Compartir

Bab 5

Autor: Lil Seven
last update Fecha de publicación: 2026-05-11 15:00:52

Sentuhan Arthur semakin dalam dan berani, membuat aku seperti kehabisan napas karena panik dan ketakutan.

"Tidak, tunggu sebentar. Ini salah...."

"Salahnya di mana, Sayang? Bukankah ini yang kamu inginkan?"

Arthur menyentuh leherku dengan ujung jarinya, membuat aku gemetar seperti burung habis kehujanan.

Melihat kondisiku, Arthur tersenyum tipis, senyumnya begitu menawan sehingga aku tanpa sadar terpesona.

'Ha, kini aku paham kenapa ada istilah 'ketampanannya seperti iblis', karena iblis di depanku benar-benar setampan ini!' desahku dalam hati, memandang sosok sempurna di depanku sambil menelan ludah.

"Putri," bisik Arthur, di dekat telingaku, suaranya yang rendah dalam mengirim getaran aneh yang membuat jantungku berdetak tak karuan.

"Kita lakukan di sini?"

Dia bertanya sambil memainkan ujung rambut pirangku, tersenyum dengan mata sedikit tertutup yang membuat aku semakin gelisah.

Misi membuatnya benci benar-benar sudah buyar dari kepala, yang ada hanya keinginan untuk segera kabur dari pria gila ini!

"L-lakukan apa maksudmu?" tanyaku, menatap matanya dengan ekspresi pura-pura galak, tapi Arthur malah terkekeh.

"Kamu sudah tahu maksudku," jawabnya, dengan tangan menelusuri belahan dadaku yang terbuka.

"Bukankah kamu tadi yang mengajak melakukan ini, Putri? Sampai menyiapkan penjara ini?"

Panik melihat Arthur yang sepertinya begitu bersemangat untuk bercinta denganku, reflek aku  mundur satu langkah sehingga punggungku menabrak dinding, tak bisa bergerak lagi.

"Tidak, itu kesalahpahaman, Arthur. Sebenarnya —"

Belum selesai aku bicara, kedua telapak tangan Arthur menghantam dinding batu di sisi kiri dan kanan kepalaku, mengurungku dalam ruang sempit yang hanya menyisakan aroma parfum maskulinnya dan hawa panas dari tubuhnya.

"Ar-Arthur...."

 Aku tersentak, punggungku menempel keras pada permukaan dinding yang kasar, sementara napas Arthur yang memburu mulai menyapu wajahku.

"Mau lari ke mana, Putri?" bisiknya, suaranya kini terdengar serak dan berbahaya.

Arthur kini tidak memberiku ruang untuk menjawab. Dengan satu gerakan dominan, tangannya mencengkeram daguku, memaksa wajahku mendongak untuk menatap netranya yang kini berkilat gelap, haus dan penuh tuntutan.

Lalu, tubuh besarnya menerjang ke arahku.

Arthur menciumku dengan ganas, seolah ingin melumat seluruh keberanian yang tersisa di dalam diriku.

Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanyalah sebuah klaim kepemilikan yang kasar dan menuntut. Bibirnya menekan kuat, memaksa pertahananku runtuh dalam sekejap. Oksigen di paru-paruku seolah dirampas paksa, meninggalkan rasa pening yang membuat duniaku berputar.

"Arthur, tunggu, tunggu sebentar!"

Aku mencoba mendorong dadanya, tapi tubuhnya sekokoh batu karang. Justru, ciumannya semakin mendalam, berpindah dari bibir ke garis rahangku dengan intensitas yang membuat lututku lemas.

"Kamu yang memulai permainan ini, Lylia," geramnya di sela-sela napasnya yang berat, bibirnya kini menyentuh kulit sensitif di leherku.

 "Dan prinsipku... tidak ada kata berhenti sebelum aku merasa puas."

Setelah mengatakan hal itu, tangan Arthur mulai menelusuri belahan dadaku yang terbuka, membuat detak jantungku berpacu seperti genderang perang.

Aku benar-benar terpojok, terperangkap di antara dinginnya dinding penjara dan panasnya gairah iblis di depanku ini. Tepat saat aku merasa akan benar-benar kehilangan kesadaran karena ciumannya yang tak kenal ampun...

Suara derap langkah sepatu bot yang berat menghantam lantai batu penjara, bergema layaknya lonceng kematian.

Arthur melepaskan ciumannya secara perlahan, menyisakan jejak panas yang membakar kulitku. Matanya yang tadi sayu penuh gairah kini berkilat tajam, namun tangannya masih mengurungku di dinding, memaksaku tetap merasakan intimidasi kehadirannya.

"Tuan Arthur! Mohon ampun atas kelancangan saya!"

Suara penjaga itu bergetar hebat di balik jeruji besi yang sedikit terbuka. Ia berlutut, kepalanya menunduk dalam hingga menyentuh lantai, tak berani menatap pemandangan intim di depannya.

"Kael... Panglima Iblis telah kembali dari perbatasan. Beliau sedang menuju ke sini dengan kemarahan besar. Ada kekacauan di gerbang utara yang hanya bisa diselesaikan oleh Anda, Tuan!"

Deg.

Jantungku serasa berhenti berdetak.

Kael.

 Nama itu salah satu tokoh utama, selain Arthur di dalam novel ini. Jika Arthur adalah api yang membakar perlahan, Kael adalah badai yang menghancurkan tanpa sisa.

Arthur terdiam, keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan mana pun. Aku bisa merasakan otot lengannya yang mengeras di samping kepalaku. Ia menghela napas panjang, lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dariku.

"Kael selalu punya waktu yang buruk untuk pamer kesetiaan," gumam Arthur dengan suara rendah yang membuat bulu kudukku meremang.

Ia berbalik, membenahi jubahnya dengan gerakan yang sangat tenang, terlalu tenang. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti tepat di ambang pintu sel, lalu menoleh padaku. Tatapannya kini tidak lagi penuh godaan, melainkan sebuah janji yang gelap.

"Permainan kita tertunda, Putri," ucapnya dengan seringai tipis yang mematikan.

 "Jangan berpikir untuk tidur terlalu nyenyak. Penjara ini mungkin memiliki jeruji, tapi akulah yang memegang kuncinya. Aku akan kembali untuk menagih sisanya... setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Kael."

Begitu Arthur melangkah pergi dan suara langkahnya menghilang di kegelapan lorong, lututku seketika lemas. Aku merosot jatuh ke lantai dingin, napas yang sedari tadi kutahan keluar dalam satu hembusan gemetar.

"Astaga, ini benar-benar gila.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   54.

    Air mata mengalir. Aku tidak tahu kapan mulai menangis. Mungkin sejak dia merobek bajuku. Mungkin sejak dia mendorongku ke ranjang. Mungkin sejak dia bilang "ritual pemurnian" dengan suara yang terlalu lembut untuk kata-kata seburuk itu.Dia berhenti.Matanya menatapku. Mataku pasti merah, basah, kacaunya. Aku menggigit bibirku lagi—bibir yang sama yang sudah kugigit dari tadi, yang sekarang terasa bengkak dan sakit.Untuk sekilas, sekilas saja, aku melihat keraguan di matanya.Mungkin itu hanya bayangan cahaya dari luar. Mungkin hanya imajinasiku, karena otakku terlalu putus asa untuk percaya bahwa dia masih punya hati nurani. Atau mungkin memang benar ada keraguan di sana. Sekejap. Selintas.Tapi itu hanya sesaat.Lalu dia tersenyum lagi.Senyum yang sama. Senyum yang persis sama. Senyum yang kurasa hangat pertama kali kulihat, yang sekarang membuatku ingin muntah. Senyum malaikat yang akan kuingat sampai mati—sampai matiku yang kedua, di dunia yang entah ke berapa ini."Kau cantik

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   53.

    "Ritual... pemurnian?" Aku menatap Orion dengan ekspresi ragu, dan Orion mengangguk, penuh percaya diri. "Ya, Lylia." Tangannya turun ke bahuku. Aku merasakan setiap jarinya—satu, dua, tiga, empat, lima—menggenggam erat. Tapi tidak. Bukan menggenggam. Mencekik. Bahuku terasa seperti diremas oleh besi panas yang dingin, jika itu mungkin. "Aku harus membersihkanmu dari pengaruh Arthur." Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun. "Satu-satunya cara... adalah melalui persatuan suci." Jantungku berhenti sejenak. "Antara malaikat... dan target pemurniannya." Mual itu naik lagi ke tenggorokanku. Pahit. Panas. Aku menelannya kembali, tapi rasa pahit itu tetap mengendap di lidahku. Aku menggeleng—kepalaku bergerak dari kiri ke kanan, terus, seperti mainan yang rusak. "Tidak—" Dia mendorongku. Tubuhku jatuh ke ranjang dengan bunyi memantul yang lembut. Kasur bulu angsa itu menangkapku, membungkusku, tapi tidak ada yang lembut dari jatuh itu. Aku terpaku di sana, dengan punggung men

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   52. Ritual Pemurnian

    Sementara itu, di kuil para malaikat..."Lylia, kenapa kamu menghindar?"Orion bertanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku, seperti hendak mengelus pipiku sehingga aku pun menepis tangannya."Orion, bukan begitu," jawabku, dengan panik mencari alasan.Aku menggigit bibirku sendiri, begitu keras hingga hampir merasakan logam darah, berusaha menenangkan debaran di dada yang terasa seperti burung kecil terjebak dalam sangkar rusukku. "Aku akan mandi dan berganti pakaian. Bisakah kamu tunggu di luar sebentar, Orion?"Suaraku terdengar rapuh, bahkan di telingaku sendiri.Sayangnya, Orion tidak bergerak, bukan satu milimeter pun. "Orion," ucapku lagi, kali ini penuh penekanan."Baiklah, baiklah."Orion memang berdiri dari tempat tidurku, tapi bukannya keluar, dia malah berdiri di ambang pintu kamar, dengan tubuh tinggi menjulang yang menutupi hampir seluruh bingkai pintu. Senyumnya masih menggantung di bibir tipis itu, senyum yang dari tadi kurasa hangat, tapi sekarang... sekarang m

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   51

    Arthur berdiri di depan cermin, cermin baru yang seharusnya menggantikan yang dia pecahkan tadi. Tapi cermin ini juga retak sekarang. Retak di tengah, tepat di mana pantulan wajahnya berada. Seperti cermin itu sendiri tidak tahan melihatnya. Arthur menatap tangannya. Luka-luka dari pecahan kaca sebelumnya sudah mulai mengering, tapi dia membuka satu luka lagi dengan kukunya. Menekan. Menekan lebih dalam. Darah. Dia menatap tetesan merah yang jatuh ke lantai marmer putih. Kontras. Cantik. Mengerikan. "Lylia..." Nama itu keluar dari bibirnya seperti doa, seperti kutukan, seperti sesuatu di antaranya. Dia tidak mengerti kenapa dia menyebut nama itu. Gadis suci yang awalnya begitu anggun dan kosong seperti para malaikat lain, tiba-tiba berubah menyebalkan yang selalu berusaha terlihat galak di depannya, tapi malah membuat Arthur tertawa karena lucu.Gadis yang tidak takut padanya meskipun dia raja iblis paling ditakuti, dan gadis yang beberapa Minggu ini terus memaksa dirin

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   50. Bunuh, Bunuh, Bunuh!

    Tiga jam setelah Lylia pergi, aula besar Istana Iblis yang biasanya megah dan tertata rapi sekarang berubah menjadi medan perang pribadi seorang raja. CRASH! Gelas kristal kesembilan menghantam dinding, pecahannya berhamburan seperti air mata beku di lantai marmer hitam. "KELUAR! SEMUANYA KELUAR!" Suara Arthur menggema, membuat para pelayan yang berlutut di lorong saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka sudah mencoba membersihkan kekacauan tiga kali dalam satu jam terakhir, dan tiga kali pula Arthur mengusir mereka dengan amukan yang semakin menjadi-jadi. Dia tidak pernah seperti ini. Seorang pelayan muda, baru bekerja dua minggu, hampir menangis. "T—Tuan Raja, sayahanya ingin membereskan pecahan—" "AKU BILANG KELUAR!" Ledakan energi hitam meledak dari tubuh Arthur, bukan untuk menyerang, tapi untuk mendorong. Kekuatan itu menyapu ruangan, melempar kursi, meja, dan vas bunga ke dinding. Pelayan itu terhuyung ke belakang, hampir terjatuh jika rekannya tidak se

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   49. Orion, Pergi!

    Pagi ini aku terbangun dengan perasaan ganjil. Bukan karena tempat tidurnya terlalu keras atau terlalu empuk, bukan juga karena udara di kamar ini terlalu dingin atau terlalu panas, tapi karena sesuatu yang hilang. Sesuatu yang selama berbulan-bulan di kerajaan iblis selalu ada, selalu setia menemaniku, selalu muncul setiap kali aku membutuhkannya. Sistem. Sejak aku tiba di kerajaan malaikat kemarin sore, panel holografik biru itu tidak muncul sekali pun. Padahal di istana Arthur, sistem begitu rajin menunjukkan kadar kebencian target utama, memberi peringatan, mencatat setiap perubahan status, setiap fluktuasi emosi. Namun di sini? Sunyi dan kosong. Seperti ada dinding tak terlihat yang memisahkan aku dari satu-satunya alat yang bisa diandalkan. Aku menggigit bibir, duduk di ranjang, dan mencoba memanggilnya dalam hati. "Sistem?" panggilku, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Namun, tidak ada jawaban. "Hei, sistem? Aku butuh kamu, kamu di mana?" panggilku

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status