LOGINSentuhan Arthur semakin dalam dan berani, membuat aku seperti kehabisan napas karena panik dan ketakutan.
"Tidak, tunggu sebentar. Ini salah...."
"Salahnya di mana, Sayang? Bukankah ini yang kamu inginkan?"
Arthur menyentuh leherku dengan ujung jarinya, membuat aku gemetar seperti burung habis kehujanan.
Melihat kondisiku, Arthur tersenyum tipis, senyumnya begitu menawan sehingga aku tanpa sadar terpesona.
'Ha, kini aku paham kenapa ada istilah 'ketampanannya seperti iblis', karena iblis di depanku benar-benar setampan ini!' desahku dalam hati, memandang sosok sempurna di depanku sambil menelan ludah.
"Putri," bisik Arthur, di dekat telingaku, suaranya yang rendah dalam mengirim getaran aneh yang membuat jantungku berdetak tak karuan.
"Kita lakukan di sini?"
Dia bertanya sambil memainkan ujung rambut pirangku, tersenyum dengan mata sedikit tertutup yang membuat aku semakin gelisah.
Misi membuatnya benci benar-benar sudah buyar dari kepala, yang ada hanya keinginan untuk segera kabur dari pria gila ini!
"L-lakukan apa maksudmu?" tanyaku, menatap matanya dengan ekspresi pura-pura galak, tapi Arthur malah terkekeh.
"Kamu sudah tahu maksudku," jawabnya, dengan tangan menelusuri belahan dadaku yang terbuka.
"Bukankah kamu tadi yang mengajak melakukan ini, Putri? Sampai menyiapkan penjara ini?"
Panik melihat Arthur yang sepertinya begitu bersemangat untuk bercinta denganku, reflek aku mundur satu langkah sehingga punggungku menabrak dinding, tak bisa bergerak lagi.
"Tidak, itu kesalahpahaman, Arthur. Sebenarnya —"
Belum selesai aku bicara, kedua telapak tangan Arthur menghantam dinding batu di sisi kiri dan kanan kepalaku, mengurungku dalam ruang sempit yang hanya menyisakan aroma parfum maskulinnya dan hawa panas dari tubuhnya.
"Ar-Arthur...."
Aku tersentak, punggungku menempel keras pada permukaan dinding yang kasar, sementara napas Arthur yang memburu mulai menyapu wajahku.
"Mau lari ke mana, Putri?" bisiknya, suaranya kini terdengar serak dan berbahaya.
Arthur kini tidak memberiku ruang untuk menjawab. Dengan satu gerakan dominan, tangannya mencengkeram daguku, memaksa wajahku mendongak untuk menatap netranya yang kini berkilat gelap, haus dan penuh tuntutan.
Lalu, tubuh besarnya menerjang ke arahku.
Arthur menciumku dengan ganas, seolah ingin melumat seluruh keberanian yang tersisa di dalam diriku.
Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanyalah sebuah klaim kepemilikan yang kasar dan menuntut. Bibirnya menekan kuat, memaksa pertahananku runtuh dalam sekejap. Oksigen di paru-paruku seolah dirampas paksa, meninggalkan rasa pening yang membuat duniaku berputar.
"Arthur, tunggu, tunggu sebentar!"
Aku mencoba mendorong dadanya, tapi tubuhnya sekokoh batu karang. Justru, ciumannya semakin mendalam, berpindah dari bibir ke garis rahangku dengan intensitas yang membuat lututku lemas.
"Kamu yang memulai permainan ini, Lylia," geramnya di sela-sela napasnya yang berat, bibirnya kini menyentuh kulit sensitif di leherku.
"Dan prinsipku... tidak ada kata berhenti sebelum aku merasa puas."
Setelah mengatakan hal itu, tangan Arthur mulai menelusuri belahan dadaku yang terbuka, membuat detak jantungku berpacu seperti genderang perang.
Aku benar-benar terpojok, terperangkap di antara dinginnya dinding penjara dan panasnya gairah iblis di depanku ini. Tepat saat aku merasa akan benar-benar kehilangan kesadaran karena ciumannya yang tak kenal ampun...
Suara derap langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai batu penjara, bergema layaknya lonceng kematian.
Arthur melepaskan ciumannya secara perlahan, menyisakan jejak panas yang membakar kulitku. Matanya yang tadi sayu penuh gairah kini berkilat tajam, namun tangannya masih mengurungku di dinding, memaksaku tetap merasakan intimidasi kehadirannya.
"Tuan Arthur! Mohon ampun atas kelancangan saya!"
Suara penjaga itu bergetar hebat di balik jeruji besi yang sedikit terbuka. Ia berlutut, kepalanya menunduk dalam hingga menyentuh lantai, tak berani menatap pemandangan intim di depannya.
"Kael... Panglima Iblis telah kembali dari perbatasan. Beliau sedang menuju ke sini dengan kemarahan besar. Ada kekacauan di gerbang utara yang hanya bisa diselesaikan oleh Anda, Tuan!"
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak.
Kael.
Nama itu salah satu tokoh utama, selain Arthur di dalam novel ini. Jika Arthur adalah api yang membakar perlahan, Kael adalah badai yang menghancurkan tanpa sisa.
Arthur terdiam, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan mana pun. Aku bisa merasakan otot lengannya yang mengeras di samping kepalaku. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dariku.
"Kael selalu punya waktu yang buruk untuk pamer kesetiaan," gumam Arthur dengan suara rendah yang membuat bulu kudukku meremang.
Ia berbalik, membenahi jubahnya dengan gerakan yang sangat tenang, terlalu tenang. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti tepat di ambang pintu sel, lalu menoleh padaku. Tatapannya kini tidak lagi penuh godaan, melainkan sebuah janji yang gelap.
"Permainan kita tertunda, Putri," ucapnya dengan seringai tipis yang mematikan.
"Jangan berpikir untuk tidur terlalu nyenyak. Penjara ini mungkin memiliki jeruji, tapi akulah yang memegang kuncinya. Aku akan kembali untuk menagih sisanya... setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Kael."
Begitu Arthur melangkah pergi dan suara langkahnya menghilang di kegelapan lorong, lututku seketika lemas. Aku merosot jatuh ke lantai dingin, napas yang sedari tadi kutahan keluar dalam satu hembusan gemetar.
"Astaga, ini benar-benar gila.”
Malam harinya, Arthur mengajakku berjalan-jalan di taman yang baru selesai ditanami. "Bau tanah masih menyengat," kataku. "Bau kehidupan." Dia menggenggam tanganku. Tangannya besar dan hangat. "Kau tahu, Lylia... aku tidak pernah membayangkan bisa begini." "Begini apa?" "Berjalan di taman dengan seorang wanita. Bukan karena aku memaksanya. Tapi karena dia... ingin bersamaku." Dia berhenti, menatap bintang-bintang di langit. "Selama ribuan tahun aku memerintah kerajaan ini sendirian. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi kemudian kau datang..." "Aku datang karena kau menculikku." "Kadang... takdir perlu sedikit dorongan." Dia tersenyum miring. "Atau dorongan yang agak kasar." Aku memukul lengannya pelan. "Kau tidak tahu malu." "Raja iblis tidak punya malu, Lylia. Harga diri, ya. Tapi malu? Tidak." Kami duduk di bangku batu di bawah pohon besar. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Arthur..." "Hm?" "Apa kau takut?" "Takut apa?" "Takut menjadi ayah." Dia terdi
"Aku... aku tidak bisa mengucapkan selamat, Lylia. Maaf." Dia menunduk. "Tapi aku tidak akan mengganggumu. Aku akan kembali ke kuil. Menjalankan tugasku sebagai kesatria suci. Tanpa..." Dia menelan ludah. "...tanpa mimpi tentangmu." "Kael..." "Jangan. Jangan bilang apa-apa. Biarkan aku pergi dengan cara ini." Dia berbalik, armor peraknya berkilat redup di bawah sinar bulan. Langkahnya berat, tapi tidak pernah mundur. Arthur memelukku lebih erat. "Dia akan baik-baik saja. Dia kuat." "Aku tahu. Tapi aku tetap merasa bersalah." "Kau tidak perlu merasa bersalah karena memilih. Itu hakmu." Aku menatap wajah Arthur yang penuh luka, mata merahnya yang masih basah, tangannya yang besar dan kasar tapi kini memelukku dengan lembut. "Arthur..." "Hm?" "Bawa aku pulang." Dia tersenyum. Lalu membungkuk, menggendongku seperti malam pertama di istana—tapi kali ini berbeda. Kali ini aku tidak takut. Kali ini aku memeluk lehernya erat-erat dan mencium keningnya. "Ke istana?" "
Bukit timur terasa semakin dingin setelah teriakkanku usai. Arthur, Kael, dan Lark masih berlutut di sekelilingku, tangan mereka masih menggenggam tanganku—masing-masing enggan melepaskan. "Lylia..." Arthur memecah keheningan. Suaranya serak, matanya merah sembab. "Aku tahu aku yang paling tidak pantas meminta ini. Tapi... ijinkan aku menjagamu. Bukan karena anak ini. Karena kau." "Kau bilang begitu terus, Arthur, tapi kau tetap kasar," sahut Kael dingin. "Aku bisa berubah." "Kata-kata manis tanpa bukti." "Cukup, Kael!" Arthur melepaskan tanganku dan berdiri. Tubuhnya yang besar membayangi kami semua. "Aku tidak datang ke sini untuk bertengkar denganmu. Aku datang karena Lylia." "Kami semua datang karena Lylia, iblis. Jangan merasa paling berjasa." Lark menghela napas panjang. "Kau lihat sendiri, Lylia? Mereka tidak akan pernah bisa akur. Mungkin sebaiknya kau memilih sekarang dan membiarkan yang lain pergi." Aku menatap ketiganya bergantian. Arthur dengan mata merahnya yang
Malam itu, Lark menjemputku tepat saat bulan berada di puncak langit. "Kau siap?" tanyanya, jubah hitamnya berkibar tertiup angin malam. "Tidak. Tapi aku tidak punya pilihan." "Jawaban yang jujur. Aku suka." Dia mengulurkan tangannya. Aku menerimanya. Telapak tangannya dingin—tapi dinginnya berbeda dengan Arion. Dinginnya Lark adalah dinginnya embun pagi, bukan dinginnya es yang membakar. Pusaran ungu menyelimuti kami. Dunia berputar—dan saat berhenti, kami berada di sebuah gubuk kecil di tengah rawa. "Di mana ini?" "Rawa Berbisik. Tempat para dukun berlindung dari kejaran kerajaan." Lark mengetuk pintu tiga kali. "Dia temanku. Tapi jangan bilang siapa pun." Pintu terbuka. Seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan mata buta menyambut kami. "Lark, anak nakal. Sudah lama tidak mampir." "Halo, Morwen. Aku butuh bantuanmu." "Aku lihat." Mata buta Morwen menatap ke arahku—tepat ke arahku, meski dia seharusnya tidak bisa melihat. "Kau membawa wanita hamil. Dengan aura y
Tiga hari setelah Arion pergi, aku mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku. "Kau pucat, Lylia," kata Martha sambil menuang sup ke mangkukku. "Kurang makan?" "Aku makan seperti biasa." "Tapi kau muntah setiap pagi." Aku terdiam. Itu benar. Tiga pagi berturut-turut, aku berlari ke belakang rumah dan memuntahkan isi perutku. Awalnya kukira karena demam. Tapi demamku sudah sembuh. "Mungkin... mungkin hanya sakit perut biasa." Martha menatapku lama. Matanya yang keriput menyipit, lalu melebar. "Lylia..." suaranya berbisik. "Kapan terakhir kau mendapat bulananmu?" Darahku membeku. Aku tidak ingat. Sudah berapa minggu? Sejak di istana Arthur? Sejak di gubuk Lark? Sejak di istana awan bersama Arion? "Aku... aku tidak tahu..." "Anak bodoh!" Martha menggenggam tanganku. Tangannya hangat, tapi aku sedingin es. "Kau harus periksa ke dukun desa." "TIDAK!" Aku menarik tangan. "Tidak bisa. Kalau mereka tahu—Arthur, Kael, Lark—atau Arion—" "KALAU MEREKA TAHU APA? KALAU KAU HAM
Arion berjalan di sampingku dalam diam. Langkahnya pelan, menyesuaikan dengan langkahku yang lemas karena demam."Kau menggigil," katanya tanpa menatapku."Tidak.""Jangan berbohong. Aku bisa merasakannya dari tanganmu."Aku menatap tangan kami yang bergandengan. Tangannya dingin—tapi dinginnya aneh. Seperti es yang membakar."Kenapa kau melakukan ini, Arion?""Apa?""Mengantarkanku. Menjagaku. Bukannya kau ingin... memaksaku?"Dia berhenti. Matanya menatapku untuk pertama kalinya sejak kita meninggalkan sungai. Di bawah sinar bulan, luka-luka di wajahnya terlihat jelas. Tapi matanya... matanya tidak menyala seperti biasa. Redup. Lelah."Aku lelah memaksa, Lylia.""Kau... serius?""Selama setahun aku memaksakan kehendakku padamu. Dan kau lari. Setiap kali." Dia menarik napas panjang. "Mungkin ada yang salah dengan caraku. Mungkin... mungkin aku harus mencoba cara lain.""Kau tidak sedang terkena kutukan, kan?"Arion tertawa kecil. "Tidak. Hanya... sadar."Kami berjalan lagi. Rumah Mar
Lark sudah hampir lenyap ke dalam bayangan ketika suara isakan Lylia memecah keheningan kamar. Bukan jeritan ketakutan, bukan erangan mesum seperti yang biasa ia dengar dari kamar Arthur. Hanya isakan kecil, putus-putus, penuh keputusasaan yang murni. Lark berhenti, tubuhnya membeku di tempat
Setelah istirahat singkat yang hanya berlangsung beberapa menit, Arthur menatapku dengan mata yang semakin gelap. Nafsu Raja Iblis di dalam dirinya benar-benar tak terpuaskan. Kontolnya yang besar masih berdiri tegak sempurna, berdenyut kuat, urat-uratnya menonjol, dan kepalanya mengkilap oleh sisa
Sementara begitu banyak kekacauan di dunia iblis sejak aku melompat ke jurang, aku malah hidup normal di kehidupan asliku. Aku kembali menjadi Rose, si karyawan swasta biasa yang dunianya berputar di antara desakan Commuter Line, tumpukan revisi dari Bos Dedy, dan kopi saset untuk bertahan hidup
Brak!Tinju Arthur menghantam batu besar di sampingnya dengan kekuatan supernaturally. Batu itu retak dari ujung ke ujung, bahkan sebagian kecilnya hancur menjadi debu. Darah hitam pekat menetes dari buku-buku jari Arthur, tapi sang raja iblis tidak merasakan apa-apa."ORION!" teriak Arthur ke arah







