Share

107. Firasat

last update Last Updated: 2026-01-04 23:16:59

**

Pagi di San Diego datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui celah tirai kamar. Sinar matahari memantul di dinding berwarna krem, menebarkan kehangatan yang menenangkan. Aroma kopi segar dan roti panggang perlahan merayap ke dalam ruangan, mendahului sosok Giovanni yang mendorong pintu kamar dengan hati-hati.

“Bella?” panggilnya pelan. "Sudah bangun?"

Bella menggeliat di atas ranjang, matanya masih setengah terpejam. Ketika kelopak itu akhirnya terbuka sempurna, yang pertama ia lihat adalah Giovanni—tersenyum tipis, mengenakan kemeja santai, dengan nampan sarapan di tangannya.

“Gio?” Bella yang terkejut seketika duduk. “Kenapa kau ke sini membawa itu?”

Giovanni mendekat, lalu meletakkan nampan berisi sepiring omelet, buah potong, roti hangat, dan secangkir teh di atas meja kecil di samping ranjang. “Karena kau bangun kesiangan,” jawabnya ringan. “Dan karena aku ingin membawakannya untukmu.”

Bella mengerucutkan bibirnya, merasa bersalah. “Aku seharusnya bangun lebih pagi. Kau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   117. Duel

    **"Tutup mulutmu, kau bajingan! Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku! Kau sudah siap mati, ha!"Giovanni benar-benar murka saat mendengar penuturan adik sepupunya yang tidak tahu malu itu. Ia mengangkat tangan yang memegang pistol, lurus dengan wajah Damian. Dan segera saja para penjaga di belakang Damian bergerak maju hendak menyerang balik. Membuat pria itu segera memberi isyarat untuk menenangkan mereka."Begitukah sikapmu kepada tuan rumah? Yang kau injak saat ini adalah geladak kapal milikku, lho. Harusnya aku yang tanya, apa kau sudah siap mati jika sikapmu seburuk itu?"Jemari Giovanni hampir menarik pelatuk, sebelum Damian dengan ringan mengatakan, "Jika kau nekat melakukan sesuatu yang buruk kepadaku, hal yang sama pasti akan dilakukan anak buahku kepada istrimu di dalam."Seketika membuat sang Don murka. Rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meledak tak terkendali. "Di mana istriku, bajingan keparat! Katakan atau kurobek mulut besarmu itu!""Whoa ... calm down

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   116. Tidak Akan Kehilanganmu

    **Sedan hitam milik Giovanni merapat ke kawasan dermaga yang sepi di pantai selatan batas kota San Diego. Lampu-lampu pelabuhan berpendar redup, memantul di permukaan air yang beriak pelan. Hanya desir angin laut dan debur ombak yang terdengar, seolah kota itu menahan napas. Di belakang sedan tersebut, beberapa mobil lain berhenti dengan jarak terukur, mengawal dalam diam tanpa terlihat mencolok sama sekali.Giovanni turun lebih dulu. Bahunya sedikit tertarik ke belakang sebab menahan nyeri yang belum sempat sembuh sejak kekacauan di kastil tadi. kemejanya kusut dan ada bercak noda darah di beberapa bagian. Ia mengedarkan pandangannya, tajam dan waspada, menyusuri jalanan sepanjang dermaga yang dipagari pembatas besi. Felix berjalan di sampingnya, rahangnya mengeras, telapak tangannya siap menggenggam pistol di balik jaket. Keduanya melangkah dalam sepi.“Tidak ada gerakan mencurigakan,” gumam Felix pelan. “Tapi Damian memang bukan tipe yang ceroboh. Dia tidak akan meninggalkan jejak

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   115. Menemukan Bella

    **Tentu saja Giovanni tidak mengizinkan Felix menyetir. Pria itu duduk di samping sang Don, di kursi belakang sedan hitam yang saat ini sedang berlari kencang ke arah pantai selatan San Diego. Suasana di dalam mobil begitu tegang, terutama karena Giovanni yang tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kemungkinan-kemungkinan buruk perihal sang istri. Bagaimana keadaannya di sana? Apakah Damian menyakitinya? Apakah ia sedang ketakutan di tengah harapannya menunggu Giovanni datang menyelamatkan?Untuk pertama kali dalam sejarah hidup dan kariernya, baru kali ini Giovanni merasa benar-benar kalah dan putus asa. Jadi memang benar kata mendiang kakeknya dulu. Sebagai pemimpin keluarga mafia, cinta adalah hal yang terlarang. Sebab ketika mencintai seseorang atau sesuatu, maka di situlah titik lemah seseorang terlihat. Musuh akan leluasa menyerang melalui titik ini. Dan Giovanni dulu hanya berdecak mendengar statement itu. Dulu ia merasa aman."Saya minta maaf, Tuan." Setelah sekian lama, akhi

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   114. Petunjuk

    **Keputusasaan membuat Giovanni jatuh terduduk di lantai ruang kendali yang berpenerangan remang-remang. Dadanya naik turun, napasnya berat. Dunia seakan menyempit pada satu pertanyaan yang terus bergaung di kepalanya: ke mana lagi ia harus mencari Bella? Sampai sejauh ini, belum ada petunjuk ke mana ia harus pergi. Sementara itu anak-anak buahnya yangsedang berpencar di seluruh penjuru kota, juga masih nihil tanpa kabar. Kendati demikian, ia masih yakin bahwa dalang di balik semua kejadian ini adalah Damian.Para bawahannya yang berada di sana pun demikian, semuanya menunduk dalam, tidak ada yang berani membuka percakapan. Hingga kemudian ketika beberapa saat sudah berlalu dalam hening, barulah ada yang berkata-kata.“Tuan,” suara salah satu bawahannya memecah keheningan. Pria itu berdiri ragu di dekat pintu, matanya menatap deretan monitor yang padam. “Mungkin … kita bisa menyalakan komputer-komputer ini dan mencari petunjuk keberadaan Nyonya dari dalamnya.”Giovanni menoleh lambat

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   113. Kejahatan Damian

    **Bella terkesiap. Barangkali ia sudah salah bicara dengan pria di hadapannya ini. Sekarang Damian sedang memandangnya seakan Bella adalah objek langka yang menarik. Pria itu kemudian mengeluarkan pistol dari saku pinggangnya dan membelainya dengan sayang."Mau aku bantu mempercepat prosesnya, Bella? Aku janji, ini tidak akan terlalu terasa sakit.""Damian, kau benar-benar bajingan bangsat!"Damian tertawa tergelak selama beberapa saat sebelum kembali menyimpan pistol itu dan kembali memandang Bella penuh pemujaan. "Bella, aku sudah bilang aku menyukaimu, kan? Aku sangat menyukaimu. Aku ingin memilikimu, tapi tidak dengan makhluk dalam perutmu itu."Bella tersentak. Reflek ia memeluk dirinya sendiri, seakan melindungi perutnya yang menonjol dan kehidupan kecil yang sedang berdenyut di sana. Wajah perempuan itu memucat, menyiratkan ketakutan yang sangat, meski ia berusaha tidak menangis."Ja-jangan pernah sakiti bayiku, Damian!""Aku juga tidak mau menyakiti bayimu." Damian mencebik c

  • Tertawan Gairah Panas sang Penguasa   112. Terperangkap

    **Damian Estes duduk santai di kursi kulitnya. Dinding batu kastil pribadinya di perbukitan utara San Diego memantulkan cahaya kebiruan dari puluhan layar yang menampilkan sudut-sudut Paradise Hotel. Rekaman CCTV yang telah diretas itu memperlihatkan kekacauan yang baru saja terjadi—Giovanni berlari keluar masuk bangunan, wajahnya tegang, matanya liar, amarah dan kepanikan bercampur tanpa bisa disembunyikan.Senyum lebar perlahan terbit di wajah Damian.“Lihatlah dirimu, Giovanni,” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Selalu kau kira dirimu kebal. Selalu kau anggap dirimu adalah pemenang. Tapi lihat, lihat sekarang ini. Kau adalah pecundang!”Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai seakan yang sedang ia saksikan itu adalah sebuah drama ringan. Di layar utama, Giovanni terlihat berlutut di samping tubuh Felix yang tergeletak tak sadarkan diri. Adegan itu membuat Damian tertawa kecil, puas. Meski Felix tidak mati, tapi peluru bius dosis tingg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status