MasukPriscilla Ashanti Figueria is a very famous superstar. She’s idolized by not just people in her age but also, people who’s much younger and older than her. She’s practically loved by everyone. People see her as a goddess and because of that, her career keep blooming each day. Everyone thinks that she’s already living her best life. A very gorgeous face with a hot and sexy body, a successful career, and a person who’s loved by many. What else could she ask for, right? But little did everyone know, her perfect life isn’t perfect at all because behind that pretty face and a pleasing personality she has a dirty secret under her sleeves. She’s the hidden lover of the well known billionaire super tycoon Isaac Andrei Sueviro who’s already engaged to his business partner’s daughter who happened to be Priscilla’s ex best friend. What will happen to her if everyone finds out her dirty secret? What will happen when everyone finds out that she’s the billionaire’s dirty little secret?
Lihat lebih banyakKonon, sebelum nama Devereux menjadi satu-satunya penguasa anggur di wilayah itu, ada satu kebun yang harum namanya: Rosse Vineyard.
Anggurnya dikenal jujur, tidak dipoles kemewahan, namun rasanya—kata para pedagang—membawa matahari dan tanah ke dalam segelas minuman. Orang-orang desa rela berjalan jauh hanya untuk membeli satu botol. Pemiliknya, Edmund Rosse, bukan bangsawan, bukan saudagar besar. Ia hanya pria sederhana yang mengerti betul seni fermentasi, dengan tangan yang sabar dan mata yang teliti. Banyak yang bilang ia lebih paham anggur daripada sebagian besar bangsawan yang mengaku ahli. Namun kejayaan itu tidak lama. Dalam beberapa musim berturut-turut, fermentasi di kebunnya selalu gagal. Tong-tong anggur meledak, cairan busuk mengalir seperti darah hitam di lantai penyimpanan. Para pedagang mengeluh, hutang menumpuk, dan kebun Rosse jatuh bangkrut. Ada yang berkata itu murni nasib buruk. Ada pula yang berbisik, seseorang meracuni proses fermentasi. Nama keluarga Devereux kerap muncul dalam bisik-bisik itu, sebab tak lama setelah Rosse jatuh, gudang dan kebunnya berpindah tangan ke mereka. Edmund sendiri tidak pernah pulih dari kehancuran itu. Istrinya, Seraphine, sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal lebih cepat dari usianya. Kedua anaknya, Aveline dan Elowen, tumbuh di antara reruntuhan dendam—mewarisi bukan lagi kebun, melainkan cerita getir tentang pengkhianatan. Sejak saat itu, nama Rosse hanya tinggal bayangan samar, tersapu oleh gemerlap kejayaan Devereux. Namun… bagi darah Rosse yang masih hidup, bayangan itu bukanlah akhir. Itu adalah api yang disembunyikan, menunggu waktu untuk menyala kembali. Dan api itu menemukan jalannya bertahun-tahun kemudian, di sebuah pasar Bordeaux yang tampak biasa—namun menjadi awal segalanya. Pasar pagi Bordeaux riuh oleh teriakan pedagang, bau tanah basah, dan anggur segar yang baru dipetik. Di sudut yang lebih sepi, dua gadis menjaga lapak kecil dengan meja kayu sederhana. Avelinne Rosse menata botol-botol selai anggur buatan rumah. Jemarinya lincah, meski wajahnya menyimpan letih yang tak pernah ia akui. Di sampingnya, Elowen—adik yang baru beranjak remaja—sibuk menguntit seekor kucing abu-abu yang selalu muncul entah dari mana. “Elowen, biarkan saja. Kita ke sini untuk menjual, bukan bermain,” ujar Avelinne, datar tapi penuh kewaspadaan. Elowen manyun, duduk di bawah meja sambil tetap mengelus si kucing bandel. Tak lama, seorang wanita berhenti di depan mereka. Gaun sutra biru berkilau, cincin berpermata di tiap jari, dan senyum seindah porselen—namun sorot matanya dingin. Ia menatap botol-botol sederhana itu dengan minat yang sulit ditebak. “Buatan sendiri?” tanyanya ringan. “Ya, Nyonya,” jawab Avelinne singkat. Wanita itu mengeluarkan koin. Tapi sebelum transaksi selesai, kucing Elowen melompat. Cakar kecilnya merobek kantong belanja si wanita. Barang-barang jatuh berserakan di jalan berbatu: sapu tangan, bros perak… dan sebuah amplop bersegel lilin merah. Lambang Devereux tertera jelas. Dalam sekejap, kucing itu menggigit amplop dan berlari ke lorong pasar. “Ah! Kucingmu!” seru wanita itu gusar. “Elowen!” Avelinne berteriak. Tapi adiknya sudah menerobos kerumunan, tangannya tergores, lututnya terbentur, tak peduli rasa sakit. Wanita bangsawan itu sibuk memungut barang-barangnya, lalu pergi tergesa tanpa menyadari satu benda hilang. Beberapa menit kemudian, Elowen kembali. Nafasnya tersengal, wajahnya penuh debu, tapi matanya berkilat puas. Di tangannya—amplop itu, segelnya retak, namun lambangnya masih jelas. “Kucingnya kabur… tapi lihat, aku berhasil mengambilnya,” katanya bangga. Avelinne meraih amplop itu. Jantungnya berdegup. Lilin merah Devereux—lambang keluarga yang merampas kebun anggur ayahnya. Di balik rasa letih, sesuatu menyala dalam dirinya: dendam, harapan, kesempatan. “Elowen,” bisiknya, tatapan tak lepas dari segel itu. “Sepertinya… takdir baru saja menunjukkan jalannya.” ****** Malam di pinggiran Bordeaux sunyi, hanya dipecah suara jangkrik dan gonggongan anjing penjaga yang jauh. Di sebuah rumah kecil berdinding batu tua, cahaya lampu minyak temaram jatuh ke meja makan reyot. Elowen duduk bersila di lantai, memangku kucing abu-abu yang kini tidur pulas. Luka di tangannya sudah dibalut seadanya dengan kain lusuh. Avelinne Rosse duduk di kursi, tatapannya terpaku pada amplop bersegel lilin merah di atas meja. Jemarinya sempat ragu, namun sorot matanya menyala gelisah. “Avelinne… kalau itu milik orang lain, bukankah sebaiknya kita kembalikan saja?” tanya Elowen lirih, polos. Avelinne mengangkat wajah, dan untuk sesaat, usianya tampak lebih tua dari yang sebenarnya. “Benda ini… bukan sekadar milik orang, Elowen. Ini… kunci.” Ia menelusuri cap lilin Devereux yang retak di sudutnya. Ironis—lambang itu milik keluarga Devereux, namun justru pernah berkibar megah di gerbang kebun anggur ayah mereka. Sebelum disita, sebelum hutang merampas segalanya—rumah, tanah, dan harga diri mereka—sebelum sang ayah menghembuskan napas terakhir dalam putus asa. Dengan gerakan tegas, Avelinne menyobek segelnya. Dari dalam, ia menarik selembar kertas tebal, tulisannya anggun dengan tinta hitam pekat. “Sayembara calon istri…” ia membaca perlahan, setiap kata terasa pahit. “Bangsawan Devereux… mengundang keluarga terhormat… menghadiri pemilihan pendamping hidup bagi putra sulung keluarga Devereux.” Nama itu membuatnya terdiam lama. Rahangnya menegang, sorot matanya tajam. Elowen, yang belum mengerti, terkikik kecil. “Sayembara? Apa itu seperti pesta? Kalau kau ikut, mungkin kita bisa makan kue manis tiap hari!” Avelinne menoleh, bibirnya melengkung tipis tapi dingin. “Ini bukan pesta, Elowen. Ini… tentang membayar hutang darah yang mereka tinggalkan pada kita.” Elowen tercekat. la ingin bertanya, namun kata-kata hilang di tenggorokan. Avelinne menggenggam undangan itu erat-erat, seakan ingin meremukkannya, lalu bangkit berdiri. Di luar jendela, bulan separuh menggantung di langit Bordeaux. Cahaya pucatnya jatuh di wajah Avelinne—bukan lagi wajah seorang penjual selai sederhana, melainkan wajah seorang gadis yang baru saja memilih jalan penuh dendam. ****** Cahaya matahari menembus jendela kaca buram, jatuh ke meja yang penuh gulungan benang, kain lusuh, dan jarum jahit. Avelinne Rosse duduk tegak, menatap selembar kain hijau tua yang pernah menjadi gaun ibunya. Bertahun-tahun tergantung di lemari usang, kini warnanya pudar, seratnya rapuh, tapi potongannya masih menyimpan jejak anggun masa lalu. Jarum di tangannya bergerak pelan, menutup robekan demi robekan. Ia tidak punya pilihan lain—jika ingin menyusup ke dunia bangsawan, ia harus terlihat pantas. Di dekat pintu, Elowen berdiri dengan mata berbinar. “Apa kau yakin mau datang ke pesta itu?” tanyanya lirih. Avelinne berhenti sejenak, menatap kain di tangannya. “Aku harus, Elowen. Kalau aku tidak masuk ke balik dinding mereka, bagaimana aku bisa merebut kembali apa yang telah mereka ambil?” Adiknya menyipitkan mata, suaranya tajam meski pelan. “Atau… bagaimana kalau dinding itu justru menelanmu hidup-hidup?” Sejenak hening. Avelinne menatap adiknya, namun kembali fokus pada jahitan. Elowen buru-buru menepis ketegangan dengan nada ceria. “Kalau gaunnya terlalu pendek karena dipotong, aku bisa berdiri di belakangmu dan pura-pura jadi ekornya. Pasti semua orang mengira itu model terbaru!” Avelinne menghela napas, separuh lelah, separuh tak kuasa menahan senyum getir. “…Kalau kau lakukan itu, kita bukan masuk pesta, tapi langsung dilempar keluar oleh penjaga.” Elowen terkikik, lalu nekat meraih pita lusuh dan mengikat rambutnya seperti mahkota. “Kalau begitu, aku jadi dayang bangsawan. Kau tahu, yang membawa sapu tangan dan berkata ‘Oui, Madame!’ setiap lima menit.” “Dayang tidak pakai pita dari kain pel. Dan biasanya mereka tidak menempel pada kakaknya seperti lintah,” balas Avelinne datar, meski matanya melembut. Elowen mencibir, lalu meraih kucing abu-abu yang sejak tadi duduk di kursi. Ia mengikat pita kain di leher hewan itu. “Kalau begitu, kucing ini saja yang jadi dayang. Lihat, dia sudah siap dengan busana bangsawan.” Kucing itu hanya mengeong malas, membuat Avelinne mendengus kecil. Senyum lelah muncul di bibirnya, tapi segera pudar saat matanya kembali ke gaun hijau tua itu. Bayangan ibunya muncul dalam benaknya—senyum lembut, tawa hangat, dan gaun ini yang dulu berputar di pesta rakyat kecil, sebelum kebun anggur mereka dirampas, sebelum keluarga mereka tercerai. “Aku akan masuk, Elowen,” bisiknya dalam hati. “Aku akan menuntut balas. Dan jika itu berarti harus berdansa di sarang musuh, maka biarlah gaun ini jadi saksi.” Elowen memperhatikan kakaknya diam-diam. Semua gurauannya hanyalah selapis tipis; di baliknya, hatinya mencengkeram rasa takut. Ia tahu pesta itu bukan sekadar pesta—itu medan yang bisa melukai Avelinne lebih dalam daripada cakar kucing atau tusuk jarum. Namun bila kakaknya bersikeras masuk, maka ia, Elowen, akan tetap berdiri di sisinya.Priscilla Ashanti Figueria, the nation’s girlfriend and the most famous actress of this era and Isaac Andrei Sueviro, the chairman of the Sueviro Enterprise. They are both very successful in their own ways. And they are in a secret relationship for quite some time now.Halos mag dadalawang taon na rin silang nasa isang secret relationship. Talagang secret na secret ito dahil kahit ang kanilang mga malalapit na kaibigan ay walang ka alam alam sa kung ano man ang namamagitan sa kanilang dalawa. Isa kasi si Isaac sa mga nakakita ng potential ni Priscilla noong nagsisimula pa lamang sa pagiging artista ang dalaga. Si Isaac ang naging major na tagasuporta niya not just emotionally but also financially. Sa madaling salita, dahil kay Isaac kaya nasa kung saan man siya ngayon si Priscilla.Patago lamang ang kanilang relasyon dahil sa mata ng maraming tao, si Isaac ay mayroon ng mapapangasawa, si Andrea Lopez, the daughter of the powerful congressman.Hindi kailanman nagustuhan o minahal ni I
Nanginginig ang labing ngumiti si Priscilla sa mga camera. Pati ang mga kamay at tuhod niya ay nag umpisa na ring manginig. But she did all her best to not look like shaking. She did all she can to ignore Isaac’s dangerous gaze towards her. She’s not the best actress last year for nothing.“As we expected, you’re together tonight.” Paunang bati ng isang reporter sa kanila sabay ay makahulugang tumingin sa kamay ni Klent sa bewang ni Priscilla.“Of course. Sino pa ba ang ibang babaeng sasamahan ko kundi ang napaka gandang si Priscilla lang.” Sagot ni Klent sa reporter na nag salita sabay mahinang pisil nito sa bewang ni Priscilla. Peke namang tumawa ang dalaga, pilit na ipinagsasawalang bahala ang pares ng malamig na mga matang kanina pa naka tingin sa kanya.“Please tell us your preparations for your upcoming movie.” Magiliw na sabi ng isang kilalang reporter.“Excuse me, please let them have their speech greetings first. Mamaya na ang mga kontrobersyal na mga tanong.” Biglang sulpot
“Miss Priscilla dito po.” Nakangiting sabi ng isang photographer.“Miss Priscilla can you smile for us?” Nakangiti namang banggit ng isa pa na para bang nagmamakaawa na lumingon sa kanyang banda si Priscilla.“Miss Priscilla.” Tawag naman ng isa pa.Halos hindi na makita ni Priscilla ang kanyang palibot dahil sa paulit ulit na pag liwanag na nanggagaling sa mga camera ng mga taong naka palibot sa kanya. Nasa isang party kasi sila ngayong gabi at pinagkakaguluhan ngayon ng mga reporters at photographers ang kadarating lamang na si Priscilla Figueria, ang pinaka sikat na babaeng artista ngayong era na ito. Ang tinaguriang ‘the nation’s girlfriend’.Isa isa namang nginitian ni Priscilla ang mga photographers na kanina pa paulit ulit na tumatawag sa kanya.“You look stunning as always Miss Priscilla. Can you tell us who’s the lucky designer of your gorgeous long dress for tonight?” Tanong sa kanya ng isang reporter sabay tiningnan siya mula ulo hanggang paa.“Thank you for the compliment.


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.