Compartilhar

Bukan Aku!

Autor: Mirielle
last update Data de publicação: 2025-05-29 22:42:56

Karena kondisi Nash belum sepenuhnya membaik, Chloe mengizinkan pria itu untuk tidur di ranjang utama. Dia berbaring cukup lama di sofa, namun pikirannya mengembara kemana-mana. Dia duduk, tak bisa tidur walau malam semakin larut.

Tapi ketika Nash bergerak, dia kembali membaringkan tubuh, pura-pura tidur. Nash turun, keluar dari kamar. “Kemana dia selarut ini?” Kening Chloe mengernyit. “Bagaimana kalau dia masih pusing dan tiba-tiba jatuh?”

Chloe menyingkap selimutnya, dia keluar dan diam-diam
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   ENDING

    Terkunci selama beberapa minggu mulai membuat Daisy mulai seperti kehilangan kesadaran. Pikirannya mulai bekerja dengan cara yang tidak tepat. Dia mulai halusinasi, akal sehatnya perlahan lepas. Nash menahan napas setiap kali melihat Daisy dari rekaman kamera pengawas. Adrian mengelus lengannya."Kau yakin akan membuatnya seperti itu?""Dia memang layak!" Nash memicingkan mata. "Ini bahkan masih terlalu sederhana untuknya. Dia membunuh ibuku dan juga janinku. Ini belum apa-apa.""Tapi kau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk semua hal yang sia-sia ini. Nash, kau bukan orang yang seperti ini. Serahkan saja dia pada petugas kepolisian. Biar mereka yang menghukum Daisy.""Tapi ...""Kau harus fokus pada hidupmu bersama Chloe. Chloe sudah terlalu lama menunggumu. Jangan biarkan dia sendirian hanya karena kau sibuk membalas dendammu."Kata-kata Adrian terngiang terus menerus di kepala Nash, bahkan saat dia kembali ke rumah untuk pertama kalinya karena terlalu fokus membalas dendam pada

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Mulai Takut

    “Apa rencanamu lagi sekarang?”Adrian meletakkan segelas whiskie di atas meja, ketika dia mengunjungi Nash di perusahaannya. Nash terlihat menimbang-nimbang, lalu dia menatap Adrian.“Penjara pribadi!”“Maksudmu?”“Pindahkan dia ke bunker bawah tanah. Dia hanya boleh makan sekali sehari, cukup untuk bertahan hidup, tapi tak cukup kuat untuk bisa membela diri.”“Kau ingin dia mengalami delusi atau gangguan disorientasi?”Nash mengangguk.“Tapi dengan kekuatan mentalnya, akankah dia mengalaminya?”“Entahlah. Tapi aku hanya ingin dia mengatakan alasan kenapa dia menyakiti ibuku. Aku perlu tahu alasannya.”Adrian mengangguk, dia mengerti. “Aku dan Bernad akan melakukannya.”“Tidak perlu, Adrian. Biar Bernad saja.”Adrian melirik Nash, dia mengangkat alis. “Kenapa? Sekarang kau tak mau aku terlibat rencanamu?”“Bukan itu.” Nash mendesah, dia teringat dengan tangisan Mila setiap kali Mila datang menemui Chloe. “Kau yakin akan meninggalkan Mila selamanya?”“Sudah ku bilang jangan sebut naman

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Makam Anak Kita

    Lampu-lampu taman depan menyala ketika mobil Nash berhenti di depan rumah milik orang tua Chloe. Nash mengernyit, melepas sabuk pengamannya sambil mengamati rumah itu. “Kenapa mengajakku ke sini?”“Ini rumah orang tuaku,” jawab Chloe. “Turunlah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”Nash tahu, dia pernah ke sini ketika Chloe tidak pulang selama beberapa hari. Nash mengikuti langkah kaki Chloe ke dalam rumah. Ketika hendak melepas sepatunya, Chloe melarangnya. Tangan gadis itu menggenggam tangan Nash, membimbingnya masuk dan langsung menuju halaman belakang.“Apa yang ingin kau tunjukkan?” Nash menahan tangan Chloe.“Seseorang,” gumam Chloe, dia menuruni anak tangga yang hanya berjumlah dua buah itu menuju pohon flamboyan yang tumbuh tinggi di sana.“Seseorang?” Nash makin bingung.Dia melihat sekelilingnya, namun dia tidak mendapati orang lain di sana selain mereka berdua. Dan ketika Chloe memetik beberapa potong bunga segar yang tumbuh subur di sana, dia makin tidak mengerti.“Apa y

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Bukan Tak Mau

    Daisy merasakan seluruh tubuhnya ngilu. Ketika membuka mata, dia malah menemukan dirinya berada dalam satu kamar dan dia sedang tidur di atas ranjang. Daisy memejamkan mata, merasakan sakit di bagian tubuh bawahnya.“Kedua pria itu sungguh liar,” gerutu Daisy.Dia mencoba duduk, namun dia baru menyadari kalau kedua tangannya dirantai. Dia terkesiap, ketika melihat tangannya diborgol dan terhubung dengan rantai panjang ke sudut-sudut kamar. Dia berusaha melepaskan diri, namun bunyi gemerincing rantai menyadarkannya, jika dia tidak akan bisa terlepas.“Sialan. Siapa kalian? Kenapa kalian melakukan ini padaku?” pekik Daisy.Bernad membuka pintu, menyapa Daisy dengan sebuah senyuman. Daisy menyipitkan mata, tidak mengenali Bernad sama sekali, namun wajah itu terasa sangat familiar baginya. Selagi Bernad berjalan mendekatinya, Daisy berpikir keras.Siapa dia? Dimana aku melihatnya? Kenapa dia menculikku?Siapa dia?Siapa ...Mata Daisy membulat, ketika menyadari pria itu adalah mantan mana

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Memulai Rencana Balas Dendam

    “Kau akan melakukan apa?” Adrian membuka pembicaraan di salah satu kamar hotel dimana dia dan Nash bertemu.Nash terlihat menuang wine ke dalam gelas, gerakannya santai dan terukur. Usai menuang wine, dia menyerahkan satu gelas pada Adrian. Pria itu mengamati Adrian dalam diam, lalu dia berdehem rendah.“Kenapa kau memutuskan pergi dari Mila?”Adrian meliriknya, tatapannya sayu. “Aku pikir kau mau bertemu denganku untuk membahas balas dendammu pada Daisy.”“Memang.” Nash mengangguk membenarkan. “Tapi ... kau menyembunyikan banyak hal.”Adrian diam, sangat lama. Dia terlihat hendak meminum anggur dari gelas, namun urung melakukannya. Nash tahu dia memikirkan banyak hal, dan Nash tidak berusaha mendesak. Adrian punya alasan kenapa dia tidak mau mengatakan apa pun padanya.“Aku ingin mencari Athena,” gumam Adrian, usai dia menenggak setidaknya tiga gelas wine. “Aku sudah memberikan semua bukti kecacatan perusahaan pada orang tua Mila dan Mila sendiri. Aku ... hanya menunggu waktu, kapan

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Ayo Punya Anak, Chloe!

    “Adrian tidak datang ke sini.”Chloe, dalam pakaian tidurnya duduk menemani Mila ketika sahabatnya itu datang mengetuk pintu pagi-pagi sekali. Chloe terkejut ketika pelayan membangunkannya dan mengatakan Mila di bawah. Mila masih menggunakan pakaiannya semalam, dan Chloe menebak dia tidak pulang sama sekali.“Nash mana? Dia pasti tahu dimana Adrian!”“Masih tidur.” Chloe melirik Mila, dia tahu kalau Mila gelisah. “Kau dan Adrian bertengkar?”Tidak. Mereka sama sekali tidak bertengkar. Semalam, semuanya terasa sangat lambat namun hangat. Setiap sentuhan Adrian, walau asing, tetap saja membuat tubuh Mila terasa damai dan tenang. Tidak ada pertengkaran, tidak ada percakapan. Dia langsung tertidur setelah melakukannya dengan Adrian.Mila menggeleng. “Tidak sama sekali.”“Adrian menyusulmu pulang setelah kau pergi. Dia tidak mengatakan apa pun pada kami,” gumam Chloe.Mila memejamkan mata, rasa sakit di dadanya kembali. Ketika Mila diam, Chloe memperhatikan jemari gadis itu. Tangannya meng

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Pengganggu Makan Malam (I)

    “Maaf, Tuan. Aku tak bisa menahan mereka karena mereka bilang mereka teman dekat Anda.” Seorang pelayan tergopoh-gopoh mendekati meja Chloe dan Nash.Nash mengangguk, mengusir pelayan itu pergi dari sana. Chloe mendelik. Kenapa kau mengangguk? Jadi kau tak keberatan mereka ada di sini? Kau bisa mar

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Runtutan Masa Lalu

    Cahaya matahari sore berwarna keemasan menyusup lembut dari balik jendela besar cafe, menciptakan bayangan hangat di antara rak buku kayu dan aroma kopi yang menguar tenang. Chloe duduk di sudut ruangan, menikmati segelas espressonya sambil membolak-balik halaman novel klasik favoritnya.Dia selalu

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Tak Punya Hubungan

    Langit malam begitu gelap hingga lampu kota pun terasa sia-sia. Di kejauhan kilat terlihat menyambar, dan badai mungkin akan datang beberapa jam lagi. Adrian berdiri di bawah apartemen bergaya minimalis itu, dia bahkan tak tahu bagaimana caranya dia bisa tiba di sini.Pria itu bersandar di sisi sed

  • Tertawan Kontrak Panas CEO Arogan   Maafkan Aku!

    Chloe melihat pria itu menunduk, sangat lama, hingga tetesan hujan turun dari hidungnya yang tinggi. Chloe sadar nada bicaranya terlalu buruk untuk situasi Nash sekarang. Tapi gadis itu juga tidak tahu kenapa dia harus mengucapkannya.Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa bisa dikontrol.Menyesal

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status