Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 108. Tertangkap Basah

Share

108. Tertangkap Basah

Author: DF Handayani
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-12 16:27:31

Di kediaman ibunya, suasana berubah mencekam sejak kabar itu tiba.

Lucas berdiri di ruang tengah dengan rahang mengeras, telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. “Dia kabur,” ucapnya dingin, seperti vonis. “Pergi tanpa izin. Tanpa penjelasan.”

Sang ibu duduk kaku di sofa, wajahnya pucat. Di sampingnya, Summer berdiri dengan dada naik turun, jelas menahan amarah yang selama ini ia simpan.

“Bukan kabur,” potong Summer tajam. “Sunrise pergi karena dia memilih hidupnya se
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • The CEO'S Forbidden Bride    140. Aku Mencintaimu, Khairen. (TAMAT)

    Angin malam menyelinap lembut melalui celah jendela kabin. Sunrise memejamkan mata, menghirup aroma laut yang asin dan hangat. Pelukan Khairen dari belakang terasa seperti jangkar kokoh, menenangkan, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tak lagi harus berdiri sendiri menghadapi dunia.Malam itu mereka tak terburu tidur. Ellion tertidur lebih dulu, tubuh kecilnya meringkuk di ranjang dengan boneka di pelukan, senyumnya tersisa seolah mimpi pun ikut merayakan kebahagiaan.Sunrise menarik selimutnya perlahan dan mencium dahi anak itu, lalu berdiri di sisi Khairen. Mereka menatap Ellion lama, menyaksikan napasnya yang teratur.“Dia nampak bahagia,” bisik Sunrise.“Itu yang terpenting.” timpal Khairen.Mereka duduk berdampingan di sofa kecil kabin. Keheningan terasa nyaman. Sunrise memutar cincin di jarinya, mengingat perjalanan panjang yang membawanya ke titik ini.Luka yang pernah mengurung, ketakutan yang pernah menenggelamkan, hingga keberanian kecil yang tumbuh perlahan dan akhirnya cukup

  • The CEO'S Forbidden Bride    139. Menikahlah Denganku, Sekali Lagi!

    Kabut Albinen perlahan menjadi kenangan ketika pagi itu mereka meninggalkan desa kecil di pegunungan untuk pergi berlibur.Mobil melaju tenang, Ellion duduk di kursi belakang diapit nenek dan tante, matanya tak berhenti menempel ke jendela, menghitung terowongan, menebak gunung mana yang akan mereka lewati.Sunrise duduk di samping Khairen, tangannya terlipat di pangkuan, hatinya terasa ringan dengan cara yang asing, penuh harapan baru yang selama ini ia kubur rapat.Ini bukan perjalanan biasa. Tapi awal dari segalanya.Bandara menjadi dunia baru bagi Ellion. Ia berlari kecil, kagum pada pesawat-pesawat raksasa yang berjejer seperti burung logam. Untuk pertama kalinya, ia menggenggam paspor kecil dengan namanya tercetak rapi. Khairen berjongkok di hadapannya, menyamakan tinggi badan mereka.“Siap terbang jauh, Kapten Ellion?”Ellion mengangguk penuh semangat. “Daddy, nanti kita lihat laut?”Khairen tersenyum, menatap Sunrise sekilas. “Bukan cuma laut. Kita akan melihat dunia.”Venice

  • The CEO'S Forbidden Bride    138. Mengakhiri Kesalahan

    Setelah sarapan yang penuh kecanggungan, mereka bersiap meninggalkan rumah. Udara dingin Albinen menyambut dengan aroma kayu basah dan roti hangat dari kejauhan.Sunrise mengancingkan pakaian Ellion, sementara Khairen berdiri di dekat pintu, menunggu dengan kesabaran yang jarang ia perlihatkan pada dunia.“Daddy bantu Mommy di toko, ya?” Ellion berkata polos sambil meraih tangan Khairen.Khairen mengangguk, menatap Sunrise sekilas. “Tentu.”"Ellion, di rumah dengan nenek dan tante ya." Sunrise berpesan."Ellion akan menunggu Daddy dan Mommy pulang." ucapnya antusias. "Byee..." Ia melambaikan tangan.Toko roti itu masih sunyi ketika mereka tiba. Pintu dibuka, lonceng kecil berdenting, dan kehangatan langsung menyergap, aroma mentega, vanila, dan adonan yang baru matang. Sunrise menggantung mantel, lalu mengikat celemeknya. Khairen mengamati sejenak, lalu ikut meraih celemek cadangan tanpa diminta.Sunrise tersenyum kecil saat melihat Khairen yang biasanya memimpin rapat dewan dengan se

  • The CEO'S Forbidden Bride    137. Malam yang Panas

    Khairen menutup pintu kamar dengan punggungnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sunrise masih berada dalam gendongannya, tubuhnya ringan namun getarnya terasa jelas, seperti seseorang yang telah terlalu lama menahan diri dan akhirnya berhenti melawan.Ia menurunkannya perlahan ke ranjang. Sprai putih berkerut di bawah tubuh Sunrise, berkilau dengan rambut pirangnya yang tergerai. Khairen tidak langsung menjauh. Ia tetap di sana, satu tangan menopang tubuhnya, yang lain menyentuh pinggang Sunrise, sebuah sentuhan pelan, seolah bertanya sekali lagi apakah ia benar-benar diizinkan.Sunrise menarik napas panjang. Dadanya naik turun, matanya berkabut.“Jika kau pergi setelah ini…” suaranya nyaris tak terdengar, “aku tak tahu apakah aku sanggup bertahan lagi.”Khairen menunduk, dahinya menyentuh dahi Sunrise. “Aku tidak datang sejauh ini untuk melukaimu lagi.”Ciuman mereka kali ini berbeda. Lebih dalam. Lebih jujur. Tak ada lagi kemarahan, tak ada sindiran. Hanya dua orang dewasa yang akhir

  • The CEO'S Forbidden Bride    136. Ya, Aku Cemburu!

    Sunrise berdiri terpaku beberapa detik setelah Ardelia pergi, langkah wanita itu menjauh dengan anggun, seolah tak pernah meninggalkan bom waktu di belakangnya. Lorong samping resort kembali lengang, hanya suara tawa anak-anak dari taman depan yang samar terdengar.Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan."Jika Nona sudah tak menginginkannya, bolehkah saya merebutnya?"Kalimat itu berulang di kepalanya seperti jarum yang menusuk pelan tapi dalam. Sunrise menutup mata sejenak, menekan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam rasa panas yang menjalar hingga tenggorokan.“Aku baik-baik saja,” gumamnya lirih, lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.Namun kebohongan itu runtuh saat ia kembali ke area utama. Dari kejauhan, ia melihat Khairen berdiri bersama Ellion dan beberapa anak panti asuhan. Lelaki itu berjongkok, membiarkan Ellion menarik ujung jasnya, tertawa kecil saat bocah itu memamerkan mainan baru. Pemandangan itu membuat dada

  • The CEO'S Forbidden Bride    135. Cemburu Itu Nyata

    Mobil melaju menuruni jalanan Albinen yang masih diselimuti kabut tipis. Pepohonan pinus berdiri diam, seolah menjadi saksi bisu dari kepergian Khairen.Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Hanya suara mesin yang sesekali memecah udara.Nick melirik tuannya lewat kaca spion. Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia membuka suara, kali ini lebih hati-hati.“Tuan… maaf, jika tadi lancang mengatakannya. Saya tak seharusnya berbicara sejauh itu.”Khairen tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalanan berkelok, namun pikirannya melayang jauh. Kata-kata Nick barusan terus terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang tak mau reda."Masih belum terlambat… memulai kembali…" “Kau benar.” jawab Khairen akhirnya, suaranya datar. “Kau hanya mengatakan apa yang memang sudah kupikirkan.”Nick menghela napas lega, meski ada sesuatu di balik sorot matanya. Ia tahu, ketika Khairen berkata demikian, artinya perang batin tuannya justru baru dimulai.Beberapa jam set

  • The CEO'S Forbidden Bride    21. Trauma dan Rahasia

    Semua mata tertuju pada Khairen dan Sunrise di tengah lantai kayu yang basah.Sunrise menggigil dalam selimut, tubuhnya masih lemah. Khairen belum melepaskan genggamannya, seolah jika ia melepaskannya walau sedetik, Sunrise akan lenyap.Petugas medis berjongkok di samping mereka. “Kami akan membawa

  • The CEO'S Forbidden Bride    20. Tragedi di Atas Kapal Galleon

    Hampir tengah malam, namun pesta belum usai, mereka berpindah ke atas kapal mewah bergaya Galleon milik CNC, yang hanya diakses oleh para tamu VIP dan VVIP terpilih.Termasuk Sunrise yang mendapat hadiah kejutan sebagai pemenang. Namun, baginya ini bukan hadiah, melainkan teror mengerikan.

  • The CEO'S Forbidden Bride    19. Saatnya Bermain Peran

    Malam Hari, tiba saatnya Gala Dinner.Lampu kristal berpendar di langit-langit Palazzo. Tamu-tamu berdatangan dengan jas dan gaun berpotongan presisi, wajah-wajah penting dari industri AI, para dewan komisaris CNC, serta wartawan bisnis ternama.Deretan lilin panjang menyala di atas meja

  • The CEO'S Forbidden Bride    18. Venice, Aku Datang!

    Sunrise membeku di tengah dapur saat suara pelan Summer menyebut judul dokumen itu. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk berbalik, namun saat ia melakukannya, wajahnya sudah berubah dingin seperti baja.“Summer.” Suaranya tenang, tapi tegas dan nyaris mematikan.Summer menatapnya deng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status