LOGINBuried three years ago, Sera returns with no memories, a dangerous hunger she can't control, and a grave that still bears her name. When she returns to Silvercrest territory under the name Maya, the last person she expects to face is Alpha Kaden Thorn—the man who once rejected her and shattered their mate bond. His wolf still recognizes her. His heart never forgot her. But claiming her again could kill them both. As memories resurface and loyalties shatter, Sera must choose: reclaim the life stolen from her… or surrender to the monster awakening inside her. In a world where love is a curse and memories are weapons, nothing will ever be the same.
View More"Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya.
Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu merasa bersalah ke adiknya. Neira duduk di kursi belajarnya dan meletakkan sepiring makanan di meja. Ia lebih memilih membuka buku harian, lalu menulis: “Lagi dan lagi Ibu emang gak pernah inget soal Neira. Hanya ada Kakak dan Abang di hati ibu, Neira jadi gak laper lagi, Bu." Ponselnya bergetar, menampilkan panggilan grup dari kedua temannya. Neira menghela nafasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. "KARAA, NEIRAA! Besok kita bekal makan yuk!" Suara teriakan di sebrang sana membuat Neira sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Luna pelan-pelan bisa gak sih!" Balas Neira tidak terima. Suara tertawa Kara membuat Neira melihat ke ponselnya, "Udah Ra, Lun kalian ini gak bisa banget untuk berkomunikasi." Ucap Kara menengahi kedua temannya. "Ya lagian ni bocah mau bertanggungjawab apa kalau semisalnya gendang telinga gue ini rusak!" Jawab Neira. Luna cekikikan, "gak apa apa Nei, kan bisa beli gendang baru." Neira memutar bola matanya malas saat mendengar suara Luna, dan Kara malah tertawa. "Yeu kalo deket gue banting Lun!" "Apa Luna, mau ngomong apa? Gue lupa," Tanya Kara agar kedua temannya berhenti berdebat. "Besok bekal makan gitu, Luna masakin juga buat kalian mau gak?" Neira menelan ludahnya, terakhir kali dirinya mencoba makanan buatan Luna, Neira langsung diare. Entah makanan apa yang anak itu buat, entah melihat resep darimana. "Hah? Enggak deh Lun!" Suara Kara dan Neira secara bersamaan. "Loh kalian kompak gitu! Lagi barengan ya!" "Yakali Lun! Udah ah, gue sibuk." Ucap Neira, lalu mematikan ponselnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, helaan nafas terus terdengar. Malam ini dirinya tidur dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Bahkan, makanan yang tadi dirinya bawa masih utuh. Neira melirik kearah jam dinding, jarum pendek menunjukkan pukul 01.30 malam. Neira merasa haus, dirinya terduduk di atas kasur, kakinya sudah menyentuh lantai yang dingin. Namun, suara teriakan dari lantai bawah membuat Neira kembali ke tengah kasur. "Mas! Aku capek, kamu selalu saja pulang jam segini!" Teriak Ranti sambil menunjuk kearah jam. "Jam berapa ini! Kamu mabuk lagi? Iya!" Lelaki setengah baya itu menghela nafas kasar, "Kamu ini kenapa, Ranti? Saya baru pulang Ini!" "Aku capek mas!" Galih membanting vas bunga di meja membuat Ranti berteriak, "Kamu pikir saya tidak capek!" Di dalam kamar bernuansa putih abu, Neira duduk di atas kasurnya, memeluk lututnya, dan pandangannya lurus kearah pintu. Hampir setiap hari dirinya terbangun di tengah malam hanya untuk mendengarkan kedua orangtuanya bertengkar. Padahal, Neira kira malam ini akan terasa sunyi. Tidak terasa air matanya menetes, rumah ini sangat berisik. Neira meringkuk di atas kasur, mencoba memejamkan matanya, walaupun suara kedua orangtuanya terus terdengar. Pagi yang tidak tenang untuk Neira, dirinya kesiangan, lagi. Neira menuruni tangga dengan langkah cepat, saat anak tangga terakhir kaki gadis itu sampai keseleo. "Hati-hati lah, Ra!" Teriak Ibunya dari arah dapur. "Bu, aku langsung berangkat." Ucapnya langsung melenggang pergi. Neira harus mengejar bus yang menuju ke sekolahnya, Ayah nya tidak pengertian. Padahal berangkat pagi bisa sambil mengantarkan dirinya ke sekolah. Tetapi, Ayahnya sudah tidak kelihatan. Saat sudah sampai penurunan halte bus di dekat sekolahnya, Neira langsung bayar, dan buru-buru berlari. Pintu gerbang sudah di tutup, kali ini Neira merutuki dirinya yang selalu menunda alarm tambah 5 menit. "Neira! Lagi-lagi kamu ya saya lihat! Kamu ini bagaimana? Apa perlu saya memanggil orang tua kamu? Hari-harinya kamu kesiangan terus!" Teriak guru BK saat Neira mencoba memasuki gerbang. Neira menghela nafasnya gusar, lagi-lagi dirinya pasti harus berdiri di depan bendera dan memberi hormat. "Maaf bu." Hanya itu yang bisa Neira ucapkan, dirinya sudah pasrah. "PERGI HORMAT DI LAPANGAN, SE KA RANG!" Neira membulatkan matanya langsung berlarian ke arah lapang, masih untung dirinya di perbolehkan masuk. Pagi ini ada yang berbeda dari biasanya, di sebelah Neira, ada anak lelaki yang di hukum juga. Tetapi, siapa dia? Neira merasa, dirinya baru melihat lelaki itu untuk yang pertama kali. "Gue tau gue ganteng." Neira membuang mukanya, dia tidak sengaja memperhatikan lelaki itu secara terang-terangan. Apa katanya tadi? Ganteng? Tapi, menurut Neira memang seperti itu sih. Walaupun, terlihat ada luka lebam di wajahnya. "Gue sering liat lo di hukum, kali ini gue temenin." Neira kembali menatap lelaki di sebelahnya, "gue gak nanya!" Jawab Neira dengan lantang, pagi nya ini sangat membosankan. Jam mata pelajaran kedua berbunyi, akhirnya Neira bisa masuk ke dalam kelasnya. Dengan langkah gontai dan wajah yang memucat, Neira duduk di bangkunya. "Ra! You okay? Udah makan belum sih lo?" Pertanyaan dari Kara mendapatkan jawaban gelengan kepala dari Neira. "Ya ampun, Ra! Ayo ikut Luna ke kantin, kita bolos aja lah yu!" Kara menjitak kepala Luna yang berdiri di sebelahnya, "gue saranin lo simpen aja ide-ide lo itu dek." Luna mendengus sambil mengusap-usap kepalanya, "udah gue gak apa-apa. Kalian duduk gih!" Ucap Neira membuat kedua temannya langsung menduduki kursi mereka. Sudah hampir mendekati jam istirahat, Neira sudah tidak tahan. Cacing di perutnya meronta-ronta meminta makanan. "Lun, kali ini gue setuju untuk ikut lo ke kantin. Kali-kali bolos!" Ucap Neira menarik turunkan alisnya. "Nah mantap! Ayo Kar kita capcus!" Kara memutar bola matanya malas, padahal di depan guru sedang menjelaskan, tapi ide Neira tidak buruk juga. Mereka bertiga berhasil keluar kelas, dengan alasan ingin pergi ke toilet. Tapi, disini lah mereka sekarang, Kantin. Luna langsung memesankan makanan untuk kedua temannya. Neira merasa risih, karena sedari tadi seorang lelaki menatapnya, yang tadi pagi di hukum bersamanya. Neira terus mengusap belakang lehernya, dirinya tidak tahu apa yang sekarang telah ia rasakan. "Ra, kenapa?" Akhirnya Kara yang duduk tepat di depan Neira bersuara, karena gerak-gerik temannya itu sangat berbeda. Neira memang lurus kearah depan, belakangnya punggung Kara. "Dia manusia bukan sih? Lo bisa lihat dia?" Seketika Kara langsung melihat ke belakang. Tawanya terdengar kencang membuat Neira mengernyitkan keningnya, "Ra! Ya ampun HAHAHAHA," Karena sekarang lelaki itu menatap mereka dengan mengernyitkan dahinya juga, Neira langsung menepuk-nepuk tangan Kara. "Ihh stop! Apaan sih Kara?" Tanya Neira dengan sewot. "Ya, lo sih! Itu manusia tulen, lo gak tau dia? Makanya ikut gue sama Luna kalo kita pergi ke kantin!" Jawab Kara. Kara menoleh ke belakang, lalu menatap Neira dengan pandangan serius. "Dia itu Renan Luca Kalundra."MAYA"You knew me, didn't you?"The words came out harshly as I stood over Marcus's bed in the healer's cottage, watching him struggle to breathe.Dr. Chen had stabilized him after his collapse, but his face was still pale, his breathing labored.His eyes met mine, and something broke in his expression."Sera," he whispered, reaching for my hand, "you're alive."I pulled back, my heart racing."My name is Maya.""No," he shook his head weakly, "you're Sera, I'd know you anywhere, I helped deliver you when you were born."The room tilted."What are you talking about?""Your mother was the pack healer before you," his voice cracked, "I was there the night you came into this world, I loved you like a daughter."I sank into the chair beside his bed."So you knew her, knew Sera.""When Kaden told me you died, it destroyed me." Tears streamed down his face. "I blamed myself for not protecting you.""Protecting me from what?"He tried to sit up but winced, clutching his chest."The threats,
MAYA"Did I kill him?"The question had been burning in my throat since they dragged me to the cells hours ago, my hands still stained with dried blood.Kaden stood outside the silver bars, his face unreadable in the dim light."Yes," he said finally, "you tore out his throat."I wrapped my arms around myself, trying to stop the shaking."I don't remember any of it. One moment I was in the guest house, the next, I woke up covered in blood.""That's what you said last time.""Last time?"He moved closer to the bars, his eyes hard."Before you died, before Sera died, there were incidents, animals found torn apart, a rogue wandering too close to our territory."My stomach twisted."You think Sera was having blackouts, too?""I think whatever killed her is inside you now, waiting.""Then kill me," I said, the words coming out desperate, "if I'm that dangerous, if I can't control it, just end this."Something flickered in his expression."I can't.""Why not, you said yourself I murdered one
MAYA"Who the hell are you?"The words burst out before I could stop them, my heart hammering as I stared at the woman who looked exactly like me.She smiled, the expression never reaching her ice blue eyes."I should be asking you the same question," she said, moving into the study as she owned it, "but Kaden already told me all about you."I glanced at Kaden, confusion flooding through me."You told her?""Lyanna is my wife," he said, his voice tight, "I had to explain why there's a stranger at our gates."Wife.The word hit me like a slap.Lyanna circled me slowly, her gaze sweeping over my silver hair, my worn clothes, the bruises on my neck from where Kaden had grabbed me."You poor thing," she said softly, "you look exhausted, when's the last time you had a proper meal?""I'm fine.""No, you're not," she turned to Kaden, her expression shifting to concern, "darling, we can't leave her standing here like some criminal; she needs rest, medical attention.""I already called Dr. Che
MAYA"I don't know who Sera is! My name is Maya!"My voice echoed off the walls as Kaden dragged me through the mansion's hallways, his grip on my arm like iron.Pack members pressed themselves against the walls as we passed, their whispers following us like ghosts.He kicked open a heavy wooden door and shoved me inside, slamming it behind us.The lock clicked.I spun around, my heart pounding. "You can't just lock me in here.""I can do whatever I want," he said, his voice cold, "this is my territory, my pack, my home.""I'm not some prisoner.""Then tell me the truth," he moved closer, his eyes burning into mine, "who sent you, who's playing this sick game?""No one sent me, I already told you.""Liars always say that."My hands clenched into fists. "I'm not lying, I woke up a month ago with no memories, no identity, just this address and a name that isn't even real.""Show me your shoulder," he said suddenly."What, no.""Your left shoulder, now.""I already showed you my face,
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.