegup cepat. Pengalaman beberapa waktu belakangan mendampingi Giovanni mengajarkannya satu hal penting: ketenangan sering kali menjadi senjata terbaik.Sudut matanya bergerak cepat, memindai posisi orang-orang di belakang pria tersebut. Sepuluh, mungkin lima belas orang. Tubuh-tubuh besar, bahu bidang, sorot mata keras. Tidak ada satu pun yang tampak seperti orang yang mudah diajak kompromi. Bella menelan ludah pelan. Satu keputusan ceroboh bisa berubah menjadi kekacauan. Ia tidak bisa--tidak boleh gegabah. Nasib hotel dan para staffnya sedang dipertaruhkan.“Apa tujuan Anda datang ke hotel saya?” tanya Bella dengan suara terkendali. Ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap netral, tidak menantang, tapi juga tidak menunjukkan kelemahan.Pria di depannya menyunggingkan senyum tipis. Us

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   109. Dua Telepon

    **Lampu tidur di kamar utama masih menyala temaram ketika Bella terbangun setengah sadar. Tubuhnya masih tenggelam di balik selimut putih, pikirannya mengambang di antara mimpi dan kenyataan. Namun ada sesuatu yang mengusik—suara rendah, tertahan, dan terdengar sangat serius.“… pastikan tidak ada yang bergerak sebelum aku sampai,” suara itu berkata pelan, tapi tegas.Bella mengerjap. Napasnya tertahan ketika ia menyadari Giovanni berdiri di sisi ranjang, membelakanginya, mengenakan kemeja gelap yang belum sepenuhnya dikancing. Ponsel menempel di telinganya, dan dari pantulan kaca jendela besar kamar itu, Bella bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Rahangnya mengeras. Alisnya berkerut dalam cara yang terlalu ia kenal—wajah seorang pria yang sedang menghadapi masalah besar.“Aku tidak peduli siapa pun mereka,” lanjut Giovanni. “Gudang itu tidak boleh jatuh. Tutup semua akses. Aku akan datang sekarang.”Panggilan berakhir. Giovanni menurunkan ponselnya perlahan, menghela napas panjang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status