Se connecterKutukan itu rupanya tak hanya menimpa Rose dan Arthur, di malam yang sama, di sayap lain Istana Iblis, Kael, Panglima Perang Iblis yang terkenal kejam dan berdarah dingin, duduk di balkon kamarnya sambil memandang bulan merah. Pikirannya tanpa sadar melayang ke tawanan manusia yang dulu sempat ia lihat di penjara bawah tanah. Lylia. Ia tertidur dengan gelas anggur darah masih di tangan, dan mimpi itu menariknya masuk, lebih gelap, lebih panas, lebih rakus. *** Di dalam sel penjara yang sama, udara terasa semakin panas dan tebal oleh nafsu. Arthur sudah telanjang, tubuhnya yang tinggi tegap dan berotot sempurna bersandar di dinding batu. Kontolnya yang besar masih basah oleh cairan campuran, berdiri tegak kembali hanya dalam hitungan detik. Lylia berada di antara keduanya, tubuh telanjangnya gemetar penuh gairah. Gaunnya sudah lenyap total. Kulitnya berkilau oleh keringat. Kael muncul dari bayangan, jubah hitamnya jatuh ke lantai. Tubuhnya lebih kekar dari Arthur, dada bidang
Di Istana Iblis, malam itu gelap dan hening. Arthur duduk di singgasananya yang terbuat dari batu hitam mengkilap, jubahnya terbuka longgar di dada. Ia sedang menyesap anggur darah ketika matanya mulai terasa berat.Tanpa sadar, Arthur jatuh tertidur. Mimpi itu datang, mimpi yang sama persis dengan yang dialami Rose di dunianya.Arthur merasa dirinya berdiri di depan jeruji sel penjara bawah tanah. Tubuhnya panas. Nafsu iblis di dalam dirinya sudah bangkit sejak melihat Lylia berdiri di sana dengan gaun compang-camping yang nyaris tak menutupi apa pun.Lylia mendekat dengan sikap pemberontak, mata cokelatnya penuh ejekan. Tapi Arthur bisa mencium aroma tubuhnya yang manis, campuran keringat manusia dan gairah yang mulai membasahi celah di antara pahanya.'Dia pikir aku akan jijik?' batin Arthur. 'Kamu salah besar, manusia kecil.'Saat Lylia dengan berani menarik tangannya ke payudara yang penuh dan lembut, Arthur hampir mendengus. Telapak tangannya yang besar menutupi hampir seluruh d
Malam itu, setelah mandi air hangat yang tak mampu menghangatkan hati, aku rebahan di kasur kosanku dengan tubuh lelah. Pikiranku masih terbayang pada siluet di balik hujan tadi. Arthur. Aku tertidur dengan air mata masih basah di pipi, dan mimpi itu datang lagi—begitu nyata hingga rasanya bukan mimpi. *** Aku kembali berada di penjara bawah tanah Istana Iblis, di hari pertama nenghuni tubuh Lylia, Putri Suci yang harus menjalankan misi membuat Arthur membenciku.Waktu itu aku dengan nekatnya telah menyeret Raja Iblis Arthur ke sel ini menggunakan tali suci yang seharusnya mengikat kekuatannya. Udara dingin dan lembab masih sama, berbau besi dan asap dupa hitam. Obor biru pucat menerangi dinding batu yang basah. Arthur berdiri di hadapanku, jubah hitamnya sudah terbuka di dada, memperlihatkan kulit pucat yang dipenuhi tato rune kuno yang berdenyut pelan. Kedua tangannya memang masih terikat longgar di belakang punggung, tapi kami berdua tahu ikatan itu tak lagi berarti. Ak
Sementara begitu banyak kekacauan di dunia iblis sejak aku melompat ke jurang, aku malah hidup normal di kehidupan asliku. Aku kembali menjadi Rose, si karyawan swasta biasa yang dunianya berputar di antara desakan Commuter Line, tumpukan revisi dari Bos Dedy, dan kopi saset untuk bertahan hidup hingga jam lima sore. Semuanya terasa sangat normal. Terlalu normal, hingga rasanya mencekam. Pagi itu, di dalam Commuter Line yang sesak, seorang ibu paruh baya tanpa sengaja menginjak kakiku. "Maaf, Mbak," ujar ibu itu setengah berteriak karena bisingnya rel kereta. "Iya, Bu, nggak apa-apa," jawabku datar, padahal sepatu hak rendahku terasa hendak penyok. Aku terlalu lelah untuk mengeluh tentang hal sepele ini. "Ros, kamu dengerin aku nggak sih?" Mia menyenggol lenganku, membuat sendok di mangkuk sotonya berdenting. Kami sedang di kantin belakang kantor, tempat pelarian paling manusiawi di jam istirahat. "Eh? Iya, denger kok. Kenapa, Mi?" jawabku gugup, buru-buru menyuap nasi yang se
"Baik, Paman." Arthur merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan selembar sapu tangan putih polos, benda yang dulu ditinggalkan Lylia di ruang singgasana. Selama ini dia menyimpannya tanpa alasan yang jelas. Namun sekarang, dia tahu persis untuk apa benda itu ada padanya. "Bawa ini." Claude menerima kain itu, lalu mendekatkannya ke hidung. Aroma bunga yang asing langsung tercium. Wangi dari dunia lain. Wangi manusia. "Baiklah, aku bisa melacak keberadaannya dengan ini." Claude mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah putranya. "Kamu siap, Nak?" "Selalu, Ayah," jawab Kael tanpa ragu. Di hadapan mereka, gerbang portal mulai terbuka. Cahaya keperakan berputar lambat, membentuk lengkungan besar yang membelah udara. Tepat sebelum melangkah masuk, Claude mendadak menghentikan langkahnya. "Arthur." "Ya?" Claude sempat bimbang sebelum akhirnya bertanya, "Gadis itu... apa dia memang pantas menerima semua pengorbanan ini?" Mendengar itu, sudut bibir Arthur terangkat tipis. Sebu
"KAMU NEKAT MELAKUKAN INI, MENGARAHKAN PASUKAN KE SANA..." Dia menunjuk ke arah barat, arah Kerajaan Malaikat, dengan jari keriputnya. "UNTUK SEORANG GADIS MANUSIA YANG TIDAK PENTING?!" "JANGAN PANGGIL DIA TIDAK PENTING!" potong Arthur dengan suara tegas. Arthur turun dari kudanya. Langkahnya berat. Setiap langkah meninggalkan bekas kaki terbakar di batu. Matanya yang tadinya merah menyala sekarang berubah menjadi hitam pekat, tanda bahwa iblis dalam dirinya sudah sangat dekat dengan permukaan. "Kau tidak tahu apa-apa tentang Lylia, Claude." "Aku tahu dia manusia!" balas Claude, tidak mundur meskipun Arthur sudah berdiri hanya satu meter di depannya. "Aku tahu dia datang dari dunia lain dengan sistem aneh yang tidak bisa dijelaskan! Aku tahu dia mengganggu dan menyebalkan dan selalu tersenyum padahal tidak ada yang lucu!" Dia menarik napas. "Dan aku tahu... dia membuat istana ini lebih hidup daripada seratus tahun terakhir." Hening. Arthur mengerjap, sedikit terkeju







