LOGINArion berjalan di sampingku dalam diam. Langkahnya pelan, menyesuaikan dengan langkahku yang lemas karena demam."Kau menggigil," katanya tanpa menatapku."Tidak.""Jangan berbohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu."Aku menatap tangan kami yang bergandengan. Tangannya dingin—tapi dinginnya aneh. Seperti es yang membakar."Kenapa kau melakukan ini, Arion?""Apa?""Mengantarkanku. Menjagaku. Bukannya kau ingin... memaksaku?"Dia berhenti. Matanya menatapku untuk pertama kalinya sejak kita meninggalkan sungai. Di bawah sinar bulan, luka-luka di wajahnya terlihat jelas. Tapi matanya... matanya tidak menyala seperti biasa. Redup. Lelah."Aku lelah memaksa, Lylia.""Kau... serius?""Selama setahun aku memaksakan kehendakku padamu. Dan kau lari. Setiap kali." Dia menarik napas panjang. "Mungkin ada yang salah dengan caraku. Mungkin... mungkin aku harus mencoba cara lain.""Kau tidak sedang terkena kutukan, kan?"Arion tertawa kecil. "Tidak. Hanya... sadar."Kami berjalan lagi. Rumah Mar
Aku tidak tahu bagaimana rasanya bebas. Tapi saat ketiga pria itu berdiri di hadapanku dan mengangguk—masing-masing dengan raut wajah yang berbeda—aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku."Satu bulan," Arthur mengulang, suaranya berat. "Tepat tiga puluh hari. Setelah itu, aku akan menjemputmu. Dengan cara yang benar.""Atau aku yang akan menjemputmu lebih dulu," Kael menambahkan cepat. "Tanpa paksaan. Tanpa kekerasan. Hanya... pembicaraan.""Kalian berdua sok romantis," Lark mendengus. Tangannya masih menekan luka di bahunya, tapi matanya hanya tertuju padaku. "Lylia, kalau kau butuh sesuatu—sihir, tempat berlindung, atau hanya seseorang untuk diajak bicara—panggil namaku. Ke mana pun kau berada, aku akan datang.""Jangan manja, penyihir.""Kau tutup mulut, iblis."Aku tersenyum kecil. "Kalian... kalian sungguh lucu.""Lucu?" ketiganya bersamaan."Ya. Lucu. Dan menyebalkan. Dan membuatku pusing." Aku berdiri dengan susah payah. Lark hendak menolong, tapi kutepis tangannya. "Aku bisa
Hening.Aku mengira aku mati. Tapi kemudian aku merasakan sesuatu—hangat, lembut, membelai pipiku."Lylia... buka matamu..."Itu suara Lark. Tapi terdengar jauh, seperti dari ujung terowongan panjang.Perlahan, aku membuka mata. Kabut putih di mana-mana. Aku berbaring di sesuatu yang lembut—awan? Bukan. Ranjang. Ranjang yang sama dari istana Arion."Kau... selamat...""Jangan bicara." Lark duduk di sisiku, wajahnya pucat pasi. Satu tangannya menggenggam tanganku, tangan lainnya menekan lukanya sendiri yang masih berdarah. "Kau jatuh dari ketinggian luar biasa. Anehnya... kau hanya memar. Tidak ada tulang yang patah.""Arion... melindungiku..." Aku teringat pelukan terakhirnya, senyum gilanya sebelum kami membentur sesuatu."Arion terbaring di ruangan sebelah. Sayapnya hancur tiga pasang. Tulang rusuknya patah di tujuh tempat. Tapi dia masih hidup." Lark mengepalkan tangan. "Malaikat sialan itu memang susah mati."Pintu terbuka. Arthur masuk dengan langkah berat, wajahnya penuh luka da
"LEPASKAN DIA, ARION!"Suara Arthur menggema di langit hitam. Aku bisa mendengarnya meski sayap hitam Arion masih menyelimutiku—meski bibir malaikat gila itu masih menempel di leherku.Arion mendesah kesal. "Tamu yang tidak diundang. Selalu saja."Dia menarik diri dari atas tubuhku. Udara dingin menyambar kulitku yang setengah telanjang. Aku menggigil, tangan gemetar merapatkan bajuku yang sudah hampir terbuka semua."Jangan ke mana-mana, Lylia." Arion tersenyum, jarinya menyentuh daguku. "Aku cepat."Sayap hitamnya mengembang—dan dia melesat keluar dari jendela kristal.---Di langit, tiga sosok berdiri berhadapan dengan Arion.Arthur dengan sayap bayangan hitamnya, mata merah menyala penuh amarah. Kael dengan armor perak yang retak, pedang sucinya bersinar terang meski sudah patah. Lark di belakang mereka, tubuhnya masih berlumuran darah, tongkatnya bergetar memegang mantra."Wah, wah, wah." Arion bertepuk tangan perlahan. "Raja Iblis, Kesatria Suci, dan Penyihir Agung. Semua pria p
Dia mendorong lebih dalam, seolah ingin menyatu sampai ke tulang. Tubuhku melengkung, kuku-kukuku mencakar punggungnya yang licin oleh keringat. Sayap hitamnya menutupi kami berdua, menciptakan dunia kecil yang hanya milik kami—gelap, panas, dan penuh desahan. "Arion... ah—" Namanya keluar seperti doa dan kutukan sekaligus. Dia bergerak lambat dulu, menyiksa. Setiap tarikan keluar hampir sepenuhnya, lalu mendorong masuk lagi dengan pelan tapi kuat, hingga aku merasakannya di perut. Matanya—mata lahar itu—tidak pernah lepas dari wajahku. Menikmati setiap getaran bibirku, setiap air mata yang jatuh ke samping. "Kau milikku," bisiknya parau di telingaku. Gigi-giginya menggigit cuping telinga, lalu turun ke leher. "Sudah sejak pertama kali kau menangis di meja itu." Aku ingin membantah, tapi hanya desahan yang keluar saat dia mempercepat irama. Pinggulnya menghantamku dengan ritme yang brutal namun tepat—seolah dia sudah hafal setiap titik sensitif di tubuhku. Tangannya meremas payu
**Lylia...** Aku masih terduduk di sana, lutut tertekuk di kerikil yang menusuk kulit, sementara angin sore membawa bau tanah basah dan darah. Tiga pangeran di belakangku mengerang pelan—luka mereka dalam, tapi bukan itu yang membuat dadaku sesak. Bukan. Yang membuatku sesak adalah **bau dia** yang masih menempel di udara. Bau asap kayu manis, belerang, dan sesuatu yang gelap, manis, dan memabukkan. Bau Arion. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha berdiri. Kaki gemetar. Celana dalamku basah—bukan air mata kali ini. Tubuhku mengkhianati lagi. Seperti dulu. Seperti selalu. "Dasar... bajingan," bisikku parau, tapi suaraku pecah di tengah kata. Salah satu pangeran—mungkin yang berambut perak, aku lupa namanya—berusaha merangkak mendekat. "Lylia... jangan dengarkan dia. Dia iblis. Dia—" "Aku tahu," potongku dingin. Tapi mataku masih menatap ke langit di mana awan hitam tadi menelan Arion. Aku tahu dia iblis. Aku tahu dia menghancurkanku. Tapi aku juga tahu... aku tida







