Share

Chapter 4

Alih-alih langsung bergegas ke Bank Duta bagian pusat, Darren justru memutuskan untuk menunda kepergiannya ke sana. Semua ini karena pekerjaan di Abitex dan kesulitannya untuk mengajukan cuti. Darren harus benar-benar cermat memikirkan rencana, karena jika salah sedikit saja ... Hanya kehancuran yang dia terima.

Pria itu baru akan mengajukan cuti di Hari Rabu, dengan persetujuan atau tanpa persetujuan managernya, kali ini dia akan pastikan untuk tetap pergi. Menjelang malam, Darren baru sampai di rumah. Baru menginjakkan kaki di teras, teriakan yang datang dari mama mertuanya sudah terdengar menggema.

“Kau sudah berani melawan dan mengabaikan panggilanku?”

Darren menunduk, tidak terlihat kaget karena sudah memprediksi kemarahan dari mama mertuanya. “Maaf, Ma. Ada yang harus Darren kerjakan sebelum pulang."

“Sok sibuk kau! Padahal hanyalah seorang cleaning service! Memangnya kau kira, kau akan jadi presiden direktur di kantor itu sehingga selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan perhatian!” teriak Gia langsung menyerang Darren. Tatapannya begitu mengisyaratkan jika wanita itu jijik pada menantunya sendiri. “Cepat kau cuci mobilku, malam ini aku ada acara!” perintah Gia kemudian.

Darren hanya bisa menghela napas berat. Mertuanya yang sejak tadi menelponnya seperti ada keadaan darurat, ternyata hanya memintanya mencuci mobil.

Tap! Tap!

Darren menaiki tangga dengan cepat, karena dia tidak mau kembali di teriaki sang mertua kalau dia terlambat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.

Kriet!

Darren membuka pintu dan mendapat Renata sedang tiduran dengan santai di atas ranjang, mengenakan dress satin transparan dan sangat seksi. Paha mulusnya terlihat sangat menggoda, walaupun perutnya yang mulai membuncit dan itu juga menjadi daya tarik bagi Darren.

Darren menelan ludahnya, dia hanya bisa melihat namun tidak akan bisa merasakan semua yang ada di depan matanya itu.

"Jam 7, antar aku ke dokter!" Renata tanpa perlu repot-repot menoleh ke arah Darren, memerintah. "Sopir sudah punya kerjaan lain. Kau juga harus menemaniku bertemu dokternya!"

Darren yang baru melepas seluruh kancing pada kemejanya kembali menghela napas. Menjadi cleaning service, pencuci mobil, lalu merangkap sopir ... Semua hal Darren lakukan, bak pekerja serabutan di rumah ini. Meski sebenarnya tubuh pria itu begitu lelah, tetapi dia tetap mengiyakan perintah sang istri.

"Tentu. Aku akan mengantarmu."

**

Hari rabu seperti yang Darren rencanakan, dia akan mendatangi Bank Duta untuk bertemu dengan Pak Arras. Seperti yang sudah diduga, pengajuan cuti yang diajukan Darren ditolak mentah-mentah oleh managernya. Namun, karena pria itu sudah bertekad bahwa inilah jalan yang membukanya pada misteri dalam hidup, Darren tetap absen ke kantor dan pergi menuju Bank Duta.

Namun meski begitu, Darren tidak ingin menimbulkan curiga. Seperti hari-hari biasa dia bekerja, Darren melakukan semua rutinitasnya, sampai tak seorang pun di rumah itu menyadari gelagatnya.

"Adakah disini yang bernama pak Arras Samuel?” tanya Darren kepada security yang bertugas menjaga keamanan bank tersebut. Saat Darren datang, suasana kantor bank tersebut masih sedikit sepi.

Para nasabah belum datang, bahkan mungkin para karyawan juga banyak yang belum tiba.

Security yang bertugas tampak memperhatikan Darren dari atas hingga ke bawah. Mungkin dia heran ada orang dengan penampilan yang sangat biasa saja itu mencari seseorang, bukannya ingin mengantri ke teller.

“Bapak siapa?” tanya security itu menyelidik. Bahkan dia menatap wajah Darren dengan penuh curiga. Wajah Darren yang tampak sedikit garang dan tegas dengan bulu-bulu tipis tumbuh di wajahnya. Dia memang tidak sempat merapikan wajahnya karena pastinya itu akan membuat Renata curiga.

“Saya ada keperluan kepada beliau. Apakah beliau ada disini?” tanya Darren dengan antusias.

Darren tidak peduli dengan pandangan curiga si satpam, baginya respon dari satpam itu menunjukkan kalau memang ada orang yang dia cari di kantor ini. Karena terlihat wajah satpam itu tampak mengkhawatirkan sesuatu.

“A-ada,” jawab si satpam dengan gugup.

“Bisa saya bertemu? Katakan kepadanya kalau seseorang bernama Darren Zervano putra dari Rudi Zervano ingin menemuinya,” ujar Darren kemudian kepada si satpam. Dia sangat berharap kalau pak Arras mengingat tentang papanya, makanya dia menyebutkan nama papanya agar lebih cepat dikenali.

Security itu hanya mengangguk, dan dia tampak meraih sebuah gagang telepon yang berada di dinding. Mendial beberapa angka dan tampak berbicara di telepon dengan sesekali melirik sinis ke arah Darren. Namun, beberapa saat kemudian dia tampak melihat Darren dengan wajah penuh keheranan.

“Ikut saya!” ujar security itu kepada Darren setelah memutuskan sambungan telepon.

“Terima kasih,” ucap Darren yang merasa bersyukur karena jalannya sangat mudah, dia menduga kalau pak Arras pasti berada di bank tersebut.

“Kau siapanya pak Arras? Biasanya orang sangat sulit untuk bertemu dengannya,” tanya si security yang bernama Bobi itu kepada Darren.

Darren mengedikkan bahunya santai. "Aku hanya mengikuti pesan orang tuaku."

Keduanya naik ke lantai lima dengan menggunakan lift, dan kemudian berjalan di lorong-lorong ruangan kerja yang sangat sunyi. Hingga mereka berhenti di sebuah ruangan yang pada daun pintunya bertuliskan nama Arras Samuel.

“Silakan masuk,” ujar Bobi yang kemudian meninggalkan Darren yang tampak ragu untuk masuk.

Tok! Tok!

Darren memberanikan diri mengetuk pintu, hingga terdengar suara berat dari dalam ruangan itu mempersilahkannya masuk.

Seorang lelaki paruh baya dengan beberapa rambut yang sudah tumbuh uban itu tampak menatap Darren dengan intens dan berkali-kali, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

"Kau bilang, kau adalah putra dari Rudi Zervano? Buktikan padaku jika itu memang benar!" tantang pria bernama Arras itu pada Darren.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Darren mengeluarkan kertas wasiat yang dia miliki itu dan menyerahkannya kepada Arras.

Setelah membaca itu, Arras tampak memandang Darren dengan mata yang memerah.

“Ternyata kau benar-benar masih hidup!”

****

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status