LOGINSoul ties were never something Anna Watson believed in; well not until she had a one night stand with the richest billionaire tycoon in New York City. Kelvin Conner. Every high school girl’s dream man and the mastermind threat to every flourishing business because he manages to always keep his company at the top. Anna Watson, a school dropout finally moved out of he parent’s house after years of abuse and trauma. She ends up working in a downtown club. Everything is finally making sense,Anna starts applying for school and life was somehow making sense again but all of Anna’s progress goes to the drain the moment the Billionaire bad boy walks into the club and demands for a private erotic dance.
View More“Langsung balik?” Kanaya bertanya pada adik kembarnya ketika mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di depan Mansion.
Kaluna tidak menjawab, dia mengecup kening Arthur dan Davian bergantian sebelum akhirnya turun. Kanaya jadinya ikut turun sementara mobil kembali melaju masuk ke dalam garasi agar ketika para Nanny menggendong Arthur dan Davian ke kamar, bocah berusia empat dan dua tahun itu tidak kedinginan karena salju masih turun meski tidak lebat. Kaluna mengeratkan kedua sisi longcoat berbulu yang membalut tubuhnya. “Kayanya gue pulang aja … Brian mungkin masih kesal tapi gue akan coba membujuknya,” kata Kaluna disertai senyum ironi. “Gue heran deh Lun, masa masalah sepele doank, Brian sampe harus marah-marah … cuma gara-gara lo telat balas chat padahal dia tahu lo sama gue dan keponakan-keponakan lo … lagi liburan.” Kanaya misuh-misuh. Kaluna tersenyum lembut. “Itu tanda cintanya sama gue, Nay … semakin ke sini, Brian memang makin posesif.” Kaluna mendekat selangkah, menggenggam tangan Kanaya yang dibungkus sarung tangan suede mahal. “Sorry ya, gara-gara gue … kita harus pulang sehari lebih awal.” Kaluna meringis. “Ah, ribet lo mah … besok-besok enggak akan gue ajakin lagi.” Kening Kanaya mengkerut menegaskan kekesalan dalam ucapannya. Alih-alih mengambil hati, Kaluna malah tertawa pelan. “Jangan gitu donk, Arthur sama Davian cuma antengnya sama gue loooh … sama lo aja emaknya, sering tantrum.” Kanaya mendengkus, kemudian tersenyum. “Ya udah balik sana, peluk Brian lo tercinta.” Sesungguhnya Kanaya ingin sekali bertanya kapan Brian akan melamar Kaluna tapi dia tahu kalau itu sangat sensitif. “Thanks ya buat liburan fancy-nya.” Kaluna mengangkat empat paperbag di tangan kanan dan kirinya sambil berjalan mundur mendekati mobilnya yang terparkir di dekat gerbang besar. Kanaya mengangkat tangan kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengulum senyum. Padahal uang bulanan Kaluna yang diberikan ayah mereka cukup besar tapi semenjak Kanaya menikah dengan Ryley yang merupakan Konglomerat NewYork—adik kembarnya itu sering kali minta ‘dijajanin’. Dan sebagai kakak, Kanaya selalu bangga setiap membelikan apapun keinginan adiknya tersebut. *** Banyak petugas membersihkan salju di jalanan sepanjang komplek perumahan elite itu. Kaluna mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah, bukan ke apartemennya melainkan ke apartemen Brian. Dia tidak sabar menunggu besok untuk berbaikan dengan Brian jadi meskipun jaraknya cukup jauh, akan tetap Kaluna tempuh. Satu jam mengemudi, akhirnya dia sampai. Seorang petugas membukakan pintu mobilnya dengan mata mengantuk karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. “Hey Berry,” sapa Kaluna. “Miss ….” Pria muda itu menunduk sekilas lalu mengambil alih kunci mobil dari tangan Kaluna yang kemudian melenggang masuk ke dalam gedung. Resepsionis mengenali Kaluna, memberikan anggukan samar penuh hormat. Kaluna sudah sering datang ke sini, dia hafal di lantai berapa apartemen mewah Brian berada. Dan ketika sampai di sana pun, dia langsung menekan beberapa angka di panel dekat handle pintu membuat pintu seketika terbuka. Kaluna masuk dengan langkah ringan, dia disambut ruangan yang lampunya temaram, dia sengaja hanya melewatinya begitu saja tanpa menyalakan lampu besar, khawatir mengganggu Brian. Tangannya tanpa beban ketika menekan handle pintu kamar Brian dan suasana temaram yang sama menyambutnya. Namun niat hati ingin berbaring di samping Brian, kaki Kaluna malah sulit digerakan, matanya membulat sempurna, nafasnya mulai memburu dan jantungnya berdetak menaikkan tempo. Bagaimana tidak, di atas ranjang itu Kaluna melihat Amanda-sahabat dekatnya sendiri sedang berbaring mengenakan baju tidur semi lingery, belahan dadanya terbuka lebar sembari dipeluk Brian yang hanya bertelanjang dada. Pemandangan itu begitu jelas karena Brian tidak mematikan lampu tidur di samping ranjang sehingga Kaluna bisa melihat dengan jelas wajah-wajah sialan yang salama ini baik kepadanya tapi nyatanya menikam Kaluna dengan sangat kejam dari belakang. Aroma after sex segera saja menusuk indra penciumannya. Tangan Kaluna yang gemetar tanpa sengaja menjatuhkan kunci mobil hingga bunyinya nyaring membentur lantai membangunkan Brian dan Amanda dalam sekejap. Mereka mendudukan tubuh dengan mata melebar sempurna menatap ke sosok yang berdiri di ambang pintu. “Luna …,” gumam Brian sambil mengucek matanya. “Kamu bukannya pulang besok malam?” Amanda bersuara, matanya menyipit untuk memperjelas penglihatan. “Kenapa? Kalian terkejut aku pulang lebih awal?” Sekuat tenaga, Kaluna mencoba menggerakan kakinya mendekati ranjang. “Kalau aku pulang besok … aku tidak akan bisa melihat pemandangan terkutuk ini!” serunya lalu melempar tas ke wajah Brian. Beruntung Brian cekatan menangkisnya sehingga tas Kaluna jatuh ke lantai dengan ponsel dan isi beauty case yang berserakan. “Luna!” seru Brian disertai tatapan marah dan mampu membuat hati Kaluna kian ngilu. “Apa? Kenapa kamu yang marah? Kamu yang selingkuh tapi kamu yang marah, dasar Brengsek!” Kaluna menjerit histeris, air mata mengalir deras tidak terbendung. “Pantas saja kamu sering cari-cari masalah, ternyata kamu ingin kita putus … Kamu lebih memilih pelacur ini? Iya?” Amanda memperlihatkan tampang menyebalkan yang seolah mengatakan meskipun dia pelacur tapi dia pemenangnya. Ditambah tangan dengan jemarinya yang dipoles naik polish merah menyala mengusap perut. Kening Kaluna mengernyit dalam. Apa? Tidak mungkin. Sebelum Kaluna menjadikan ranjang sebagai ring tinju, Brian pun turun dari sana, memungut tas dan barang-barang Kaluna kemudian menyeret Kaluna keluar dari kamar tidak peduli Kaluna memukul dan menamparnya membabi buta. “Tenangkan diri kamu dulu, baru kita bicara.” Brian berhenti di depan pintu apartemen, menyerahkan tas dan kunci mobil Kaluna. Di detik itu, Kaluna tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Kaluna memilih membalikan badan usai merebut barang-barangnya dari tangan Brian kemudian pergi sambil terus menyusut air mata yang tidak berhenti mengalir. “Ya Tuhan!” Kaluna melirih sambil menutup wajahnya di dalam lift. Hubungan yang telah terjalin hampir sepuluh tahun itu dinodai dengan perselingkuhan. Kaluna berteriak sekencang-kencangnya namun tidak ada yang mendengar, dia sendirian, di dalam lift, dan di luar lingkungan keluarganya. Hampir semua sepupunya sudah menikah bahkan adik bungsunya akan segera dijodohkan setelah lulus S2. Dan dirinya, akan menjadi perempuan tua setelah dikhianati habis-habisan oleh pria Brengsek yang masih sangat dicintainya. Ah tidak, mungkin ini hanya mimpi. Besok Brian akan menjelaskan semuanya, Petugas resepsionis diam-diam mengawasi ketika Kaluna keluar dari lift, benaknya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi karena Kaluna terus saja menyusut pipinya dan Berry-si petugas pintu langsung meminta petugas valet membawakan mobil Kaluna begitu sosok cantik itu muncul dengan mata merah dan sembab. Berry memukul kepalanya sendiri, dia baru ingat kalau gadis yang tadi dibawa Brian ke apartemennya belum turun dan mungkin itu penyebab air mata Kaluna mengalir deras kali ini. Berry membukakan pintu mobil untuk Kaluna dan mengucapkan hati-hati. “Kamu tahu, kan? Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya?” tanya Kaluna dengan tatapan marah. Berry menegang, dia tergagap dan pintu mobil sport Kaluna kadung tertutup. Dini hari itu, tidak peduli jalanan licin oleh salju—Kaluna memacu mobil mahalnya membelah jalanan kota New York dengan kecepatan tinggi untuk sampai ke apartemennya.Anna’s Pov I spent three days filling out applications and writing essays about why I wanted to go back to school and gathering my old transcripts that showed I failed everything but at least proved I existed and by Friday I got an acceptance letter in my email that made me cry on my bathroom floor.Monday morning I walked into the club and found Jo in his office drinking whiskey even though it was ten in the morning."I'm quitting," I said while standing in the doorway.Jo looked up and laughed. "You serious?""Yes," I said. "I'm going to school and I'm not doing this anymore.""You're making good money here," Jo said while leaning back in his chair. "Why throw that away for some college degree that won't get you shit?""Because I'd rather be poor with a degree than rich doing this," I said and turned around and walked out before he could say anything else.Crystal texted me that afternoon asking why I quit and I told her about school and she said good for you girl get out while you
Anna’s Pov He reached out to tuck a piece of my hair behind my ear. His fingers lingered on my neck. I felt my breath catch in my throat."I'm going to kiss you now," Kelvin said. "If you don't want that tell me. I'll stop."I didn't tell him to stop. I leaned forward to meet him halfway.The kiss started slow, careful like we were both testing something. Then Kelvin's hand moved to the back of my neck to pull me closer. The kiss got deeper. I felt heat spreading through my body like fire.When we broke apart I was breathing hard."Okay?" Kelvin asked."Yeah," I whispered. "Okay.""Good," he said before kissing me again.This time when we pulled apart Kelvin stood up to hold out his hand. "Come here."I took his hand to let him pull me to my feet. He walked me over to the bed then sat down on the edge pulling me to stand between his legs."I need you to tell me something," Kelvin said. His hands were on my hips. "Are you doing this because you want to or because you think you have to
Anna’s PovIt has been two weeks since I escaped but I still felt like I was playing pretend in someone else's life. The money was real though. I had already saved enough to rent a studio apartment that smelled like mold, had cockroaches crawling on the walls but it was mine. Nobody could lock me in or take it away from me."You're getting better," Crystal said, fixing her lipstick in the mirror next to me. She was one of the dancers. "I barely recognize that scared little girl who walked in here crying.""I'm still scared," I said, adjusting the red dress that I wore every single night. Buying another one meant spending money I didn't have."Fake it till you make it," Crystal said before winking at me then walking out onto the floor.I took a deep breath to follow her. The club was packed because Friday nights always were. I walked through the crowd, felt hands reaching out to touch me but I had learned how to move just out of reach. How to smile without meaning it. How to take money
Anna’s PovThe house was dark when I slipped out of my bedroom window at four thirty in the morning. My hands were shaking so bad I almost fell off the roof twice.The grass was wet, cold, soaking through my sneakers but I didn't care. I was finally doing it. Nothing was going to stop me this time even if my parents caught me. I would keep running until my legs gave out.I had spent two weeks planning every single detail. Camilla had given me the address, told me to meet her at six, said the owner's name was Jo. He was expecting me. He would give me a job.I didn't let myself think about what kind of job it was. Thinking meant doubting meant staying meant dying.The streets were empty except for a few cars. I kept my head down, walked fast. Every sound made me jump, every pair of headlights made my heart stop.The club was in a part of town I had never been to. The buildings were old, some had broken windows, there were bars on the doors, graffiti on the walls. People sitting on stoop






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.