Share

94.

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-06-07 21:10:45

Pintu kayu ek raksasa itu sudah tertutup rapat di belakang kami, seolah dunia luar tak lagi ada. Hanya rak-rak buku tua yang menjulang, cahaya lilin yang bergetar, dan napas kami yang semakin memburu.

Arthur menciumku lebih dalam, lebih rakus, seolah ia ingin menelan seluruh esensi diriku. Lidahnya menari dengan lidahku dalam irama yang panas dan mendominasi, mengecap setiap sudut mulutku hingga aku kehilangan arah. Tangannya yang besar dan kasar menyusup lebih tinggi di balik gaunku, meremas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   100.

    Sentuhan Lark di area paling sensitifku membuatku melengkungkan punggung seketika. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan ritme yang begitu presisi, mengusap dan menekan dengan keahlian yang hanya dimiliki oleh seorang penyihir yang memahami setiap jengkal anatomi tubuh manusia. Namun, yang membuatku hampir kehilangan akal adalah untaian sihir ungu yang mengalir dari ujung jemarinya, meresap langsung ke dalam pusat kenikmatanku. Setiap sentuhan fisiknya berlipat ganda karena manipulasi magisnya. Rasanya seperti ada jutaan aliran listrik halus yang meledak serentak di bawah kulitku, menjalar ke ujung jari kaki hingga membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. "Lark... *ah*! Tunggu... ini terlalu..." Desahanku berubah menjadi rintihan pasrah. Tanganku yang dibebaskan dari kunciannya langsung meremas bahu kokoh Lark, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang menghantam tanpa ampun. Lark tidak berhenti. Ia justru menepikan kain gaunku yang menghalangi, memberikan pandangan penuh pad

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   99.

    Sengatan dari ibu jari Lark di bibirku membuat kewarasanku berada di ujung tanduk. Aliran sihir keemasan yang baru saja bangkit di dalam dadaku tidak hanya memberikan kekuatan, tetapi juga memicu rasa lapar yang sama sekali baru. Rasa lapar yang menuntut untuk dilepaskan. Tanpa sadar, aku mencondongkan wajahku, bibirku menyapu ibu jarinya dengan napas yang terputus-putus. Mataku yang kini berpendar keemasan menatap lurus ke dalam zamrudnya yang berkilat gelap. Senyum Lark melebar, tapi kali ini bukan senyum seorang guru—melainkan senyuman seekor predator yang sangat sabar, yang akhirnya melihat mangsanya masuk sendiri ke dalam perangkap dengan sukarela. "Bagus," bisiknya, suaranya turun satu oktaf, bergetar dengan hasrat yang tak lagi ia sembunyikan. "Jangan ditahan, Lylia. Biarkan apimu menyala." Lark membuang jarak milimeter terakhir di antara kami. Bibirnya menempel di bibirku, tidak dengan agresi seperti Kael atau tuntutan mutlak seperti Arthur, melainkan dengan kelembutan yan

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   98.

    Aku menatap tangan bersarung sutra hitam itu sejenak. Ada keraguan yang mengakar, insting alami dari seorang manusia yang terjebak di istana penuh makhluk abadi yang berbahaya. Namun, mata zamrud Lark memancarkan ketenangan absolut, sebuah janji tanpa paksaan. Perlahan, kuletakkan jemariku di atas telapak tangannya. Lark tersenyum tipis, membalikkan tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan elegan. Bersamaan dengan sentuhan bibirnya, sebuah aliran energi yang sejuk dan menenangkan mengalir menyapu seluruh tubuhku. Cahaya keunguan berpendar lembut menutupi gaunku. Dalam sekejap mata, kain yang robek dan kusut itu merajut dirinya sendiri, noda-noda menghilang, dan keringat yang membuat tubuhku lengket menguap tanpa sisa. Bahkan napasku yang tadinya memburu kini terasa ringan. Aku menatap gaunku yang kembali sempurna dengan takjub. "Bagaimana..." "Sihir restorasi dasar," sahut Lark santai, melepaskan tanganku dan melangkah mundur untuk memberiku ruang turun dari meja kayu terseb

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   97.

    Tatapan zamrud Lark mengunci mataku, menembus jauh ke dalam seolah ia sedang menguraikan setiap rahasia yang kusembunyikan di balik tulang rusukku. Sihirnya yang mengalir tanpa sentuhan fisik itu benar-benar luar biasa; ia tidak memaksakan kehendak seperti Arthur, tidak menuntut seperti Kael, melainkan *merayu* tubuhku untuk menyerah dengan sendirinya. Setiap kali jarinya bergerak melukis rune tak kasat mata di udara, gelombang kenikmatan yang halus namun tajam menjalar di sepanjang tulang belakangku. Kakiku melemah. Napasku terputus-putus, terjebak di tenggorokan saat kehangatan magis itu menyentuh titik-titik sensitif yang bahkan belum sempat dieksplorasi oleh Arthur maupun Kael. "Hentikan sihirmu, Lark!" raung Kael. Suhu ruangan tiba-tiba anjlok drastis. Bunga es merambat cepat dari ujung sepatu Kael, membekukan lantai batu perpustakaan dan menjalar ke kaki meja tempatku bersandar. Aura dinginnya memecahkan dinding udara Lark seperti kaca yang dihantam palu besi. Dalam sekejap,

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   96.

    Pintu perpustakaan akhirnya terbuka pelan saat fajar mulai menyusup melalui jendela-jendela tinggi. Tubuhku masih lemas, penuh jejak-jejak Arthur yang panas dan memabukkan. Ia meninggalkanku dengan ciuman terakhir yang dalam di kening, bisikan posesif di telingaku, sebelum menghilang ke koridor istana dengan langkah penuh kepuasan. Aku baru saja merapikan gaunku yang kusut ketika pintu perpustakaan terbuka lagi dengan dorongan kasar. Bukan Arthur. Kael berdiri di ambang pintu, mata biru safirnya menyala dengan amarah yang tak tertutupi. Wajah tampannya yang biasanya tenang kini mengeras, rahangnya menegang, dan aura dingin yang biasa ia pancarkan kini terasa seperti badai salju yang siap menghancurkan segalanya. "Lylia," suaranya rendah, tapi penuh getaran yang berbahaya. Ia melangkah masuk, pintu menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terlalu keras. "Jadi benar apa yang kudengar." Aku mundur selangkah, punggungku menyentuh meja kayu yang masih hangat dari pertemuan kami de

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   95.

    Pintu perpustakaan tetap terkunci rapat, seolah ruangan tua ini telah menjadi dunia kecil yang hanya milik kami berdua. Cahaya lilin semakin redup, tapi api di antara tubuh kami justru semakin membara. Arthur tidak memberiku waktu untuk pulih sepenuhnya. Begitu gelombang pertama reda, ia menarik tubuhku dengan lembut namun tegas, membalikkan posisiku hingga perutku menempel pada rak buku yang dingin. Payudaraku yang masih sensitif tertekan ke permukaan kayu, sementara pinggulku terdorong ke belakang, terbuka sempurna untuknya. "Kamu belum selesai, sayang," bisiknya serak, napas panasnya menyapu tengkukku. Tangan besarnya meremas pinggulku, menariknya ke belakang hingga aku merasakan kejantanannya yang masih keras dan panas kembali menyentuh celahku yang basah dan berdenyut. "Aku ingin mendengar suaramu lagi... lebih keras." Dengan satu dorongan dalam dan kuat, ia menyatukan kami kembali. Aku menjerit pelan, suaraku pecah menembus udara perpustakaan yang sunyi. Sensasi penuh itu kem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status