Masuk"Tapi apa?" Lark melirik ke arah kurir itu dengan marah."Bagaimana pun juga, kerajaan para malaikat memiliki perjanjian dengan kalian dan—" "KAU PIKIR AKU HANYA AKAN DIAM DI SINI?!" Ledakan sihir biru memenuhi ruangan. Buku-buku di rak terbang berhamburan. Gelas-gelas percobaan meledak satu per satu. Tapi Lark tidak peduli."Aku tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut Lylia," ucapnya dengan suara tegas, teringat pada gadis manis berambut pirang yang memeluk lembut Lark saat penyihir itu menjelma sebagai kucing iblis."Orion, malaikat gila itu harus mendapatkan balasan!" Dia berjalan ke arah lemari besi di sudut ruangan, membukanya dengan mantra yang rumit. Di dalam lemari itu... tersimpan sesuatu yang tidak pernah dia gunakan selama puluhan tahun. Tongkat sihir peraknya. Bukan tongkat biasa yang dia gunakan sehari-hari. Tapi tongkat yang dia buat khusus untuk perang. Tongkat yang hanya dia gunakan sekali—ketika dia membantai seluruh klan penyihir hitam yang berani menyerang
Kael membeku saat mendengar perintah tak masuk akal dari sang raja."Arthur—" "KAMU DENGAR AKU, KAEL?!" Arthur membalikkan badannya, dan seluruh ruangan bergetar. "AKU TIDAK PEDULI DENGAN PERJANJIAN RIBUAN TAHUN! AKU TIDAK PEDULI DENGAN KONSEKUENSI! MEREKA MENYENTUH APA YANG MENJADI MILIKKU!" Milikku. Kata itu menggema di ruangan kosong. Kael menelan ludah. "Dia... dia tidak akan menyukai ini, Arthur. Lylia tidak akan—" "LYLIA SUDAH MATI!" Jeritan itu begitu keras, begitu penuh kepedihan, begitu... hancur. Seperti suara seseorang yang kehilangan seluruh dunianya dalam sekejap. Arthur jatuh berlutut, memukul lantai sampai lantai retak berkeping-keping."Dari jurang sedalam itu, tubuhnya yang rapuh...."Arthur tak sanggup melanjutkan ucapannya, wajahnya begitu menderita dan kesakitan hanya dengan membayangkan bahwa Lylia sudah tak ada di dunia ini."Lylia...." Di tengah puing-puing singgasananya yang hancur, di tengah kekacauan yang dia ciptakan sendiri, raja iblis yang
Sementara itu di istana raja iblis...Seorang uusan berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Pakaiannya kusut, berlumuran debu perjalanan sejauh dua hari yang dia tempuh hanya dalam waktu setengah hari. Matanya merah, tidak hanya karena kelelahan, tapi juga karena sesuatu yang dia lihat. Sesuatu yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya. "Tuanku..." ucapnya dengan suara pecah, nyaris tidak terdengar. "Saya mendapatkan laporan dari istana malaikat bahwa... bahwa Nona Lylia... dia... dia..."Begitu nama Lylia disebut, Arthur seketika bangkit dari singgasananya. Bukan berdiri dengan anggun seperti biasanya, bukan dengan gerakan tenang yang membuat musuh ketakutan, tapi melompat dan menyambar kerah utusan itu dan mengangkatnya hingga kaki utusan itu menggantung di udara. "BICARA DENGAN JELAS!" raung Arthur. Matanya yang hitam pekat berpusaran kencang, seperti badai yang siap meledak. "APA YANG TERJADI PADA LYLIA?!" Utusan itu hampir pingsan karena ketakutan. Wajahnya pucat seperti
"Hahhh, haahhh...!"Aku terperanjat bangun dengan keringat yang membasahi seluruh punggungku. Jantungku berdebar sangat kencang, hampir seperti mau meledak keluar dari dada. Napasku memburu, mataku terbelalak menatap langit-langit kamar yang familiar. Langit-langit putih dengan retak rambut di sudut kanan. Kipas angin lama yang berputar pelan. Cahaya matahari pagi yang menyusup lewat tirai biru tua. Ini kamarku. Kamar asliku. Kamarku saat menjadi Rose, bukan Lylia."Mustahil...."Terkejut, aku duduk tegak terlalu cepat, membuat kepalaku berdenyut sakit. Tanganku langsung meraba-raba tubuhku sendiri, masih utuh. Tidak ada luka di bibir, tidak ada memar di pergelangan tangan, tidak ada rasa perih di lutut. Aku menunduk, melihat kaus tidur longgar berwarna abu-abu yang selalu kupakai. Masih utuh, bahkan tidak robek. "Astaga..." bisikku, suaraku serak dan bergetar.Cara tadi benar-benar efektif! Gila, seharusnya dari dulu kulakukan ini! Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tanga
Air mata mengalir. Aku tidak tahu kapan mulai menangis. Mungkin sejak dia merobek bajuku. Mungkin sejak dia mendorongku ke ranjang. Mungkin sejak dia bilang "ritual pemurnian" dengan suara yang terlalu lembut untuk kata-kata seburuk itu.Dia berhenti.Matanya menatapku. Mataku pasti merah, basah, kacaunya. Aku menggigit bibirku lagi—bibir yang sama yang sudah kugigit dari tadi, yang sekarang terasa bengkak dan sakit.Untuk sekilas, sekilas saja, aku melihat keraguan di matanya.Mungkin itu hanya bayangan cahaya dari luar. Mungkin hanya imajinasiku, karena otakku terlalu putus asa untuk percaya bahwa dia masih punya hati nurani. Atau mungkin memang benar ada keraguan di sana. Sekejap. Selintas.Tapi itu hanya sesaat.Lalu dia tersenyum lagi.Senyum yang sama. Senyum yang persis sama. Senyum yang kurasa hangat pertama kali kulihat, yang sekarang membuatku ingin muntah. Senyum malaikat yang akan kuingat sampai mati—sampai matiku yang kedua, di dunia yang entah ke berapa ini."Kau cantik
"Ritual... pemurnian?" Aku menatap Orion dengan ekspresi ragu, dan Orion mengangguk, penuh percaya diri. "Ya, Lylia." Tangannya turun ke bahuku. Aku merasakan setiap jarinya—satu, dua, tiga, empat, lima—menggenggam erat. Tapi tidak. Bukan menggenggam. Mencekik. Bahuku terasa seperti diremas oleh besi panas yang dingin, jika itu mungkin. "Aku harus membersihkanmu dari pengaruh Arthur." Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun. "Satu-satunya cara... adalah melalui persatuan suci." Jantungku berhenti sejenak. "Antara malaikat... dan target pemurniannya." Mual itu naik lagi ke tenggorokanku. Pahit. Panas. Aku menelannya kembali, tapi rasa pahit itu tetap mengendap di lidahku. Aku menggeleng—kepalaku bergerak dari kiri ke kanan, terus, seperti mainan yang rusak. "Tidak—" Dia mendorongku. Tubuhku jatuh ke ranjang dengan bunyi memantul yang lembut. Kasur bulu angsa itu menangkapku, membungkusku, tapi tidak ada yang lembut dari jatuh itu. Aku terpaku di sana, dengan punggung men







