LOGINAku tak tahan lagi dengan keheningan dan kegelisahan yang menyiksa. Setelah dihina habis-habisan oleh Lilith sore tadi, hatiku hancur berkeping-keping. Air mata masih sesekali jatuh saat aku berjalan menyusuri koridor istana menuju kantor pribadi Arthur. 'Aku butuh dia,' pikirku. 'Aku butuh pelukannya, ciumannya, kata-katanya yang posesif. Setidaknya dia masih menginginkanku…'Jadi, setelah berpikir sejenak, aku pun beranjak dari ranjang dan berniat mencari Arthur di ruang kerjanya. Gaunku yang tipis bergoyang pelan saat aku berjalan cepat. Tubuhku masih terasa pegal dari sesi panjang semalam, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin Arthur memelukku dan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pintu kantor Arthur sedikit terbuka. Aku hendak mengetuk, tapi suara rendah dan dingin Arthur terdengar dari dalam, membuat tanganku terhenti di udara. “…sudah tidak berguna lagi. Buang saja.” Jantungku berdegup kencang saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arthur di dalam. Ak
Aku terbangun dengan napas tersengal, tubuhku masih telanjang di bawah selimut sutra hitam yang lengket oleh keringat dan sisa cairan Arthur dari malam tadi. Jantungku berdegup kencang seperti mau meledak. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena sebuah suara sistem yang dingin dan kejam bergema di kepalaku. 【Peringatan! Tingkat Kesukaan Arthur: 98 (Sangat Posesif) Tingkat Kesukaan Kael: -78 (Kebencian + Nafsu Terpendam) Tingkat Kesukaan Lark: -94 (Kebencian Mendalam + Rasa Jijik Ekstrem)】 Aku duduk tegak di tempat tidur, tanganku gemetar menutup mulut. “Tidak… ini tidak mungkin…” Dulu, saat pertama kali aku datang ke dunia ini, misi utamanya adalah membuat semua tokoh utama membenciku agar aku bisa kembali ke dunia manusia. Tapi anehnya, mereka malah jatuh cinta, Arthur menjadi obsesif, Kael diam-diam menginginkanku, bahkan Lark pernah memandangku dengan kekaguman. Sekarang? Misi baru mengharuskanku membuat semua pria di istana ini menyukaiku. Tapi hasilnya just
Lark berdiri sendirian di puncak menara penyihir yang menjulang tinggi, angin malam dunia iblis meniup jubah peraknya dengan lembut. Tangan kanannya masih menempel pada permukaan kaca buram yang telah diberkati mantra penglihatan tingkat tinggi. Dari sana, ia bisa melihat segalanya dengan sangat jelas, setiap detail, setiap erangan, setiap hantaman daging yang memalukan di dalam kamar tidur Raja.“Hah…”Tawa kecil keluar dari bibir Lark, dingin dan penuh ejekan. Namun di balik tawa itu, ada rasa kecewa yang mendalam, hampir menyakitkan.“Dulu aku menganggapmu sebagai permata langka, Lylia,” gumamnya pelan. “Manusia yang jatuh ke dunia kami dengan jiwa yang masih murni dan utuh. Matamu yang cokelat penuh api pemberontakan. Tubuhmu yang lembut, kulitmu yang halus… semuanya masih bersih dari noda nafsu dunia ini. Aku bahkan pernah berdiri di balkon istana ini, membayangkan bagaimana rasanya menjadikanmu milikku. Bukan sebagai selir murahan, tapi sebagai murid, sebagai pasangan yang kujag
Sementara Kael diam-diam menyaksikan dari balkon samping dan masturbasi dengan penuh amarah serta nafsu, ada satu pasang mata lain yang juga menyaksikan semuanya dari tempat yang lebih tersembunyi.Lark. Penyihir Agung Istana, ahli sihir kuno yang paling dihormati dan ditakuti setelah Arthur sendiri. Tubuhnya tinggi kurus tapi elegan, rambut perak panjang, dan mata ungu pucat yang selalu tampak tenang dan penuh perhitungan. Ia bukan sekadar penyihir—ia adalah penjaga keseimbangan magis kerajaan, penasihat yang kata-katanya mampu mengubah takdir bangsa. Tidak ada yang berani menentangnya, bahkan Arthur pun kadang ragu untuk melawan rekomendasi Lark.Ia berdiri di balik jendela kaca buram di menara penyihir yang menghadap langsung ke kamar Arthur. Sebuah mantra penglihatan kecil membuatnya bisa melihat dengan jelas ke dalam kamar tanpa terdeteksi. Mantra itu adalah ciptaannya sendiri, lensa tembus pandang yang hanya bisa ditembus oleh mata yang telah disucikan dengan ritual darah. Tidak
Sementara Arthur menghukumku dengan penuh nafsu di dalam kamar tidur kerajaan, tak seorang pun menyadari bahwa di balik tirai tebal balkon yang sedikit terbuka, ada sepasang mata merah yang menyala dalam kegelapan. Kael. Ia seharusnya pergi setelah pertemuan di koridor tadi. Tapi amarah dan rasa penasaran yang membara membuatnya diam-diam mengikuti. Kini ia berdiri di balkon samping, tersembunyi di balik bayangan, melihat seluruh adegan hukuman yang Arthur berikan pada Lylia. Dan ia tak bisa mengalihkan pandangannya. *** Di dalam kamar, Arthur sedang menghantam Lylia dengan brutal dari belakang dalam posisi doggy. Tanganku terikat ke tiang tempat tidur, pantat gadis itu terangkat tinggi, dan setiap hantaman kejantanannya yang besar membuat tubuh langsing Lylia bergoyang keras. “Aaahh—! Arthur… terlalu dalam…!” jerit Lylia parau. Plak! Plak! Plak! Plak! Arthur menarik rambut Lylia ke belakang sambil terus menggoyang pinggulnya dengan ganas. “Katakan lagi, Lylia. Siapa
Arthur tak langsung melepasku setelah Kael pergi. Ia masih menekanku ke dinding koridor, mata merah keemasannya menyala penuh amarah posesif yang membara. “Lylia,” suaranya rendah dan berbahaya, memanggil namaku dengan penekanan kuat. “Kamu berani bicara berdua dengan pria lain di koridor istanaku?” Aku menggigil. “Arthur… itu Kael, dia—” “Tidak peduli siapa dia,” potongnya kasar. Tangan besarnya mencengkeram daguku, memaksa aku menatap matanya. “Kamu milikku. Tubuhmu, bibirmu, bahkan napasmu hanya boleh untukku. Tapi kamu membiarkan dia mendekatimu? Menekanmu ke dinding seperti ini?” Tanpa memberiku kesempatan bicara, Arthur mengangkat tubuhku dengan mudah dan melemparku ke bahunya seperti karung. Ia berjalan cepat menuju kamar pribadinya, melewati beberapa pelayan yang langsung menunduk ketakutan melihat ekspresi Raja mereka. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci, Arthur melemparku ke tempat tidur besar. Gaunku langsung disobek kasar dari atas hingga bawah hingga aku







