Share

Chapter 5

"Rudi, anakmu masih hidup!" Pria bernama Arras itu kemudian menarik Darren ke dalam pelukan.

Darren hanya diam saja, dia masih memiliki ketakutan untuk membalas pelukan Arras, karena sadar dia bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan lelaki yang memeluknya itu, dia adalah bos besar di bank tersebut.

"Jadi, bapak benar teman papa?" tanya Darren setelah Arras melepaskan pelukannya dan mempersilakan Darren duduk pada kursi yang ada di hadapannya.

Darren ingin lebih meyakinkan hatinya, dia tidak mau menemui orang yang salah yang akan membuat semuanya berantakan. Dia harus mendengar dari Arras, agar dia lebih yakin.

"Iya." Setelahnya, pria itu pun menjelaskan bagaimana hubungan Arras dengan papanya, Rudi. "Kami berasal dari panti yang sama. Kami juga bahkan tidak tahu siapa orang tua kami. Dan bukan hanya kami, mama kamu juga adalah anak panti yang sama."

Darren mengangguk, karena itu juga dia sudah tahu sebab, dia bahkan tidak memiliki keluarga seorangpun.

Kemudian mengalunlah cerita Arras mengenai kehidupan papanya semasa lalu. Perjuangan mereka di panti asuhan hingga menjadi orang yang sukses.

Arras bahkan mencaritahu bagaimana kehidupan Darren setelah Rudi tiada. Betapa terkejutnya dia saat tahu kalau Darren juga pada akhirnya ditampung di sebuah panti.

"Dan ternyata takdir itu juga menurun kepada kau, hidup dan dibesarkan di panti asuhan. Tapi, kau pasti tumbuh dengan kuat," ujar Arras kemudian sembari menepuk pundak Darren. Ada rasa bangga terpancar di wajahnya kala melihat anak dari sahabatnya tumbuh menjadi seorang lelaki seperti Darren.

Darren menganggukkan kepalanya pelan, walaupun Arras menerimanya dengan tangan terbuka, tapi masih ada rasa sungkan kepadanya.

"Jangan kaku seperti itu, anggap aku papamu sebagai pengganti Rudi," ucap Arras lagi.

"Terima kasih, pak."

"Dan juga aku minta maaf, saat kejadian itu aku tidak langsung mencaritahu keberadaan kau. Karena saat itu aku sedang berada di luar kota dengan urusan yang cukup padat," lanjut Arras dengan penuh penyesalan.

"Semua berjalan begitu cepat," jawab Darren mengangguk.

Darren tampak memainkan ujung bajunya, dia ingin bertanya lebih lanjut mengenai isi dari surat wasiat itu. Karena yang tahu hanyalah Arras, sahabat papanya yang kini berada di depannya. Dia tidak boleh menyiakan kesempatan itu.

“Apakah benar yang papa sampaikan dalam surat itu?" tanya Darren memberanikan diri walaupun dengan suara gemetar.

Arras mengangguk disertai dengan senyum. "Iya, kau bisa mengambil deposito tersebut dan gunakan untuk kebutuhan dan kehidupanmu.” Ekspresi Arras sedikit berubah saat menyadari kehidupan yang dilalui Darren pastilah tak mudah. Apalagi dia mendengar kalau panti tempat tinggalnya sempat digusur.

Darren seolah tidak percaya, bahkan dia memastikan hal itu berkali-kali. "Benarkah? Semudah itu?" tanya Darren dengan mata yang berbinar.

Arras kembali mengangguk. Pria itu kemudian menegakkan posisi duduknya. "Bukan hanya itu. Ini ...." Dia mengambil sebuah berkas dari kolong meja kerjanya dan menaruhnya ke hadapan Darren. "Di sini juga ada beberapa surat menyurat milik Daze Company. Tapi aku tidak tahu, apakah kau masih bisa menggunakannya untuk merebut kembali perusahaan itu atau tidak. Sebab perusahaan itu sudah berganti namanya."

Darren meneliti dan mengambil berkas di hadapannya dan membaca isi di dalamnya, tidak ada yang aneh. Dahinya mengerut seiring mendengar penjelasan Arras yang tampak sedikit ragu dengan berkas itu; "Apa yang bapak ragukan?" tanya Darren penasaran.

Arras mengarahkan tangannya ke arah file tersebut, "Mereka memalsukan beberapa berkasnya."

Darren menatap Arras dengan pandangan serius dan penuh tanya. "Mereka? Siapa mereka?"

****

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status