LOGINOne reckless kiss. One lethal secret. One Boss from Hell! Ariana Vale had a plan: wear a red power suit, ruin her cheating ex’s night, and kiss a gorgeous stranger to prove she’s moved on. It was the perfect performance. Until she walked into work the next morning. The stranger she borrowed isn't just her new CEO, he’s Lucien Blackthorne, an Alpha King with a silver heart and a predatory streak. He’s cold, he’s possessive, and thanks to a viral family group chat, he’s officially "taken" by the girl in the red suit. Now, Ariana is trapped in a corporate empire built on blood and moonlit secrets. Between a vengeful arranged bride and a boss who watches her like his next meal, she has one goal: Survival. But in Lucien’s world, "No" is just a challenge, and "Mine" is a death warrant. She prayed to be too bitter to eat. He decided he liked the taste.
View MorePagi itu, alun-alun kota Yunzhou dipenuhi ribuan orang. Suasana meriah, namun juga penuh ketegangan. Bendera besar empat sekte besar berkibar gagah di udara: Sekte Awan Putih, Sekte Pedang Es Abadi, Sekte Tombak Petir, dan Sekte Teratai Emas.
Hari ini adalah hari perekrutan murid baru. Bagi pemuda maupun gadis, ini merupakan kesempatan emas untuk mengubah nasib.
"Perhatian! Perekrutan murid empat sekte besar dimulai sekarang!" suara seorang tetua Sekte Awan Putih bergema, membuat semua mata tertuju pada panggung utama.
Tahap pertama adalah tes kekuatan tubuh.
Batu uji berdiri di tengah alun-alun. Pemuda dan gadis maju satu per satu, memukul batu itu. Kebanyakan hanya menghasilkan cahaya samar, menunjukkan kekuatan rata-rata. Beberapa pemuda yang rajin berlatih fisik mampu membuat batu itu bergetar lebih kuat, tapi tetap dalam batas wajar.
Di antara peserta, tampak beberapa tuan muda dari keluarga besar kota Yunzhou. Mereka berpakaian mewah, sikapnya angkuh, dan setiap kali maju selalu diiringi tatapan penuh kagum dari kerumunan.
"Giliran Ye Tian, dari desa Qinghe!"
Seorang pemuda bertubuh kekar melangkah maju. Tubuhnya penuh otot, hasil latihan fisik keras sejak kecil. Meski hanya pemuda desa miskin, aura tenaganya membuat banyak orang melirik.
Ia menarik napas, lalu menghantamkan tinjunya ke batu.
BOOM!
Batu itu bergetar hebat, cahaya terang memancar. Banyak orang terperangah.
"Wow! Pukulan yang luar biasa!"
"Untuk pemuda desa, kekuatan fisiknya setara dengan para tuan muda kota!"
Ye Tian hanya menunduk sedikit, wajahnya tenang. Namun, ia tahu tahap berikutnya adalah ujian yang selalu menjadi aib baginya—tes akar spiritual.
Sebuah kristal bening ditempatkan di altar.
Satu per satu peserta meletakkan tangan di atasnya. Kebanyakan hanya memunculkan cahaya hijau pucat atau biru redup, menandakan akar spiritual tingkat menengah. Sesekali ada yang lebih terang, tapi tetap dalam batas wajar.
"Akar spiritual menengah, cukup untuk jadi murid luar sekte."
"Menengah lagi… memang beginilah di wilayah timur, akar langka jarang sekali muncul."
Sorak-sorai tetap terdengar tiap kali seorang tuan muda menghasilkan cahaya lebih terang, meski masih dalam kategori menengah. Wajah mereka sombong, seakan sudah pasti diterima.
Kini giliran Ye Tian. Ia maju dan meletakkan telapak tangannya di atas kristal.
Awalnya hening, lalu cahaya samar muncul—abu-abu kusam.
Kerumunan mendadak terdiam, sebelum tawa keras meledak.
"HAHAHA! Akar spiritual kusam!" Zhao Liang, yang berasal dari desa yang sama dengan Ye Tian, langsung menunjuk sambil tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar sampah! Fisikmu kuat, tapi dengan akar busuk begitu, kau tak akan pernah jadi kultivator!" ejek Lin Fei.
Mei Lan menutup mulutnya sambil terkikik. "Aku kira kau bisa sedikit mengejutkan, ternyata hanya sia-sia."
Para tetua sekte saling berpandangan, sebagian menggeleng.
"Akar kusam, ini nyaris tak berguna."
"Hmph, tubuh kuat saja tak cukup. Jalannya sudah tertutup sejak awal."
Di barisan depan, seorang tuan muda dari keluarga Zhao tersenyum meremehkan. "Orang macam sepertimu tak pantas bermimpi masuk sekte besar."
Ye Tian mengepalkan tepalak tangannya dengan erat. Meski dadanya terasa sesak mendengar ejekan, tatapannya tetap tajam. Ia menunduk sejenak, menahan emosi, namun api tekad dalam dirinya tidak padam.
Dari arah kerumunan, tampak dua sosok muda menatap penuh rasa iba. Lin Hao, pemuda berwajah tegas dengan sorot mata jujur, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di sampingnya berdiri Meng Rou, seorang gadis berwajah lembut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mereka adalah sahabat Ye Tian sejak kecil. Keduanya tahu betapa kerasnya Ye Tian berlatih setiap hari, menempuh latihan fisik tanpa henti demi memperkuat tubuhnya, berharap bisa menebus kekurangan yang dimilikinya.
“Tidak mungkin??? Dengan tubuh sekuat itu, bagaimana bisa akar spritualnya hanya kusam?” gumam Lin Hao seraya menahan emosi.
Meng Rou menggigit bibirnya, jemari halusnya bergetar saat meremas kain bajunya. "Tian-ge sudah berlatih lebih keras daripada siapa pun… dia bahkan tak pernah menyerah meski diejek satu desa. Kenapa… kenapa hasilnya tetap seperti ini?"
Di tengah tawa dan ejekan yang tak kunjung reda, seorang tetua dari Sekte Pedang Es Abadi mengibaskan tangannya.
"Cukup! Tidak perlu dilanjutkan. Dengan akar spiritual kusam, pemuda ini tidak layak diterima oleh salah satu sekte mana pun."
Tetua lain dari Sekte Awan Putih menggeleng pelan, suaranya dingin, “Tubuhmu memang kuat, tapi apa gunanya tanpa fondasi spiritual? Jalur kultivasi bagimu hanyalah mimpi kosong."
Keputusan itu disambut gelak tawa para peserta yang iri sekaligus puas melihat ada yang dipermalukan. Zhao Liang sengaja melangkah maju, suaranya dibuat lantang agar seluruh orang mendengar.
“Hahaha, dengar itu, Ye Tian! Bahkan tetua sekte pun menganggapmu sampah!”
"Sejak dulu aku sudah bilang, kau tidak punya masa depan. Ternyata benar, kan?" timpal Lin Fei.
Mei Lan tersenyum sinis sambil melipat tangan. "Kau hanya buang-buang tenaga dengan semua latihan fisikmu."
Ye Tian berdiri terdiam. Suara riuh tawa bercampur cibiran seperti ribuan jarum menusuk telinga, tapi wajahnya tetap tenang. Tatapannya hanya lurus ke depan, seolah ejekan mereka tidak berarti apa-apa.
Lin Hao menunduk, mengepalkan telapak tangannya dengan kuat, sementara Meng Rou menitikkan air mata. Mereka ingin mendekat, namun kerumunan yang ramai membuat langkah mereka tertahan.
Akhirnya, Ye Tian menarik napas panjang. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun, lalu melangkah meninggalkan alun-alun. Tubuhnya tegak, tetapi setiap langkahnya terasa berat seperti menahan beban teramat berat.
Kerumunan masih berbisik-bisik, sebagian tertawa, sebagian lagi merasa iba serta kasihan. Tapi Ye Tian tidak peduli lagi.
"Sejak awal aku sudah tahu jalanku berbeda, kalau sekte tak menginginkanku, maka aku akan mencari jalanku sendiri."
Di kejauhan, sosoknya perlahan hilang di antara lautan manusia, meninggalkan panggung perekrutan yang penuh dengan sorak-sorai dan tawa penghinaan.
Begitu sosok Ye Tian menghilang di balik kerumunan, Lin Hao segera meraih tangan Meng Rou. "Ayo, kita susul dia!"
Mereka bergegas menerobos keramaian hingga akhirnya berhasil menyusul Ye Tian yang berjalan sendirian di jalan. Matahari senja mewarnai langit dengan cahaya merah keemasan, membuat bayangan tubuh Ye Tian terlihat panjang dan kesepian.
"Ye Tian!" Lin Hao memanggil dengan suara parau. Ia menepuk bahu sahabatnya kuat-kuat. "Jangan hiraukan mereka. Yang penting kamu sudah berusaha, meski kamu gagal di terima menjadi murid sekte besar. Masih ada kami yang akan selalu mendukungmu."
Meng Rou menatap wajah Ye Tian dengan mata berkaca-kaca, "Apa yang di katakan, Lin Hao, benar Tian'ge. Kamu jangan berkecil hati karena hal ini. Boleh saja mereka menertawakanmu, meremehkanmu, tapi bagi kami kamu adalah sosok paling hebat."
Ye Tian berhenti sejenak, lalu menoleh pada kedua sahabatnya. Wajahnya tetap tenang, meski ada kilatan getir di matanya. "Kalian… terima kasih. Tanpa kalian, mungkin aku sudah terjatuh."
Mereka bertiga lalu kembali melangkah bersama, meninggalkan hiruk pikuk alun-alun. Tujuan mereka adalah penginapan sederhana yang sejak kemarin mereka sewa, ruangan kecil dengan ranjang kayu sederhana dan lampu minyak yang temaram.
Saat tiba, suasana kota Yunzhou masih ramai oleh pesta perekrutan. Namun di dalam kamar penginapan itu, hanya ada keheningan. Lin Hao duduk di tepi ranjang, menatap sahabatnya. "Besok pagi-pagi sekali, kita kembali ke desa."
Ye Tian hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Lin Hao. Di balik ketenangan wajahnya, hatinya sedang berkecamuk hebat. Hinaan para tetua sekte, ejekan Zhao Liang, Lin Fei, dan Mei Lan, bahkan cemoohan para tuan muda dari keluarga besar di kota ini, semuanya berputar-putar dalam pikirannya.
Ariana I stood in the centre of the massive guest room and thought about every single life choice that had brought me to this moment. A werewolf’s mate. The phrase sounded like something out of a bad gothic novel, yet here I was, standing on a rug that probably cost more than my entire education, wondering if the man in the next room was going to eat me or just own me.I started to pace, the plush carpet muffling my steps, though the silence of the room only made the screaming in my brain louder. Was this it? Was this my life now? Trapped in a gilded cage with an Alpha who viewed me as a biological necessity? He had told me he was coming to my room tonight. The words sounded like a threat, a promise, and a death warrant all wrapped in one!My chest was flared with panic, a hot, prickly sensation that made my hands shake. I glanced at the clock on the mahogany dresser.Time was running out. My suitcases had been placed in the walk-in closet—a space so large it felt insulting—and I
Selene I stared at the broken shards of the tea cup Old Madam Johnson had just smashed against the hearth, my heart pounding frantically against my ribs. I had never seen Grandma this unhinged. She was a woman of calculated coldness, but this? This was a raw, vibrating shock. When did Ariana become so poisonous? When did the quiet cousin learn how to lash out like a rattlesnake? Wishing her own grandmother dead? The idea made my skin crawl. Grandma didn't sit down. She paced the living room for over thirty minutes, her footsteps echoing like a funeral march through the house. My mother and I sat on the designer sofa, pretending to be absorbed in some mindless drama on the television, but our eyes were glued to her. The air in the room felt thick, like it was rotting from the inside out. Only after she’d forced her breathing to steady did Grandma even acknowledge we were in the room. "So you’re fine, then. I won’t bother with your problems," Grandma snapped, her voice was
Ariana “Be careful for the love of God!” I barked, grabbing the door handle as the SUV lurched around a corner with a reckless speed. I turned to scold him, my heart drumming against my ribs, but the words died in my throat. The moment our eyes met, the lethal tension in the car seemed to settle into something thicker...something heavier. He looked… better when I was looking at him. It was the weirdest thing. The more I glared, the more the shadows in his expression seemed to drift. “When we get to your place, pack up,” he said, his voice dropping into that low, vibratory growl that always made my toes curl. “You’re moving in with me.” My eyes widened. I stared at him, my hands trembling as I tried to process the sheer audacity of his tone. “Live with you? What does that even mean?” “Exactly that,” he replied, his eyes fixed on the road. “Why? Why on earth do I have to?” “Should I let you go unsupervised? Or would you prefer to repeat last night?” “Why do I need to b
Lucien Seth didn't even have the decency to look worried.He circled me like I was some rare, caged beast, his eyes narrowed in a clinical fascination that made me want to snap his stupid neck. He finally slumped back into his chair and picked up an apple as if we were discussing the weather rather than my literal soul.“It’s a forced binding,” he said, his tone infuriatingly casual. “I’ve never seen anything this aggressive. I need to meet this lady, Lucien.”“What do you mean, bound?” I snarled. The word tasted like copper and ash. “I haven’t chosen anyone. I haven’t shared a drop of energy with a soul.”“She stole it, Lucien. That kiss? It wasn't just a distraction. She’s a strong mortal. Very rare, of course, but they exist. She bound you in one swoop. You’re locked.”He snapped his fingers, "Just like this."The sheer audacity of it made my vision blur with a violent, white-hot heat. My wolf lunged at the against my restraint, howling for blood. “She dared... I’ll kill her. I’
LUCIEN I didn't sleep. Well, not really. How could I, when the very air in this cramped box of an apartment was saturated with her? Ariana was a chaotic heat source pressed against my chest. Her heartbeat was a frantic yet rhythmic drum that seemed to sync with my own pulse against my will. My
“What?”He was an Alpha. A man who likely had a penthouse that cost more than my entire neighborhood. And yet, he was standing in the middle of my cramped, one-bedroom apartment as if he’d just been invited for tea.“Do you intend to sleep like that?” he asked, as his eyes swept over my rumpled off
The door to the conference room hadn't even finished clicking shut before I felt the air grow thin. Lucien didn't move from the head of the table. He didn't have to. The glowing image on the projector screen was enough to pin me to my chair."Miss Vale," he said, the syllables of my name sounding
His eyes, dark and predatory, swept over the crowd until they slammed into mine.I went pale. My heart, which had been a steady drum of professional confidence only minutes ago, began to thrash against my ribs like a dying bird.He didn't say a word to me. He simply looked away, moving toward the m












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.